
Nawang duduk gelisah di kamarnya.
Mbak Reni, MUA kiriman Richard yang mendandaninya tadi masih sibuk menyusun alat perangnya ke dalam cosmetic box yang tadi diacak- acaknya sendiri saat mendandaninya.
"Acara masih setengah jam lagi ya, Mbak Nawang?" tanya mbak Reni sambil tetap lincah menata alat- alatnya.
"Iya, Mbak. Udah otw mereka." jawab Nawang setelah menatap pesan yang beberapa menit lalu di kirim Richard padanya.
"Jangan gelisah, tenang saja, biar aura beautiful nya keluar. Cantik banget ih jadi orang." puji mbak Reni sambil menatapnya gemas.
Nawang terkekeh kaku. Sangat jelas belum bisa tenang apalagi santai.
Dia bahkan nggak ada niat melihat hasil kerja mbak Reni di wajah dan dandanannya saat ini saking nervous nya.
Ah, payah.
Gini aja nervous.
Padahal nanti yang akan dia jumpai hanya beberapa orang saja. Itupun orang- orang yang sudah dia kenal sebelumnya.
Yang nanti ada di acara lamaran jelas hanya Pakde Parno, Bude Darmi, Pak RT, Pak RW, Pak Dukuh, Pakde Ahmadi sebagai yang dituakan di lingkungannya, juga Mas Arham, tokoh agama yang disegani di lingkungannya.
Hanya tiga pasang kerabat Richard saja yang belum dia kenal.
Kenapa gugupnya seperti ini?
"Mbak, dinikmati dulu hidangannya. Maaf, cuma seadanya." kata Nawang setelah dilihatnya Reni selesai dengan alat- alatnya.
Sebagai tuan rumah, Nawang tentu saja tak boleh meninggalkan sopan santun menawari tamunya untuk makan dan minum.
Kebetulan untuk mereka berdua telah disiapkan minum, snack, dan makan yang disediakan di atas meja di sudut kamar Nawang.
"Siyaaap." sahut mbak Reni dengan riang lalu tanpa canggung mulai mengambil snack kemudian asik ngemil di samping Nawang.
"Mbak Nawang nggak makan? Tenang aja, lipstiknya nggak akan ilang kalau cuma buat makan aja sih." kata mbak Reni sambil tertawa kecil, sengaja mengajak Nawang bercanda.
"Nanti aja. Belum pengen makan." sahut Nawang sambil berusaha tersenyum.
Diliriknya mbak Reni yang masih asik menikmati kudapan sambil memainkan ponsel ditangannya.
Sepertinya dia sedang melihat IG.
"Kelakuan nih, istrinya kerja malah dia asik mainan burung." kata mbak Reni seperti gumaman sambil matanya tetap memandang satu photo di ponselnya.
"Suami mbak Reni suka burung?" tanya Nawang iseng. Sekedar usaha untuk mengendurkan urat tegangnya juga.
"Iya. Lagi musim burung apa aja, dia pasti ikut pelihara. Tapi Alhamdulillah nya dia juga kadang menghasilkan uang yang tak terduga dari hobinya itu. Sebulan lalu dia bisa dapat uang sepuluh juta dari burung. Aku kadang nggak habis pikir sama mereka yang suka sama hewan atau tanaman gitu. Rela- relanya ngeluarin uang sampai berjuta- juta cuma buat burung seekor atau tanaman satu pot kecil." kata mbak Reni heboh.
Nawang mengangguk- angguk setuju.
"Itu mungkin salah satu cara Allah menyebar rejeki ke hamba- Nya. Bisa lewat hobby orang- orang tertentu. Hobby orang yang bisa jadi sumber rejeki buat orang lain." kata Nawang sambil tersenyum.
"Betul juga mbak. Seperti acara mbak Nawang yang jadi rejeki buat aku sekarang." kata mbak Reni dengan riangnya.
"Mas Richard udah kenal lama sama mbak Reni?" tanya Nawang penasaran.
"Kenal yang gimana sih enggak mbak. Cuma sebatas saya pekerja dan Pak Richard jadi pelanggan di salon aja. Tadinya Nina yang diminta Pak Richard buat dandanin mbak Nawang hari ini, tapi karena Nina lagi sakit, jadi aku yang direkomendasikan Nina buat gantiin dia. Semoga hasilnya nggak mengecewakan." kata mbak Reni sambil tersenyum menatapnya.
Nina.....Nawang ingat itu adalah gadis yang mendandaninya di salon sebelum dia menemani Richard ke ulang tahun Pak Darto.
Ah ya, dia belum melihat hasil kerja mbak Reni atas wajah dan tubuhnya.
"Coba aku lihat hasilnya." kata Nawang sambil mengerling jenaka dan beranjak menuju cermin tinggi yang ada di dekat pintu.
Matanya tak berkedip untuk beberapa saat waktu melihat bayangan dirinya di cermin itu.
Cantik sekali.
Apa iya dia secantik ini?
"Terpana dia." seloroh mbak Reni membuatnya tersipu malu.
__ADS_1
"Bajunya bagus ya ternyata." gumam Nawang untuk menutupi rasa malunya.
"Baju bagus, yang makai baju bodynya juga bagus. Make up nya cucok kan?" tanya mbak Reni riang.
"Cucok meong sih kalau ini. Nggak salah Nina merekomendasikan mbak Reni. Aku suka. Makasih ya." kata Nawang sambil tersenyum tulus pada mbak Reni yang sedang mengarahkan kamera padanya.
"Sama- sama mbak cantik." kata mbak Reni disertai senyum puasnya menatap layar ponselnya.
"Aku barusan diphoto ya?"tanya Nawang malu - malu.
"Cantik banget nih." kata Mbak Reni sambil menyerahkan ponselnya pada Nawang.
Nawang tersenyum- senyum sendiri melihat potret dirinya dari berbagai sudut.
Entah kapan mbak Reni mengambil Poto dirinya itu tapi memang bagus- bagus.
"Aku minta ya mbak?" pinta Nawang sambil menyerahkan ponsel pada mbak Reni.
"Monggo. Tinggal serahkan nomer ponsel saja." jawab mbak Reni sambil mengerling.
Nawang kemudian menyebutkan nomer ponselnya dan langsung mendapat kiriman semua photo dirinya.
Senyumnya tiba- tiba meredup saat diterimanya pesan dari Richard yang bilang sudah masuk ke desanya.
Tiba- tiba saja dadanya berdebar- sebar sangat kencang.
Ya Allah, kenapa segugup ini sih?
"Rombongan sudah rawuh (datang)." Bude Darmi tiba- tiba sudah ada di depan pintu kamarnya yang sedari tadi terbuka.
Rupanya dia datang bersama Dinda, istri Mas Arham yang tersenyum manis padanya.
"Kamu cantik banget,Wang." kata Dinda sambil mendekat bersama bude Darmi yang nampak menatapnya penuh haru. Entah apa yang membuat bude Darmi terharu.
"Ini belum dandan yang maksimal. Nanti kalau pas nikahan pasti lebih bikin pangling." sahut mbak Reni sambil tersenyum.
Nawang hanya terkekeh malu.
Suara dari pengeras suara yang berasal dari ruang tamu memenuhi udara rumah saat ini.
Acara langsung dimulai rupanya.
Nawang berusaha sekonsen mungkin mendengarkan susunan acara yang sedang dibacakan entah oleh siapa.
Nawang tak mampu mengingat itu suara siapa.
"Kamu kenapa gemetar begini?" bisik bude Darmi sambil memegang lengannya.
"Nggak tahu." jawab Nawang bingung.
"Kamu nggak terpaksa kan menerima lamaran ini?" tanya bude Darmi seperti berbisik padanya.
Nawang menggeleng tegas.
"Enggak, bude. Aku senang kok dengan lamaran ini." kata Nawang meyakinkan.
Bude Darmi kenapa ya, kok malah melow gini?
"Kamu cinta kan sama mas Richard?" tanya bude Darmi lagi.
"Iya. Aku cinta sama mas Richard." jawab Nawang yakin.
Bude Darmi kini terlihat tersenyum.
"Aku lega mendengarnya. Setidaknya lamaran ini atas kemauanmu juga. Setidaknya kamu benar- benar mencintai calon suamimu. Tidak seperti pernikahanmu sebelumnya. Kamu harus bahagia ya, Wang. Janji ya?" bisik bude Darmi dengan suara yang seperti menahan tangis.
Nawang mengangguk sambil tersenyum.
"Aku janji, bude. Aku akan bahagia. Doakan ya, bude." kata Nawang sambil tersenyum.
Bude Darmi hanya mampu mengangguk karena masih sibuk menepikan rasa harunya.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita siap- siap keluar. Acara lamaran baru dijawab." kata Dinda.
Nawang kembali menajamkan telinganya.
Di dengarnya suara pakde Parno sedang menerima lamaran dari pihak Richard secara resmi.
Sesuai gladi bersih ala- ala kemarin,.setelah pakde Parno selesai menerima pinangan secara resmi maka Nawang akan keluar untuk disematkan cincin pertunangan oleh Richard sebagai acara inti siang ini.
Nawang membeku saat kedua lengannya di tarik lembut oleh bude Darmi dan Dinda agar berdiri dari duduknya.
"Saatnya kita keluar." kata bude Darmi sambil tersenyum.
"Tunjukkan cantikmuuuu....." bisik Dinda sambil tersenyum riang padanya.
"Senyum mbak Nawang. Hari ini milikmu." kata mbak Reni riang, masih sempat di dengar oleh Nawang yang rasanya melangkah di udara, mengambang, menuju ruang tamu yang telah di sulap menjadi ruangan indah penuh bunga dan sangat cantik sampai di bagian teras.
Mata Nawang pertamakali bertemu dengan tatapan penuh senyum dari mata mama Richard.
Mata wanita itu nampak berkaca- kaca menatapnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Tanpa sadar langkahnya langsung mengarah pada mama Richard kemudian meraih telapak tangan wanita lembut itu dan menciumnya.
"Makasih, Sayang. Kamu cantik sekali." bisik mama Richard sambil memeluknya.
Nawang hanya mampu tersenyum kemudian beralih ke arah papa Richard dan melakukan hal yang sama.
Pak Pambudi hanya tersenyum lebar sambil menepuk bahunya lembut.
Pandangan selanjutnya tertuju pada Richard yang menatapnya dengan senyuman sangat menawan.
Entah senyumnya yang menawan entah orangnya yang terlihat semakin menawan saja dimatanya.
Baru kali ini Nawang melihat penampilan Richard memakai baju batik.
Dan dia terlihat sangat gagah dan tampan.
"Kamu cantik sekali, calon istriku." Nawang mendengar itu terucap lirih dari bibir Richard yang kini tengah memakaikan cincin di jari manisnya.
"Kamu juga tampan sekali, calon suamiku." bisik Nawang sambil tersipu malu dan gemetar sambil memakaikan cincin platinum di jari manis Richard.
"Udah. Gandengannya nggak usah lama- lama. Kami bisa repot ini kalau tiba- tiba minta dinikahkan sekalian hari ini juga." seloroh pakde Parno membuat seisi ruangan tertawa dan membuat Nawang dan Richard tersipu malu.
"Pakde Parno tahu aja yang dipikiran saya." seloroh Richard sambil tertawa malu.
Richard dan Nawang sudah kembali ke kursi masing- masing namun masih saling bisa menatap karena pengaturan kursi memang sengaja di tata berhadap- hadapan antara kursi untuk rombongan dari keluarga Richard dan kursi untuk penerima dari pihak Nawang.
"Waaaah, tenan to? (bener kan?). Sabar mas Richard. Tadi sudah ditentukan, nggak sampai dua bulan lagi sudah sah. Mau gandengan sepanjang hari juga monggo." seloroh pakde Parno.
Nawang menoleh cepat pada bude Darmi yang duduk di sebelahnya.
"Nggak sampai dua bulan lagi?!" tanya Nawang kaget.
"Enam minggu lagi tepatnya." bisik bude Darmi sambil tersenyum.
Nawang terpaku.
Enam minggu lagi?!
Ini pada nggak salah ngitung harinya?
Enam minggu lagi untuk mikirin acara nikahan apa bisa?!
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Tet
Terimakasih sudah membersamai Richard dan Nawang 🙏😊
Happy reading....💖💕
__ADS_1