
Nawang membuang pandangannya ke sisi kiri jendela mobil yang kini berjalan sangat perlahan, menapaki jalan yang tidak mulus karena jalan yang mereka lewati bukanlah jalan beraspal tapi jalan yang diberi susunan batu- batu kecil yang ditata sedemikian rupa.
Di kiri kanan jalan yang mereka lalui terhampar sawah yang seperti permadani hijau yang luas karena sejauh mata memandang adalah tanaman padi yang baru beranjak meninggi.
"Mobilnya goyang- goyang terus, Pa." celetuk Darren dari belakang, merasa kurang nyaman karena tubuhnya sedikit terombang- ambing karena mobil berjalan bergoyang- goyang karena jalanan yang tidak rata.?
Walaupun Richard berusaha mengurangi goncangan dengan memelankan laju mobilnya, masih saja goncangan itu tetap terasa bagi mereka.
Richard hanya mampu menahan tawanya, bingung harus menanggapi bagaimana.
"Jalannya kan nggak diaspal, tapi dari batu yang ditata, jadi nggak halus jalannya, bikin goyang- goyang mobilnya." terdengar suara Bintang menjelaskan
"Kenapa nggak di aspal? kan enak jalannya kalau di aspal." tanya Darren keheranan.
"Aspalnya habis. Belum beli lagi." sahut Richard ngasal, kemudian tertawa terbahak- bahak dalam hati begitu menyadari ucapannya barusan.
Bapak macam apa aku ini? Ngasal gini jawab anak.....
Darren dan Bintang menatapnya bingung tapi Richard memilih pura- pura tak tahu.
Diliriknya Nawang saat di dengarnya Darren dan Bintang sudah asik mengomentari apapun yang mereka lihat dalam perjalanan.
"Kenapa diem aja dari tadi?" tanya Richard pelan.
Dia tahu Nawang seperti gelisah sejak mereka melewati gapura batas propinsi Jogja - Jateng tadi.
"Nggak papa. Agak ngantuk aja." dusta Nawang tanpa menoleh pada Richard.
"Masih jauh nggak ini?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan yang sepertinya sengaja dibuat buntu oleh Nawang.
"Di depan nanti ada pertigaan, Mas ambil kanan." jawab Nawang sambil beringsut membenarkan posisi duduknya.
Kini Nawang menegakkan badannya dan menatap lurus ke depan.
Richard dapat melihat gurat ketidaknyamanan di wajah ayu itu.
Apakah sesungguhnya dia benar- benar tidak ingin kesini?
"Maaf ya memaksamu datang kesini. Kita sebentar saja nanti. Yang penting Bintang sudah bertemu simbahnya." kata Richard penuh sesal.
Nawang menolehkan kepalanya menatap wajah Richard yang nampak menyesal.
"Maaf kalau bikin kamu juga nggak nyaman dengan sikapku." kata Nawang akhirnya, mencoba menampakkan senyum di wajahnya.
Tapi Richard melihat keterpaksaan di lengkungan bibir itu.
"I'm okay. Kamu yang terlihat sangat terpaksa kesini. Harusnya aku nggak gampang janji sama anak- anak. My bad." kata Richard penuh sesal.
"Aku....hanya nggak ingin ketemu Dewi." kata Nawang akhirnya.
Richard mengangguk mengerti.
"Kamu membencinya?" tanya Richard pelan.
Nawang tak menjawab.
"Sejak awal bertemu dengannya aku memang sudah nggak suka sama dia." kata Nawang akhirnya.
Richard tahu kelebihan Nawang ini dari dulu.
Nawang bisa membaca watak seseorang dari first impression.
Dan sepanjang pengetahuannya, nggak pernah salah.
Hanya dengan melihat sosok orang itu, Nawang sudah bisa membaca karakter asli seseorang.
Maka tak heran bila Nawang bisa sangat dingin pada seseorang yang berpembawaan sangat ramah dan disukai banyak orang, karena Nawang sudah tahu watak asli orang tersebut yang ternyata culas dan suka menikam dari belakang.
Pun Nawang bisa baik pada orang yang 'dimusuhi' orang banyak karena Nawang bisa melihat watak terdalam orang tersebut yang ternyata sangat murah hati dan setia kawan.
Pembawaan Nawang yang terlihat pendiam cenderung dingin adalah cara dia untuk membaca orang- orang di sekitarnya.
"Kenapa nggak suka sama dia? Karena dia berkhianat padamu?" tanya Richard sepelan mungkin agar suaranya tak lebih keras dari kehebohan Darren dan Bintang yang sedang membicarakan nama burung yang terlihat beterbangan di area sawah yang mereka lewati.
"Bukan. Itu malah nggak masuk penyebab aku nggak menyukainya. Dia berbahaya. Seperti.....racun. Tak bisa diberi hati. Pada dasarnya dia nggak baik. Kasihan orang- orang yang ada di sekitarnya." kata Nawang datar, bertutur seperti cenayang.
"Aku penasaran seperti apa orang itu." gumam Richard.
"Sekali kamu bersikap baik sama dia. Silakan lepaskan aku. Aku nggak akan bisa membawamu kembali." kata Nawang sambil menatap Richard dingin dan sungguh- sungguh.
Richard tercekat melihat tatapan mata Nawang itu.
Tatapan marah, takut kehilangan, dan kesedihan.
Ya Allah.....sebenci itu dia sama perempuan itu.
"Aku nggak akan coba- coba. I swear." kata Richard segera dengan tatapan semeyakinkan mungkin.
"Yang penting aku sudah memperingatkanmu. Kalau sampai nanti ketemu dia dan kamu nggak bisa meneguhkan hati, aku akan kehilangan kamu." kata Nawang dengan suara yang sangat jelas bergetar.
"Never. Siapapun itu yang datang padaku nantinya, tolong pertahankan aku. Jangan lepaskan aku, please." sahut Richard cepat dengan suara memohon.
__ADS_1
Diraihnya jemari Nawang yang ternyata sedikit gemetar.
Ya Tuhan, aku salah membawanya kesini....Ini sangat menyakitkan buat Nawang.
"Kita putar balik aja ya? Nggak usah ke simbahnya Bintang." kata Richard dengan tegas kemudian menghentikan mobilnya ditepi jalan.
Nawang tersentak.
"Rumahnya tinggal beberapa rumah lagi di depan. Ngapain kita nggak jadi?" tanya Nawang akhirnya.
Darren dan Bintang nampak celingukan saat mereka menyadari mobil sudah berhenti.
"Kok berhenti, Pa? Sudah sampai? Mana rumahnya?" tanya Darren kebingungan karena mereka berhenti di pinggir area persawahan.
"Rumah simbahku masih di depan sana. Tuh yang ada mobil merah berhenti itu." kata Bintang sambil menunjuk ke depan.
"Sebentar kita berhenti dulu, biar Ibu menyisir rambutnya dulu." kata Richard mencari alasan.
"Kan bisa sambil jalan, Pa." kata Bintang keheranan.
"Tadi ibu bingung nyari sisirnya nggak ketemu- ketemu karena mobilnya kan jalannya goyang- goyang." dusta Richard lagi.
"Tukang dusta." desis Nawang pelan sambil terpaksa menyisir rambutnya yang sebenarnya nggak perlu dilakukan.
Richard hanya meringis salah tingkah.
"Terus atau balik nih?" tanya Richard bingung.
"Teruslah! Nggak ada sejarahnya Nawang balik kanan ditengah jalan." kata Nawang dengan datar dan dingin.
"Yakin?" tanya Richard berbisik.
"Hmmm." jawab Nawang pelan.
"Kalau kita pulang aja gimana, kids?" tanya Richard mengagetkan.
"Rumah Simbah di depan itu, Pa. Kita kan belum sampai. Kok pulang?" protes Bintang.
Nawang melotot pada Richard.
"Bercandaaaa...." kata Richard kemudian sambil meringis salah tingkah.
"Ayo jalan lagi, Pa." ajak Darren dengan suara nggak sabar.
"Kita di tempat Simbah sebentar aja nggak papa ya?" kata Richard sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa?" tanya Bintang keheranan.
Fyuuuuh.....hari ini hari penuh dusta ternyata....
"Iya nggak papa sebentar aja." kata Bintang penuh pengertian.
Darren tak protes apapun
"Ready?" bisik Richard sambil menatap Nawang.
Nawang hanya mengangguk.
Richard kemudian menyalakan lagi mesin mobilnya dan kembali membiarkan mobilnya melaju pelan dengan bergoyang- goyang selama beberapa saat.
"Belok kiri sebelum mobil merah itu, Mas." kata Nawang memberi aba- aba.
"Oke." jawab Richard mengerti.
Dan tak lama Richard sudah menghentikan mobilnya di depan satu- satunya rumah yang punya halaman cukup luas. Kanan kiri rumah itu tak ada yang punya halaman.
Nawang menarik nafas beberapa kali sebelum membuka pintu mobil, menyusul Richard yang sudah membukakan pintu belakang untuk anak- anak.
Nawang turun dari mobil dan langsung bertemu dengan tatapan mata Mala, tetangga sebelah rumah yang juga berasal dari Jogja.
"Mbak Nawang to ternyata tamunya." kata Mala kemudian bergegas mendekat setelah meletakkan jemuran yang baru saja diangkatnya dari gantungan.
Nawang tersenyum menerima uluran tangan Maka yang mengajaknya bersalaman.
"Sehat, Mal?" tanya Nawang sambil tersenyum riang.
"Alhamdulillah mbak, sehat. Mbak Nawang tambah cantik aja." kata Mala sambil menatapnya dengan tatapan terpesona.
Nawang terkekeh malu.
Dari sudut matanya Nawang melihat Mala menatap penasaran pada sosok Richard yang masih berdiri menunggunya.
"Aku ke Ibu dulu ya. Terusin ngurusin gombalanmu (pakaianmu)." kata Nawang sambil terkikik.
Mala ikut tertawa.
"Nanti mampir ya mbak. Mas, monggo pinarak ten gubuk kula ( mari mampir ke gubuk saya)." kata Mala sambil menatap Richard sopan.
"Nggih mbak, matur nuwun.( ya mbak, terimakasih)." jawab Richard sopan sambil sedikit tersenyum.
Nawang kemudian bergegas menuju ke rumah mantan mertuanya diikuti Richard disampingnya.
__ADS_1
Diketuknya pintu depan dengan agak kencang karena biasanya mertuanya ada di rumah bagian belakang.
"Assalamualaikum, Bu." ucap Nawang dengan agak kencang.
Perlu tiga kali berteriak sebelum akhirnya pintu terbuka dari dalam dan memunculkan wajah kaget seorang perempuan tengah baya.
"MasyaAllah Nawang?!" seru Bu Halimah kemudian memeluk Nawang dengan erat.
Keduanya tak mampu menyembunyikan keharuan yang begitu saja menguasai mereka.
"Kamu sehat? Bintang sehat?" tanya Bu Halimah setelah pelukan mereka terurai.
Perhatiannya belum beralih ke titik lain disekitarnya.
Dia belum menyadari keberadaan Richard dan dua bocah yang menatapnya heran.
"Kami sehat,Bu.Alhamdulillah." jawab Nawang sedikit bergetar karena masih menahan rasa haru.
Perhatian Bu Halimah baru teralih saat Bintang menyentuh pelan tangannya untuk salim padanya.
Dielusnya kepala Bintang dengan rasa haru yang memenuhi hatinya.
Dia agak terkejut saat ada satu anak lelaki berkulit putih dan tampan dan lebih kecil dari Bintang kini ikut salim padanya.
"Siapa ini?" tanya Bu Halimah lembut.
"Darren." jawab Darren ringan.
Bu Halimah seperti baru tersadar kalau ada satu sosok asing lagi disitu saat matanya melihat seorang lelaki tampan berwajah mirip dengan Darren berdiri dengan senyuman di samping Nawang.
Diterimanya tangan pria itu yang terulur sopan padanya.
"Nepangaken, Bu kula Richard. ( perkenalkan, Bu. Saya Richard)." kata Richard ramah dan sopan.
"Saya Halimah, simbahnya Bintang." sahut Bu Halimah sambil tersenyum ramah.
"Mari masuk dulu semuanya. Ayo....ayo...." ajak Bu Halimah sambil meraih bahu kecil Bintang dan Darren yang langsung menurut masuk ke dalam rumah yang terasa agak dingin.
Bu Halimah menggiring kedua bocah itu ke ruang sebelah agar menonton tv sebelum dia kembali duduk di depan Nawang dan Richard.
Richard dan Nawang duduk tenang nyaris kaku di depan Bu Halimah yang masih mencoba ' memindai' Richard dengan sudut matanya.
Siapa pria tampan ini? Apakah kekasih Nawang? Apakah anak kecil itu anak pria ini?
"Ibu selalu sehat kan?" tanya Nawang setelah dia bisa menata hatinya yang campur aduk.
"Alhamdulillah sehat, Wang. Ibu seneng banget kamu mau kesini sama masnya." kata Bu Halimah tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Nawang dan Richard sama- sama tersenyum senang.
"Kami akan dengan senang hati kesini kalau Ibu berkenan. Bintang harus selalu menengok simbahnya bukan?" kata Richard sopan.
"Tentu saja....tentu saja. Saya akan dengan senang hati menyambut kalian." sahut Bu Halimah dengan senangnya.
"Mohon maaf sebelumnya, mas Richard ini siapanya Nawang?" tanya Bu Halimah tanpa kuasa lagi menahan keinginan tahuannya.
Richard tersenyum sambil melirik Nawang sekilas sebelum menjawab dengan terang dan lugas.
"Saya calon suaminya Nawang, Bu. Tiga minggu lagi InshaAllah akan menikah. Dan sowan ( datang menghadap) kami kesini, selain mengantarkan Bintang, juga untuk mohon doa restu pada Ibu, dan juga mengundang Ibu agar berkenan rawuh ( datang) di acara kami untuk memberi doa kepada kami." kata Richard tanpa melepaskan senyum menawannya.
Bu Halimah terpaku, menatap keduanya dengan mata yang langsung berkaca- kaca.
"MasyaAllah..... Alhamdulillah, Nak.....Ibu ikut senang mendengar ini. Tolong bahagiakan Nawang ya, Nak. Ibu mohon, tolong bahagiakan Nawang. Anak Ibu sudah sangat menyakitinya selama ini." kata Bu Halimah sambil berderai airmata.
Masih jelas diingatan perempuan setengah baya ini bagaimana sorot mata Nawang yang begitu terluka menceritakan pengkhianatan suaminya.
Itu tak akan pernah hilang dari ingatannya. Tak akan pernah bisa dia lupakan.
Bagaimana setelah itu di dalam doa- doanya selalu dia selipkan permohonan untuk kebahagiaan Nawang dan cucunya Bintang. Tanpa jeda.
Dan semoga saat ini, kedatangan Nawang dengan seorang pria tampan ini adalah jawaban dari doanya.
Nawang dan Bintang akan dibahagiakan oleh lelaki ini.
Semoga.....semoga.....
Nawang menunduk dalam, berusaha menyembunyikan airmatanya yang sudah terbit di pelupuk matanya.
Rasanya baru kemarin dia menikmati luka yang sangat dalam dan terakhir kali yang ditorehkan Dani disini.
Dan sekarang dia kembali lagi kesini, membawa seseorang yang berjanji padanya akan membahagiakannya dan Bintang.
Lelaki yang menghujaninya dengan cinta dan perhatian.
Lelaki yang membuatnya merasa dihargai, dicintai, dan dibutuhkan.
Bahkan dengan tenang dan lugasnya lelaki itu sedang meminta restu pada Ibu dari lelaki yang telah menyakiti jiwanya dan juga Bintang.
Nawang tak pernah mengira hidupnya akan sampai di titik ini.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1