PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
33


__ADS_3

Acara yang tadinya akan ke playground berubah total karena Darren tak mau diajak pergi karena asik bermain ketapel yang ditemukannya di sudut teras.


Ketapel ala- ala bikinan Bintang itu ternyata lebih membuat penasaran Darren.


Dan Bintang dengan sabarnya mengajari Darren menggunakannya.


Keduanya asik mencari kerikil- kerikil kecil di halaman sebagai peluru untuk 'menembak' ayam- ayam yang berkeliaran di sekitar rumah.


Darren yang tak pernah bersosialisasi dengan ayam, semakin heboh bermain sambil berusaha mengejar ayam- ayam yang masih agak kecil.


Richard tak berhenti mengukir senyumnya bahkan sesekali tergelak melihat tingkah menggemaskan anaknya itu.


"Anak gedongan di ajak main ke kampung udah kayak diajak piknik aja dia." kata Nawang sambil tersenyum melihat Richard yang sedang menertawakan Darren yang sedang berlari karena dikejar induk ayam.


"Kayaknya sering- sering diajak main kesini dia nggak bakalan nolak nih." sahut Richard sambil tersenyum menggoda.


Nawang hanya melirik sekilas pada Richard.


Modus!


"Kayaknya Saya yang bakalan nolak kalau Anda sering- sering main kesini." kata Nawang dingin.


"Kenapa?" tanya Richard cepat dan kaget.


Nawang nggak suka kehadirannya?


"Nggak enak aja sama tetangga. Masak laki- laki sudah punya anak pula, main ke rumah perempuan yang sudah..." Nawang menghentikan kalimatnya.


Sial! Dia hampir keceplosan bilang kalau dia janda.


"Sudah apa?" tanya Richard bertanya karena Nawang tak juga melanjutkan kalimatnya.


"Sudah bersuami?" tanya Richard yang hanya dibalas tatapan kosong Nawang.


"Atau sudah janda?" tanya Richard lagi dengan berbisik tapi masih terdengar jelas di telinga Nawang.


Nawang menatap tajam Richard.


Benarkah Richard tahu kalau dia sudah bercerai?


Tahu dari mana dia?


Dari Bintangkah?


Ah,seharusnya dia tak membiarkan anak itu ngobrol sendirian dengan Richard waktu itu.


"Aku nggak akan mungkin mendekati perempuan yang aku tahu masih bersuami." kata Richard tenang.


Hah?!


Berarti Richard beneran tahu kalau dia sudah menjanda?


"Lalu Anda pikir Saya akan membiarkan Anda mendekati Saya?" tanya Nawang jutek.


"Why not? Kamu nggak ada niat menjanda selamanya kan?" tanya Richard sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Nawang.


Nah kan, ternyata benar Richard beneran tahu kalau dia sudah menjanda.


Nawang hanya mengedikkan bahunya asal.


Sebuah pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya.


"Kalaupun harus menikah lagi, bukan berarti Saya harus menikah dengan suami orang juga kan?" jawab Nawang akhirnya.


"Oh ya, tentu saja! Aku juga nggak akan rela melihat kamu jadi pelakor." sahut Richard cepat.


Nawang mengangguk- angguk kaku.


Tapi kenapa kamu malah membuat aku seolah sedang berencana menjadi pelakor?

__ADS_1


"So, kalau begitu tolong jangan bertindak yang akan membuat Saya seperti seorang pelakor nantinya." kata Nawang akhirnya.


Ada sedikit sedih di hatinya saat berkata seperti itu.


Tapi bagaimanapun dia harus tegas pada dirinya sendiri dan juga pada Richard yang dirasanya semakin berani mendekatinya.


Bahkan sekarang dia malah mengajak anaknya dalam misinya PDKT.


Eh, PDKT??


Richard terkekeh.


"Emangnya lakinya siapa yang kamu goda?" tanya Richard sambil tersenyum simpul.


Nawang gelagapan dibuatnya.


Haduh, kayaknya dia salah ngomong tadi.


Pasti Richard berpikir dia ke GR an dengan sikap Richard selama ini.


"Hey, ditanya kok malah ngeliatinnya gitu." kata Richard sambil tertawa geli.


Dia tahu pasti kalau Nawang sedang salah tingkah.


"Kamu sedang menggoda lakinya siapa?" tanya Richard lagi sambil cengengesan.


"Nggak ada." jawab Nawang cepat.


"Saya nggak mau ya nanti mamanya Darren tiba- tiba melabrak Saya." kata Nawang setelah agak lama terdiam.


Richard tertawa.


"Mana mungkin dia begitu. Dia tahu aku cinta banget sama kamu..."


"Mas!!" teriak Nawang spontan, memotong ucapan Richard yang langsung terdiam karena kaget dengan teriakan Nawang dan juga panggilan Nawang padanya.


Nawang yang kaget dengan teriakannya sendiri langsung membekap mulutnya dan melirik salah tingkah pada Richard yang sudah menghela napasnya, menetralisir kagetnya.


Entah mengapa dadanya deg- degan mendengar Nawang memanggilnya 'mas' lagi, seperti saat dulu.


"Manggil 'mas' itu yang mesra, bukannya ngagetin orang se RT gitu." seloroh Richard.


"Apaan sih!" sungut Nawang malu.


Sumpah, dia malu banget kelepasan memanggil Richard dengan sebutan 'mas'.


Sebutan itu harusnya tetap dia ucapkan hanya dalam hati saja.


"Mau diterusin nggak ngomongin mamanya Darren?" tanya Richard lembut, setelah keduanya sesaat terdiam.


Nawang menatap Richard ragu.


Sebaiknya memang diteruskan membicarakan hal ini,agar cepat selesai,agar dia tetap tahu diri dan tidak jatuh cinta lagi pada Richard.


Eh? Jatuh cinta lagi?


Ya Tuhan, mikir apa sih aku ini?


"Hey....." tusukan lembut telunjuk Richard di lengannya membuat Nawang tersadar dari lamunannya dan menoleh cepat ke arah Richard yang sedang menatapnya intens.


"Bengong melulu...." kata Richard membuat Nawang membuang mukanya karena malu.


"Diterusin enggak nih soal mamanya Darren?" tanya Richard lagi.


Nawang menatap Richard bingung.


Ya, dia bingung harus menjawab apa.


Kalau dia menjawab iya, bakal ketahuan kan kalau dia sangat ingin tahu 'posisi'nya saat ini dalam kehidupan Richard.

__ADS_1


Kalau dia bilang tidak, nanti Richard malah akan semakin gencar mendekatinya.


Hhhhh, Nawang bingung untuk menjawab.


"Kelamaan banget jawabnya! Ya udah, aku telpon mamanya Darren aja ya, biar kamu bisa ngobrol puas." kata Richard sambil asik mengulik ponselnya.


"JANGAN!!!", cegah Nawang dengan paniknya.


Mau ditaruh dimana mukanya kalau harus ngobrol dengan perempuan yang berstatus istri Richard?


Ya Tuhan, kenapa senekad ini sih dia?


"Kenapa?" tanya Richard yang hampir saja memencet tombol panggilan ke Anin.


"Menurut Anda, saya harus ngomong apa sama istri Anda? Saya harus pamer ke dia kalau suami dan anaknya betah banget main di rumah saya, gitu?" cecar Nawang dengan nada mulai meninggi.


"Kita tadi ngomongin mamanya Darren lho, bukan ngomongin istriku lho." kata Richard dengan nada keheranan.


"Lhoh? Darren anak Anda kan?" tanya Nawang mulai bingung.


Richard mengangguk.


"Mamanya Darren berarti kan istri Anda. Gimana sih?!" sungut Nawang dengan wajah dongkol.


Jangan pura- pura bodoh deh!


"Terus ayahnya Bintang pasti suami kamu?" tanya Richard yang disambut tatapan bengong Nawang.


"Ya nggak lah! Kami sudah bercerai." jawab Nawang lirih.


"Ya sama. Aku juga gitu." kata Richard santai.


"Gitu gimana?" tanya Nawang tak yakin dengan dugaan yang melintas dipikirannya.


"Aku juga cerai sama mamanya Darren." jawab Richard sambil tersenyum tipis menatap Nawang yang terlihat shock.


"Kapan?" tanya Nawang ambigu.


"Apa?" tanya Richard bingung.


"Cerainya." jawab Nawang pelan.


"Saat Darren belum ada setahun. Aku menikah nggak sampai dua tahun sama Anin." jelas Richard.


"Anin itu mamanya Darren?" tanya Nawang hati- hati.


"Iya." jawab Richard singkat.


"Kok bisa cerai? Orang tua Anda ngijinin?" tanya Nawang masih dengan hati- hati.


Nawang khawatir Richard akan membuka luka lama kegagalan perkawinannya dengan Anin.


"Kami nggak bisa saling jatuh cinta. Lagi pula kami memiliki orang yang kami cintai dalam hati. Dan Anin yang menggugat cerai aku. Orang tuaku jelas nggak bisa berkutik melawan Si Bengal itu." jawab Richard sambil terkekeh geli teringat papanya yang dulu geleng kepala nggak habis pikir dengan kengototan Anin ingin bercerai darinya.


Saat itu keduanya juga nggak mau mengaku alasan mengapa mereka memutuskan bercerai.


Yang jelas Anin sangat ngotot ingin bercerai.


Dan waktu itu orang tua mereka otomatis berasumsi Richard berbuat yang tidak baik dalam perkawinannya dengan Anin dan membuat Anin merasa sangat tersakiti dan memilih bercerai dengan Richard.


Richard memilih tidak perduli dengan dugaan oran tuanya.


Baginya yang penting dia dan Anin tahu pasti kenyataan di dalam rumah tangga mereka.


Alasan tidak menerima nafkah batin hanya Anin beberkan di depan majelis hakim.


"Aku lebih dulu single daripada kamu. Dan terus terang saja, aku senang mendapati kenyataan kalau kamu juga single sekarang." kata Richard sambil tersenyum senang dan menatap lekat Nawang yang menunduk menyembunyikan kegugupannya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2