PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
73


__ADS_3

Richard tak menyembunyikan senyumnya dari tadi, sejak pertama melihat penampilan Nawang dengan kaos model turtleneck.


Dia tahu pasti alasan perempuan itu memakai model kerah seperti itu.


Apalagi kalau bukan untuk menutupi secara totalitas jejak ketrampilan dirinya tadi.


Untung saja cuaca sore ini cukup mendukung untuk memakai jenis kerah tertutup seperti itu karena langit cukup mendung.


"Kamu keracunan intip goreng, ya?" tanya Nawang karena lama- lama emosi juga dengan senyum Richard yang terus saja terkembang.


"Keracunan leher sama dada." celetuk Richard tanpa dosa tetap dengan cengiran menyebalkannya.


Nawang sampai tersedak oleh salivanya sendiri saking kagetnya dengan jawaban Richard yang out of box barusan.


"Santai.....santai....." kata Richard terkekeh sambil mengulurkan sebotol air mineral baru yang ada di laci pintu mobil.


"Kamu kalau mau ngelucu kira- kira dong, Mas!" sungut Nawang setelah meneguk air


mineral.


"Lucu dimananya?" tanya Richard bingung.


"Itu barusan ngomong leher dan dadaku mengandung racun?" tuduh Nawang.


"Aku nggak ngomong gitu tadi." balas Richard sambil mulai cengengesan, sengaja meledek Nawang.


"Trus kamu keracunan lehernya siapa sampai dari tadi nggak bisa mingkem gitu mulutnya?" tanya Nawang galak.


"Adaaaa. Lehernya tuh beeeeeehhh.....kayak ada magnetnya! Bikin bibirku nggak pengen balik! Apalagi makin turun- turun tuh, bikin pengen pingsan menikmatinya saking indahnya." kata Richard dengan gaya hiperbolanya.


Nawang memutar bola matanya ke segala arah.


Nyebelin!


Memalukan!


"Nggak nyangka aku bisa setergila- gila ini sama kamu. Padahal belum semua darimu yang kumiliki, tapi aku sudah sebahagia ini. Aku malah takut mati karena saking bahagianya." kata Richard sambil menatapnya tajam namun dengan senyum bahagia tersemat dibibirnya.


Bibir nakal kesayangan Nawang.


"Ngomong apaan sih?!" sungut Nawang malu.


"Jujur saja, sejak tadi aku sudah mulai mengkhayal saat kita akan selalu berdua menghabiskan malam. Kamu orang terakhir dan pertama yang kupandangi selama hidupku. Bisa memelukmu kapan saja bila aku lelah dan ingin tempat bersandar. Aku kembali berani bermimpi tentang sebuah keluarga." kata Richard lembut.


Mobil telah terparkir manis di area parkir kalurahan yang cukup luas. Bersebelahan dengan beberapa mobil disitu, entah milik panitia acara atau milik orang tua peserta lomba juga.


Di sekitar area parkir sepeda motor banyak orang tua yang bergerombol menunggu acara selesai.


Nawang juga sudah memindai keberadaan acara yang diikuti oleh Bintang dan dapat jelas terpantau dari posisi parkir mereka saat ini.


Jadi bila nanti acara selesai, Nawang tinggal turun dari mobil dan langsung bertemu Bintang.


"Aku nggak mau kita sampai kebablasan,Non. Lebih baik kita segera menikah, biar sah. Biar bablas juga bablas dapat pahala, nggak seperti yang kemarin- kemarin." kata Richard yakin.


"Kapan kamu mau keluargaku datang melamar secara resmi?" tembak Richard tanpa jeda.


Nawang menarik nafas panjang.


Ternyata pemikirannya dan pemikiran Richard sama.


Kekhawatirannya sama juga dengan dengan Richard.


Apakah ini pertanda bahwa niat baik selalu dimudahkan dan dilancarkan?


Semoga iya.


"Aku ikut aja." jawab Nawang tanpa merasa perlu memikirkan apapun lagi.


"Ngelamarnya di Pakde Parno? Aku tadi tanya bude Darmi katanya pakde Bandi sakit, jadi nggak bisa jadi wali kamu." tanya Richard.


"Iya. Lamaran di rumahku aja. Waliku pakde Parno." jawab Nawang pelan.


"Alhamdulillah ya Allah. Nggak sampai lima menit ngobrolin lamaran, nggak perlu candle light dinner segala." kata Richard sambil terkekeh senang.


Nawang tak bereaksi. Tepatnya bingung mau bereaksi seperti apa.

__ADS_1


"Kamu mau pasok tukon apa? Berapa?" tanya Richard mulai bicara lebih detail.


"Candi. Jumlahnya dua ribu, dari daun kelor." jawab Nawang membuat Richard langsung terbahak- bahak.


"Bandung Bondowoso aja langsung nyerah sama syarat kamu. Ku jamin!" kata Richard di sela tawanya.


"Serius dong, Non. Aku harus segera prepare agar nggak ada miss di hari H nantinya." kata Richard setelah bisa menguasai tawanya.


"Aku nggak minta apa- apa. Aku cuma minta nggak ada pesta. Itu syarat wajib. Kalau itu membuat keluargamu keberatan, aku angkat tangan." kata Nawang dengan wajah sangat serius.


Richard menatap Nawang dengan serius. Lalu mengangguk mengerti.


"Bisa kita bicarakan sambil jalan nanti." kata Richard santai.


"Hanya ijab qobul, lalu makan- makan, bagi- bagi buah tangan sebagai syukuran buat tetangga dan teman- teman, selesai. Bagaimana?" tawar Nawang.


Richard menggoyang- goyangkan kepalanya sambil berpikir cepat mengkalkulasi kemungkinan biaya terbesar dari keinginan Nawang itu.


Sedikit banget. Sangat jauh lebih kecil dari budget pernikahan yang telah dia persiapkan jauh- jauh hari.


"No problem. Bisa kita bicarakan detailnya nanti." jawab Richard enteng.


"Nggak ada acara mengubah rencana awal ya nantinya?! Awas aja kalau kamu punya pikiran mau main belakang ngasih surprise aneh- aneh.Yang ada ntar huru- hara." kata Nawang dengan nada memperingatkan dengan tegas.


"Iyaaaa. Aku pasti ngomonglah sama kamu. Kan ini acara pernikahan kita berdua, kita harus sama- sama nyamanlah." kata Richard meyakinkan.


"Mau mahar apa?" tanya Richard lagi.


"Cincin saja. Biar bisa aku pakai selamanya.Yang simple ya." pinta Nawang sambil tersenyum.


"Oke! Besok kita cari apa yang kamu mau." jawab Richard sambil tersenyum lembut.


Mungkin karena terbiasa hidup dengan sederhana, bahkan memanfaatkan kesempatan memperkaya diri sendiri saja sampai nggak kepikiran sama Nawang di situasi yang sangat terbuka dan menguntungkan seperti ini.


Ditanya mau pasok tukon apa dan berapa, dia nggak minta. Walaaaah....


Ditanya mau mahar apa, cuma minta cincin yang simple biar bisa dipakai setiap hari. Hadeeeh.


Bukannya minta rumah, deposito, atau minimal satu set perhiasan bertabur berlian, atau mobil kek, ini malah cuma minta cincin.


Tokonya cincin juga dia kuat beli.


Biar nggak nyap- nyap kalau nanti diberinya berlian.


Bisa dipastikan papanya pasti ngakak- ngakak kalau melihat kelakuan Nawang ini.


Memang istimewah!


"Itu Bintang." kata Nawang sambil menunjuk ke arah belakang Richard.


Nampak Bintang tengah berjalan dengan tenang dengan sesekali mengedarkan pandangannya ke arah serombongan ibu- ibu yang jadi tujuan beberapa temannya.


Sayang, Ibu yang diharapnya ada disana belum keliatan.


Matanya langsung beredar mencari Mbak Utari. Ustadzah yang tadi mendampingi mereka.


Mbak Utari tadi bilang akan tetap ada di parkiran motor sampai semua anak- anak dijemput.


Kalau sampai jam lima lewat dua puluh masih ada yang belum dijemput, nanti akan diantar pulang mbak Utari.


"Bintang belum dijemput?" tanya mbak Utari saat melihat Bintang tengah memandangnya.


Anak itu hanya menggeleng sedih.


"Nggak papa. Mbak Utari temani. Palingan Ibumu masih di jalan. Sini." kata mbak Utari tersenyum sambil melambaikan tangannya agar Bintang mendekat.


"Biar aku aja yang turun." cegah Richard saat Nawang hendak membuka pintu, nggak tega melihat wajah gelisah Bintang.


"Mas Bintang!" panggil Richard saat dilihatnya Bintang akan mendekat ke arah seorang gadis muda berkerudung coklat muda yang tadi terlihat melambaikan tangannya pada Bintang.


Richard melangkah dengan tersenyum mendekati Bintang yang nampak surprise melihat keberadaannya disini.


"Papa jemput aku?" tanya Bintang tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Jangan heran, sepulangnya dari Semarang tempo hari, panggilan Bintang padanya sudah berganti dari Pak Richard menjadi papa.

__ADS_1


Siapa lagi konseptornya kalau bukan Darren.


"Iya. Ibu juga ikut. Tapi ngumpet di mobil." kata Richard sambil berbisik sok misterius.


"Kirain Ibu lupa jemputnya. Aku tadi udah mau sama mbak Utari aja kalau Ibu nggak jemput." kata Bintang sambil melihat gadis muda yang masih menatap interaksi Richard dengan Bintang.


"Mbak Utari itu siapa?" tanya Richard sambil berbisik.


"Guru ngajiku. Kalau pas ngaji manggilnya ustadzah." jelas Bintang. Richard mengangguk mengerti kemudian berinisiatif mendekati Utari untuk berterimakasih.


"Mbak Utari, terima kasih ya sudah menemani Bintang. Kami pulang dulu."kata Richard membuat gadis itu nampak sedikit salah tingkah.


"Bintang kenal sama om nya?" tanya Utari dengan senyum nggak enak hati.


"Kenal. Namanya Pak Richard. Ya, Pa?" tanya Bintang sambil mendongak menatapnya.


"Iya. Saya Richard, calon papanya Bintang." kata Richard dengan bangga.


Utari mengangguk mengerti.


"Ya, Pak. Maaf tadi saya agak kurang sopan. Saya belum pernah melihat Bintang dijemput Anda sebelumnya." kata Utari sopan.


"Nggak papa. Saya juga sama Ibunya. Itu." kata Richard sambil menunjuk Nawang yang rupanya keluar mobil dan mendekat ke arah mereka.


"O iya." kata Utari sambil tersenyum pada Nawang yang sudah tersenyum padanya dari jauh.


"Maaf mbak, malah ngobrol dulu sama Pak Richard." kata Utari begitu Nawang ada di antara mereka.


"Udah kenalan nih?" tanya Nawang ringan sambil tersenyum.


"Udah." jawab Richard sambil tersenyum.


"Makasih ya mbak Ut, udah nemenin Bintang. Kamu sendirian ndampingi anak- anak?" tanya Nawang keheranan.


"Tadi berdua sama mas Harlan. Tapi begitu acara selesai langsung bablas, masuk kerja sore, mbak." jawab Utari.


"Kalau gitu kami pamit dulu. Makasih ya mbak Utari. Assalamualaikum." pamit Richard kemudian karena suasana parkiran kelurahan sudah mulai lenggang.


Tinggal beberapa orang yang nampak masih hilir mudik di sekitar tempat acara tadi.


Mungkin panitia acara yang langsung beberes lokasi.


"Nggih, Pak. Monggo....Monggo....Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Utari sopan sambil membalas lambaian tangan Nawang dan Bintang padanya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Pasok tukon : adalah hadiah dari pihak laki- laki kepada keluarga pihak perempuan sebagai penghargaan atau ucapan terima kasih karena sudah merawat perempuan yang akan dipinangnya.


Tukon biasanya berupa uang dengan jumlah yang tidak sama antara satu orang dengan lainnya. Bisa tergantung permintaan pihak perempuan, bisa juga keikhlasan dari pihak laki- laki.


Tukon biasanya diserahkan bersamaan dengan hantaran lainnya seperti seperangkat pakaian dari atas sampai bawah luar dalam, kosmetik, perlengkapan mandi, alas kaki/ sepatu/ sandal, tas/ dompet, makanan tradisional seperti jadah, wajik, lemper, pisang raja, sembako, dan aneka snack lainnya.


Khususnya untuk di Jogja, sepengetahuan author tukon bisa dibilang adalah pride untuk pihak laki- laki. Semakin banyak yang bisa diberi, semakin bagus dan tinggi nama mereka di lingkungan pihak perempuan.


Pun dengan pihak perempuan, semakin banyak nominal yang diterimanya semakin tinggi nama keluarganya dilingkungan mereka.


Uang tukon dan semua hantaran yang berupa makanan dan sembako biasanya menjadi hak orangtua mempelai perempuan. Sedang untuk hantaran lainnya biasanya akan menjadi hadiah untuk mempelai perempuan.


Pasok tukon jelas adalah sebuah tradisi yang bagus diadakan, bila kita mampu. Kalaupun tidak, itu juga bukan hal wajib yang akhirnya malah akan memberatkan niat suci kita untuk menikah.


Pasok tukon jelas bukan termasuk syarat sahnya sebuah pernikahan.


Karena salah satu syarat sahnya pernikahan adalah adanya mahar.


Mahar tidak sama dengan tukon.


Mahar bisa berupa apa saja dan harus ada demi sahnya sebuah ijab qobul.


Sedang tukon biasanya berupa uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan masuk dalam tradisi.


Selama ini yang terjadi di maayarakat yang kurang memahami esensi tukon dan mahar adalah, apa yang menjadi tukon dijadikan mahar saat ijab qobul.


Padahal jelas beda arahnya.


Tukon adalah adat. Sebagai hadiah atau ucapan terima kasih pihak laki- laki untuk orang tua mempelai perempuan.

__ADS_1


Mahar adalah salah satu syarat sahnya ijab qobul. Yang diberikan oleh calon suami kepada calon istri.


Hanya Allah yang Maha Tahu.....


__ADS_2