
Richard bergegas meminum obatnya setelah alarm di jam tangannya berhenti berbunyi.
Lalu dengan tersenyum riang dia kembali ke ranjang yang mulai malam ini tak akan sunyi lagi.
Ada seorang perempuan cantik yang akan selalu menemani tidurnya, menghiasi malam- malamnya.
Dibelainya lembut wajah tenang yang terlelap itu.
Lalu tanpa ragu dikecupnya kening, kelopak mata, pipi, hidung, dagu, dan berakhir di bibir kenyal yang sangat sedikit terbuka.
Melu matnya dengan perasaan yang hanya dia sendiri yang memahami, hingga kantuk mulai datang menyerangnya.
Ditengah rasa kantuk pikiran jahilnya masih saja jalan.
Dengan gerakan cepat dilepasnya semua kancing blouse Nawang, meraba pengait di punggung istrinya lalu terpampang lah apa yang dia ingin di depan mata yang telah sangat mengantuk.
"Cucu ku....." gumam Richard dengan smirk tengil di wajah kuyunya lalu dengan semangat menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua kemudian beberapa saat bibirnya mulai asik dengan dot kembarnya sebelum akhirnya dia jatuh tertidur dengan muka menempel pasrah di dada istrinya.
Kesadaran Richard berangsur terkumpul kembali saat di rasanya wajahnya terasa dibelai- belai lembut.
Lalu belaian itu pindah ke rambutnya.
Kembali jemari itu menelusuri wajahnya.
Begitu terus berulangkali.
Membuat nyaman.
Membuat ingin.
"Harusnya aku bisa mendapatkan lebih dari belaian, Sayang." gumam Richard serak masih dengan mata terpejam nikmat karena belaian tangan Nawang di rahangnya.
Suaranya itu tentu saja membuat Nawang kaget tapi tak membuat Nawang menghentikan belaiannya.
"Tadi udah ada yang nyolong start." jawab Nawang sambil manyun yang tadi begitu kaget saat terbangun merasa ada yang melekat di dadanya.
Dengan gerakan reflek tangannya mengarah ke dadanya tapi segera menyentuh rambut lebat di kepala yang nemplok di dadanya.
Dia tersenyum malu saat menyadari wajah Richard menempel dibelahan dadanya dengan tenang.
Membuat Nawang merasa kecolongan.
Bagaimana bisa dia sampai tidak merasa saat Richard mengobrak- abrik tubuh depannya?
"Enak banget ternyata nyu su sambil ngantuk- ngantuk." gumam Richard sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sholat sunah dulu yuk." ajak Nawang tanpa menghentikan jemarinya mengubek- ubek wajah Richard.
Kesadaran Richard langsung pulih 1000% mendengar ajakan itu.
Dan dilihatnya tatapan mata Nawang begitu menggoda.
Ah istrinya ini ternyata inget juga kalau mereka belum bersenang- senang menikmati malam pertama mereka.
"Yuk!" sahut Richard kemudian menggenggam lembut jemari Nawang yang masih menguasai wajahnya, lalu mengecupnya lembut sebelum bangkit dan turun dari ranjang.
Richard tertawa gemas saat dilihatnya Nawang yang beringsut turun dari ranjang masih dengan tampilan blouse yang terbuka sempurna dan penutup dada yang kendor karena pasti tidak dikaitkan.
Bikin pengen nubruk aja.
"Ganti bajumu biar nyaman,Sayang." kata Richard yang tak urung tak dapat menahan hasratnya untuk tak mendekat lagi pada dot nya, mendorong ke atas pembungkusnya yang tak rapat dan menghisapnya sesaat.
"Aku nggak bawa baju ganti." jawab Nawang sambil meremas rambut Richard lembut.
__ADS_1
Nawang hampir loss control dan ingin menikmati seutuhnya kenakalan Richard didadanya.
"Di lemari itu isinya bajumu semua." kata Richard sambil menunjuk lemari berwarna broken white tiga pintu setinggi dinding yang berada di samping ranjang.
Nawang menatap tak percaya pada suaminya.
Dia bergegas mendekat ke lemari dan membukanya.
Matanya terbelalak mendapati rak- rak di lemari sudah penuh dengan pakaian yang terlipat rapi.
"Pakaian dalamnya ada di laci bawahnya itu,Non." kata Richard sambil membuka satu lemari di samping lemari Nawang.
Nawang hanya mengangguk sambil membuka laci yang dimaksud Richard.
Dan benar saja, disana sudah bertumpuk kain segitiga berbagai bentuk dan juga penutup dada berbagai warna dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran dada Nawang.
Nawang tersenyum simpul, darimana Richard tahu ukuran penutup dadanya?
Memang ada aja akalnya orang itu.
Nawang membuka satu pintu lagi dan disana dilihatnya gaun- gaun indah menggantung dengan apiknya.
Dan semua gaun itu dia suka.
Ada juga banyak kerudung instant dan kerudung lainnya dengan berbagai warna tergantung di sebelah gantungan gaun- gaun itu.
Komplit sekali.
"Rak di atasnya itu berisi tas dan sepatu." kata Richard yang kini sudah berdiri di sampingnya sambil menunjuk ke rak bagian atas yang berpintu sendiri.
"Tinggi banget raknya. Kalau mau ngambil harus pakai tangga. Kamu simpan dimana tangganya, Mas?" tanya Nawang sambil menoleh menatap Richard.
"Nanti aja bahas tangganya. Udah buruan ganti baju! Kita sholat dulu." sergah Richard sambil membuka satu pintu lemari lagi berisi tumpukan baju yang juga hampir memenuhi rak di dalam lemari.
"Yang disini baju tidur sama baju rumahan. Semoga kamu suka ya." kata Richard sambil memeluk pinggang Nawang yang kini malah kebingungan melihat baju- baju itu.
"Aku bingung mau ambil yang mana." gumam Nawang seperti keluhan.
Richard tertawa tanpa suara.
"Malam ini kamu pakai ini aja." kata Richard kemudian meraih baju paling atas lalu menyerahkannya pada dekapan Nawang.
Melihat warnanya yang merah hati, Nawang langsung suka.
Apalagi kainnya sangat lembut, pasti sangat nyaman di pakai.
Tapi matanya langsung terbelalak saat di rentangkannya baju itu.
Sangat minim! Saat ditempelkannya ke badannya mungkin tak ada sejengkal di bawah pangkal pahanya.
Ah ya.....ini kan yang disebut lingerie itu ya....
"Mau sholat masak pakai lingerie sih, Mas? Nggak sopan banget. Outer nya ada nggak?" tanya Nawang tanpa ada keinginan untuk menolak saja lingerie itu.
"Ini outer nya. Pakailah biar sopan." kata Richard kembali meraih di tumpukan tempat dia meraih lingerie tadi.
Nawang membuka outer itu. Ternyata panjang, sampai ke mata kaki.
"Sip! Makasih mas ganteng...." kata Nawang kemudian berjinjit mencium pipi Richard yang terkekeh sambil memeluk pinggangnya.
"Yuk buruan wudhu, sholat sunah dulu. Aku udah nggak sabar pengen merobek lingerie ini." bisik Richard di telinga Nawang sambil tetap memeluk pinggang Nawang melangkah ke arah kamar mandi.
"Jangan disobek! Sayang, Mas bagus banget gini." sungut Nawang nggak terima.
__ADS_1
"Iyaaaa....nanti kamu lepas aja cepat- cepat biar nggak kurobek." kekeh Richard sambil mendorong lembut tubuh Nawang masuk ke area dalam kamar mandi agar leluasa ganti baju.
Sedang dia sendiri kemudian mengambil air wudhu di area luar kamar mandi.
Dan di dalam kamar mandi luas dan mewah itu Nawang kini sedang terpaku menatap bayangan tubuhnya di cermin yang menempel kuat di pintu geser kamar mandi.
Lingerie ini benar- benar tak berguna sebagai penutup tubuh.
Lihat saja. Belahan dadanya begitu rendah.
Bahkan saat dipakai mengekspose setengah aset depannya dengan sempurna.
Tali juga cuma seiplik, Segede spaghetti aja.
Belum lagi bagian belakang. Punggungnya terekspose utuh sampai pinggang.
See, saat dia menunduk melihat panjangnya, hanya sepertiga pahanya saja yang tertutup.
Nawang menggeleng- geleng tak habis pikir.
Ini benar- benar definisi dari baju haram.
"Non....kok lama?" suara Richard terdengar dari luar pintu, membuat Nawang bergegas menyambar outer lingerie dan memakainya serapat mungkin lalu bergegas keluar.
Dilihatnya wajah segar Richard sudah tersenyum menunggunya.
"Ayune bojoku cah (cantiknya istriku guys)" gumam Richard sambil menatapnya lekat.
Nawang tak menanggapi komentar itu.
Dia memilih bergegas mengambil wudhu dan mengikuti Richard yang kini tengah membentangkan dua sajadah berurutan. Satu untuknya sendiri dan dibelakangnya untuk istrinya yang cantik.
Nawang bergegas memakai mukena yang tadi ditemukannya di rak bajunya.
Mukena baru yang sangat cantik dan nyaman.
"Siap?" tanya Richard yang sudah siap berdiri sebagai imam menoleh pada Nawang yang juga sudah berdiri.
"Siap." jawab Nawang sambil tersenyum.
Richard kemudian segera memulai sholat sunah untuk pengantin baru itu.
Sholat dua rakaat yang hanya dilakukan oleh sepasang suami istri sebelum melakukan hubungan intim untuk yang pertama kali.
Seusai salam Richard menoleh karena lengannya di sentuh dari belakang oleh Nawang yang ternyata hendak mencium tangannya.
Richard mencium puncak kepala istrinya dengan perasaan haru.
Kebahagiaaan seusai salam ini tak ada tandingannya.
Mata keduanya saling terpaut seusai membereskan alat ibadah.
Saling menatap dan tersenyum malu, terpaku di tempatnya berdiri dengan debaran hati yang bertalu- talu.
Sekarang saatnya akan dimulai perjalanan indah menapaki tangga demi tangga menuju puncak surga dunia.
Nawang gemetar saat dilihatnya Richard melangkah ke arahnya dengan tatapan yang tak lepas dari wajahnya.
Dan kini begitu saja lelaki pemilik hatinya itu telah memeluk erat tubuhnya.
"I need you so much." bisik Richard di telinganya, sangat parau dan gemetar.
"I'm yours....I' m yours..... 'till the end." balas Nawang tak kalah gemetar.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Ambil napas dulu boleh ya....? 🙈