PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
15


__ADS_3

"Iya, Pak." jawab Pak Agus.


Dari perbincangan sehari- harinya, dia tahu lelaki gagah dan wangi ini bernama Pak Richard.


"Di dalam tadi Saya dengar dia mau ke klinik karena anaknya sakit. Anda tahu mau ke klinik mana, Pak?" tanya Richard.


"Kalau di WA group barusan katanya ke klinik Kasih Bunda, Pak." kata Pak Agus setelah membuka ponselnya.


Richard mengangguk mengerti.


"Makasih ya, Pak." kata Richard dengan senyum ramahnya kemudian berbalik menuju mobilnya.


Dia harus menyusul Nawang.


Tadi dia lihat di kantor saat Nawang terlihat tegang walau nampak berusaha bersikap biasa.


Perempuan itu selalu berusaha menyembunyikan sisi sedihnya dari siapapun walau matanya tak akan pernah bisa berbohong.


Richard menggunakan map dari ponselnya untuk mencari tahu posisi klinik yang dituju Nawang agar tak salah jalan dan membuang waktu.


Belum ada sepuluh menit dia berjalan, saat mobilnya berhenti karena ada di persimpangan jalan, dilihatnya Nawang melintas di depannya dengan menuntun motornya.


Wajah perempuan itu merah padam karena kepanasan tapi langkahnya tetap terlihat mantap.


Richard menggelengkan kepalanya heran dan tersenyum sedih.


Kamu tambah strong aja, Non.


Richard memilih meminggirkan mobilnya dan menyusul Nawang yang dilihatnya sedang berbicara dengan pegawai bengkel.


Rupanya ban motor bagian belakang bocor.


"Motornya ditinggal sini aja dulu. Kasihan anakmu nanti nungguinnya kelamaan." Richard menggagetkan Nawang yang sedang akan memesan ojol.


"Lhoh, Pak?" Nawang terhenyak dari duduknya.


"Ayo aku antar." ajak Richard dengan lagak bossy nya.


"Nggak usah, Pak. Terima kasih. Saya pesen ojol aja." tolak Nawang kemudian mulai bermain dengan aplikasi ojol di ponselnya.


Richard tak menjawab, kemudian memilih mendekat ke arah meja kasir bengkel kemudian berbicara sesaat disana.


Nawang tak memperdulikan kelakuan Richard itu.


Yang ada dipikirannya saat ini adalah ojol segera datang dan dia bisa sampai ke klinik secepatnya.


Sayangnya ojol terdekat akan sampai tujuh menit lagi.


Itu terlalu lama.


Ya Tuhan, kasihan Bintang kalau harus nunggu terlalu lama.


"Ayo!" ajak Richard lagi.


Kali ini dengan meraih pundak Nawang dan mendorong lembut agar segera melangkah.


Mau tak mau Nawang melangkah mengikuti Richard daripada jadi pusat perhatian di bengkel itu.


Dia mengikuti Richard menyeberang jalan menuju mobilnya.


"Ke arah mana kita?" tanya Richard setelah mereka sudah duduk rapi di mobil.


"Lurus aja, Pak. Nanti setelah traffic light ambil kiri." jawab Nawang masih tetap kaku.


"Baiklah, Nyonya." jawab Richard dengan wajah pura- pura bersungut- sungut yang membuat


Nawang nggak enak hati.

__ADS_1


Apalagi sepanjang perjalanan Richard nggak ngajak ngomong.


"Maaf, Pak. Saya turun disini saja kalau merepotkan." kata Nawang akhirnya.


"Turun aja kalau bisa." jawab Richard enteng.


Nawang melirik jengkel.


Mana bisa dia turun kalau mobil jalan terus?


Lagian dia juga nggak ada niat untuk bertingkah konyol dengan melompat dari atas mobil yang sedang melaju 60km/jam ini.


"Jadi turun nggak?" tanya Richard setelah agak lama keduanya diam.


"Mobilnya nggak berhenti, gimana saya mau turun?" kata Nawang sambil bersungut.


Richard terkekeh pelan.


"Kirain mau lompat." kata Richard sambil menatap Nawang meledek.


"Saya nggak sekonyol itu juga kali, Pak." jawab Nawang sambil melirik sadis.


"Anakmu kenapa masuk rumah sakit?" tanya Richard serius.


"Bapak tahu anak saya sakit?" tanya Nawang kaget.


Tahu dari mana dia?


"Tadi aku liat kamu di kantor..."


"Kantor saya?" potong Nawang kaget.


"Iya."


"Kok saya nggak tahu?"


"Mana bisa tahu, kamu aja nyelonong aja nggak noleh kiri kanan langsung masuk ke ruangan siapa itu..."


Iya juga sih. Dia tadi nggak memperdulikan apapun di sekitarnya karena panik.


"Kenapa anakmu?" tanya Richard lagi.


"Tadi di kampung saya ada angin besar. Anak saya punggungnya kena seng terbang dan robek punggungnya." jawab Nawang pelan.


"Nggak parah kan?" tanya Richard khawatir.


"Belum tahu pasti sih, Pak. Cuma tadi katanya cukup lebar dan lumayan dalam. Makanya harus dijahit." jawab Nawang pelan dan sedih.


"Tenang saja, biar masih kecil, anak laki- laki itu pasti lebih kuat nahan sakit. Kamu nggak boleh terlihat sedih di depannya nanti." kata Richard lembut.


Nawang mengangguk pelan.


"Kamu ada BPJS kesehatan kan? Perusahaan memberikan itu?" tanya Richard.


"Ada kok, Pak." jawab Nawang.


"Syukurlah."


"Aku boleh ikut turun?" tanya Richard membuat Nawang bingung.


"Kita sudah sampai di tujuan." kata Richard sambil tersenyum geli melihat wajah kebingungan Nawang.


"Hah?" tanya Nawang bingung. Dia kebingungan saat dia membaca tulisan KLINIK KASIH BUNDA.


"Kita sudah sampai di klinik Kasih Bunda. Kamu mau kesini kan?" tanya Richard ragu.


"I....iyya...Pak..."

__ADS_1


"Disini kan?" tanya Richard lagi.


"Iya! Betul, hehehe...." jawab Nawang menutupi kebingungannya.


Perasaan tadi dia nggak ngasih tahu kalau tujuannya akan kesini.


Kok Richard tahu aja langsung sampai sini?


"Aku boleh ikut turun?" tanya Richard mengulang pertanyaannya lagi.


"Jangan! Nggak usah Pak." cegah Nawang spontan.


""Kenapa?" tanya Richard kecewa.


"Saya nggak enak sama saudara Saya." jawab Nawang jujur.


Richard mengangguk mengerti.


"Ya sudah. Aku nganter sampai sini aja." kata Richard pelan.


"Maaf ya, Pak." kata Nawang nggak enak hati.


"Nggak papa. Kamu bener juga kok." kata Richard sambil tersenyum mengerti.


"Ya udah, saya turun ya, Pak. Terimakasih banyak tumpangannya." kata Nawang tulus.


"Non, titip buat jajan anakmu." kata Richard sambil mengulurkan sebuah amplop putih yang diambilnya dari dasboard pada Nawang yang hendak membuka pintu mobil.


Nawang menatap amplop itu, lalu menggeleng pelan.


"Saya nggak bisa nerima ini, Pak. Maaf. Terimakasih sebelumnya." kata Nawang sambil mendorong pelan tangan Richard yang terulur dengan amplop di sela telunjuk dan jempolnya.


"Ini buat anakmu. Bukan buat kamu. Kalau aku boleh ikut turun, akan aku kasih sendiri ke dia. Tapi karena kamu melarangku ikut turun, aku minta tolong kamu, titip buat anakmu buat jajan. Biar dia nggak terlalu fokus dengan sakitnya bekas jahitan nanti, Belikan apa yang dia ingin sebagai hadiah karena dia kuat menahan rasa sakitnya." kata Richard tetap memaksa.


Nawang tertegun.


Sedetail itu pemikiran Richard tentang perasaan seorang anak.


"Kalau nggak mau nerima, pintu mobil aku kunci lagi, biar kamu nggak bisa keluar." ancam Richard membuat Nawang melotot marah.


"Aku culik sekalian kamu." imbuh Richard lagi dengan wajah tengilnya.


"Menyebalkan!" umpat Nawang kemudian mengambil amplop yang masih terulur di depannya.


Richard tersenyum lebar penuh kemenangan.


"Silakan keluar, Nyonya. Jangan sedih di depan anakmu ya." kata Richard kemudian.


Nawang mengangguk pelan.


"Terimakasih ya, Pak." kata Nawang sebelum bergegas turun dan tanpa menoleh lagi bergegas masuk ke klinik.


Ada setitik airmata menetes di pipi Nawang.


Airmata sedih dan malu.


Richard tersenyum lembut sebelum melajukan mobilnya meninggalkan halaman klinik.


Kamu tetap setegar dulu, Non.


Jangan sedih lagi. Kini aku tak akan lagi jauh darimu.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️ 🗝️🗝️


e


__ADS_1


Selamat bergabung.....😁🤩


Happy reading ya.....💖


__ADS_2