
"Kenapa nangis gitu?" tanya Richard bingung.
"Aku terharu, o on!" sungut Anin sambil beringsut malu, menjaga jarak dengan Richard.
Richard tergelak.
"Segitu senengnya di ajak cerai." kata Richard meledek.
"Dih! Emang kamu nggak senang mau cerai sama aku?" tanya Anin penasaran.
Terus terang saja, Anin takut Richard udah baper sama dia.
"Enggak!" jawab Richard tegas.
Anin menegang.
"Ke....kenapa?" tanya Anin gugup.
"Lha kamu cerai sama aku udah ada Bram yang nungguin. Aku? Bakal jadi duda muda. Mana nggak ada yang ngurusin lagi." jawab Richard sambil terkekeh.
"Dih, kirain kamu udah jatuh cinta sama aku. Ternyata cuma takut kehilangan pelayan." rutuk Anin sebel.
Richard tergelak.
"Ric...." panggil Anin serius.
"Apa?Kenapa?" tanya Richard langsung menghentikan tawanya.
"Maafin aku ya..."
"Maaf kenapa?" tanya Richard bingung.
"Aku nggak bisa jadi istri yang baik. Nggak bisa jatuh cinta sama kamu." kata Anin tulus.
Richard tersenyum mengerti.
"Kamu udah berlaku sebagai istri yang baik. Aku berterima kasih selama ini kamu merawat aku dan Darren dengan baik. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Maaf ya, aku nggak bisa bahagiain kamu selama ini." kata Richard tulus.
Dielusnya lembut puncak kepala Anin.
"Janji ya, setelah kita bercerai kamu akan jadi abangku sampai kita mati." pinta Anin dengan puppy eyes nya.
"Pasti. Tapi itu tergantung suamimu kelak juga. Dia cemburu nggak sama aku yang keren ini?" ledek Richard.
"Astaga! Kamu pikir Bram nggak lebih keren dari kamu?" cela Anin.
"Yakin Bram mau sama janda? Punya anak satu pula?" ledek Richard makin menggila.
"Yakiiiiin!!!" jawab Anin mantap.
Flashback off
**************
Darren tenang duduk di samping papanya sambil sesekali menoleh ke sisi kiri.
Dia merasa jalan yang dilewatinya asing.
"Kita mau kemana, Pa?" tanya Darren sambil menatap papanya.
"Kita jemput Mas Bintang dulu ya? Nanti kita terus ke playground. Mau?" tawar Richard.
"Mauuuuu...!!! Nanti mainnya yang lama ya, Pa?" pinta Darren membujuk.
"Bolehlah agak lama dikit. Tapi jangan lama banget ya? Nanti kalau mainnya lama banget terus ketahuan Mama, kita bisa dimarahin." kata Richard sambil berbisik lucu.
Darren mengangguk pasrah dengan wajah takut- takut, seolah mamanya ada di depan matanya.
Dia tidak mau kena omel mamanya, apalagi sampai dihukum nggak boleh main sama papanya.
Darren terlihat bingung saat mobil berhenti dan papanya melepas seatbelt.
"Kita turun yuk? Kita sudah sampai di rumah Mas Bintang." kata Richard.
Darren melihat ke arah tatapan papanya tertuju. Dan dia melihat seorang anak laki- laki yang sedikit lebih tinggi darinya nampak sedang takjub menatap ke arah mobilnya.
__ADS_1
"Itu Mas Bintang ya, Pa?" tanya Darren sambil mengarahkan jari telunjuk mungilnya ke arah Bintang ragu- ragu.
"Betul. Turun yuk, kita kenalan sama Mas Bintang." ajak Richard.
Darren mengangguk patuh.
Digenggamnya erat jari telunjuk papanya yang sedang melangkah menuju ke teras rumah Bintang.
Anak itu nampak malu- malu dan sedikit khawatir menatap Darren yang menatapnya seperti memindai.
"Hallo Bintang...." sapa Richard sambil tersenyum menatap Bintang yang sedang menatapnya dari atas ke bawah.
"Pak Boss...." gumam Bintang malu- malu.
"Jangan panggil begitu lagi ya? Panggil saja om Eric atau Pak Richard, boleh?" pinta Richard.
"Iya, Pak Boss....eh Pak Richard." jawab Bintang malu- malu.
Matanya tak lepas menatap Darren yang juga menatapnya sedari tadi.
"Kenalin, ini Darren. Darren, ayo kenalan sama Mas Bintang." kata Richard lalu meminta keduanya berkenalan dengan bersalaman.
Darren yang pada dasarnya anak ramah, langsung mendekati Bintang yang nampak lebih pemalu.
Bintang nampak senang saat Darren langsung nempel padanya.
"Ibumu kemana, Bin?" tanya Richard pada Bintang yang sedang mengikuti Darren menuju sudut teras.
"Ada di dalam." jawab Bintang.
"Aku panggilan dulu ya, Pak." kata Bintang sambil bergegas masuk yang diikuti Darren.
Anak itu tidak memperdulikan panggilan papanya yang memintanya duduk di teras saja.
Nawang yang baru keluar dari kamar mandi nampak kaget saat Bintang melangkah ke arahnya diikuti seorang bocah tampan dibelakangnya.
"Bin, siapa dia?" tanya Nawang keheranan.
Darren menatap Nawang dengan tatapan X Ray nya, membuat Nawang agak salting.
"Dia Darren." jawab Bintang.
"Kamu rumahnya yang sebelah mana?" tanya Nawang yang mengira Darren adalah anak baru yang tinggal di sekitar sini.
"Rumahku jauh." jawab Darren.
"Lhoh, kamu tadi kesininya sama siapa? Sama kamu, Bin?" tanya Nawang bingung.
"Dia kesininya sama Pak Boss." jawab Bintang yang membuat Nawang kaget.
Pak Boss?
Richard?!
"Pak Boss Richard?" tanya Nawang kaget.
"Iya." jawab Bintang dengan lugunya.
"Astaga!!" kata Nawang sambil menepuk dahinya gemas.
Berarti anak tampan ini anaknya Richard?
"Kenapa, Bu?" tanya Bintang keheranan.
"Nggak papa. Ya udah, kalian ke depan dulu ya, Ibu buatin minum sebentar." kata Nawang sambil tersenyum.
"Darren, kamu mau mimik teh?" tanya Nawang pada Darren dengan tersenyum lembut.
Cakep banget anakmu, Mas.
"Mau." jawab Darren kalem.
Nawang mengacungkan jempolnya lalu mengusir dua bocah itu dengan mengibas- kibaskan tangannya agar mereka keluar dulu.
Bintang menggandeng tangan Darren untuk diajaknya kembali ke depan.
__ADS_1
Richard yang dari luar sudah melihat kedua bocah itu bergandengan tangan, dengan lincah menggunakan kamera ponselnya untuk mengabadikan moment itu.
Dengan tersenyum lebar dikirimnya photo itu ke ponsel Bram dengan memberi caption yang membuat Bram terkekeh geli.
Udah gandengan aja sama calon mas nya 🤩
"Kenapa?" tanya Anin yang sedang melintas dan melihat Bram terkekeh.
"Richard pamer photo Darren sama anaknya Nawang gandengan." jawab Bram sambil menyodorkan ponselnya ke arah Anin.
Anin segera memburu ke arah Bram.
"Liat dong!" pinta Anin dan langsung terkekeh melihat Darren yang nampak patuh digandeng Bintang.
Anin menatap poto sambil melebarkan photo untuk melihat wajah Bintang dengan lebih jelas.
"Kenapa agak mirip gini ya mereka?" tanya Anin keheranan.
Yang terlihat kontras di antara kedua bocah itu hanyalah Darren dengan kulit putih susunya dan Bintang berkulit sawo matang.
"Pertanda itu...."
"Pertanda apa?" tanya Anin penasaran.
"Orang tua mereka berjodoh." jawab Bram sambil tersenyum.
"Aamiin." sahut Anin dengan sepenuh hati.
Ya, dia sangat mengharapkan Richard segera memiliki kehidupan rumah tangga bahagia seperti yang dijalaninya saat ini.
Richard orang yang sangat baik, dia tahu itu.
Dan dia sangat pantas untuk bahagia.
🗝️🗝️🗝️🗝️🗝️
Richard tersenyum menyambut Nawang yang muncul dengan nampan berisi empat gelas teh hangat dan setoples keripik pisang juga beberapa jajanan anak kecil.
Perempuan itu tetap terlihat berwibawa namun manis dengan celana 7/8 berwarna putih dan blouse biru muda berleher Sabrina.
"Silakan diminum, Pak." kata Nawang sambil beranjak duduk di depan Richard.
Dia tak berani mengangkat pandangannya karena dia yakin Richard sedang menatapnya.
Menyebalkan sekali!!!
"Non...." panggil Richard pelan tapi ternyata mampu membuat Nawang terlonjak.
"Ya, Pak?" sahut Nawang cepat setelah meredakan kekagetannya.
"Bisa nggak sih kamu nggak manggil aku kayak gitu?" keluh Richard gusar.
"Kenapa?" tanya Nawang sengaja meledek.
"Aku belum setua itu kan? Nggak harus dipanggil Pak dimana pun." protes Richard kesal.
"Tapi kan Anda memang bapak- bapak." sanggah Nawang tetap keras kepala.
"Terseraaah....!" sungut Richard akhirnya.
"Mau saya panggil TUAN?" tanya Nawang dengan tatapan tanpa dosa dan membuat Richard geregetan.
"Terserah kamu saja, Sayang....Kamu mau manggil aku mbak juga nggak papa." sungut Richard membuat Nawang tergelak tanpa disadarinya.
Dada Richard menghangat mendengar lagi tawa itu.
Tawa yang sekian lama dia rindukan.
Bahkan sejak mereka kembali bertemu beberapa bulan lalu, baru kali ini dia bisa melihat wajah memerah dan suara gelak tawa itu.
Rasanya Richard ingin menangis saja karena terharu.
Dia merasa telah bersama NONAnya yang dia cintai sejak SMA dulu.
Dan TUAN adalah panggilan kesayangan Nawang untuknya dulu, saat mereka menjadi sepasang kekasih.
__ADS_1
Apakah NONAnya itu masih ingat benar panggilan itu atau hanya asal- asalan dia menyebut panggilan itu?
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️