
Bintang terlihat bahagia saat dilihatnya ibunya turun dari motor sambil membawa sebuah kotak yang ditentengnya di dalam sebuah kantong plastik berwarna putih.
Bocah berumur empat tahun itu menatap tak sabar langkah ibunya yang mendekat menuju amben yang didudukinya di teras rumah mereka.
"Ibu bawa apa?" tanyanya setelah Nawang duduk di sebelahnya kemudian melepas sepatu dan meraih sandal jepit yang berada di sisi kaki amben.
"Kamu belum pernah makan daging bebek kan?" tanya Nawang gembira.
Bintang menggeleng ragu.
"Ini isinya bebek goreng. Kamu harus coba, enak!" kata Nawang sambil menatap Bintang yang terlihat takjub.
Dia senang sekali. Ibunya membawa pulang satu makanan baru lagi baginya.
Dan ibunya bilang itu enak, dan Bintang percaya makanan itu pasti benar- benar enak.
Selama ini tiap makanan yang di bilang enak oleh ibunya memang ternyata enak.
"Sama ayam goreng enak mana, Bu?" tanya Bintang berusaha membayangkan rasanya dengan membandingkan rasa enak yang telah dikenalnya lebih dulu, yaitu rasa ayam goreng.
"Menurut Ibu sih sama enaknya." jawab Nawang sambil mengerling jenaka.
Air liur Bintang tiba- tiba saja terbit, membayangkan lezatnya lauk yang belum pernah dicoba seumur hidupnya itu
"Yuk masuk yuk, kita cobain. Biar kamu tahu rasanya enak ayam goreng atau bebek goreng." ajak Nawang sambil menggandeng pria kecil yang telah wangi karena sudah mandi sore itu.
Bintang dengan sabar menunggu ibunya memindah potongan- potongan bebek goreng ke dalam piring besar.
Ada banyak jumlahnya.
"Nanti bude Darmi kita kasih ya." kata Nawang sambil meremas kardus bekas bungkus bebek goreng tadi.
"Di kasih dua saja, biar satu- satu sama pakde Parno." sahut Bintang.
"Kok cuma dua?" tanya Nawang keheranan.
"Itu kan enak, sayang kalau di kasih- kasih ke orang." jawab Bintang dengan lugunya.
Nawang tersenyum bijak.
"Kita nggak boleh pelit dengan rejeki yang kita punya. Kalau kita ngasih ke orang juga nggak boleh pelit. Kalau kita pelit sama orang lain, nanti Tuhan juga pelit sama kita. Kita nggak mau kan kalau sampai Tuhan pelit sama kita?" tanya Nawang yang di sambut gelengan kepala Bintang.
"Ya udah, kita kasih budenya empat ya, Bu? Pelit nggak, Bu?" tanya Bintang takut- takut.
"Nggak pelit. Kamu anak baik, Sayang." puji Nawang sambil mengelus lembut pipi chubby anaknya itu.
__ADS_1
Ada kelegaan di wajah innocent bocah dengan lesung pipi di pipi kirinya itu.
"Aku nggak mau Tuhan pelit sama kita. Nanti kita tambah susah hidupnya." kata Bintang dengan lugunya.
Hati Nawang tersentak mendengarnya.
Jadi selama ini Bintang bisa ikut merasakan kesusahan ekonomi yang mereka jalani?
Bahkan saat bapaknya sendiri yang jelas lebih sangat dewasa dan tua tidak menyadari kesulitan mereka?
Ya Tuhan.....
"Kamu merasa hidup kita susah, Nak?" tanya Nawang lembut.
Dia bergegas duduk untuk lebih tenang mendengarkan anaknya yang mungkin akan curhat.
"Iya." jawab Bintang dengan polosnya.
Membuat hati Nawang berdesir sedih.
"Kenapa kamu berpikir hidup kita susah?" tanya Nawang setelah menarik napasnya dalam- dalam, melawan sesak yang tiba- tiba memenuhi rongga dadanya.
"Motor kita nggak bagus kayak punya tetangga kita. Rumah kita juga nggak sebagus rumah mereka. Kita jarang sekali piknik atau jalan- jalan. Aku kalau pengen jajan makanan yang enak harus nunggu Ibu gajian dulu." jawab Bintang mendata 'kekurangan' hidup mereka.
Dia merasa lemah dan gagal menjadi orang tua yang bisa jadi kebanggaan anaknya.
Mati- matian dia berusaha menahan air matanya agar tak terbit dimatanya.
"Nak, kamu malu dengan kehidupan kita?" tanya Nawang lembut.
Hatinya hancur saat harus melontarkan pertanyaan itu.
Tapi dia ingin tahu isi hati anaknya.
Dia harus tahu bagaimana anaknya memandang perjuangannya selama ini.
Sejujurnya dia saat ini takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulut malaikat mungilnya itu.
Jawaban yang mungkin akan melukai hatinya lebih dalam, yang akan membuatnya semakin merasa tak berguna.
"Kadang malu. Tapi kata bude Darmi, kita nggak boleh malu cuma karena kita miskin. Kita harus malu kalau kita jahat. Emang iya, Bu?" tanya Bintang dengan wajah bertanya.
"Iya. Yang dikatakan bude Darmi betul. Kita nggak boleh malu hanya karena kita nggak punya harta seperti orang lain. Kamu tahu Pak Hasan yang rumahnya bagus banget yang di ujung sana?" tanya Nawang yang disambut anggukan Bintang.
"Pak Hasan diberi rejeki harta yang banyak, rumahnya bagus, mobilnya banyak, uangnya juga pasti banyak dan mau beli makanan apa saja pasti bisa. Tapi Pak Hasan tidak diberi rejeki sehat sama Tuhan. Pak Hasan sakit- sakitan, sering bobok di rumah sakit, nggak boleh makan macem- macem sesuka dia..."
__ADS_1
"Kenapa nggak boleh makan macem- macem? Kan uangnya banyak, bisa beli, Bu." potong Bintang.
"Karena Pak Hasan punya banyak penyakit yang kalau makan sesuatu sakitnya bisa kambuh. Makanya walaupun bisa beli apapun makanan yang dia mau, Pak Hasan memilih tidak membeli karena kalau bandel tetap beli dan makan, takutnya penyakitnya kambuh. Jadi dia punya uang banyak juga kurang bisa menikmati kan?" tanya Nawang pada anaknya.
"Kalau kita rejekinya bukan harta ya, Bu? Rejeki kita diberi sehat." kata Bintang setelah agak lama diam, mungkin mencerna apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Betul. Dan kamu tahu? Sehat adalah rejeki yang paling mahal. Dengan sehat kita bisa mencari uang, bisa main, bisa makan apa saja. Iya kan?" tanya Nawang lagi.
"Tapi lebih enak kalau kita sehat dan kaya, Bu." kata Bintang masih belum puas.
"Betul. Kita sudah diberi rejeki yang paling mahal selama ini, yaitu rejeki sehat. Kita harus syukuri itu lebih dulu biar Tuhan senang sama kita. Kalau Tuhan sudah senang sama kita, pasti doa kita nanti akan dikabulkan. Kalau kita pengen kaya, kita harus bekerja dan berdoa lebih keras lagi. Kamu berdoa ya, semoga bapak dan ibu bisa punya rejeki yang lebih banyak dari sekarang, biar kamu nggak malu lagi." kata Nawang pelan- pelan dan lembut.
Hati Nawang merintih pilu saat berkata seperti itu pada anaknya.
Ya Tuhan, tolonglah hamba- Mu ini. Berilah kemampuan kepada hamba untuk bisa membahagiakan titipan- Mu ini. Untuk bisa mewujudkan impian- impian remeh- temeh yang ternyata masih belum bisa hamba berikan padanya.
"Ibu sudah gajian ya? Kok beli makanan enak?" tanya Bintang mengalihkan pembicaraan sekaligus memutus ratapan hati Nawang.
"Nggak. Ini tadi di kasih sama bossnya ibu. Katanya buat kamu, anaknya ibu." jawab Nawang sambil menoel ujung hidung Bintang.
"Bossnya ibu kan nggak kenal sama aku." kata Bintang sambil menerima uluran piring berisi nasi dan sepotong dada bebek goreng.
"Tapi kan kenal sama ibu." jawab Nawang
"Bossnya ibu baik ya? Tolong bilang ke bossnya ibu, bilang kalau aku berterima kasih karena bisa makan daging bebek." kata Bintang sebelum memasukkan suapan pertamanya ke mulut mungilnya.
Raut senang langsung terlihat di wajah Bintang.
Nawang tak bisa menahan rasa harunya.Juga rasa malunya.
Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya terbit juga di kelopak matanya, menetes perlahan mengiringi kenyerian dari rasa tak berdaya yang melingkupi perasaannya.
Harusnya aku yang membelikan semua makanan pertama anakku. Aku orangtuanya ya Tuhan....
Buru- buru dihapusnya airmata yang menyusuri pipinya sebelum Bintang melihatnya.
"Kita harus berterimakasih pada orang yang baik pada kita kan, Bu?" tanya Bintang karena ibunya belum juga menanggapi omongannya.
"Kita harus baik pada semua orang, dan harus berterimakasih dan jangan lupa mendoakan orang yang berbaik hati pada kita." sahut Nawang.
"Aku doakan bossnya ibu sehat selalu, biar bisa nyari uang banyak, biar bisa ngasih- ngasih lagi ke orang- orang." kata Bintang dengan wajah serius.
Dia mengehentikan sejenak kegembiraannya menikmati bebek goreng untuk mendoakan Sang Pemberi bebek goreng, Richard.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1