
Richard tersenyum- senyum meledek meladeni lirikan papanya karena saat ini Nawang sedang menyuapinya makan dengan soto Kudus yang dibelikan mamanya tadi.
"Dasar manja!" dengus papanya dengan wajah kesal.
Diraihnya cangkir berisi kopi hasil buatan menantunya tadi di meja makan.
"Iri bilang, Boss!" sahut Richard dengan tengilnya.
"Mas!" tegur Nawang mengingatkan kelakuan tengil suaminya.
Tapi tentu saja sang putra mahkota itu tak perduli dengan teguran istrinya.
"Ma, Papa iri tuh pengen disuapin juga." kata Richard sekuat tenaga bersuara pada mamanya yang sedang melihat tv.
Tak urung dia meringis- ringis juga menahan sedikit nyeri di dadanya.
Nawang hanya menepuk dahinya sendiri, gemas dengan kebandelan suaminya.
Bu Marina menoleh kepada suaminya dengan senyuman tak percaya.
"Pengen disuapin, Pa? Biar kayak pengantin baru lagi? Nggak malu sama cucu?" tanya Bu Marina sambil tertawa melihat wajah suaminya yang manyun- manyun ke arah Richard.
"Nggak lah! Aku kan udah gede. Udah bisa makan sendiri. Memangnya dia? bocah! Jangan- jangan tidur minta ne nen juga tuh." ledek Pak Pambudi membuat Richard tersedak.
Tahu aja si Papa sama kelakuan putra mahkotanya.
Mana kuah sotonya pedes pula. Membuat Richard terbatuk- batuk.
Richard bahkan merasa ada nasi yang nyasar masuk ke hidungnya.
Pak Pambudi malah terbahak- bahak melihat kemalangan Richard itu.
"Kapok nggak kalau gini? Udah tua, makan masih sambil ngomong. Mana ngledekin orang tua." omel Nawang sambil menepuk- nepuk lembut punggung Richard yang sedang berusaha minum.
"Sukuriiiin!" ledek Pak Pambudi tanpa suara tapi bisa terbaca oleh Richard.
"Kalau bener gitu, brarti dia niru kamu, Pa." kini celetukan Bu Marina yang membuat Pak Pambudi tersedak kopinya dan Richard yang baru saja mangap hendak menyuap jadi membatalkan suapannya dan ganti terbahak- bahak sambil menekan dadanya dengan bantal untuk menahan nyeri.
Bu Marina hanya terkekeh- kekeh tanpa dosa kemudian mendekat untuk menepuk- nepuk punggung suaminya yang menatapnya dengan sadis.
"Dih, dia malu." seloroh Bu Marina sambil memeluk pundak suaminya.
Nawang yang tak sanggup menahan geli, hanya tersenyum lebar sambil menikmati hangat yang terasa di sekujur hati dan jiwanya melihat semua ini.
Ya Allah, tolong selalu jagalah mereka.
"Ternyata Papa juga suka ne nen." bisik Richard sambil menyenderkan kepalanya pada dada Nawang yang melotot padanya.
Nggak ada malunya nih orang.
"Sudah jelas kan kegemaranku menurun dari siapa? Bawaan genetik. Susah ilang." bisik Richard lagi.
"Ssssst! Diem!" kata Nawang galak dengan berbisik pula.
Tangannya mendorong kepala Richard agar meninggalkan dadanya.
"Huuuu, galak. Pelit." gumam Richard dengan wajah cemberut.
************
Hasil CT scan yang ditunggu akhirnya dibacakan hasilnya oleh dokter Pramudya siang harinya.
Seperti yang diharapkan, tak ada yang mengkhawatirkan yang terjadi dengan kepala Richard.
"Semua isi kepala baik- baik saja. Aman terkendali." pungkas dokter Pramudya sambil tersenyum riang.
Dokter Pramudya adalah kawan lama Richard.
__ADS_1
Mereka kenal saat sama- sama kuliah di Singapura.
Walau berbeda kampus, tapi mereka sering hangout bareng sebagai sesama anak rantau.
Dokter Pramudya juga yang menangani soal HIV Richard dari awal sampai sekarang.
"Kesehatannya secara umum juga baik, Dok?" tanya Bu Marina dengan antusias.
"Sangat baik, Bu." jawab dokter Pramudya mantap.
"Dia dokter yang nangani HIV ku, Ma. Dulu teman pas sama- sama kuliah di Singapura." jelas Richard sekalian mengkode dokter Pramudya bahwa orangtuanya sudah tahu 'rahasia'nya.
"O ya? Makasih ya, Dok. Sudah mendampingi Eric selama ini." sahut Bu Marina dengan tulus.
"Sama- sama, Ibu. Richard sangat disiplin dengan pengobatannya. Semangat hidupnya jempolan. Itulah kenapa kondisinya selalu prima." kata dokter Pramudya memuji.
"Ya iyalah aku harus selalu semangat. Ada banyak cinta di hidupku. Aku harus membalas cinta mereka juga kan?" sahut Richard dengan tersenyum.
Diraihnya jemari Nawang dan menggenggamnya erat.
"Apalagi sekarang tambah satu lagi yang selalu bisa bikin semangat. Sudah punya nyonya. Pasti sudah punya banyak impian yang ingin di wujudkan." seloroh dokter Pramudya sambil menatap genggaman tangan Richard.
"Pastinya! Impian terdekat adalah nambahin cucu buat Mama Papa. Mohon bantuannya, Dokter." sahut Richard sambil tertawa lebar walau tetap saja masih dengan sesekali meringis.
"Waaaah.Sip! Saya siap mengawal sampai positif." balas dokter Pramudya dengan semangat empat lima.
Nawang hanya tertunduk malu.
"Pasien ini bisa pulang kapan ya kira- kira, Dokter?" tanya Nawang mengalihkan rasa malunya yang disambut lirikan Richard padanya.
Nggak mau nyebut suaminya......Kenapa dia?
"Kita main aman aja ya? Berhubung pasien ini istimewa, kita tunggu luka- lukanya kering sekalian. Lebih tenang kalau tenaga medis saja yang menangani untuk ganti plester sama cek luka sudah kering belumnya. Ya daripada- daripada kan?" jawab dokter Pramudya.
Semuanya mengangguk setuju kecuali sang pasien.
Wajahnya agak menyimpan kecewa.
"Berapa hari lagi nih disini?" tanya Richard gusar.
"Kita lihat tiga hari ke depan ya, Boss? Kalau luka yang besar- besar sudah mengering, beranilah kita ijinkan pulang." jawab dokter Pramudya sambil tersenyum menghibur.
"Masih lama." gumam Richard sedih.
"Kenapa? Keburu pengen kerja?" tanya dokter Pramudya sambil tertawa pelan.
"Pengen pulang aja biar bebas......"
"Lalu kontrolnya kapan, Dokter?" tanya Nawang sengaja memotong kalimat Richard yang sangat 'riskan' akan ngomong nyeleneh.
Dibalasnya lirikan bernada protes dari mata Richard dengan lirikan pendekar menghunus pedang. Bikin Richard ciut nyali.
"Tiga hari setelah pulang, kontrol sekali lagi untuk memastikan kalau semuanya benar- benar sudah aman." jawab dokter Pramudya.
Nawang mengangguk mengerti.
Dokter Pramudya pamit undur diri dan berjanji akan visit lagi besok pagi atau siang karena kondisi Richard sudah on control dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Mas, kalau selama kamu belum sehat kita pulangnya ke rumahku dulu aja gimana? Biar aku nggak cabang kepikiran kamu dan Bintang. Kalau di rumahku kan Bintang bisa di antar jemput gantian aku sama bude. Ninggalin kamunya juga nggak lama selama nganter dia sekolah." pinta Nawang saat mereka tinggal berdua karena mama papa memilih nyari makan siang sendiri daripada pesan lewat aplikasi.
Richard terdiam sambil menatap Nawang.
Sejujurnya egonya sebagai seorang lelaki menolak untuk tinggal di rumah Nawang.
Bukan karena dia punya rumah yang lebih besar dan lebih bagus. Bukan itu alasannya.
Tapi karena di rumah itu telah ada lelaki lain yang lebih dulu 'menghuni' nya bersama Nawang.
__ADS_1
Belum lagi nanti kalau di kamar....
Ah, Richard sangat malas memikirkan kalau kamar yang akan di tempatinya nanti adalah kamar yang sama yang di tempati Nawang bersama Dani dulu.
Nanti sedikit banyak Nawang pasti akan ingat udah ngapain aja dia sama Dani dulu di setiap sudut kamar itu.
Hah! Nggak! Richard nggak mau Nawang memikirkan laki- laki lain sekarang.
Nawang hanya boleh memikirkannya saja.
Hanya memikirkan Mas Richard, Mas Eric, dan Pak Boss ini. Bukan yang lain.
"Kita pulang ke rumah kita aja lah,Non. Kalau masalah Bintang kita bisa minta tolong Parjo untuk nganter berangkat sekolahnya. Pulangnya minta tolong bude aja. buat nganter sampai rumah. Ya? Nanti aku yang ngomong deh sama mereka kalau kamu nggak enak hati ngomongnya." ujar Richard akhirnya.
Ada sedikit kecewa terpancar di wajah Nawang yang kemudian mengangguk lemah. Dan Richard melihat itu.
Ada penyesalan di hati Richard melihat raut kecewa di wajah istrinya itu. Bahkan mata sedih di balik kaca mata itu sudah seperti bertirai hujan.
"Ya udah kalau nggak mau. Aku juga cuma menawarkan." kata Nawang tanpa menatap pada Richard.
Ia kemudian memilih menyingkir dari samping Richard untuk menyembunyikan kekecewaannya.
"Mau kemana, Non?" tanya Richard setelah Nawang menjauh.
"Ke balkon sebentar, nyari angin." jawab Nawang tanpa menoleh padanya.
Richard terpaku.
Semudah itu kamu kecewa, Non.
Richard nggak menyangka Nawang memilih mengalah dan tidak merayu atau memaksanya.
Maafkan aku,Sayang. Bahkan untuk menuruti keinginanmu yang sesepele ini saja aku nggak bisa.
Padahal mungkin Nawang mengajaknya tidur di rumah Nawang karena memang mencari simple nya aja. Agar Nawang bisa menghandle merawatnya dan bisa juga merawat Bintang agar nggak selalu merepotkan bude Darmi, agar Bintang nggak merasa terabaikan.
Dan lagi jarak dari rumah Nawang ke rumah sakit ini lebih dekat bila dibandingkan dengan jarak dari rumah kolonial.
Ah kenapa sih aku egois banget?! Cuma mikir diri sendiri. Nggak mau mikir ribetnya Nawang. Nggak kasihan sama Bintang.
Dan soal masa lalu, bukankah sudah seharusnya dia menerima Nawang sepaket dengan masa lalunya?
Lagian mana mungkin Nawang lebih memilih mengenang masa lalunya dengan Dani bila di depan matanya sekarang ada Mas Eric yang lebih sangat sayang padanya?
Lebih dari dua puluh menit Nawang tak juga masuk dari balkon.
Richard semakin merasa bersalah.
Bisa jadi istrinya itu sedang menangis karena penolakannya tadi.
Ya Allah, teganya aku.....
Untuk berteriak memanggil Nawang, kondisi dadanya tidak memungkinkan karena merasa nyeri.
Richard memutuskan menelpon ponsel Nawang.
Tapi ternyata ponsel itu tergeletak di side table disebelahnya, terhalang jug air minum.
Richard menggeleng pasrah.
Notifikasi pesan dari ponsel Nawang menarik perhatian Richard.
Iseng dia kepo dari siapa pesan yang masuk.
Ternyata bude Darmi mengirimi Nawang video.
Dengan melirik ke arah balkon, Richard dengan lancang membuka video kiriman dari bude Darmi itu. Dan hatinya mencelos saat melihat video itu.
__ADS_1
Ya Allah, Non.....
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️