
Badan Nawang bergetar hebat menahan amarah yang telah menguasai dirinya.
Raut wajah Halimah, ibu mertuanya yang tadinya tenang mendadak menegang melihat tubuh Nawang yang bergetar.
Wanita paruh baya itu lembut mengelus lengan menantu yang di kenalnya memang tak banyak bicara itu.
"Kamu kenapa?" tanya Halimah bingung.
Dilihatnya ada kilatan marah, kecewa, dan kesakitan di mata menantunya itu.
Nawang tak sanggup menjawab pertanyaaan mertuanya itu karena mulutnya bergetar hebat menahan amarah yang hampir meledak saat ini.
"Wang....kamu kenapa?" tanya Halimah lagi saat dilihatnya kini Nawang pelan- pelan menarik napasnya.
Wajahnya sudah mulai tenang.
"Saya nggak papa, Bu. Maaf, barusan tadi merasa sangat pusing. Tapi sudah hilang sekarang." bohong Nawang.
Halimah tersenyum senang walau dalam hatinya dia tak percaya begitu saja.
Nampak jelas tadi Nawang sangat marah.
Entah bagian mana dari kata- katanya yang sanggup menyulut amarah Nawang yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
"Jadi bulan kemarin bukan Ibu yang sakit? Deka yang masuk rumah sakit?" tanya Nawang memperjelas berita yang baru saja di dengarnya dari mertuanya.
"Iya. Dimas bilang semua biaya ditanggung Dani. Kamu tahu itu kan?" tanya Halimah pelan dan agak takut.
Nawang mengangguk gamang.
Aku tahu.
Tentu saja aku tahu. Walau aku tahunya barusan.
"Bu...."
"Ya?"
"Mohon maaf sebelumnya kalau ini mungkin akan menyinggung perasaan Ibu. Tapi Saya mohon Ibu jawab dengan jujur ya?" pinta Nawang pelan.
Suaranya hampir hilang karena tertelan airmata yang hampir menguasai dirinya.
"Ya. Ibu akan jawab. Ada apa?" tanya Halimah mulai khawatir.
"Selama ini, selama mas Dani menikah dengan saya, apa dia selalu memberi uang bulanan pada Ibu?" tanya Nawang sambil menatap Halimah lembut.
Dia benar- benar menjaga intonasi suaranya agar tak berkesan menuduh atau menyudutkan mertuanya.
Halimah nampak terkejut dengan pertanyaaan itu.
Dan Nawang sudah menduga reaksi mertuanya akan seperti itu.
Tapi saat ini dia tidak terlalu mengkhawatirkan mertuanya itu.
Yang sangat menguasai hatinya saat ini adalah rasa ingin tahu yang sangat besar tentang kemana sebenarnya uang Wardani.
"Ibu nggak nerima setiap bulan, Nak. Sungguh. Sesekali dia memberi seratus atau dua ratus ribu, itupun dia bilang kamu yang nitip." jawab Halimah lembut.
Dia tidak perlu merasa tersinggung sama sekali dengan pertanyaan Nawang barusan.
Halimah bahkan merasa pasti ada yang salah dengan kelakuan anaknya dalam menafkahi keluarganya.
"Apa uang gaji suamimu tidak pernah diberikan padamu? Apa selama ini kamu ditelantarkan anak Ibu?" tanya Halimah lembut.
__ADS_1
Diraihnya tangan Nawang dan digenggamnya lembut.
Dia berharap Nawang tahu bahwa dia ada dipihak Nawang.
Nawang menggeleng pelan.
Mati- matian dia meredam bara yang kembali berkobar di hatinya.
Dan dirasanya bara itu sekarang sudah menghanguskan hatinya.
Meluluhlantakkan perasaannya yang memang telah dibuat semakin rapuh oleh suaminya sendiri.
"Ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan pada Ibu, Nak. Ibu tahu kamu menyimpan sesuatu yang membuatmu sedih. Selama ini Ibu selalu berharap kamu bahagia bersama Dani. Tapi sepertinya tidak seperti itu kenyataannya. Apakah anak Ibu menyakitimu? Menyakiti hatimu?" tanya Halimah lembut.
Nawang menunduk dalam, menyembunyikan airmata yang sudah menggenang di matanya.
Tapi tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Dan dia memang tak hendak bercerita apapun pada mertuanya.
Dia tak ingin melukai hati mertuanya bila dia menceritakan bagaimana perlakuan anak lelaki mereka padanya selama ini.
Bagaimanapun keadaannya, Dani adalah pilihannya sendiri.
Dia yang memutuskan menerima lamaran Dani dulu, walau itu dia lakukan demi menyenangkan hati almarhum ibunya.
Ibu Nawang sangat senang dengan Wardani dan sangat berharap Nawang menikah dengannya.
Dan bila ditanya apakah Nawang cinta pada Dani, dia tidak pernah yakin menjawab 'iya'.
Apa yang dia lakukan selama pernikahannya adalah sekedar menghargai lembaga perkawinan.
Dia laksanakan sebaik- baiknya kewajibannya sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anaknya.
Dia sudah tak perduli lagi dengan perasaannya sendiri yang sudah dia matikan tanpa dia sendiri sadari.
Dia lelah selama ini melakukan semua itu sendirian tanpa sedikitpun penghargaan yang dia terima dari suaminya.
Dan kenyataan yang dia dengar dari mulut mertuanya barusan semakin menambah parah luka hatinya.
Suaminya berbohong padanya.
Dia tak jujur kemana larinya uangnya selama ini.
Selama ini Nawang mengira Dani membiayai kehidupan ibunya, makanya Nawang berusaha merelakan uang bulanannya selalu payah.
Tapi baru saja dia tahu ternyata selama ini Dani membiayai rumah tangga Dimas, adiknya.
Dimas memang pengangguran dengan satu anak, setahun lebih muda dari Bintang.
Dan tempo hari Dani kelabakan mencari biaya RS yang katanya untuk ibunya ternyata untuk Deka, anak Dimas.
Pantas saja tempo hari waktu Dani berpamitan akan pulang dan Nawang bermaksud akan ikut menjenguk mertuanya, dengan galaknya Dani melarangnya.
"Ngapain juga kamu ikut nengok ibu, nggak bisa ngasih uang juga kan?" kata Dani waktu itu.
Dan kalimat itu sudah sangat cukup untuk menikam hatinya dan mengurungkan niatnya ikut Dani pulang.
Dan sejak saat itu Nawang tak lagi menerima uang belanja dari suaminya.
Dani beralasan semua gajinya dia gunakan untuk membayar hutang untuk biaya rumah sakit itu.
Entah mengapa pikiran liar Nawang kembali menguasai hatinya kali ini.
__ADS_1
Dari dulu Nawang mencium gelagat ada yang tak biasa antara Dani dan Dewi, istri Dimas.
Benarkah dugaanku ini?
Nawang beranjak berdiri dari duduknya.
"Saya nyari Bintang dulu ya, Bu?" pamitnya pada Halimah yang masih duduk tenang di sampingnya.
"Bukannya dia tadi sama ayahnya ke rumah Dimas? Katanya mau ketemu Deka." kata Halimah mengingatkan.
Halah, paling bapaknya yang rindu berat sama emaknya Deka, batin Nawang kesal.
"Saya akan susul dia. Sudah waktunya makan siang." sahut Nawang sambil bergegas keluar rumah.
Entah mengapa dia merasa harus segera ke rumah Dimas.
Di tengah perjalanannya menuju rumah Dimas, Nawang melihat Bintang tengah berlari kecil ke arahnya.
"Lhoh, kok kamu sendirian? Deka mana?" tanya Nawang saat Bintang sudah memeluk kakinya.
"Deka tadi ikut bapaknya, nggak tahu kemana." jawab Bintang cuek.
"Ayah kemana?" tanya Nawang was- was.
"Di rumah om Dimas." jawab Bintang sambil menatap ibunya.
Nawang melihat wajah Bintang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi anak itu bimbang.
"Ngapain masih disana? Bukannya om Dimasnya pergi sama Deka ya?" tanya Nawang keheranan.
Bintang hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya.
"Tadi waktu kamu tinggal ayah disana, ada siapa di rumah om Dimas?" tanya Nawang lembut.
"Cuma ada Tante Dewi aja. Tadi ayah aku ajak pulang ke rumah Simbah nggak mau, Aku disuruh pulang sendiri. Ya udah, aku pulang sendiri aja." kata Bintang sedikit kesal.
Jarak rumah Dimas dan mertuanya memang tak terlalu jauh, nggak sampai seratus meter.
Hanya berjarak beberapa rumah saja.
Walaupun begitu Nawang jarang ke rumah Dimas saat mengunjungi mertuanya.
Dari awal bertemu dengan Dewi, Nawang memang sudah merasakan tidak suka pada perangai iparnya itu.
Menurut Nawang - yang notabene sangat perduli pada sopan santun- cara Dewi bersikap sehari- harinya pada ibu mertuanya terlalu tidak sopan.
Apalagi kelakuannya pada Dani.
Perempuan itu seperti tak punya urat malu bersikap sok perhatian pada Dani bahkan di depan Nawang sekalipun.
Dulu bahkan pernah Dewi memanggil Dani dengan sebutan 'sayang' berkali- kali saat keluarga mertuanya ada hajat.
Nawang yang tadinya berusaha menegur Dewi agar bersikap yang pantas dengan gurauan malah hanya dianggap angin lalu oleh Dewi.
Karena Dewi tak juga menghentikan kelakuannya memanggil Dani dengan sebutan 'yank' di depan keluarga besar mereka,Nawang meradang.
Ditegurnya dengan suara marah saat Dewi kembali memanggil Dani dengan panggilan 'sayang'.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Terimakasih sudah masuk ke dunia RiNa 🙏
__ADS_1
Semoga betah disini.....
Happy reading 💖