PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
7. Tangis di pagi hari


__ADS_3

Nawang menelungkupkan wajahnya diatas meja, menyembunyikan wajahnya yang banjir airmata.


Dadanya sesak menahan amarah yang menguasai hatinya saat ini.


Kembali dia merasa lelah dengan hidupnya.


Sangat lelah.


Dia membiarkan airmata menguasainya untuk dapat meredakan rasa nyeri dan rasa marah yang menguasainya saat ini.


Dia yakin nanti dia masih bisa meredakan lagi rasa sakit hati yang sudah seringkali dirasanya ini.


Air matanya kembali membanjir saat diingatnya lagi perkataan suaminya pagi tadi, sebelum mereka masing- masing akan berangkat bekerja.


Flashback on


**************


"Kamu punya tabungan nggak, Bu?" tanya suaminya tadi, seusai pulang mengantarkan Bintang, anak mereka ke sekolah.


"Nggak ada." jawab Nawang datar sambil meletakkan mangkuk -berisi sayur sawi hijau yang baru saja dia pindah dari wajan- diatas meja makan.


Hatinya sudah berdesir nyeri dan terasa panas dengan pertanyaan itu.


Dia sudah hapal kalimat selanjutnya yang akan diucapkan suaminya.


"Gaji kamu selalu habis tiap bulannya? Nggak pernah nyisa?" tanya suaminya lagi dengan nada nggak percaya.


"Iya. Habis semua buat makan dan nyukupin kebutuhan rumah. Aku bahkan punya utang lima ratus ribu buat nambal bulan kemarin karena banyak sumbangan bayi dan manten." jawab Nawang pelan dan tajam.


Dia berusaha mati- matian agar tidak mengeluarkan nada tinggi di depan suaminya walau sesungguhnya dia sangat ingin berteriak bahkan sambil membanting apapun di depannya agar dia lega dan amarahnya yang terpendam selama ini tersalurkan.


Membahas soal uang dengan suaminya selalu saja membuat hatinya kesal sekaligus nyeri tak terkira.


"Uang yang aku kasih tiap bulan juga nggak ada sisa?" tanya suaminya lagi, masih dengan nada curiga.


Nawang memilih diam tak menjawab dan menyingkir dari dekat suaminya.


Dia memilih bergegas mengambil tasnya di kamar dan segera ke depan untuk memakai sepatunya dan akan segera kabur ke tempat kerjanya.


Percuma juga dia menjawab pertanyaan yang sudah beratus kali ditanyakan suaminya selama mereka menikah, hampir tujuh tahun ini.


Jawabannya pada pertanyaan itu toh akan tetap sama.


Nada tak percaya dan ucapan suaminya pun akan tetap sama bila menyangkut uang rumah tangga mereka.


Nawang menarik napasnya yang tersengal karena menahan tangis dan beban berat dihatinya.


"Ibu kemarin masuk rumah sakit dan aku harus pulang menengoknya. Kita juga harus ikut nanggung biaya rumah sakitnya kan?" suara suaminya sudah terdengar di depannya yang sedang menunduk memakai sepatunya.


"Ibu masuk rumah sakit? Sakit apa?" tanya Nawang kaget.


Ditepikannya rasa sakit hati yang kembali menimpanya dengan kabar dari mulut suaminya barusan.


Ibu mertuanya masuk rumah sakit dari kemarin dan dia baru tahu hari ini.

__ADS_1


Itupun suaminya tidak secara khusus memberitahunya, tapi suaminya bilang tentang keadaan ibunya itu karena butuh biaya untuk ibunya, bukan karena dia adalah istrinya yang punya hak dan kewajiban tahu tentang kabar mertuanya.


"Terpeleset di depan rumah. Hari ini langsung operasi pasang pen di pergelangan kakinya." jawab suaminya.


Nawang bernapas sedikit lega.


Setidaknya mereka tidak perlu mengeluarkan biaya sampai berjuta- juta karena Nawang tahu semua biaya operasi ditanggung oleh BPJS mandiri mertuanya yang tiap bulan dia tanggung pembayarannya.


"Kamu beneran nggak punya uang?" tanya suaminya lagi, masih belum percaya.


Nawang hanya menatap nanar pada suaminya. Matanya mulai berkaca- kaca menahan kesedihan yang seperti diberi tumpukan baru lagi, sedang tubuhnya terasa panas dan bergetar menahan amarah yang telah berada di ujung lidahnya.


"Lalu gimana kita biayain operasi Ibu?" sambung Wardani mencecar.


Nawang menarik nafasnya berkali- kali.


Nawang masih sekuat hati tidak menunjukkan perasaannya saat ini di depan suaminya lewat ucapannya.


Tak elok rasanya sepagi ini bersitegang.


Hanya ekspresi wajahnya saja yang sudah terbaca oleh suaminya.


Dan laki- laki itu tidak suka dengan ekspresi wajah putus asa itu.


Dia berpikir itu adalah cara Nawang melarikan diri dari 'tuduhannya' atas ketidakbecusan Nawang mengatur uang belanja.


Nawang kembali menarik napasnya dalam- dalam, berharap gemuruh di dadanya bisa sedikit mereda.


Dia tidak ingin tambah terluka dengan ucapan meremehkan dari mulut suaminya bila dia menangis saat ini.


"Tapi ...kita kan perlu nengok kesana. Harus punya bekal juga kalau kesana, buat beli bensin dan ngasih sedikit pegangan sama Ibu." sergah Wardani masih mendesak.


"Aku nggak punya uang, Pak. Harusnya kamu yang masih pegang uang. Peganganmu itu bisa buat bekal nengok Ibu." jawab Nawang tanpa melihat wajah suaminya.


Wardani bergeming.


"Kerja selama ini kok nggak pernah punya sisa buat di tabung. Makanya ati- ati kalau ngeluarin uang." kalimat itu lagi yang harus dia dengar sebelum dia menstater gas motornya.


Setitik airmata sudah lolos dari pelupuk matanya saat motornya baru saja meninggalkan halaman rumah.


Flashback off


**************


Kalimat itu selalu terngiang- ngiang di benak Nawang.


Satu kalimat yang selalu mampu menjatuhkan mentalnya sebagai perempuan.


Hatinya remuk seremuk- remuknya setiap kali mendengar perkataan itu.


Seolah- olah selama ini dia adalah tukang menghambur- hamburkan uang suaminya.


Seolah- olah dia adalah perempuan yang nggak becus mengelola keuangan keluarga.


Padahal selama ini tiap harinya isinya adalah memutar otak bagaimana caranya agar uang ditangannya akan cukup sampai gajian bulan depan.

__ADS_1


Bahkan demi gaji utuh tiap bulannya, kadang sakitpun tak dirasanya.


Sekuat tenaga dia tetap berangkat kerja agar gajinya tak terpotong.


Sepanjang pernikahan mereka, gajinyalah yang jadi penyangga utama roda perekonomian rumah tangganya.


Suaminya memang memberinya uang tapi hanya separo dari jumlah gaji Nawang yang hanya sejumlah UMR tiap tahunnya.


Nawang menerima saja pemberian itu dengan harapan sisa gaji suaminya yang tak diberikan padanya akan menjadi tabungan rumah tangga mereka.


Namun nyatanya selama ini Nawang tak melihat itu.


Tiap kali Nawang menanyakan kemana larinya gaji suaminya, pria itu hanya meremehkan pertanyaan itu seperti tak mendengar apapun.


Dan sikap seperti itu tentu saja membuat Nawang merasa tak dianggap dan itu lagi- lagi melukai hatinya.


Nawang bergegas mengusap wajahnya saat di dengarnya mulai ada karyawan yang memasuki area bekerja.


Dia bergegas ke kamar mandi yang ada di sudut ruang kerjanya dan membasuh wajahnya agar sedikit fresh.


Dia tidak perduli dengan matanya yang agak bengkak karena tangisannya yang cukup lama, toh akan tersamar dengan kacamata yang dipakainya.


"Mbak Nawang sudah dateng dari tadi?" tanya Nayla yang baru saja masuk ruangan mereka.


"Lumayan pagi sih tadi." jawab Nawang sambil kembali duduk di depan komputernya.


"Mbak Nawang sudah sarapan belum? Aku tadi beli sego wiwit dua. Satu buat mbak Nawang ya." kata Nayla sambil menyerahkan nasi yang dibungkus rapi dengan kertas makan.


"Terima kasih, cah ayu." kata Nawang senang.


Dia tadi memang tidak sempat sarapan karena lebih memilih kabur daripada bertikai dengan suaminya tadi.


Dia bersyukur Tuhan memberinya sarapan lewat kebaikan Nayla.


"Enak ya, mbak?" tanya Nayla di sela kunyahannya.


Nawang mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Besok aku beli lagi deh buat kita. Tiga ribu aja kenyang kita" kata Nayla semangat.


"Buat kamu aja. Aku nggak usah." kata Nawang.


" Kenapa? Sekalian aku belinya." tanya Nayla.


"Aku sarapan dari rumah biasanya." kata Nawang.


Lagian uang tiga ribu bisa dia kasih ke Bintang untuk jajan anaknya daripada buat dia jajan sendiri.


"Ya udah kalo begitu." kata Nayla santai.


Pas mereka selesai menghabiskan sarapannya, bel tanpa mulai bekerja berbunyi.


Nawang dan Nayla bergegas merapikan bekas makan mereka karena sebentar lagi pasti orang produksi akan bergantian datang untuk minta material pembantu untuk mereka bekerja.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2