PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
148


__ADS_3

Bintang terbangun saat di dengarnya beberapa suara dari arah ranjang dimana Ibunya terbaring.


Bagai tersengat aliran listrik ribuan Watt, Bintang langsung bangkit dan berlari ke arah beberapa orang berpakaian putih yang mengerumuni ibunya.


Nampak papanya diam melihat beberapa orang itu sedang memeriksa ibunya.


Ibu kenapa? Apa Ibu.....?


"Ibuuuuuuu........" seru Bintang sambil bergegas menghambur ke ranjang Nawang sambil menangis.


Hatinya sudah carut marut membayangkan Ibunya tengah di ujung kehidupan.


Bintang merasakan tubuhnya dipeluk oleh kedua lengan papanya dari belakang saat dia kini sibuk mengguncang lengan Ibunya dengan tangis kencangnya.


Tak dihiraukannya apa yang dibilang orang- orang berpakaian putih itu padanya.


Dia hanya ingin mencegah Ibunya pergi.


Dia ingin ibunya mendengar dia menangis kencang dan iba padanya.


"Lihat wajah Ibu, Mas. Lihat dulu." kata Richard setengah memaksa menolehkan wajah Bintang ke arah wajah Ibunya.


Bintang mengerjapkan matanya yang penuh dengan airmata saat samar- samar dilihatnya Ibunya tersenyum.


Lalu dirasanya pundaknya di sentuh oleh tangan milik ibunya.


"Ibu sudah bangun, Mas." kata Papanya lagi yang langsung membuat Bintang menghambur memeluk dada ibunya dan tangisnya kembali pecah.


"Kangen sama Ibu ya?" suara itu benar suara Ibunya!


Bintang mengangkat wajahnya dari dada ibunya kemudian mengelus pipi ibunya.


"Kenapa boboknya lama banget? Aku takut." kata Bintang kembali menangis, bahkan lebih pilu dari tadi.


"Maaf ya bikin kamu sedih. Tapi sekarang Ibu udah bangun. Nggak akan lama- lama lagi kalau bobok " kata Nawang lembut.


Tak disembunyikannya airmata haru yang kini juga meleleh di sudut matanya.


"Janji jangan gini lagi ya, Bu. Jangan gini lagi. Aku nggak mau." kata Bintang sambil menggeleng- gelengkan kepalanya dan menghapus airmatanya.


"Iya. Doakan Ibu sehat terus ya, Nak." kata Nawang sambil mengusap kepala Bintang, si sulung sang penjaga yang setia.


"Kita sholat subuh dulu yuk." ajak Richard mencoba memecah keharuan di awal hari itu.


Mereka harus secepatnya berterimakasih kepada Sang Pemilik Takdir yang telah bermurah hati mengabulkan doa mereka.


Setelah dengan sabar menunggu sambil mengarahkan Bintang membantu ibunya berwudhu, Richard ganti merapikan baju Bintang.


Anak itu bersikeras meminta dia sendiri yang akan membantu ibunya berwudhu.


Richard mengalah dengan membiarkan Bintang mengambil air di kran kamar mandi dengan baskom untuk kemudian membawanya ke dekat Ibunya duduk.


Kemudian kembali ke kamar mandi untuk mengambil ember kecil untuk tempat ibunya membuang air setelah berkumur.


Richard mengerti, mungkin ini salah satu cara Bintang menunjukkan rasa syukurnya karena ibunya telah ' kembali'.


Dia juga bisa melihat bagaimana anak itu dengan telaten dan sabarnya melakukan semua itu.


Tetaplah seperti ini sampai akhir, Nak. Tetaplah jadi Panglima penjaga keluarga kita yang lembut hati.


"Aku nggak bangun berapa hari, Mas?" tanya Nawang saat Bintang berlalu ke kamar mandi.


"Tujuh. Kenapa?" tanya Richard dengan tatapan khawatir.


"Aku belum sholat dong. Masih nifas kan?" kata Nawang.

__ADS_1


Richard mengangguk mengerti.


"Aku bingung neranginnya ke Bintang kalau dia nanya kenapa kamu nggak sholat." kata Richard sambil nyengir malu.


Nawang mendengus sambil tertawa.


"Harus aku lagi nih yang nerangin?" tanya Nawang dengan lirikan mautnya.


"Kamu kan yang paling pinter merangkai kata- kata indah." kata Richard ngeles dengan syantiknya.


Bisik- bisik keduanya terhenti saat Bintang mendekat dan bergegas mengajaknya sholat.


Beruntungnya posisi Nawang ada di belakang kedua lelaki itu sholat, jadi Bintang nggak tahu kalau Ibunya nggak ikut sholat.


Seusai salam, dzikir, dan berdoa, Richard melakukan sujud syukur dengan linangan airmata.


Berterimakasih kasih atas terkabulnya harapan dan terdengarnya doa di sepertiga malamnya.


Sungguh, dua tangan yang menengadah di sepertiga malam tak akan pernah kembali dengan sia- sia.


*************


Nawang gemetar menerima uluran dari suster yang menyerahkan satu bayinya ke dalam dekapannya.


Bayi tampan yang tadi nampak tenang dengan mata mengerjap lucu dan kedua bibir mungilnya yang maju- maju seperti sedang menyedot sesuatu,kini merengek manja di dekapannya.


Airmatanya tak berhenti mengalir menatap bayi yang dilahirkannya hampir tujuh hari lalu.


"Maaf ya, Nak. Ibu kelamaan boboknya." bisik Nawang sambil mengelus pipi bayinya.


"Boleh dikasih ASI sekarang, Sus?" tanya Nawang setelah dia merasa bu ah da danya berdenyut.


"Boleh, Bu." jawab suster itu.


Tadi, setelah dikabari Richard kalau bayinya akan dibawa menemuinya, Nawang bergegas menyiapkan dirinya.


Tak sabar rasanya memberi ASI pada dua malaikat kecilnya yang pasti akan sangat rakus nanti.


Dan venar saja,begitu bibir mungilnya bertemu dengan sumber kehidupannya, jagoan kecil itu menyesap dengan kuat hingga sejenak membuat Nawang terbelalak.


"Kuat banget nyedotnya!" seru Nawang tertahan dengan wajah takjub.


"Habis lari berapa putaran sih, minumnya sampai ngebut kayak gini?" gumam Richard gemas sambil mengelus pipi bayinya yang menyedot ASI dengan cepat dan kuat.


Dilihatnya Bintang nampak asik menatap tak jemu pada adik cewek kesayangannya yang terlelap di dalam boks nya.


Hatinya teramat sangat hangat kali ini.


Tak di duga Darren muncul di depan pintu bersama mamanya.


Mata Anin sudah berkaca-kaca begitu menutup pintu dan mendapati Nawang tersenyum menatap kedatangannya.


Mama Darren itu memeluk Nawang dengan erat sambil menangis haru, membuat Darren dan Bintang keheranan menatapnya.


"Kamu nge prank nya kelewatan tahu nggak sih?!" dengus Anin sambil menghapus airmatanya yang sayangnya masih saja terbit.


Nawang dan Richard terkekeh pelan.


"Aku sampai nggak doyan makan mikir kamu, Mbak." kata Anin manja yang mendapat hadiah jitakan pelan dari Richard di keningnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bintang dan Darren yang sedang berbisik- bisik asik di samping boks bayi adik cewek mereka.


"Lebay!" sahut Richard sambil tersenyum miring.


"Beneran! Tanya Bram kalau nggak percaya." kata Anin ngotot. Nawang tertawa melihatnya.


Kelakuan Anin dan Richard memang lebih pantas di sebut Rom and Jerry kalau ketemu.

__ADS_1


Anin dengan kemanjaan yang alami dan Richard dengan ketengilan hakikinya.


"Makasih ya, udah khawatirkan aku sampai kurus kering begitu mikirnya." kata Nawang sambil mengerling menggoda Anin yang meringis malu.


"Jadinya dinamain siapa nih si kembar?" tanya Anin penasaran.


Richard menatap Nawang sambil tersenyum bertanya dengan matanya.


"NALADIPA DEVANKA ARSYANENDRA for the prince. NAYANIKA ARISTA HIRKA for my princess." kata Richard yang di susul anggukan Nawang.


"Artinya apa tuh keren banget namanya?" tanya Anin.


"Cari di google.....manja banget! Nggak ada usaha- usahanya jadi orang." jawab Richard yang membuat Anin mendengus kesal.


Nawang hanya terkikik melihatnya.


"Panggilannya Nala dan Naya?" tanya Anin lagi.


"Boleh. Tapi kami akan memanggilnya Dipa dan Nika. Oma opanya juga tadi manggilnya Nala dan Naya." jawab Nawang sambil tersenyum.


"Aku sih selama mereka masih bayi akan manggil mereka baby N." kata Anin bikin acara sendiri.


"Terserah." sahut Richard pasrah. Kadang dia berpikir mama dari anak sulungnya ini agak gesrek otaknya, wkwkwk......



Ruangan yang sebenarnya luas itu semakin semarak saat kemudian muncul dokter Melia yang datang dengan membawa kado untuk si kembar dan buket bunga cantik untuk Nawang.


Di peluknya erat Nawang dengan terharu.


"Alhamdulillah....." bisiknya berulang kali sambil mengelus- elus punggung Nawang.


Salah satu dari semua yang sangat berbahagia dengan bangunnya Nawang adalah dia.


Begitu dikabari Richard kalau Nawang sudah bangun, dokter Melia langsung memeluk suaminya sambil menangis terharu lalu berjanji akan segera mengunjungi kamar rawat Nawang.


Selama Nawang tidur, dokter Melia tentu saja selalu rutin mengunjungi Nawang karena dia termasuk salah satu tim dokter yang khusus dibentuk untuk selalu memantau kondisi Nawang.


Ditatapnya haru Richard yang tengah menggendong Dipa walau masih terlihat kaku.


"Siap- siap begadang, Papa Eric." kata dokter Melia dengan senyum meledek.


"Siaaaap! Everything I do pokoknya, Dok." kata Richard mantap dengan tersenyum lebar.


"Adiknya boleh kuminta satu ya, Mas?" ledek dokter Melia sambil menatap Bintang dan Darren.


"Jangan!" seru Darren bergegas berlari ke arah papanya yang sedang menggendong Dipa.


"Nggak boleh!" jawab Bintang yang kemudian memegang erat pinggir boks adik ceweknya.


"Yaaaaah, nggak boleh." kata dokter Melia pura- pura sedih.


"Dokter pinjam aja sebentar, mumpung masih disini. Boleh gendong adikku ya, Bu?" tanya Bintang sambil menatap Ibunya yang mengangguk.


"Alhamdulillah boleh pinjam....." seru dokter Melia riang kemudian bergegas mengambil Nika dari boks nya.


"Cantiknyaaaa adiknya Mas Bintang niiiih." puji dokter. Melia sambil menatap Bintang yang tersipu malu walau terlihat juga sangat bangga.


Tentu saja dia tahu juga tentang 'pembagian adik' antara Bintang dan Darren dari cerita Nawang dan Richard selama pemeriksaan kandungan.


"Adik- adiknya dijagain semua ya, Mas Bintang, kakak Darren." kata dokter Melia yang dijawab anggukan mantap dan senyum lebar Bintang dan Darren.


"Jadi pulang besok?" tanya dokter Melia sambil menatap Nawang dan Richard bergantian.


"Iya. Biar mantap, yakin kalau semuanya sudah benar- benar safe." jawab Richard yang disambut anggukan setuju dari dokter Melia dan Anin.

__ADS_1


Walau dari dua kali pemeriksaan kondisi Nawang dinyatakan benar- benar sehat, tapi masih saja ada sedikit kekhawatiran di benak Richard yang akhirnya meminta waktu sehari lagi untuk tinggal di rumah sakit. Dan Nawang tak keberatan dengan itu semata untuk membuat tenang semua anggota keluarganya yang dia tahu sangat sayang padanya.


🗝️🗝️🗝️ belum E N D 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2