PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
113


__ADS_3

Di video itu bude Darmi sedang menunjukkan isi sebuah kamar.


Richard menajamkan penglihatannya. Menyimak video itu dengan serius.


"Kamarnya pengantin baru sudah siap huni, Bu Boss. Ranjang plus kasur, bantal, gulingnya baru semua. Meja rias mungil sesuai pilihan, Bu Boss. Pintu sudah terpasang kunci, biar aman terkendali. Kipas angin nempel di dinding yang pake remote sudah mapan pada tempatnya. Lampu sudah dipasang bisa terang, bisa redup. Ihirrrr!! Laporan selesai." suara bude Darmi terdengar kocak melaporkan 'proyek' rahasianya dengan Nawang.


Richard tercekat.


Bahkan Nawang sudah menyiapkan semuanya itu pasti karena Nawang ingin dia nanti merasa nyaman di kamar itu.


Maafkan hamba- Mu ini ya Allah......


Nawang muncul dari balkon tak lama setelah Richard mengembalikan ponsel Nawang ke tempat semula.


Tapi istrinya itu tak segera menghampirinya.


Nawang malah nampak sibuk di area dapur, padahal tadi mamanya bilang akan membawakan makan siang untuk mereka.


Jadi nggak mungkin Nawang mau masak disini.


"Non, sini sebentar." panggil Richard setelah ditunggunya Nawang tak juga beranjak dari dapur.


Tanpa menjawab Nawang mendekat setelah mencuci tangannya.


Pandangan perempuan itu tertunduk saat melangkah ke arahnya.


"Pengen apa?" tanya Nawang lembut setelah di dekatnya, masih tanpa mau menatap wajah ganteng suaminya.


"Sini." pinta Richard meminta Nawang merapat ke sisi kanan ranjangnya.


Dengan wajah keheranan Nawang menurut saja.


Dan dia terpaku saat Richard memeluknya erat.


"Kenapa? Ada yang tambah sakit badannya?" tanya Nawang dengan nada khawatir.


Richard menggeleng di samping kepala Nawang.


"Maaf ya bikin kamu kecewa tadi." kata Richard penuh sesal.


Nawang terdiam beberapa saat.


Apa wajah kecewanya sangat terbaca oleh Richard tadi? Padahal dia sudah menahan sekuat mungkin agar wajahnya tak menunjukkan ekspresi itu.


"Nggak papa. Aku ngerti kok." katanya kemudian, dengan nada sedih.


"Ngerti apa?" tanya Richard lembut masih dengan memeluk Nawang.


"Ngerti kalau kamu nggak mau ada di rumah yang dulu kutempati sama mas Dani." jawab Nawang lirih setengah menebak.


Airmatanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.


Ternyata dugaannya benar. Richard tak mau ada dirumahnya karena itu rumah yang menyimpan sejarahnya bersama Dani.


Terbukti Richard tidak menyangkal ucapannya barusan.


Menyedihkan.


Apakah ini berarti Richard tidak bisa menerima masa lalunya?


Sia- sia sudah misinya menyulap kamar tidurnya secantik dan senyaman mungkin buat Richard karena ternyata laki- laki itu tetap nggak mau tidur disana.


Padahal uang tabungannya sangat terkuras untuk membeli ranjang cantik namun elegan beserta kasur, bantal dan gulingnya.


Belum lagi untuk beli kipas angin ber- remote, meja rias mungil nan cantik beserta satu stool bulat lucu.

__ADS_1


"Besok kita pulang kesana." kata Richard sambil mengelus pipinya.


"Nggak usah memaksakan diri kalau kamu nggak mau, Mas. Aku nggak papa kok." kata Nawang yang sayang sekali tak bisa menarik masuk airmata yang kini sudah mulai meluncur di pipinya.


"Kalau nggak papa kenapa nangis gini?" tanya Richard sambil melepas kacamata Nawang dengan lembut lalu menghapus airmatanya dengan telaten.


Nawang menunduk tak menjawab.


"Jangan pernah bilang nggak papa kalau kamu sebenarnya nggak baik- baik saja. Jangan melukai hatimu sendiri hanya agar semua terlihat baik- baik saja. Kamu ratu dalam rumah tangga kita, bukan panglima yang harus rela bertaruh jiwa raga agar semua tetap baik- baik saja. Kamu yang harus dilindungi, Sayang, bukannya malah melindungi." kata Richard lembut.


Nawang semakin terisak.


Bukan lagi tangisan kecewa, tapi tangis haru atas kata- kata Richard barusan.


Dia ratu yang harus dilindungi, bukannya panglima yang harus berkorban segalanya agar semua baik- baik saja.


Sungguh manis dan berartinya kata- kata itu baginya.


"Padahal aku udah beli ranjang baru. Udah beli kipas angin mahal, udah berusaha bikin kamar itu senyaman mungkin buat kamu." kata Nawang akhirnya dengan wajah bersungut- sungut.


Richard mengangguk- angguk terharu.


"Aku tahu....aku tahu....Aku suka ranjangnya. Cantik, simple tapi elegan, seperti kamu. Cat kamarnya juga menarik, kekinian.Pilihan warna gordyn juga masuk. Meja riasnya juga simple. Aku suka warna stool nya, eye catching. Kamu punya bakat jadi desain interior, Sayang. Kamu habisin tabunganmu ya untuk meng upgrade kamar itu?" tanya Richard sambil tersenyum.



Nawang terpaku. Kayaknya ada yang aneh nih.


Tunggu... tunggu.....darimana Richard tahu sedetail itu?


Jangan- jangan bude Darmi 'mengkhianatinya' nih.


"Kok kamu tahu?! Bude Darmi bocorin sama kamu ya, Mas? Wah kelakuan mbakyu satu itu semakin meresahkan." tuduh Nawang kemudian.


"Wah, pelanggaran nih! Nggak semudah itu mendapatkan maafku, Pak Boss!" kata Nawang sambil menutupi wajah Richard yang berusaha mencium pipinya.


"Aku harus gimana biar kamu maafin, Bu Boss?" tanya Richard sambil terkekeh gemas.


Hati Richard lega sekali sudah mendapati lagi Nawang yang agak tengil, Nawang yang dia suka.


"Kamu harus ganti semua biaya upgrade kamar. Titik. Nggak pakai protes!" jawab Nawang tegas.


"Katanya surprise.....Mana ada surprise minta ganti?" tanya Richard dengan tawa gelinya.


"Udah bukan jadi surprise lagi. Kan kamu udah nyolong start." sanggah Nawang yang kini malah menyandarkan kepalanya di bahu Richard dengan manja.


Misinya bermanis manja kali ini adalah agar uangnya yang telah keluar untuk membeli isi kamar akan diganti Richard, hihihi.....


"Baiklah. Akan kuganti nanti. Ingatkan aku kalau aku lupa ya." kata Richard akhirnya, setelah berhasil mendaratkan bibirnya di pipi Nawang.


"Pastinya." sahut Nawang riang.



"Kenapa nggak pasang AC aja sekalian?" tanya Richard karena ingat kalau Nawang hanya memasang kipas angin saja di kamar.


"Kan bakalan jarang dipakai juga, Mas kamarnya. Sayang pasang barang mahal- mahal." jawab Nawang.


Richard membenarkan juga pemikiran ekonomis istrinya itu.


"Trus perabot lama disingkirin kemana tuh?" tanya Richard iseng.


"Ada tetangga yang mau. Masih bisa dipakai semua sih sebenarnya." kata Nawang dengan nada menyayangkan.


"Kan juga tetap kepakai kan sama tetangga? Kenapa yang kayak nggak rela gitu nglepasnya?" tanya Richard.

__ADS_1


"Kalau bukan demi bikin kamu nyaman, aku masih sayang ganti semuanya. Mana dulu bisa punya itu harus kredit." kata Nawang yang membuat hati Richard nyeri.


Hanya buat punya barang- barang kayak gitu aja Nawang dulu harus kredit? Ya ampun.....


"Kan sekarang gantinya lebih bagus dan nggak perlu kredit." hibur Richard.


"Tapi tabunganku nyaris ludes, Mas. Walaupun uangnya juga dulu kamu yang ngasih." kata Nawang sambil nyengir malu.


"Kan aku janji mau ganti." kata Richard sambil menyentil hidung Nawang.


Perempuan itu tersenyum riang.


"Makasih banyak, Pak Bossku." kata Nawang kemudian mencium pipi Richard dengan semangat.


Richard tertawa- tawa senang dengan kelakuan istrinya itu.


"Jadi pengen cepet- sembuh deh." gumam Richard disela tawanya.


"Kenapa?"


"Biar nggak cuma diciumin aja." jawab Richard sambil mengerling nakal.


"Tuan Omes kumat." sergah Nawang kemudian dengan gerakan cepat segera melepaskan diri dari pelukan lengan kanan suaminya.


"Mau kemana heiii?" panggil Richard nggak rela ditinggalkan begitu saja.


"Mau minum. Haus nyiumin tuan Omes mulu." jawab Nawang menuju area dapur.


Richard terkikik geli.


Cengirannya terhenti saat di dengarnya pintu kamar terbuka. Dikiranya mama papanya yang datang.


Ternyata seorang petugas mengantarkan dua set makan siang untuk pasien dan penunggu pasien.


"Di taruh sini aja dulu nggak papa, Mbak." kata Nawang yang sedang ada di samping meja makan.


"Ya, Bu." jawab petugas itu ramah sambil dengan cekatan memindahkan dua nampan makanan dari troli dorongnya ke atas meja makan.


"Selamat menikmati makan siangnya, Pak,Bu." ucap petugas itu sebelum keluar ruangan.


"Ya, Mbak. Terimakasih banyak." jawab Nawang ramah.


"Mas, ini tadi beneran petugas dari rumah sakit kan?" tanya Nawang sambil mendekat ke arah Richard dengan wajah terlihat bingung.


"Dari seragamnya sih iya. Kenapa? Kamu kenal orang itu?" tanya Richard.


"Kok makanan yang dianterin penyajiannya kayak makanan restoran?" tanya Nawang tak bisa menyembunyikan keheranannya.


Selama ini yang dia tahu kan makanan rumah sakit tuh penyajiannya bikin males yang ngeliat.


Sangat monoton, nyaris tanpa rasa. Bikin selera makan pasien yang sedang rendah semakin anjlok.


Richard tertawa maklum.


"Rumah sakit ini salah satu kelebihannya adalah dalam penyajian makanan ke pasien sangat menyenangkan dan menggugah selera. Makanannya enak pula. Bukannya tadi pagi kamu ya yang makan jatahku?" tanya Richard sambil tersenyum.


Nawang mengernyit sebentar, mengingat tadi pagi dia sarapan apa.


"Bubur ayam tadi pagi? Kirain yang beli mama. Enak lho,Mas.Jus nya juga mantap!" kata Nawang girang.


Richard tertawa mendengarnya.


Kamu baru masuk sangat sedikit di dunia orang kaya, Sayang.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2