
Nawang terbangun saat adzan subuh mulai berkumandang.
"Yahhh, telat bangun deh." keluh Nawang menyesal karena dia nggak kebangun untuk sholat malam.
Tempat disampingnya sudah kosong.
Dia nggak ngebangunin aku? Tumben.....
"Udah bangun?" Richard tiba- tiba muncul dari kamar mandi sudah dengan wajah yang segar dan rambut yang basah.
Richard tersenyum salah tingkah saat Nawang melihatnya dengan. tatapan menuduh.
"Bangun tidur rasanya masih ngantuk, keramas aja biar agak ringan pusing kepalanya." tutur Richard menjelaskan kenapa subuh- subuh gini rambutnya basah padahal semalam mereka tidak melakukannya.
"Kirain jadi solois." celetuk Nawang sambil beranjak ke kamar mandi.
"Ngapain nyolo kalau ada yang bisa diajak duet?" balas Richard sambil tersenyum senang.
Kayaknya bad mood nya Nawang sudah hilang.
Syukurlah, batinnya senang.
Richard baru saja selesai membentangkan sajadah saat samar- samar di dengarnya suara Nawang memanggilnya dari kamar mandi.
Richard bergegas berlari ke kamar mandi dan didapatinya Nawang sudah terduduk lemas di dekat pintu.
Wajahnya pucat pasi.
"Astagfirullah, Non....!" seru Richard panik kemudian bergegas meraih tubuh Nawang dan membawanya ke ranjang.
"Kamu kenapa? Jatuh?" tanya Richard dengan wajah panik.
Nawang hanya menggeleng lemah.
Tubuhnya rasanya tak bertulang dan tanpa daya.
"Pusing?" tanya Richard lagi.
Nawang kembali menggeleng.
"Le...mes....." jawab Nawang dengan bisikan lirih
"Kita ke rumah sakit ya?" kata Richard kemudian bergegas mengambil baju ganti untuk mengganti lingerie yang dipakai Nawang.
"Aku mau minum." pinta Nawang dengan suara sangat lirih saat Richard akan mengganti bajunya.
"Ya. Aku buatin teh anget ya? Atau susu?" tawar Richard tangkas.
"Susu." jawab Nawang.
"OK. Ganti bajunya nanti aja. Kamu jangan bangun ya." kata Richard sambil bergegas melangkah keluar kamar.
Nawang tersenyum dalam hati melihat ketangkasan Richard merawatnya.
Benar- benar suami yang baik dan cekatan.
Richard bergegas akan ke dapur dan bertemu Bintang di depan kamar anak itu.
"Papa kenapa tegang gitu wajahnya?" tanya Bintang sambil menunjuk wajah papanya.
"Kamu ke kamar Papa sekarang. Jagain Ibu ya. Ibu sakit. Papa bikin minum dulu buat Ibu." kata Richard cepat tanpa menoleh pada Bintang yang nampak kaget.
"Iya!" jawab Bintang cepat kemudian berlari ke kamar Ibunya.
Hatinya kacau tak karuan mendengar Ibunya sakit. Apalagi dilhatnya tadi wajah Papanya juga nampak. gusar.
Ibunya nggak boleh sakit. Nggak boleh!
__ADS_1
Matanya sudah berkaca- kaca saat membuka pintu kamar dan melihat Ibunya terbaring di bawah selimut.
Dengan langkah tergesa Bintang memburu ke arah Nawang terbaring.
"Ibu kenapa?" tanya Bintang sambil menghapus airmata yang meleleh dipipinya.
Dilihatnya wajah ibunya pucat dan nampak tak berdaya.
Nawang berusaha tersenyum agar Bintang tidak cemas.
"Nggak papa. Mungkin masuk angin." jawab Nawang sangat lirih.
"Ibu kecapekan karena jagain aku sakit kemarin ya?" tanya Bintang sedih dengan tatapan merasa bersalah.
"Enggak. Cuma masuk angin kok. Nggak papa." jawab Nawang pelan.
Rasanya nggak mungkin dia kecapekan ngurusin Bintang yang terkena gejala tipes sepulang dari mereka liburan.
Memang hanya di rawat di rumah, tapi Bintang cukup membuat Nawang cemas karena sedikit rewel karena perutnya yang nggak nyaman.
Anak itu sering merengek bila dirasanya perutnya kembung atau mual.
Beberapa malam memang dia begadang karena mengawasi panas tubuh Bintang.
Nawang sendiri keheranan dengan kondisinya barusan.
Tidak ada gejala apapun dan langsung tiba- tiba tubuhnya lemas tak berdaya. Hanya sangat lemas tapi tidak merasakan pusing atau lainnya.
Richard masuk ke kamar dengan satu gelas susu hangat berhias satu sedotan di dalamnya.
Bintang bergegas naik ke ranjang agar Papanya bisa memiliki ruang leluasa untuk memberikan minum pada ibunya.
Richard dengan lembut membantu Nawang setengah duduk dengan memberi tumpukan bantal dan guling di punggung Nawang.
Dia tersenyum senang saat dilihatnya susu dalam gelas langsung tandas dalam beberapa kali sedotan
Jangan- jangan dia lemes karena kelaparan nih.
"Masih lemes banget? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" tawar Richard.
"Nggak usah. Aku cuma lemes aja kok. Kalau sampai nanti siang belum ilang lemesnya, nanti aku ke dokter sendiri." kata Nawang sudah sedikit lebih bertenaga.
"Kok sendiri? Nggak ngajak aku?" tanya Richard keheranan.
"Kamu kan mau ke Bandung. Gimana sih?" sungut Nawang mulai lagi dengan wajah kesal.
"Aku batalin aja lah. Biar Gustam sendiri aja yang kesana." kata Richard semakin mantab dengan keputusannya membatalkan kepergiannya ke Bandung.
Gustam adalah sekretaris Richard dan Nawang baru bertemu pria yang nampak sebaya dengan Richard itu tiga kali.
"Kamu berangkat nggak papa, Mas. Aku nggak papa kok." kata Nawang pelan.
Kali ini tidak ada wajah yang mau menangis lagi. Hanya wajah bersungut- sungut saja di depan Richard.
"Papa mau pergi?" tanya Bintang setelah mencerna percakapan kedua orang tuanya.
"Nggak jadi. Nemenin Ibu aja. Kan lagi sakit." jawab Richard sambil tersenyum.
"Aku bisa jagain Ibu kalau Papa mau pergi." kata Bintang dengan wajah serius.
"Belum bisa, Nak. Kalau pas Ibu sehat, kamu bisa jagain Ibu. Tapi kalau kondisinya lagi nggak sehat gini kamu belum bisa jagain Ibu sepenuhnya. Nanti kalau Ibu lemesnya belum sembuh juga kan harus ke rumah sakit. Kamu belum bisa nyetir mobil kan buat nganterin Ibu?" tanya Richard sambil tersenyum.
"Iya. Aku masih kecil sih, belum bisa nyetir mobil. Kalau Ibu lemes, nggak kuat jalan, aku juga nggak kuat gendongnya, hihihi....." kata Bintang sambil tertawa. Nawang ikut tertawa mendengar celotehan Bintang itu.
"Untungnya sekarang ada Papa. Kalau Ibu sakit ada yang nolongin. Papa baik deh." kata Bintang sambil menatap kagum pada Papanya.
"Kamu juga anak yang baik. Masih sakit tapi nggak rewel. Obatmu masih?" tanya Richard.
__ADS_1
"Masih. Tinggal tiga." kata Bintang.
"Sip! Udah mau sembuh beneran berarti." kata Richard tersenyum senang.
"Tapi gantian Ibu yang sakit." kata Bintang tiba- tiba sedih.
"Ibu nggak papa kok.Cuma lemes aja. Nggak sakit. Nanti kalau udah makan pasti sembuh." kata Nawang lirih sambil berusaha tersenyum.
"Astagfirullah......kita belum jadi sholat subuh, Sayang." seru Richard sambil menepuk keningnya.
"Aku juga lupa." sahut Bintang.
"Aku wudhu dulu sebentar. Kalian sholat duluan nggak papa." kata Nawang sambil berusaha bangun tapi kembali ambruk.
"Aku ambilin air aja ya? Kamu wudhu disini." tawar Richard. Hatinya sebenarnya sangat iba dan gelisah melihat kondisi Nawang ini.
Tapi melihat wajah Nawang yang tenang dan anmpak tidak menahan kesakitan membuatnya sedikit tenang.
Mungkin benar, Nawang hanya kelelahan saja.
"Aku ke kamar mandi aja." kata Nawang.
Richard nampak berpikir sejenak kemudian dia bergegas menyambar kursi kerjanya, dibawanya ke depan kran kamar mandi, kemudian menggendong Nawang agar bisa berwudhu dengan duduk dan dipegangi olehnya agar tidak ambruk karena lemas.
Bintang merekam semua itu dengan baik dalam ingatannya.
Bagaimana Papanya begitu gesit namun lembut melayani Ibunya yang sedang tak berdaya.
Dia bisa lihat wajah cemas Papanya yang berusaha disembunyikan dengan tetap tersenyum kepadanya.
Pasti Papanya cemas karena ibu sakit. Sama seperti yang sedang dia rasakan saat ini.
Bintang sangat berterimakasih dalam hati melihat ibunya diperlakukan dengan sangat baik seperti itu.
Bintang berinisiatif mengembalikan kursi kerja Papanya saat dilihatnya Papanya menggendong kembali ibunya ke ranjang.
"Terimakasih, Nak." kata Richard saat melihat Bintang mendorong kursi kerjanya dari kamar mandi.
Bintang tersenyum senang saat melihat papanya kini membantu ibunya memakai mukena.
"Dah, siap! Yuk sholat dulu." kata Richard saat dilihatnya Nawang sudah nyaman dengan posisi duduknya untuk ikut jamaah sholat subuh bersama Richard dan Bintang yang berdiri di samping ranjang agak ke depan.
"Ibu sholatnya duduk?" tanya Bintang seusai mereka menjalankan ibadah mereka dan melihat papanya kembali membantu ibunya melepas mukena dan melipatnya.
"Iya. Kan Ibu lagi nggak kuat berdiri, makanya sholatnya boleh duduk." jawab Richard menjelaskan.
"Kalau nggak kuat duduk, sholatnya boleh sambil tiduran, Pa?" tanya Bintang penasaran.
"Boleh. Papa pas di rumah sakit pertama itu sholatnya sambil tiduran. Wudhunya di bantuin Ibu." jawab Richard.
Bintang mengangguk- angguk mengerti.
Obrolan mereka terganggu oleh dering telpon milik Richard.
Pria itu bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya.
Senyumnya mengembang saat dilihatnya pemanggilnya adalah papanya.
Richard tambah senang saat di dengarnya Papanya sedang ada di Bandung.
Dia ternyata bisa minta tolong Papanya untuk mewakilinya melihat lahan yang akan dibelinya.
Dia segera berkoordinasi dengan Gustaman untuk hal itu.
Senyumnya lebar saat menutup panggilan telepon.
Lega sekali rasanya.
__ADS_1
Walau dia tidak bisa melihat langsung lahan itu, tapi dia sangat percaya pada penilaian Papanya dan juga Gustaman, sekretaris kepercayaannya.
🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️