PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
104


__ADS_3

Jam delapan malam Richard dan Nawang baru memasuki kamar mereka lagi, itupun karena Richard setengah memaksa Nawang karena hawa dingin yang terasa semakin menggigit.


Tadi Bintang sudah menelpon saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam.


Setelah membersihkan badan, ibadah, dan mengganti baju dengan baju tempur , keduanya langsung mencari kehangatan dengan bersembunyi di balik selimut sambil melihat hasil jepretan Richard sejak siang tadi.


"Hasil photomu bagus semua, Mas. Keren!" puji Nawang masih tetap menikmati barisan photo yang dominan berisi gambarnya saja.


Dia kemudian memilih beberapa untuk dia kirim


ke ponselnya sendiri.


"Aku kamu beri nama apa di ponselmu, Mas?" tanya Nawang karena tak menemukan namanya di daftar kontak.


"My .Mrs." jawab Richard sambil tersenyum.


Nawang menatapnya dengan tatapan lucu dan keberanan.


"Kenapa?" tanya Richard heran.


"Nama yang aneh." jawab Nawang sambil tertawa pelan.


"Nama special. Tadinya mau aku kasih nama my sunshine. Tapi terlalu kayak bocah." kekeh Richard sengaja meledek.


"Nggak sekalian aja dinamain my love, biar kayak merk sprei atau my sweety biar kayak merk popok bayi?" balas Nawang dengan wajah bersungut- sungut.


Richard tergelak.


Emangnya beneran ada ya merk dagang kayak gitu?


"Makanya kan aku namai my Mrs. Jelas the one and only. You."kata Richard sambil merengkuh bahu Nawang agar lebih rapat dengannya.


Mulai nih....


"Satu babak sebelum aku minum obat, boleh?" bisik Richard dengan puppy eyes nya.


"Kalau aku jawab nggak boleh, apakah kamu mau nurut?" ledek Nawang sambil meletakkan HP yang digenggamnya ke nakas.


"Nggak mau." jawab Richard sambil terkekeh dilehernya.


"Mau yang special nggak?" tanya Nawang sengaja menggoda, membuat kesibukan yang baru saja dimulai Richard di lehernya terhenti karena kini wajah lelaki itu sedang menghadap ke wajahnya sambil tersenyum senang.


"Mau bangeeeet....." jawabnya tak sabar.


"I'll give it tonight." bisik Nawang sudah memulai perannya sebagai pemantik yang akan selalu digilai Richard.


"Give me.....give me....." sahut Richard dengan parau. Tak sabar menunggu kenikamatan apa lagi yang akan Nawang persembahkan untuknya malam ini.


*********


Bintang belum juga bisa tidur walau dia sudah memejamkan matanya dari tadi.


Bude Darmi yang mengiranya sudah tidur, sudah beringsut pergi dari sampingnya.


Sambil memicingkan sedikit matanya tadi dia melihat bude Darmi sudah keluar dari kamar dan mungkin sedang menonton sinetron, karena di dengarnya suara tv di ruang tengah.


Dia rindu ibunya walau baru tadi mereka berpisah.


Padahal masih dua hari lagi untuk bisa memeluk ibunya lagi.


Walau baru saja tadi dia VC, tapi dia masih rindu.


Dia ingin merasakan sentuhan ibunya di dahinya, agar bisa cepat terlelap seperti biasanya.


Tapi malam ini, seperti dua hari lalu, dia tidur ditemani bude Darmi karena ibunya harus menemani Pak Richard keluar kota.


Kenapa harus begitu?


Apakah kelak akan sering seperti ini?


Setiap Pak Richard keluar kota, apakah ibunya akan selalu ikut dan meninggalkannya bersama bude Darmi?


Bintang sangat resah.


Kalau akan begini keadaannya, dia akan 'kehilangan' ibunya.


Dia akan 'sendirian'.


Sudah jauh dari ayah, dan akan sering ditinggal ibunya seperti ini.

__ADS_1


Walau Pak Richard sangat baik padanya, tapi dia nggak mau seperti ini.


Tanpa sadar dia menangis, tapi ditahannya suaranya agar bude Darmi tak mendengar.


Disembunyikannya wajahnya dengan mendekap guling erat- erat.


"Ibu....." panggilnya lirih di sela deraian airmatanya.


Tapi tiba- tiba dia ingat perkataan Pak Richard padanya tadi pagi.


Saat mereka berdua duduk di meja makan dan ibunya sedang di kamar.


Flashback on


**************


"Mas, mulai sekarang dan seterusnya Papa, Ibu, Mas Bintang, dan Darren adalah satu keluarga. Jadi kita harus saling sayang dan saling jaga. Kerjaan Papa kadang bikin Papa harus pergi keluar kota, ninggalin Ibu dan Mas Bintang berdua di rumah. Papa bisa minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa, Pa?"


"Mas Bintang jagain Ibu, jaga diri sendiri, jagain semua yang ada di rumah ini kalau Papa pas keluar kota. Bisa?" tanya Pak Richard serius.


Bintang mengangguk yakin dan mantap.


Tentu saja dia akan jagain Ibu.


"Memang kerjaan Papa apa?"


"Papa tukang bikin rumah dan gedung- gedung. Kadang ada yang minta tolong dibikinkan tapi di kota lain. Karena itu Papa kadang harus nginep di kota itu, ninggalin kalian. Tapi nantinya Papa juga kadang butuh ada Ibu di samping Papa, jadi terpaksa harus ninggalin Mas Bintang sebentar. Boleh nggak kalau kadang Papa pinjem Ibu trus Papa ajak pergi beberapa hari seperti hari ini?" tanya Pak Richard dengan tatapan meminta tolong.


"Kenapa Papa butuh Ibu? Dulu pas belum suami istri, Papa nggak butuh ibu buat nemenin." tanya Bintang mulai menelisik.


"Papa selalu butuh Ibu dari dulu. Tapi dulu harus Papa tahan karena Ibu bukan istrinya Papa. Jadi Papa nggak boleh kelihatan kalau butuh sama Ibu. Tapi sekarang Papa sudah menikah sama Ibu, jadi Papa boleh menunjukkan kalau Papa butuh Ibu. Sama kayak Mas Bintang butuh Ibu."


"Papa mau ngerebut Ibu? Nggak boleeeh...." suara Bintang sudah terdengar pilu nyaris menangis.


"Bukan merebut, Mas.....Papa akan menemani kamu menyayangi Ibu. Hmmm, bersama- sama menyayangi dan menjaga Ibu, dan. bersama memiliki Ibu. Kita berbagi Ibu. Gimana?" tanya Pak Richard kemudian dengan suara yang lembut membujuk.


"Kita gantian- gantian gitu bareng Ibunya, Pa?", tanya Bintang setelah mampu menelaah apa yang dibicarakan Papanya.


"Betul sekali! Dari pagi bangun tidur sampai malem mau bobok kan tiap harinya nanginya Ibu sama Mas Bintang terus nih, jadi Ibu punyanya Mas Bintang. Malamnya, setelah Mas Bintang bobok sampai pagi sebelum Mas. Bintang bangun, Ibu jadi punyanya Papa." kata Pak Richard sambil tersenyum, seperti senang.


"Jadi banyakan siapa yang sehari- hari sama Ibu? Mas Bintang atau Papa?"


"Aku doooong. Papa cuma sebentar sama Ibu. Pas aku bobok doang." jawab Bintang sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Nah, jadi kalau kadang- kadang Papa pinjam Ibu agak lama boleh ya? Kan tetap waktunya banyakan Mas Bintang sama Papa memiliki Ibu....."


Bintang nampak berpikir menimbang- nimbang.


Iya ya......kasihan Pak Richard cuma sebentar banget waktunya sama Ibunya. Kasihan.


"Iya. Papa boleh pinjam Ibu. Yang penting Ibu nggak nangis kalau sama Papa."


"Tentu saja,Nak. Papa sayang sekali sama Ibu. Sama kayak Mas Bintang sayang sama Ibu."


Flashback off


**************


Bintang menyusut airmatanya. Kemudian menerbitkan senyum di wajahnya.


Papa hanya pinjam ibunya sebentar. Dua hari lagi Ibunya akan kembali menjadi 'miliknya'.


Tak apa sekarang dia sendirian dulu. Yang penting Ibu senang.


Apalagi Ibunya sudah tidak perlu lagi bekerja, jadi siang harinya kelak akan bisa dia habiskan bersama ibunya.


Dan dengan berpikir seperti itu, akhirnya Bintang bisa terlelap dengan tersenyum.


Aku sayaaaaaang banget sama Ibu.


***********


"Bagaimana, Kisanak? Anda bisa menikmatinya?" tanya Nawang setelah sajian unpredictable disajikan Nawang pada suaminya.


Nafas keduanya belum sepenuhnya normal setelah menempuh perjalanan sangat panas dan mendaki.


"Sangat! Kamu membuat ku hampir gila, Sayang. Tolong jangan diulangi lagi ya." jawab Richard dengan wajah sangat bahagia dan puas karena sajian Nawang malam ini sangat istimewa.

__ADS_1


Sungguh sebuah pelayanan yang dia sendiri tak berani berharap bisa merasakannya seumur hidupnya.


"Kenapa?" tanya Nawang keheranan.


Nawang tahu pasti Richard sangat menikmati pelayanan istimewanya tadi.


Lelaki itu bahkan tak berhenti menunjukkan ekspresi sangat menikmati di sepanjang surprise nya tadi.


Dan Nawang terus terang saja bangga bisa melihat ekspresi penuh kepuasan suaminya karena kenakalannya tadi.


"Aku takut ketagihan, Sayang. Yang kamu lakukan sangat berisiko. Tolong, jangan bahayakan dirimu sendiri seperti ini lagi ya?" pinta Richard sungguh- sungguh sambil menatap mata Nawang yang tengah mendongak padanya.


Tubuh mereka masih saling memeluk untuk menormalkan nafas yang terasa hampir kehabisan oksigen.


"Kamu nggak suka yang barusan? Maaf...." lirih Nawang sedih.


Jelas sekali wajahnya menunjukkan kekecewaan pada dirinya sendiri.


"Aku sangat suka menikmatinya. Sukaaaaa sekali. Bahkan aku merasa hampir gila karena kenikamatan tadi. Karena itu aku takut ketagihan. Tapi itu sangat membahayakanmu,Sayang. Kamu tahu itu kan?" kata Richard mengeratkan pelukannya dan menarik wajah Nawang yang sudah tertunduk agar mau menatapnya kembali.


"Kamu kan pakai pengaman,Mas. Lagian apa gunanya pengaman di beri aneka perasa kalau bukan buat mengamankan kegiatan itu?" tanya Nawang dengan wajah tertekuk.


"Sayang....tapi tetap saja ada kemungkinan pengaman itu bocor dan...."


"Kalau kemungkinan pengaman bocor, sama berisikonya juga saat kita gunakan pas kamu melakukan pene trasi padaku. Sudahlah,Mas. Resiko yang ku tanggung masih ada solusinya. Kalau sampai terjadi kebocoran pengaman, aku tinggal minta #PEP. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, semaksimal yang aku bisa. Jangan khawatirkan aku terlalu berlebihan." debatan panjang Nawang kali ini tak bisa di jawab lagi oleh Richard.


Ya, Memutuskan menikah dengan seorang ODHA saja hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang punya nyali besar untuk sanggup menanggung resiko tertular.


Dan Richard merasa sangat beruntung dan terberkati karena bisa memiliki sebuah rumah tangga bersama perempuan yang dia inginkan.


Bisa memiliki Nawang sebagai istrinya saja sudah sebuah kebahagiaan bagi hidupnya yang sangat jelas tak sempurna.


Apalagi ternyata mereka masih bisa menikmati dan menciptakan surga dunia mereka sendiri.


Kesenangan itu jelas sebuah mood booster terbaik bagi peningkatan imun, menurut Richard sih.


Apalagi persembahan yang baru saja Nawang berikan padanya.


Oh my God.....


Richard tak menyangka Nawang akan memberinya surprise gila di area bawahnya.


Membuatnya benar- benar bertekuk lutut tak berdaya di hadapan istrinya itu.


Pantas saja istrinya itu request padanya untuk mencari beberapa pengaman yang memiliki rasa, ternyata dia akan memberinya hadiah dahsyat seperti tadi.


Sungguh tak akan pernah bisa dilupakan.


"Kamu layak menerimanya. Dan aku rela melakukannya untukmu." suara lembut Nawang di wajahnya membuat Richard tak kuasa menahan air mata harunya.


"Kamu nggak harus melakukannya, Sayang. Sungguh." balas Richard dengan suara bergetar menahan haru.


Nawang terlalu baik memperlakukannya.


Bahkan rela menanggung resiko seperti ini hanya agar dia bisa merasakan apa yang selama ini hanya ada dalam impian yang harus dikuburnya.


"Kamu akan mendapatkan lagi seperti tadi, sebulan sebelum kita test @RNA agar aku tetap dalam posisi on control. Bagaimana, Kisanak, Anda mau?" tawar Nawang dengan wajah menggodanya.


"No....."


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


#PEP : Post Exposure Prophilaxis adalah obat pencegahan HIV setelah ada kejadian berisiko.


Misalnya berhubungan badan dengan orang positif HIV tanpa menggunakan pengaman, atau memakai jarum suntik bekas orang yang positif HIV.


PEP diiberikan kepada orang yang negatif HIV tapi memiliki risiko tertular setelah mengalami kejadian berisiko.


PEP harus dikonsumsi satu atau dua kali sehari selama 28 hari, secara berturut- turut ,biasanya 3 jenis obat,.


Kemudian dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang status HIV 4- 12 minggu setelah terpapar.


@RNA adalah bagian dari virus HIV yang fungsinya untuk memperbanyak diri/ bereplikasi.


RNA yang melebihi 100.000 / mm darah menandakan adanya infeksi HIV dan perlu penanganan segera.


Test RNA biasanya dilakukan 3- 6 bulan sekali oleh penyandang positif HIV dan orang- orang yang berisiko tinggi tertular HIV, misalnya pasangan sejenis, pasangan yang salah satunya positif HIV, orang yang suka berganti- ganti pasangan.


Mohon bantuannya di ralat apabila paparan di atas ada yang salah atau kurang sempurna.

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2