
Nawang pura- pura cuek saja saat Richard meraih tangannya karena dia salah berbelok menuju ke arah kantin.
"Modus ya, biar jalan barengnya sama aku lama?" ledek Richard.
Nawang hanya meliriknya judes. Richard terkekeh senang.
Dia juga masih tetap pura- pura santai saat tiba- tiba Richard memakaikan jaket yang tadi dipakainya untuk menutupi bagian belakang tubuhnya.
Hmmm wangi....Dan hangat βΊοΈ
"Dipakai yang bener, biar anget." kata Richard kemudian melepaskan genggaman tangannya agar Nawang bisa memasukkan tangannya ke lubang lengan jaket.
"Aku anget, gantian mas yang kedinginan ntar." kata Nawang sambil menatapnya malu.
"Nggak akan. Deket kamu bikin atiku selalu anget." seloroh Richard yang mendapat balasan decihan sebal Nawang.
"Gombal mukiyo." gumam Nawang sambil membuang muka, menyembunyikan senyum kecilnya.
"Mau makan apa?" tanya Richard begitu mereka memasuki kantin.
"Yang berkuah- kuah, biar anget." jawab Nawang sambil beranjak duduk pada kursi yang telah digeserkan Richard untuknya.
"Makasih." kata Nawang sambil tersenyum.
Richard mengedarkan pandangannya untuk mencari tulisan menu di kantin itu.
"Mie Jawa rebus mau?" tawar Richard.
Nawang mengangguk.
"Teh anget, jeruk anget, atau susu anget?" tanya Richard lagi.
"Teh aja deh. Makasih." kata Nawang malu- malu.
Richard tersenyum manis.
"Sama- sama, cantik." jawab Richard sambil mengerling genit lalu terkekeh menuju meja order.
Nawang menatap punggung tegap berbalut kaos lengan panjang berwarna hijau army itu.
Seulas senyum tanpa sadar tersemat di bibirnya.
Richard kembali ke meja sudah sambil membawa dua gelas minuman.
Satu tah panas untuk Nawang, dan secangkir kopi hitam untuknya sendiri.
"Nanti nggak usah masuk kerja ya?" kata Richard setelah meneguk kopinya.
"Kenapa?" tanya Nawang heran.
"Kamu nggak tidur dengan baik semalam. Ku jamin kamu kerja juga nggak bakalan fokus karena ngantuk dan mikirin operasinya pakde Parno." kata Richard.
Nawang mengangguk mengerti dan dia membenarkan omongan Richard itu dalam hati.
"Ya udah, aku nanti WA aja ke HRD, minta ijin hari ini." kata Nawang membuat Richard tersenyum lebar selebar -dari Sabang sampai Merauke. Dih π
"Good girl." kata Richard sambil meraih pelipis Nawang dan mengusapnya sesaat.
Nawang melotot tak terima dengan perbuatan Richard barusan.
"Kenapa? Marah? Sebel?" ledek Richard yang hanya dibalas manyunnya bibir Nawang.
Richard terkekeh penuh kemenangan.
Kirain mau menerkam, ternyata cuma manyun doang.
__ADS_1
Richard meraih ponsel di dalam saku celananya yang terasa bergetar.
VC dari Hans.
Begitu diusapnya tombol berwarna biru di layar ponselnya, langsung dlihatnya wajah Darren yang baru bangun tidur.
"Papa di rumah sakit ya?" tanya Darren dengan antusiasnya.
"Iya. Dikasih tahu om Hans ya?" tanya balik Richard.
"Katanya sama ibu Nawang ya? Mas Bintang ikut nggak, Pa?" tanya Darren semakin semangat.
Richard terkekeh senang.
Hmmmm, Darren benar- benar sudah jatuh hati sama Bintang.
One good things.
"Ada.Mas Bintang ikut, tapi belum bangun. Ini Papa lagi nyari minum di kantin." kata Richard.
"Curang! Mas Bintang ikut ke rumah sakit, aku nggak ikut!" protes Darren dan langsung siap- siap meledakkan tangisnya.
Aduh! Salah ngasih jawaban dia.
"Hei.....hei....nggak boleh nangis.....Maaf ya tadi papa nggak ajak Darren, kan Darren masih bobok. Nanti Papa ajak mas Bintang ke rumah ya, kalau udah bangun." hibur Richard spontan, membuat Nawang yang mendengarnya mengernyit.
"Beneran ya, Pa. Mas Bintang di ajak kesini ya?" sahut Darren yang otomatis berwajah riang.
"Tapi minta ijin dulu sama Ibu." kata Richard kemudian mengarahkan kamera ke arah Nawang yang duduk di seberangnya.
Nawang tentu saja terkejut.
Apalagi. dilihatnya Hans tersenyum- senyum ke arahnya.
"Mas Bintang boleh nggak Bu di ajak ke rumah nanti?" tanya Darren dengan tatapan puppy eyes nya.
"Iya. Nanti mas Bintang kesitu sama Papa. Darren udah mandi?" tanya Nawang basa- basi.
"Mandinya nanti nunggu mas Bintang aja, barengan." jawab Darren malu- malu.
Nawang terkekeh pelan.
"Ya udah. Nanti mas Bintang kesitu. Baik- baik ya sama om Hans, nggak boleh nangis." kata Nawang sambil melambaikan tangan pada Darren yang di balas anggukan dan lambaian tangan bocah itu.
Hans yang memantau percakapan itu tersenyum dalam hati.
Luwes amat manggilnya Ibu. Lancar jaya nih Pak Boss.
Richard baru menyimpan ponselnya ke saku celananya saat dilihatnya ibu kantin membawa nampan menuju ke arahnya.
Bisa di pastikan itu berisi dua piring mie Jawa rebus pesanannya tadi.
Keduanya makan tanpa banyak bicara hingga tandas.
Mie rebus yang sedap di pagi buta yang indah bagi Richard.
"Operasi pakde jam berapa?" tanya Richard setelah keduanya dalam perjalanan kembali ke tempat bude Darmi dan Bintang berada.
Di tangan kanan Richard tertenteng plastik kresek berisi kopi susu untuk bude Darmi dan susu kemasan untuk Bintang yang katanya sudah bangun.
"Belum tahu. Mungkin setelah ini kita bisa nanya ke dokter." jawab Nawang dengan agak nggak nyaman karena tangan kiri Richard sedari keluar dari kantin tadi terus saja menggenggam tangannya.
Richard bukannya nggak tahu Nawang kurang nyaman dengan kelancangannya itu, tapi selama Nawang tidak menolaknya apalagi menerkamnya, dia akan menikmati itu dengan sangat senang hati.
Genggaman tangan Richard baru terlepas saat langkah mereka sudah berbelok di lorong tempat bude Darmi dan Bintang nampak sedang ngobrol asik.
__ADS_1
"Udah bangun nih, mas Bintang?" sapa Richard sambil mengelus kepala Bintang.
Wajah anak itu sudah terlihat segar karena tadi sudah cuci muka sekalian pipis.
"Udah." jawab Bintang sambil menerima susu kotak yang diulurkan Nawang padanya.
Tanpa bersuara dia meminum dengan tenang susu itu sampai tandas.
"Operasinya nanti jam dua belas katanya, Pak." kata bude Darmi sebelum Richard bertanya.
Richard mengangguk mengerti.
"Nggak bisa lebih pagi lagi, bude?" tanya Richard.
"Katanya antri, Pak. Hari ini ada jadwal empat operasi pasang ring. Bapak dapat nomer dua." terang bude Darmi.
"Begitu." sahut Richard mengerti.
"Kalian pulang aja, Wang. Istirahat di rumah, tidur." saran bude Darmi dan bergantian menatapnya dan Richard.
Richard menatap Nawang yang belum bereaksi.
"Nanti bude sendirian di sini." kata Nawang akhirnya.
"Enggak. Nanti Hasti kesini jam tujuh katanya, sambil bawa baju gantiku dan sarapan. Lagian kondisi bapak sudah sangat baik, sama sekali nggak mengkhawatirkan kok." kata bude Darmi menyebut tetangga mereka yang tinggal persis dibelakang rumah bude Darmi.
"Ya udah kalau gitu. Aku pulang sekarang ya, bude." pamit Nawang tenang karena bude Darmi nggak akan sendirian dan sudah tenang akan kondisi pakde Parno.
Dia kemudian melepas jaket Richard dan menyerahkan kembali pada si empunya lalu meraih kemudian memakai jaketnya sendiri yang semalam dipakai bantal tidur oleh Bintang.
"Kami pulang dulu ya, bude." pamit Richard setelah bersalaman dengan bude Darmi yang kembali berkaca- kaca.
Dipakainya kembali jaket yang barusan diulurkan Nawang padanya.
"Iya, Pak. Terimakasih banyak berkenan membantu kami sebanyak ini." kata bude Darmi dengan suara bergetar menahan haru.
"Jangan begitulah, bude. Kita ini kan cuma gantian nantinya, saling bantu. Nanti suatu saat pasti saya yang akan merepotkan bude. Semoga bude mau membantu." kata Richard dengan rendah hati.
"Pasti, Pak. Kami pasti akan dengan senang hati melakukannya." sahut bude Darmi sambil tersenyum senang.
"Aku pulang dulu ya, bude.Segera kabari kalau butuh apa- apa. Aku libur hari ini." pamit Nawang.
Dilihatnya Bintang sudah beranjak menjauh dalam gandengan Richard.
Hobby banget ya menggandeng orang? Heran deh.
"Iya.Makasih banyak ya,Wang. Pak Richard ternyata deposit dua ratus juta tadi, nggak cuma delapan puluh juta seperti yang kita harapkan." kata bude Darmi mengejutkan Nawang.
Dua ratus juta?!
Itu uang semua?!
"Tadi pas kalian ke kantin, Bintang ku ajak jalan ke administrasi, sekedar nanya aja, memastikan. Ternyata kata susternya seperti itu.Dan katanya itu sudah cukup untuk mengcover biaya pasang satu ring lagi yang nggak tercover BPJS. Aku jadi nggak perlu bingung nyari pinjaman lagi. Tinggal menyerahkan sertifikat sama Pak Richard. Tanah itu kalau cuma dua ratus lima puluh juga laku kok.Dulu pernah di tawar orang segitu." kata bude Darmi menjelaskan.
Nawang terpaku.
Bingung. Sedih. Terharu. Lega.
Entahlah.
ποΈποΈποΈ bersambung ποΈποΈποΈ
Makasih sudah sampai disini.....ππ
__ADS_1