
Nawang melirik sekilas ke arah jendela kaca di samping meja kerjanya saat sudut matanya menangkap seperti ada seseorang yang sedang berdiri disana.
Tepat dugaannya.
Senyum lembut dan lambaian tangan Richard menyambut tatapannya.
Nawang tersenyum kecil.
Dilihatnya Richard melangkah menuju arah pintu dan tak lama sudah memasuki ruangannya dengan wajah segarnya.
Padahal bel masuk baru delapan menit yang lalu berbunyi.
Jam berapa Richard sampai disini?
Kenapa secakep ini sih?
"Ngapain kesini pagi- pagi?" tanya Nawang saat Richard sudah duduk di seberang meja kerjanya.
Membuat Nawang dengan keikhlasan penuh menghentikan kegiatannya berkutat dengan LPJ dan nota- nota belanja logistik yang diberikan Deni padanya kemarin sore.
"Kangen." jawab Richard dengan suara manja dan kini sudah menopang dagu bertumpu lipatan tangannya yang ada di atas meja.
"Ish!" cibir Nawang sambil kembali mulai untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Empat hari memang Richard tak bertemu dengannya secara fisik karena ada kerjaan di Solo. Tapi bukannya hampir tiap jam laki- laki ini ngajak video call?
Lebay banget kan kalau ngomong kangen?
"Calon suami kangen ini, Non. Dicuekin." sungut Richard pura- pura ngambek.
"Ini kantor. Jam kerja. Saya kerja. Anda tamu.Jangan gila ya!" omel Nawang dengan tatapan tajam pada Richard yang cuek saja dengan suara tegasnya.
"Galaknyaaaa." sungut Richard sambil membuang punggung ke sandaran kursi.
"Nggak enak, Mas sama yang lain. Jangan kayak ABG ya , Masku sayaaaang." kata Nawang sambil tersenyum meledek.
Masku sayang.....
enak banget di kuping rasanya.
Richard merasa hatinya sangat hangat dan penuh cinta. Dan senyum lebar dari Sabang sampai Merauke tak lupa dia sematkan di wajah tampannya.
"Dari rumah langsung kesini ya?" tanya Nawang sambil meliriknya sekilas, kemudian kembali menatap layar komputernya.
"He em. Janjian sama Hans disini. Mau membahas proyek baru sama Sapto dan Danu. Numpang nunggu disini sampai jam sembilan boleh ya?" pinta Richard sambil melirik ke meja belakang Nawang yang tak berpenghuni.
"Temenmu kemana?" tanya Richard.
"Ijin masuk siang. Nganter kakaknya ke rumah sakit katanya." jawab Nawang tanpa melihatnya karena tangan dan matanya sibuk dengan nota dan layar kompi.
"Berdua dong kita nih." kata Richard sambil tersenyum setan.
"Yoi. Tapi di arah jam sebelas ada CCTV aktif." kata Nawang pura- pura cuek.
Padahal hatinya tergelak- gelak.
Richard nyengir kuda.
Mulutnya yang sudah terbuka ingin ngomong kembali menutup saat ponsel di sakunya berbunyi.
Keningnya mengkerut rapat mendapati nama Ibnu.
Seorang teman lama.
"Hallo bro! Pa kabar nih?" suara Richard menyapa riang.
"........."
"Baik....baik.... Alhamdulillah aku sehat terus. Kamu apa kabar?" tanya Richard sambil menatap Nawang.
".........."
"Good.....good.....Emmmm nggak pernah sih. Ngapain juga." kata Richard dengan wajah yang tiba- tiba mendung.
"Nggak tahu! Aku nggak pernah lagi ketemu sejak kejadian itu." kata Richard dengan suara malas.
".........."
"Hah? Yang bener? Kapan?" suara Richard kembali meninggi.
__ADS_1
".........."
"Innalilahi wa inna alaihi rojiun." Richard berkata lirih.
Nawang mengalihkan tatapannya ke arah Richard.
"Sorry, aku nggak bisa. Mendadak bgt kamu ngasih taunya. Aku udah ada schedule jauh- jauh hari soalnya." kata Richard sambil menatap mata Nawang yang juga sedang menatapnya.
"..........."
"Oke....oke.....sorry ya, Bro. Salam aja buat Pak Darto disana." kata Richard tanpa senyum.
".............."
"Ok. Keep contact ya. Bye." Richard sejenak terpekur sebelum memasukkan ponselnya ke saku celananya sambil menghembuskan nafasnya berat.
"Siapa yang meninggal?" tanya Nawang kepo.
"Anaknya Pak Darto. Inget Pak Darto?" tanya Richard.
"Inget. Yang orang tua ultah itu kan?" jawab Nawang yakin.
Richard mengangguk lesu.
"Anaknya meninggal kenapa?" tanya Nawang penasaran.
"Komplikasi paru- paru. HIV nya yang ngabisin sih. Ku kira." kata Richard pelan.
"Dia......"
"Dia yang nularin aku. Dengan sengaja." kata Richard lirih sambil menunduk.
Sekejap Nawang melihat rahang Richard mengeras, seperti menahan amarah.
Nawang tertegun.
Kaget? Pastinya.
Dulu Richard belum mau cerita sebab dia kena HIV.
Too hurt katanya. Dan Nawang nggak ingin maksa.
Nawang tak hendak menyela.
"Dia pikir kalau aku positif juga, aku akan mau sama dia. Mimpi!" umpat Richard.
Nawang melihat tubuh Richard tiba- tiba bergetar hebat.
Seperti menggigil.
Nawang bergegas berdiri, memutari mejanya lalu bergegas meraih kepala Richard dan memeluknya dengan lembut.
Richard menangis di perutnya.
Dirasakannya kedua tangan Richard melingkari erat pinggangnya.
"Aku hancur!" gumam Richard gemetar.
"Kamu baik- baik saja, Mas. Kamu akan selalu baik- baik saja." bisik Nawang di atas kepala Richard.
Dielusnya punggung Richard berkali- kali, agak lama, hingga dirasanya nafas Richard sudah normal lagi.
Dikendorkannya pelukan, lalu merangkum sisi wajah Richard dengan lembut.
"Kamu akan selalu baik- baik saja. Believe me." bisik Nawang sambil tersenyum dan menatap yakin mata Richard.
Richard hanya mengangguk dan tetap menunduk.
"Aku ambilkan minum ya? Sebentar." kata Nawang agar Richard membebaskan pinggangnya dari pelukan Richard.
Richard menurut.
Melepaskan pinggang Nawang kemudian menarik nafas panjang, agak tersengal.
Nawang bergegas mengambil mug bersih yang dia simpan di laci bawah meja kerjanya lalu mengisinya dengan air putih dari dispenser yang ada di dekat Richard duduk.
"Makasih." kata Richard sambil menerima uluran dari Nawang kemudian meminum separo isi mug.
"Diberesin wajahnya itu. Nanti meeting jangan sampai semrawut gitu. Berkurang cakepnya ntar." canda Nawang yang disambut senyum tipis Richard.
__ADS_1
"Cuci muka di wastafel itu boleh nggak?" tanya Richard sambil menunjuk wastafel yang ada di samping pintu.
"Boleh." jawab Nawang sambil mengangguk.
Richard bergegas mencuci mukanya lalu kembali ke kursinya sudah dengan tersenyum.
Suasana hatinya sudah mulai membaik.
"Begitu lebih cakep." kata Nawang sambil tersenyum dan mengulurkan handuk kecil bersih miliknya -yang selalu ada di lemari penyimpanan mejanya- pada Richard.
"Makasih, Sayang." kata Richard sambil mengulurkan kembali handuk kecil lembut yang telah dipakainya untuk melap wajahnya.
"Feel better?" tanya Nawang sambil menatap Richard yang sedang menundukkan pandangannya.
"Hmmmm." jawab Richard sambil mengangguk kecil.
"Udah. Nggak usah dipikirin apapun yang bikin bad mood. Semua baik- baik saja kok." kata Nawang sambil tersenyum.
"Pengen peluk kamu lagi." kata Richard iba dengan puppy eyes nya.
"Nooooo. Not now." jawab Nawang tegas namun dengan senyuman.
"I know." kata Richard pasrah.
Segokil- gokilnya dia kan tetap rasional juga.
Nggak mungkinlah mesra- mesraan di lingkungan kerja gini.
Eh tapi, bukannya tadi mereka berpelukan juga ya?
Bahkan dia merasa Nawang mencium puncak kepalanya tadi, xixixi.....
Apa kabar CCTV.....?
Bakal jadi big problem nggak nih?
"Itu.....CCTV beneran hidup?" tanya Richard penasaran.
"Iya. Kenapa?" tanya Nawang.
"Kita tadi pelukan lho, Sayang." kata Richard agak kuatir.
"Oh iya! Ya ampun, Mas. Gimana dong?! Bisa kena SP nih aku." tanya Nawang kalut.
"Biar aja. Dikeluarin juga nggak papa." kata Richard dengan senyum jahil.
"Ish! Nyebelin!" sungut Nawang.
Bukannya menenangkan atau ngasih solusi, malah nakut- nakutin.
"Tenang aja. Ntar aku beresin." kata Richard santai.
"Beneran?!" tanya Nawang serius.
"Beneran. Udah, tenang aja." kata Richard sambil mengibaskan tangannya.
Obrolan keduanya terjeda saat ada seseorang yang mengetuk loket jendela.
"Minta lakban bening satu roll sama isi cutter satu pack, mbak." pinta mas Darno, mandor packing.
"Oke." jawab Nawang sambil bergegas berdiri dari duduknya untuk mengambil lakban dan isi cutter.
"Aku ke depan sekarang ya, Non." pamit Richard pelan sambil melihat arlojinya.
"Oke." jawab Nawang sambil tersenyum.
"Yuk, Mas." sapa Richard begitu ada di dekat mas Darno.
"Ya, Mas." jawab mas Darno ramah.
"Buruan nikah aja, Mbak. Mau nunggu apalagi sih?" kata mas Darno sambil tersenyum.
Of course, semua penghuni pabrik tentu saja sudah tahu kalau Nawang dan Richard sedang menjalin cinta.
"Doakan saja, Mas." kata Nawang sambil tersenyum kikuk.
"Kalau udah nikah pasti udah nggak disini lagi ya? Masak istri boss tetap kerja di pabrik." kekeh mas Darno.
"Apaan sih?" sergah Nawang sambil terkekeh malu.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️