PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
8. Apa kabar kamu?


__ADS_3

Nawang menolehkan kepalanya saat Nayla memanggilnya dari depan pintu gudang bahan finishing.


Dia sedang bersama Raharjo, mandor divisi finishing untuk melihat stock warna dan mendiskusikan campuran bahan untuk warna baru.


"Ada yang mau ketemu, Mbak." kata Nayla takut- takut.


Dia tahu Nawang nggak suka disela saat sedang melakukan sesuatu.


"Siapa?" tanya Nawang dengan penasaran.


"Pak Deni sama buyer baru. Katanya pengen membicarakan sesuatu." jawab Nayla dengan ekspresi wajah sedikit lega karena Nawang tidak menjawab dengan semburan.


"Ya udah ditemui dulu sana, Wang. Kita lanjutin nanti atau besok lagi aja. Yang penting untuk hari ini aku bisa jalan dulu dengan stock yang ada." kata Raharjo yang dibalas anggukan Nawang.


Mereka bergegas keluar dari gudang bahan finishing.


Nawang bergegas kembali kearah kantornya dengan sedikit keheranan.


Nggak biasanya Pak Deni mengajak buyer untuk ketemu dengannya dengan embel- embel ' pengen membicarakan sesuatu'.


Biasanya buyer di ajak ketemu dengannya juga hanya sekilas, sekedar memperkenalkan dirinya sebagai penanggungjawab logistik tanpa ada pembicaraan apapun.


Langkah Nawang terhenti saat memasuki ruangannya karena melihat Richard sedang duduk tenang di kursi yang ada di seberang meja kerjanya.


Kepalanya sedikit tertunduk karena sedang asik dengan ponselnya.


Nawang sengaja membuat suara dengan menjatuhkan pulpennya agar Richard tahu kedatangannya tanpa dia yang harus menyapa lebih dulu.


Dan cara picisannya itu ternyata berhasil.


Dengan cepat Richard melayangkan pandangannya ke samping dan menemukan Nawang sedang berjongkok memungut pulpennya.


Pria itu segera berdiri dari duduknya dan menatapnya sopan.


"Selamat siang Mbak Nawang." sapa Richard sopan.


"Siang, Pak Richard." jawab Nawang sambil menerima uluran tangan Richard.


Seperti sebelumnya, Richard menepuk- nepuk lembut punggung tangan Nawang saat berada digenggamannya.


Bergegas Nawang menarik lembut tangannya dari genggaman Richard karena Nayla menatap adegan itu dari mejanya yang terletak di belakang meja kerjanya.


"Katanya sama Pak Deni. Pak Deninya mana?" tanya Nawang sambil melangkah memutari meja untuk duduk di kursi kerjanya.


"Tadi kesininya sama Pak Deni. Lalu Saya minta ditinggal aja. Udah gede ini, kan Saya udah berani." jawab Richard dengan jenaka.


Nayla terkikik mendengarnya.

__ADS_1


Dan Nawang hanya melebarkan sedikit lengkungan bibirnya untuk candaan receh itu.


"Ada yang bisa Saya bantu, Pak?" tanya Nawang to the point'.


Richard terlihat sedikit bingung.


Niatnya tadi memang hanya ingin bisa melihat wajah jutek Nawang.


Tapi berhubung untuk mengaku seperti itu kepada Pak Deni - atau bahkan kepada siapapun- jelas tidak mungkin, makanya Richard tadi hanya bilang ingin melihat situasi logistik perusahaan rekanannya itu.


Oleh karena permintaan Richard itu adalah dianggap permintaan standard para buyer baru, maka tanpa sedikitpun syak wasangka, Pak Deni mengantar Richard untuk bertemu Nawang selaku kepala logistik untuk mengetahui seluk beluk yang ingin ditanyakan Richard tentang segala hal yang berkaitan dengan logistik.


"Itu....Hmmmm....saya ingin tahu material yang akan digunakan untuk pengerjaan untuk proyek Saya itu wujudnya seperti apa aja." jawab Richard sambil mengurut pelan pelipisnya untuk menutupi kebingungannya.


Nawang yang sudah dapat menebak modus nya Richard masih pura- pura dengan keprofesionalannya.


"Bukannya sudah kami kirim semua data kepada Mas Hans ya, Pak? Disitu kami sertakan photo bahkan video dari bahan sampai proses pengerjaannya. Atau Mas Hans belum membaginya dengan Bapak?" tanya Nawang tak tega menjatuhkan Richard terlalu dalam.


"Mungkin dia mengira Saya nggak tertarik dengan laporan itu, makanya dia nggak ngirimin Saya." sergah Richard mengira Nawang belum mencium akal bulusnya.


"Kalau begitu Anda bisa memintanya sekarang. Daripada Anda kotor- kotoran disini." kata Nawang sambil sekuat tenaga menahan senyum kemenangan.


"Karena Saya sudah terlanjur disini, kayaknya lebih baik Saya melihat langsung aja. Kalau Mbak Nawang nggak keberatan sih." kata Richard setengah mengharap.


"Gimana ya.....Kerjaan Saya lumayan banyak nih." kata Nawang pura- pura nggak enak hati.


Raut kecewa sekilas dilihat oleh Nawang walau kemudian wajah tampan tak terbantahkan itu dihiasi oleh senyum penuh pengertian.


"Atau gimana kalau Bapak didampingi sama Nayla aja? Dia sudah cukup mengerti seluk beluk soal barang- barang di logistik." tawar Nawang yang diterima oleh Richard dengan anggukan berat.


"Nggak papa, nggak masalah siapa yang menemani Saya **touring di logistik." jawab Richard sambil tersenyum tipis.


Sesungguhnya dia kecewa sekali kalau sampai Nayla yang menemaninya.


Tadi dia sudah berangan- angan akan ada waktu berdua dengan Nawang.


Dengan begitu dia akan ada waktu untuk berbicara secara pribadi.


"Nay, bisa ya nemenin Pak Richard buat keliling liat stock kita?" pinta Nawang pada Nayla yang ditanggapi dengan wajah takut dan bingung Nayla.


"Kenapa?" tanya Nawang tenang sambil mendekat ke sisi meja Nayla.


"Saya tadi dikasih tugas Pak Deni untuk nyiapin material barang sample, Mbak. Katanya harus selesai satu jam lagi." kata Nayla nggak enak hati karena Richard memperhatikan pembicaraan mereka.


Nawang mengangguk mengerti.


"Ya sudah, kamu kerjakan tugas dari Pak Deni aja. Kamu sudah paham material yang diminta kan?" tanya Nawang meyakinkan dulu.

__ADS_1


"Sudah, mbak. Nanti kalau Mbak Nawang belum selesai mendampingi Pak Richard, biar di check ulang sama mbak Sasi atau Pak Deni. Nggak papa kan, Mbak?" tanya Nayla.


"Nggak apa-apa. OK kalau gitu, Saya akan mendampingi tour Anda, Pak Richard." kata Nawang sambil menatap Richard sopan yang disambut senyum lebar dan bahagia Richard.


Yessss! seru batin Richard sangat senang.


Nawang meraih satu masker baru dari barang stocknya lalu diulurkan pada Richard yang nampak kaget dan bingung.


"Anda harus memakai masker kalau akan berkeliling di area pabrik. Kalau nggak, Anda akan batuk, minimal sakit hidung karena belum terbiasa dengan aroma dari pabrik furniture." kata Nawang dengan wajah cueknya sebelum dia sendiri menarik ke atas masker yang telah bertengger di bawah dagunya.


Richard bergegas memakai masker itu dan mengikuti langkah Nawang yang telah melenggang menuju pintu.


Richard tersenyum kecil dengan kelakuan minus Nawang itu.


Kalau bukan kamu, udah pasti akan kumaki- maki kelakuan kek gini.


"Anda ingin tahu apa dulu, Pak?" tanya Nawang setelah Richard menjajari langkahnya.


"Pengen tahu kabarmu dulu. Apa kabar kamu selama ini, Non?" tanya Richard lembut, membuat langkah Nawang terhenti karena tidak menduga Richard akan berkata seperti itu.


Richard ikut berhenti dan menatap mata sedih dibalik lensa kacamata minus Nawang.


Richard melihat kesedihan itu lebih pekat daripada kesedihan saat pertama dia mengenal cinta pertamanya dan juga kekasih pertamanya itu.


Apa yang membuat hatimu kian sedih sekarang, Nona?


Apakah hidupmu tidak bahagia?


"Saya sehat. Terima kasih atas perhatiannya." kata Nawang tegas dan dingin tanpa melepaskan pandangannya dari tatapan mata Richard.


Dia tak ingin terlihat menyedihkan di mata laki- laki itu.


"Syukurlah kalau kamu baik- baik saja. Biar aku aja yang nggak baik- baik saja." kata Richard sambil kembali mulai melangkah diikuti Nawang yang harus menarik nafas panjang dulu untuk meredakan sesuatu yang bergejolak yang tiba- tiba menerjang perasaannya.


Kamu juga nggak baik- baik saja. Aku tahu itu, Nona. Matamu tidak bisa berdusta.


"Bisa kamu jelaskan bagaimana proses pembuatan sebuah barang dari kayu mentah hingga nanti barang itu jadi dan sampai di tangan konsumen?" pinta Richard saat mereka baru beberapa langkah berjalan.


"Sebenarnya itu bukan wewenang Saya untuk menjelaskan alur produksi sebuah barang, Pak. Wewenang Saya hanya sebatas bahan bantu produksi saja, logistik." jawab Nawang sambil menatap Richard yang mengangguk mengerti sambil tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri.


Kenapa dia bisa sebodoh ini sih?


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Terimakasih sudah mampir 🙏 Jangan beranjak sampai akhir ya.....😃

__ADS_1


__ADS_2