
Richard memeluk sayang Bintang yang masih menyenderkan kepalanya di bahunya.
"Janji ya, Pa, video call tiap aku mau berangkat sekolah dan tiap aku mau bobok." kata Bintang masih dengan wajah yang bersandar dibahunya.
"Janji!" jawab Richard cepat.
"Papa mau ajak Ibu kemana sih?" tanya Bintang masih penasaran.
"Mau di ajak ke daerah utara sana. Nanti kapan- kapan kita ajak Darren juga kesana. Sekarang Papa sama Ibu dulu kesana nyobain tempatnya enak nggak. OK?" kata Richard membujuk sekaligus mengiming- iming.
"Aku sama Darren besok mau di ajak kesana juga?" tanya Bintang senang dengan menatap Richard tak percaya.
"Kalau tempatnya bagus, nanti Papa ajak kalian kesana. Sekarang Papa sama Ibu dulu nyobain tempatnya sambil nyari tempat bagus lainnya buat kita main besok."
"Kapan, Pa kita kesananya?" tanya Bintang dengan antusias.
"Kita cari waktu dulu. Nunggu Papa nggak sibuk dan Darren bisa ikut. Sabar ya?" pinta Richard.
"Aku sabar." jawab Bintang sambil mengangguk- angguk senang.
"Sekarang Mas Bintang masuk kelas ya? Tuh udah diliatin Bu Guru." kata Richard sambil menunjuk dengan dagunya Bu Guru Bintang yang sedari tadi berkali- kali melihat mereka.
"Iya. Aku sekolah dulu ya, Pa." pamit Bintang kemudian salim pada papanya dan kemudian bergeser untuk memeluk perut ibunya.
"Ibu janji ya video call sama aku." pinta Bintang dengan suara manja.
"Janji dong." jawab Nawang sambil tersenyum kemudian memeluk Bintang.
"Baik- baik ya nanti sama bude dan pakde. Nggak boleh nakal dan nggak boleh ngrepotin." pesan Nawang.
"Iya." jawab Bintang kemudian salim pada ibunya dan segera berlari karena dipanggil oleh temannya.
"Let's go!" ajak Richard sambil meraih jemari Nawang menuju mobil untuk segera meninggalkan depan sekolah setelah Bintang tak terlihat lagi.
*********
"Mas, nanti kalo ada swalayan tolong mampir sebentar ya." pinta Nawang saat mereka baru memulai perjalanan.
"Mau nyari apa?" tanya Richard.
"Kopi. Ngantuk." jawab Nawang sambil memperhatikan suaminya dengan seksama.
"Kamu nggak ngantuk atau capek gitu, Mas?" tanya Nawang sambil menatap Richard penasaran dan keheranan.
Dilihat tampilannya sih suaminya itu keliatan sangat segar.
"Enggak. Aku fresh dan tenagaku fullll!" jawab Richard sambil tersenyum simpul.
"Kok bisa ya....? Padahal jam tidur kita cuma beda dua jam an. Aku kok ngantuk banget gini ya....?" gumam Nawang disusul dengan menguap.
Richard tersenyum- senyum saja meladeni gumaman itu.
"Bisa- bisa kamu nanti cuma pindah tidur di Kaliurang." ledek Richard dengan hati was- was.
Kan nggak lucu, dari rumah niatnya mau menikmati honeymoon, tapi sampai tujuan cuma pindah tidur doang.
Apalagi suhu di daerah Kaliurang jelas lebih dingin daripada di dataran, kan nyaman banget tuh buat ngumpet di balik selimut.
"Bisa jadi....." sahut Nawang sambil terkikik.
Bisa dibayangkan bagaimana gondoknya Richard kalau beneran kejadian dia banyak tidur di Kaliurang. Jelas rugi bandar laki- laki itu, hahahaha.......
"Nyimpen akal bulus apa kamu, senyum- senyum gitu?" tanya Richard dengan nada curiga.
"Ih, curigaan." sahut Nawang keki.
"Tujuan kita tepatnya mau kemana sih, Mas?" tanya Nawang penasaran.
Sejak semalam dia nanya hal yang sama dan Richard belum menjawab secara spesifik pertanyaan itu.
Hanya bilang mau ke Kaliurang. Dah gitu aja.
Lha padahal kan daerah Kaliurang seluas itu.
"Penasaran atau pinisirin?" tanya Richard sengaja menggoda.
"Ya udah kalo nggak mau jawab." sahut Nawang dengan wajah yang langsung keruh dan suara bernada ketua dan dingin.
Mata ngantuk dan tubuh yang terasa agak lelah sama sekali bukan kombinasi yang sempurna untuk meladeni candaan yang garing dari pertanyaan yang mengganggu rasa penasarannya dari semalam.
Richard terdiam, menyadari suara Nawang yang terdengar agak ketus.
__ADS_1
Duh,ngambek dia. Nggak lucu banget ini,otw honeymoon malah dimusuhin.
"Maaf ya, bikin kamu sebel." kata Richard setelah menghentikan mobil di depan sebuah minimarket.
Dia hampir lupa kalau Nawang dalam posisi ngantuk dan kegerahan pasti gampang sekali emosi.
Dan saat ini perempuan itu sedang mengantuk.
Diraihnya lengan Nawang dan dengan gerakan lembut namun setengah memaksa mengarahkan tubuh perempuan itu menghadap ke arahnya.
Tangan kiri Nawang yang sudah membuka handle pintu mobil terpaksa menarik lagi agar pintu kembali tertutup.
"Ngantuk banget ya?" tanya Richard lembut disambut anggukan pelan kepala Nawang yang tak mau menatapnya walau tubuhnya sudah utuh menghadap ke arah Richard.
"Mau kopi apa? Aku yang turun aja." tanya Richard menawarkan diri.
"Aku ikut. Mau nyari jajan. Nanti kamu ngambil jajanannya cuma ngasal." sahut Nawang dengan suara yang sudah berusaha dinormalkan walau masih dengan wajah yang bersungut- sungut.
"Ya udah, yuk! Tapi jangan cemberut gitu. Dikiranya kita lagi marahan lho ntar." kata Richard mencoba mencairkan wajah Nawang yang masih terlihat kaku.
Nawang tak menjawab. Memilih mendahului keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk swalayan.
"Ambekannya masih nyeremin." gumam Richard sambil bergegas menyusul Nawang yang sudah hampir melewati pintu masuk swalayan.
Di dalam swalayan yang masih agak lenggang itu Richard hanya menjadi buntut Nawang.
Setelah meraih keranjang belanja yang sudah ditenteng Nawang, Richard hanya menjajari langkah Nawang menyusuri rak- rak minuman dan makanan ringan.
Nawang memasukkan empat botol minuman kopi dengan empat merk berbeda ke dalam keranjang.
Kemudian meraih satu bungkus permen kopi.
Nawang hanya meraih dua bungkus keripik kentang dengan kemasan terbesar saat Richard minta keripik kentang tanpa bertanya mau merk apa atau rasa apa pada Richard yang juga tak memprotes pilihan Nawang.
Mau protes juga Richard mikir kali ini. Mengingat Nawang masih dalam mode bad mood karena ngantuk.
Daripada salah ngomong dan malah jadi boomerang, lebih baik diam saja untuk saat ini, itu jelas langkah yang paling aman.
"Mau apa lagi, Mas?" tanya Nawang setelah dia merasa cukup mengambil jajanan untuk dirinya sendiri.
"Sama itu." tunjuk Richard pada tumpukan pie kering.
"Satu? Dua?"
"Minumnya?" tanya Nawang lagi.
"Air mineral aja yang gede satu." jawab Richard.
Nawang mengarahkan langkahnya menuju kasir namun tangannya digenggam oleh Richard.
"Satu dua, satu tujuh, empat sembilan." kata Richard saat melihat Nawang terkejut menatap telapak tangannya sendiri yang sudah memegang sebuah kartu.
"Mulai sekarang itu milikmu." kata Richard sambil mulai melangkah.
Nawang sejenak terpaku, kemudian menatap benda kotak sangat pipih namun kaku di tangannya.
"Satu dua, satu tujuh, empat sembilan ya?" tanya Nawang setengah berbisik di samping Richard.
"Yoi, Nyonya." jawab Richard sambil tersenyum menatapnya, tapi Nawang masih tak mau tersenyum padanya.
Hmmmm, sogokannya ternyata masih kurang mempan buat ngobatin orang bad mood gegara ngantuk.
"Masih mau tahu kita mau kemana nggak?" tanya Richard setelah mereka sudah melanjutkan perjalanan dan Nawang sudah meminum dua botol kopinya.
Nampaknya ngefek juga kopi itu karena wajah Nawang sudah tampak lebih santai.
"Enggak." jawab Nawang tanpa suara ngegas.
Membuat Richard lega tapi juga keki.
"Masih belum ilang marahnya?" tanya Richard sambil menoleh menatapnya.
"Aku nggak marah kok. Lagi bad mood aja. Maaf ya." kata Nawang sambil balas menatapnya.
"Kan udah minum kopi. Belum good mood juga?" tanya Richard.
"Udah good mood, tapi bukan karena kopi." jawab Nawang nampak sambil agak tersipu.
"Trus karena apa?" tanya Richard penasaran.
Kayaknya dia tidak melakukan sesuatu yang cukup sweet yang memungkinkan bisa mengubah mood Nawang membaik.
__ADS_1
"Satu dua, satu tujuh, empat sembilan." jawab Nawang sambil tertawa malu.
Richard tergelak setelah sejenak berpikir.
"Dasar perempuan." gumam Richard di sela tawanya.
"Aku langsung keliatan matrenya ya?" tanya Nawang dengan wajah nggak enak hati.
"Jadi perempuan memang harus punya jiwa matre. Itu artinya kamu menghargai dirimu sendiri dan realistis. Hidup juga butuh materi. Walau bukan yang utama, tapi sangat penting untuk menjaga kestabilan dan kewarasan jiwa dan raga." kata Richard sambil tersenyum.
Nawang jelas sangat lebih tahu dan memahami arti materi dalam kestabilan dan kewarasan jiwa dan raga seperti yang dibilang Richard barusan.
Perjalanan hidup kemarin cukup jadi pembelajaran yang bermakna dalam pendewasaan dirinya.
"Aku akan transfer uang belanja bulanan ke rekening itu nantinya. Ok?" tanya Richard sambil kembali menoleh pada Nawang.
"Kenapa nggak cash aja? Aku kan jadi repot harus ke ATM dulu kalau mau pegang uang belanja. ATM juga jauh dari rumah." kata Nawang.
"Serius mau aku kasih cash aja? Nggak bingung nanti naruhnya?" tanya Richard sambil menahan tawa.
Nawang melirik curiga.
Memangnya seberapa banyak uangnya sampai khawatir bingung nyimpennya?
"Harusnya uang belanja kita bahas sebelum kita menikah. Bisa kamu jadikan pertimbangan untuk menolak atau menerima lamaranku. Aku menunggu- nunggu kamu bertanya soal kesanggupanku menafkahi kamu berapa setiap bulannya, tapi sampai detik ini, kamu bahkan sudah jadi istriku, kamu nggak nanya juga. Kamu sebegitu yakinnya aku akan menafkahi kamu dengan baik?" tanya Richard sambil tersenyum.
Nawang tersenyum kemudian menunduk malu.
Dia sudah terbiasa mengatasi kesulitan ekonomi sendirian selama ini. Jadi malah lupa untuk mengharap mendapat jatah bulanan.
Dia yakin pada Richard? Tentu saja dia yakin Richard akan baik memberinya nafkah.
Setidaknya dia yakin nominal yang diberi Richard lebih banyak dari yang dulu dia terima dari Dani dulu.
Kemarin Richard memberinya uang dalam amplop dan bilang untuk dia jajan sebelum rumah tangga berjalan normal setelah masa libur Richard yang seminggu ini selesai.
Nawang pikir itu uang pegangan untuknya belanja selama bulan ini karena itu sudah sangat cukup baginya.
Dengan uang itu Nawang bisa membeli bahan makanan apapun yang berkualitas tinggi.
Bahkan kalau mau bisa jajan apapun yang dia ingin.
"Kemarin kamu ngasih uang aku, bukannya itu buat belanja bulanan?" tanya Nawang mencari kejelasan.
"Bukan ,Sayang. Itu bukan uang bulanan kamu. Itu buat pegangan aja kalau kamu pengen beli jajan atau apa." sahut Richard cepat.
Nawang terlongong.
Uang sebanyak itu cuma disuruh buat jajan? Kelewatan bener becandanya nih orang.
"Nanti,sesampai di tujuan, aku transfer uang belanja kamu ya." kata Richard sambil tersenyum.
"Yang kemarin aja belum aku pakai. Belanja pakai uang itu ajalah,Mas. Itu aja lebih dari cukup buat kita makan dua bulan juga." kata Nawang.
Richard terbatuk- batuk karena tersedak salivanya sendiri mendengar penuturan Nawang barusan.
Uang segitu bisa buat makan mereka serumah buat dua bulan?! Mau dikasih makan masakan apa mereka sama Nawang dengan uang segitu buat dua bulan? Nasi garam doang? Yang bener aja.....
"Kamu kenapa keselek gitu?" tanya Nawang bernada omelan sambil mengulurkan minum.
"Ngebayangin makan nasi sama garam bikin keselek." jawab Richard setelah berhasil memulihkan pernapasannya.
"Ngapain ngebayangin makan nasi garam? Kamu pengen makan nasi garam,Mas?" tanya Nawang curiga.
"Enggaklah. Bisa nangis kejer mama kalau tahu aku makan nasi garam." seloroh Richard.
"Trus ngapain ngebayangin itu?" tanya Nawang penasaran.
"Uang kemarin kamu bilang bisa buat kita makan dua bulan?"
"Iya."
"Kita bertiga mau kamu ajak makan nasi garam?" tanya Richard sambil tertawa.
Nawang terpaku menatap Richard, kemudian tersenyum.
"Kamu belum mengenal terlalu dalam siapa Nawang Yuliandri."
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Ternyata oh ternyata.....masih kacau juga acara up nya 🙈
__ADS_1
Maafkeun ya......
Jangan ngambek ya.....😞