
"Maaf....aku tadi cubitin punggung kamu. Pasti sakit. Mungkin juga lecet-lecet." kata Nawang lirih sambil menunduk malu.
Richard tak kuat lagi menahan tawanya.
Benar- benar surprise yang out of the box.
"Malah ketawa!" bentak Nawang keki.
Mulutnya kini telah dibekap oleh tangan Nawang yang sudah bermuka manyun.
"Iya...maaf...maaf....Baiklah, aku maafin dengan senang hati, Sayang." kata Richard sambil mengusap kepala Nawang lembut.
"Makasih." kata Nawang kemudian beringsut menjaga jarak darinya lalu bermain dengan ponselnya. Entah sedang mengetik apa.
"Kenapa menjauh gitu?" tanya Richard dengan dada deg- degan.
Jangan- jangan ini boom nya.....
"Aku nggak suka dielus- elus kepalaku! Emangnya aku kucing?!" sungut Nawang kesal.
Richard kembali terbahak.
"Ya udah, sini aku peluk aja kalau nggak mau dielus." kata Richard sambil beringsut cepat ke arah Nawang kemudian memeluknya hangat.
Nawang tak memberontak. Tak juga ngomel saat Richard mencium puncak kepalanya.
"Akhirnya bisa memeluk macanku yang cengeng." gumaman Richard membuat Nawang spontan mencubit pinggang Richard dengan sekuat tenaga sampai dia menjerit kesakitan.
"Sakit, Noooon! Sumpah ini sakit!" jerit Richard dengan wajah meringis menahan kesakitan.
"Biarin! Nyebelin banget sih jadi orang." omel Nawang kembali beringsut menjauh dari rengkuhan Richard.
Richard memilih melepas blazer blue sky yang dipakainya. Menyisakan hem biru tua lengan pendek saja di tubuhnya.
"Udah, mukanya dikasih madu dikit kenapa? Biar agak manis, nggak manyun gitu." ledek Richard karena Nawang masih saja menekuk wajahnya.
"Nanti juga kalau kenyang terkondisikan dengan sendirinya mukaku." jawab Nawang membuat Richard tertawa.
What a cheerleader for my soul......
"Non...." panggil Richard setelah keduanya terkunci dalam kebisuan untuk beberapa saat.
Nawang hanya menoleh padanya tanpa bersuara.
Setelah menelan salivanya dengan tergesa, Richard kembali membuka suara.
"Aku adalah ODHA. Akan terus meminum obat- obat itu seumur hidupku. Dan tentu aku berbeda dari orang pada umumnya dan punya keterbatasan di..... you know what I mean .Apakah kamu masih mau bersamaku?" tanya Richard dengan tatapan penuh pada Nawang.
Berharap bisa membaca setiap perubahan raut muka perempuan itu, yang sayangnya tidak bisa dia temukan.
Wajah itu tetap tenang , kalau tidak mau disebut flat.
"Non...." panggil Richard lagi karena Nawang tak juga merespon perkataannya.
"Ya udah kalau nggak mau jawab." kata Richard akhirnya dengan nada pasrah.
Selesai sudah.
Tak tersisa.
Nawang sudah tahu semuanya dan akan pergi dari hidupnya.
Ya.Seperti yang ditakutkannya selama ini.
Seperti yang dihindarinya selama ini.
Dan dia tidak punya kuasa untuk menahannya.
"Ada pertanyaan yang lebih bodoh lagi nggak? Atau yang lebih menyebalkan lagi mungkin? Sekalian ini aku emosinya." kata Nawang membuat Richard yang tadi menunduk dalam kembali menoleh padanya.
"Kamu kira ngapain aku nangis- nangis dari pagi tadi kalau cuma mau ninggalin kamu? Nggak penting banget pertanyaannya! Kalau cuma mau pergi dari kamu ngapain aku ada disini? Mau bikin drama perpisahan?" tanya Nawang lebih seperti omelan kekesalan.
Richard kembali tergelak.
Oh my.....
__ADS_1
"Nggak usah ketawa- ketawa kalau nggak ngerti! Nyebelin." kata Nawang masih ngegas tapi sudah dengan senyum tersipu.
Ah, perempuan satu ini memang istimewa. Sangat istimewa.
"Mau jadi istriku?" tanya Richard sambil tersenyum manis padanya.
Menatapnya dengan sorot mata penuh kecemasan juga pengharapan, bahkan dengan tatapan memohon dan memuja.
"Nanti aku pikir dulu." jawab Nawang cuek.
"Non....." rajuk Richard nggak terima.
"Aku kelaparan,Maaaas. Nggak bisa mikir berat. Apalagi harus memutuskan hal besar semacam.....mmmmm.....ajakan menikah nggak romantis macam tadi." kata Nawang dengan bersungut- sungut.
Richard kembali tergelak.
Ya Tuhan, entah dari apa dan bagaimana KAU buat hati perempuan ini. Hingga dia bisa membuat tawa di dalam kesedihannya dan menangis saat bahagianya.
"Baiklah. Kamu nanti makan yang banyak, biar jawabnya bener, nggak ngasal.Awas aja ya kalau jawabnya ngasal." ancam Richard sambil berjalan ke pintu karena barusan bel berbunyi. Pasti ojol yang datang.
Nawang sudah bersiap sedia duduk di atas karpet untuk menunggu makanan yang telah ditenteng Richard ke hadapannya.
"Makan enak nih. Alhamdulillah." kata Nawang sambil membuka semua kemasan makanan dan melandasinya dengan piring yang tadi cukup susah di temukan di pantry karena yang punya tempat juga lupa dimana menyimpan piring. 🤦
"Katanya lapar. Makannya kenapa seuprit gitu?" tanya Richard sambil menuding ke piring Nawang yang dominan berisi sayur kangkung daripada nasi dan gurameh bakar.
"Malu." jawab Nawang tanpa dosa, membuat Richard tersedak karena tak bisa menahan tawa.
"Kamu kenapa sih, Mas dari tadi ketawa mulu?" sungut Nawang sambil mengulurkan segelas air putih padanya.
"Kamu juga kenapa sih dari tadi jadi ngelawak?" tanya Richard setelah menelan minumnya.
"Kamu tuh dari tadi lucu banget tahu nggak sih? Bikin gemes. Bikin pengen meluk terus." kata Richard sambil mengerling menggoda.
"Kamu kira aku guling, dipeluk- peluk?" sergah Nawang sebelum memasukkan sendok berisi nasi dan sayur ke mulutnya.
"Will be my favorite roll. As soon as possible." kata Richard sambil tersenyum jenaka.
"Ngimpi gratis silakaaan." balas Nawang meledek sambil memajukan mukanya ke muka Richard.
Sayang sekali itu perbuatan yang salah.
Membeku untuk sesaat.
"Jangan menggodaku seperti ini lagi. Aku bisa out of control nanti. Just for your information, your lip so sexy." bisik Richard kemudian mengecup pipinya lalu meneruskan makannya dengan tenang,seperti tak melakukan dosa baru saja.
Menyebalkan!
"Maaf." lirih Nawang sambil beringsut dan kini semakin menunduk.
Malu banget sumpah berkelakuan seperti tadi.
Kenapa juga genit gitu sih akuuuu?! Habis kan dicium Richard.?
Cool...calm kayak biasanya gitu bisa nggak sih kamu haaahh?!
"Sabtu sore kita ke Semarang yuk?" tawar Richard setelah beberapa saat keduanya makan dalam kebisuan.
"Mau ngapain?" tanya Nawang masih dengan nada setengah malu.
"Ke rumah mama papa. Ngobrolin soal kita." jawab Richard sambil menatapnya.
Nawang tiba- tiba gusar.Nampak jelas oleh Richard.
"Papa nggak kayak dulu kok. Dia udah nyesel. Tolong maafkan papaku ya,, udah bikin kamu sangat sakit hati." kata Richard memohon.
Nawang tak bereaksi.
Dia ingat senyum tipis yang diberikan oleh papa Richard padanya tempo hari, saat mereka bertemu di jamuan makan ulang tahunnya Pak Darto.
Apakah benar senyum itu adalah tanda penerimaan?
"Dia nggak akan melarang kita lagi. Aku jamin itu." kata Richard masih berusaha meyakinkan.
Dia kembali mengingat percakapannya dengan mama Richard tempo hari.
__ADS_1
"Tolong maafkan kami ya, Na. Terutama papanya Eric. Kami menyesal telah memisahkan kalian. Tante sangat tahu sedalam apa Eric mencintai kamu. Secinta apa dia sama kamu,bahkan sampai hari ini. Tante nggak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Eric kalau kamu masih sama orang lain'. Mungkin sekali dia akan menduda selamanya."
"Walau tak pernah ngomong, tapi Tante tahu pasti papanya menyesal telah memisahkan kalian bahkan merendahkan kamu. Tolong dimaafkan ya....? Papa orang baik kok sebenarnya. Sama kayak Eric." kata mama Richard yang hanya sanggup dia balas dengan anggukan kecil.
*Sekarangkah saatnya?
Memulai kehidupan bahagianya bersama Richard?
Meneruskan mimpi indah yang dulu pernah terpenggal karena keadaan*.
"Kita ajak anak- anak juga, sekalian jalan." kata Richard lagi.
"Mau?" tanya Richard lagi.
"Iya." jawab Nawang akhirnya.
Walau masih ada ragu menyelinap di dalam hati.
Tapi dia memilih untuk melawan keraguan itu.
Semua harus terus berjalan.
Seandainya pun nanti hasil dari menghadap orang tua Richard ternyata tidak seperti yang mereka harapkan, setidaknya dia sudah berusaha dan sudah tahu hasilnya.
Nggak perlu takut, Wang. Kamu sudah pernah mengalami kesakitan yang lebih dari ini dan kamu mampu melewatinya.
Kali inipun kamu pasti bisa.
"Nanti aku antar pulang ya?" pinta Richard saat Nawang sedang mencuci piring bekas mereka makan.
Richard sendiri sedang membungkus cumi goreng yang masih utuh dan gurameh bakar yang hanya berkurang ekornya.
Nawang bilang akan membawanya pulang walau Richard bilang akan dia pesankan yang baru aja.
"Ini aja disini nggak kemakan. Nggak mungkin juga kan kamu kasihin orang kalau udah sisa gini? Ntar ujung- ujungnya cuma kamu buang. Sayang. Biar aku bawa pulang aja, kan sisa aku makan juga tadi." kata Nawang tadi.
Richard mengalah dan membungkus lauk itu dibawah instruksi Nawang.
"Aku pulang sendiri aja. Bawa motor juga kan tadi." kata Nawang sambil mengeringkan tangannya dengan serbet yang menggantung di atas tepat cuci piring.
"Ealah, mau nganter pulang pacar aja ditolak." gumam Richard.
Nawang terkekeh.
"Nggak usah lebay deh." kata Nawang. Richard masih bersungut- sungut.
"Ya udah. Aku pulang dulu ya." pamit Nawang sambil meraih totebag yang sedari tadi teronggok di kaki sofa.
"Non...." panggil Richard manja.
"Nggak usah kayak bocah deh!" kata Nawang sambil terkekeh.
Richard tak menyahut.
Dia memilih langsung memeluk Nawang dengan erat.
"I love you so much." bisik Richard dengan suara yang jelas terdengar sangat bergetar.
Nawang hanya mampu mengangguk dalam pelukan Richard.
"I love you more." balas Nawang dengan kedua tangan yang kini merangkum kedua sisi rahang kokoh Richard.
Tangannya sedang menikmati tusukan lembut bulu- bulu halus yang tumbuh pendek disana.
"Makasih nggak pergi dariku." kata Richard lagi dengan tatapan penuh penghargaan.
"Never." balas Nawang.
"Aku pengen cium bibir. kamu, tapi aku takut." bisik Richard malu.
"Takut apa?" tanya Nawang heran.
Hhhhhh, merusak moment indah aja nih orang.
"Aku kan ODHA....."
__ADS_1
Kalimat Richard tak sempat selesai karena kini bibir Nawang sedang bertamu di bibirnya dan merayunya dengan lembut.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️