
Nawang berjengit kaget saat merasa lengannya disentuh sesuatu yang dingin.
Ada botol kopi kekinian dingin menempel di lengannya yang bertumpu di meja.
Diangkatnya tatapannya saat disadarinya disampingnya telah berdiri seseorang.
"Eh, Pak?" kata Nawang kaget saat ditemukannya senyum manis Richard.
"Semua temenmu ngumpul di depan ramai rujakan, kamu malah masih melototin data." kata Richard kemudian menarik kursi untuk duduk di sebelah Nawang.
Tentu saja perempuan itu blingsatan.
Ngapain nih orang duduk disitu sih? Kalau ada yang liat gimana?
Nawang berinisiatif beranjak dari tempat duduknya dengan berpura- pura menghitung stock barang di rak dekatnya.
"Kopinya diminum dulu, Bu." kata Richard sambil membuka kedua tutup botol minuman yang tadi dibawanya.
Dia kemudian meminum satu botol, dan satu botol lagi diletakkan di dekat keyboard Nawang.
"Iya. Terimakasih. Sebentar saya selesaikan sekalian ini, tanggung." kata Nawang sambil mengulas senyum palsunya.
Richard tak menyahut.
Dia memilih menatap setiap pergerakan Nawang tanpa bersuara.
Sesungguhnya hatinya prihatin dan sedih saat ini.
Obrolannya dengan Bintang semalam cukup membuatnya shock.
Keterkejutan pertamanya muncul saat iseng dia bertanya tentang keberadaan ayah anak itu.
Flashback on
*************
"Ayahku nggak tinggal disini, Pak Boss." jawab Bintang dengan lugunya.
"Lho, terus tinggal dimana?" tanya Richard kepo mode on.
"Nggak tau. Kata ayah sih sekarang dia kost di dekat tempat kerjanya." jawab Bintang santai.
Richard tertegun.
Kost?
Mereka pisah rumah?
"Udah lama ayahmu kostnya?" tanya Richard.
"Belum. Setelah ayah dan Ibu cerai. Kata Ibu, setelah mereka cerai mereka nggak boleh tinggal serumah lagi. Ya udah, jadi ayah yang pindah." jawab Bintang santai.
Richard tiba- tiba merasakan dadanya seperti dipenuhi gas; panas dan sesak.
"Ayah sama ibumu cerai?" tanya Richard sedatar mungkin. Padahal hatinya berdebar nggak karuan.
"Iya. Kalau aku tahu ayah dan ibu bisa cerai, aku udah minta ibu cerai dari dulu sama ayah." kata Bintang dengan nada sedih.
Richard tercekat.
Ada apa ini?
Kenapa dengan mereka?
"Kenapa? Kenapa kamu ingin ibumu cerai dari ayahmu?" tanya Richard lirih.
"Aku nggak suka liat ibu sering nangis. Walau ibu selalu bohong sama aku, tapi aku tahu ibu sering sedih terus nangis tiap kali habis ngobrol sama ayah. Aku kasihan sama Ibu, Pak Boss." kata Bintang sambil berkaca- kaca.
Tanpa sadar Richard menutup kedua matanya dengan jari- jarinya.
Ada airmata yang coba dia sembunyikan dari pandangan Bintang.
Ya Tuhan.....
Ada apa dengan hidupmu, Non?
__ADS_1
Apa benar kamu menjalani hidup sesulit itu?
"Kamu tahu dari siapa kalau ayah dan ibumu bercerai?" tanya Richard untuk meyakinkan kenyataan.
"Ibu bilang sama aku, Pak Boss. Ibu juga minta maaf karena bikin aku nggak bisa tiap hari ketemu Ayah. Tapi aku nggak papa nggak bisa tiap hari ketemu sama Ayah. Yang penting Ibu nggak pernah nangis lagi sekarang." kata Bintang sedikit tersenyum.
"Bener sekarang Ibu nggak pernah nangis lagi?" tanya Richard dengan suara lega.
"Iya. Sekarang nangisnya kalau liat sinetron mas Al aja." jawab Bintang lugu.
Richard terkekeh.
Sekarang dia benar- benar penasaran.
Sebagus apa sih sinetron yang ada mas Al nya itu, sampai jadi trending topic di dunia para perempuan Indonesia?
"Kalau gitu kamu juga jangan nakal ya. Jadi anak yang baik biar ibumu nggak sedih- sedih. Kamu harus bisa jagain ibumu ya, Bin? Kamu kan cowok." kata Richard.
Sesungguhnya hatinya saat ini sedang menangis pilu meratapi kesedihan hidup Nawang.
Dia sangat merasa bersalah dengan semua duka dihidup Nawang.
Seandainya dia dulu berjuang untuk terus bersama dengan Nawang dan tidak mengikuti desakan Nawang saat itu, mungkin saja perempuan itu tak akan sesengsara ini hidupnya.
"Iya, Pak Boss." jawab Bintang kemudian menguap.
Richard terkekeh melihatnya. Dia kemudian teringat Darren.
"Kapan- kapan kamu mau nggak kalau kita main? Pak Boss bawa anak Pak Boss juga, namanya Darren. Nanti kalian bisa main bareng." tawar Richard.
Bintang mengangguk senang.
"Tapi kalau nggak boleh sama Ibu gimana?" tanya Bintang lesu.
"Udah. Biar Pak Boss yang ngomong sama ibumu. Sekarang kamu bobok dulu ya. Kamu udah ngantuk kan?" kata Richard yang dibalas anggukan oleh Bintang.
Anak itu melambaikan tangannya sebelum memutus VC mereka.
Flashback off
*************
Nawang menoleh sekilas ke arah Richard dan hanya membalas tipis senyuman Richard.
Nawang kemudian tetap kembali asik dengan kesibukannya menyusuri rak, sedang Richard telah menghabiskan kopinya dengan pikiran yang terus berputar tentang perempuan itu.
"Kopimu kuminum sekalian aja ya?" tanya Richard menyebalkan.
Dia sengaja meledek Nawang.
"Silakan saja." jawab Nawang yang melihatnya sekilas.
Lagian siapa juga yang pengen minum kopi? Kesini tuh bawa es yang seger- seger atau soft drink malah enak.
"Nanti aku ganti deh. Kamu masih suka minum Sprite sama Bear Brand?" tanya Richard kemudian meneguk kopi yang tadinya dia berikan pada Nawang.
"Masih." jawab Nawang sambil tersenyum.
Masih ingat saja kalau aku suka minuman itu.
"Kamu nanti pulang kerja mau ngapain?" tanya Richard.
Nawang sejenak menghentikan kegiatannya lalu menatap Richard dari tempatnya berdiri.
"Nggak ngapa- ngapain." jawab Nawang datar.
."Nemenin aku yuk!" ajak Richard semangat.
Nawang menatap Richard keheranan.
Berani banget dia ngajak keluar aku gini.
"Maaf, saya nggak bisa." kata Nawang tegas.
"Kenapa? Katanya kamu pulang kerja nggak ngapa- ngapain." tanya Richard protes.
__ADS_1
"Saya nggak ngapa- ngapain kan bukan berarti saya bisa diajak keluar sembarangan juga. Saya punya keluarga, Pak." jawab Nawang tegas.
Dia ingin menunjukkan kalau dia nggak suka dengan ajakan Richard itu.
"Kita ajak anak- anak keluarnya." kata Richard kalem, mbuat Nawang keheranan.
"Anak- anak siapa?" tanya Nawang bingung.
"Aku ngajak anakku, kamu ngajak anakmu. Kemarin aku sudah janji sama Bintang buat kita pergi main bareng- bareng." kata Richard dengan tatapan mengiba.
Ini apa- apaan sih?! Kenapa Richard seberani ini mengajaknya keluar seolah kami ini sama- sama bebas?
Dia kan nggak tahu kalau aku sudah janda.
Dada Nawang tiba- tiba berdebar sangat kencang.
Jangan- jangan Bintang ngomong sesuatu soal perceraian.
Richard menangkap tatapan curiga Nawang padanya.
"Kenapa ngeliatin akunya kayak gitu? Kayak curiga gitu." tanya Richard mengagetkan Nawang.
"Nggak papa." jawab Nawang gugup.
Nawang ragu untuk menanyakan apa yang Richard dan Bintang bicarakan semalam.
Dia takut kalau nanti kenyataannya benar Bintang tanpa sadar telah membicarakan masalah perceraiannya.
"Jadi nanti bisa kan?" tanya Richard lagi.
"Apa?" tanya Nawang bingung.
"Habis kerja kita main sama anak- anak. Biar anak- anak kita saling kenal." kata Richard sambil tersenyum menggoda.
"Lain waktu saja, Pak. Saya belum ngasih tahu Bintang kalau. mau ngajak jalan dia." elak Nawang.
Hadyeeeeh.....susahnya satu orang ini diajak keluar...🤦
"Jadi bisanya kamu kapan? Aku nggak enak sama Bintang, soalnya aku udah janji sama dia buat ku kenalin sama anakku." desak Richard.
Nawang berpikir sejenak.
Malas sebenarnya untuk mengiyakan keinginan Richard.
Dia takut kalau sampai nanti baper lagi dengan kebaikan lelaki itu.
Dia nggak mau sakit hati lagi nanti.
"Biar nanti saya yang ngomong sama Bintang kalau kita nggak jadi keluar."kata Nawang akhirnya.
Richard terlihat nggak terima dengan jawaban itu.
"Kamu tega bikin anakmu kecewa?" tanya Richard gusar.
"Seharusnya Anda nggak perlu menjanjikan apapun sama dia. Jangan terlalu gampang berjanji, Pak." kata Nawang memperingatkan Richard.
Richard tak menjawab.
Dia menatap tajam pada Nawang dengan tatapan putus asa.
"Tega kamu." kata Richard lirih.
Nawang terhenyak ditempatnya.
"Kamu membangun tembok begitu tinggi sampai kamu tidak tahu lagi apapun yang ada di depanmu. Kamu hanya memikirkan bagaimana cara agar tak kecewa tanpa memperdulikan ada yang kecewa dengan sikapmu itu." kata Richard kemudian berdiri dan berlalu dari tempat itu tanpa bersuara lagi.
Nawang seperti ditampar barusan.
"Bukan begitu maksudku, Mas." kata Nawang agak keras tanpa dia sadari.
Suaranya bergetar karena dia telah menangis.
Richard yang masih berdiri dibalik pintu masih bisa mendengar dengan jelas seruan Nawang itu.
Ada seulas senyum di wajah sedihnya.
__ADS_1
Tapi dia tetap memilih berlalu dari situ.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️