
"Perasaanmu lebih lega sekarang?" tanya Richard pada Nawang dengan senyum lembut.
Mereka sedang berhenti di POM bensin untuk mengisi bahan bakar dan juga sekalian sholat ashar dan membeli snack di minimarket yang ada disitu.
Dua anak mereka kin malah sudah terlelap begitu selesai berjamaah di mushola POM.
Nampaknya keduanya sudah kelelahan karena terus bercengkerama dan kadang berdebat kusir tak henti di sepanjang jalan sepulang mereka dari rumah Bu Halimah.
Dan kini, baru setengah perjalanan pulang keduanya sudah tertidur di bangku belakang sambil memeluk cemilan yang mereka pilih sendiri di minimarket tadi.
"Biasa aja.". jawab Nawang dengan tatapan bingung.
Nawang jelas melihat Richard mengernyit heran.
"Emang kenapa?" tanya Nawang bingung.
"Nggak lebih ringan gitu setelah kita dari sana?" tanya Richard keheranan.
"Aku ngerasa biasa aja. Aku kan nggak ada masalah sama Ibu, sama mas Dani juga nggak ada. Jadi ketemu mereka ya biasa aja. Kenapa sih? Ada yang salah ya?" tanya Nawang bingung sendiri.
Richard menatap Nawang dengan pandangan yang nggak bisa diterjemahkan oleh Nawang.
Disana ada tanya yang seperti ditahan, ada tatapan tak percaya, juga tatapan bingung.
Hhhh, Nawang malah heran dengan itu.
"Kamu nggak percaya sama aku? Meragukan perkataanku?" tanya Nawang setelah mereka memilih pindah arena ngobrol dengan duduk di belakang mobil mereka, setelah sebelumnya membuka pintu belakang mobil agar sirkulasi udara tetap terjaga secara anak- anak ada di dalamnya.
Walau Nawang bertanya dengan suara pelan, tapi Richard jelas merasa Nawang emosi bertutur saat ini.
"Bukan gitu...." jawab Richard mengambang, jelas menunjukkan keraguan.
"Trus apa kalau nggak gitu?" tanya Nawang sambil menoleh menatapnya, masih dengan nada yang ditekan sebiasa mungkin namun dengan sorot mata yang mulai menajam.
Waduuuuh, salah opening kayaknya nih. Bisa runyam nih.....
"Nggak tahu. Aku sendiri nggak ngerti kenapa aku tadi nanya seperti itu. Aku hanya merasa kamu tadi sangat terpaksa saat akan kesana. Disana tadi pun kamu nggak selepas kayak biasanya di rumah. Kamu lebih pendiam dan terlihat kurang nyaman. Apa karena kamu masih mengingat semua yang pernah terjadi disana? Semua hal yang menyakitkan yang terjadi disana? Kamu belum bisa memaafkan semuanya?" tanya Richard dengan nada pelan dan sedikit ragu.
Nawang menghembuskan nafasnya berat. Bingung harus menjawab apa.
Alhasil dia hanya menatap Richard dengan tatapan yang terlihat putus asa.
Jelas saja dia nggak akan bisa melupakan hal menyakitkan yang terjadi disana, setidaknya tidak secepat ini.
Kalau tadi Dewi sampai menunjukkan batang hidungnya, entah akan berlaku seperti apa dia pada perempuan itu.
Beruntungnya Dewi tak muncul tadi.
Tapi walaupun begitu, berada di tempat yang pernah membuatnya terluka, merasa sangat bodoh, dan merasa sangat tak dihargai tetap saja tanpa sadar membuatnya kurang nyaman karena alam bawah sadarnya masih sangat terluka.
__ADS_1
Tiba- tiba Nawang merasa sangat bersalah pada Richard.
Saat ini pasti lelaki itu merasa belum sepenuhnya memiliki perasaannya.
Mungkin Richard merasa Nawang belum sepenuhnya meninggalkan masa lalunya.
"Maaf...." kata Nawang seraya menyentuh lengan Richard yang sedang memeluk lututnya sendiri sambil menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.
Lelaki itu sedang tertunduk lesu dan membisu, menyamai apa yang dilakukan Nawang beberapa menit ini.
"Kenapa?" tanya Richard menolehkan kepalanya dengan tatapan tak mengerti.
Sorot matanya berubah menjadi tatapan merasa bersalah saat dilihatnya kabut di tatapan Nawang padanya.
"Maaf kalau kamu merasa aku belum bisa move on sepenuhnya." kata Nawang kemudian menunduk, menyembunyikan airmata yang berdesakan ingin meluncur dari kelopak matanya karena rasa bersalah yang mendesak hatinya.
"Tidak.....bukan begitu maksudku, Sayang....." kata Richard lembut kemudian memeluk bahunya lembut walau hanya sesaat.
Hanya sekilas Richard memeluknya karena mungkin segera tersadar kalau mereka ada di tempat umum walau sebenarnya posisi mereka cukup tersembunyi dari tatapan umum karena di belakang mereka adalah tembok dan dikanan kiri mereka adalah mobil yang parkir cukup mepet ke belakang.
"Sungguh, aku sudah nggak ada perasaan sama Mas Dani. Kalau itu yang kamu khawatirkan. Aku nggak akan mungkin mau jalan sama kamu kalau aku belum bisa membereskan hatiku. Apalagi sampai mau menerima lamaran kamu. Bahkan dalam hitungan minggu kita sudah akan menikah. Nggak mungkin aku tega melakukan itu kalau aku masih membiarkan hatiku terisi sama yang lain." kata Nawang dengan nada meyakinkan.
Richard hanya terdiam.
Nawang sepertinya salah paham.
Ini tadi kenapa sih?
Richard malah bingung sendiri dengan yang terjadi saat ini.
"Sudah ya, nggak usah dibahas lagi." akhirnya Richard mengambil keputusan sepihak.
Ini akan menjadi pembicaraan ruwet yang tak akan menemukan ujung pangkalnya bila diteruskan.
"Kok nggak usah dibahas lagi sih?! Aku nggak mau kamu mikir aneh- aneh sama aku. Bikin aku nggak nyaman." sahut Nawang dengan wajah bersungut- sungut.
Richard menarik nafasnya dalam- dalam kemudian menghembuskannya pelan.
Mencoba mengumpulkan kesabaran agar tidak ikut terbawa emosi Nawang.
"Aku percaya kamu sudah selesai sama Dani. Aku sungguh- sungguh sangat percaya. Aku tadi nanya nggak ada tendensi apapun selain aku mengkhawatirkan kamu, perasaan kamu. Hanya itu. Aku hanya ingin selalu melihatmu nyaman dan tenang. Itu saja." kata Richard dengan sangat pelan- pelan mengucapkan kata per kata agar Nawang memperhatikan dengan serius.
Agar Nawang langsung mengerti apa yang dimaksudnya dan tidak kembali salah paham.
Nawang menunduk kemudian mengangguk mengerti walau tak membalas ucapan Richard.
"Aku masih terus berusaha memaafkan semuanya. Aku ingin tenang. Aku juga ingin lupa.Tapi aku belum bisa." kata Nawang akhirnya.
Richard membalas tatapan Nawang -yang terlihat sangat terluka dan menyesal- dengan tatapan sayang dan mengerti.
__ADS_1
"Semua akan selesai bersama waktu. Luka hatimu akan sembuh seiring waktu. Biarkan semuanya mengalir seperti seharusnya. Bila mengingat masa lalu membuatmu terluka dan menyakitimu, kamu nggak perlu mengingatnya. Yang penting kamu tetap berusaha memaafkan apapun kesalahan di masa lalu, itu sudah akan melegakan. Selebihnya biar waktu yang bekerja. Kamu akan baik- baik saja bersamaku, aku janji." kata Richard lembut.
Richard meraih jemari Nawang dan menggenggamnya lembut namun terasa mantap merangkum jemari Nawang.
Membuat Nawang begitu merasa aman dan terlindungi, juga percaya.
"Makasih, Mas." kata Nawang dengan suara yang terdengar lebih ringan di telinga Richard.
Seperti ada kelegaaan di suara itu.
Seperti ada keyakinan pada tatapan dibalik kacamata itu.
"Tolong maafkan aku kalau nanti sikapku membuatmu kesal. Tolong beritahu aku kalau sikapku menyakitimu. Ya?" pinta Nawang sambil mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Iya. Tanpa kamu minta, aku pasti akan selalu bisa memaafkanmu. Kamu juga janji ya, jangan dipendam sendiri kalau kamu tidak suka dengan gayaku memperlakukanmu nanti. Protes aja. Galak kayak biasanya nggak papa. Tetap harus jadi diri kamu sendiri. Kamu harus jadi istri dan ibu yang bahagia nantinya. Janji?" pinta Richard dengan tatapan yang membuat Nawang seperti menjadi satu- satunya dunia bagi Richard.
Menjadi satu- satunya yang harus selalu baik- baik saja bagi Richard.
"Tapi aku galak, jutek, cuek. Aku boleh kayak gitu sama kamu? Nanti yang ada kamu belok di pengkolan nyari yang manja, ngalah, dan memperlakukanmu seperti raja." sungut Nawang.
Richard terkekeh.
"Yang ada selama ini kamu tu sangat memegang prinsip, sangat menjaga nama baik, sangat menjaga diri. Sampai pusing aku PDKT sama kamu. Sebel tahu nggak sih?" sungut Richard pura- pura sebel.
"Apaan sih?" kekeh Nawang sambil menabok lengan atas Richard.
"Kalau nggak galak, nggak jutek, nggak cuek, aku malah nggak bisa ngenalin kamu. Itu yang membuatku yakin kalau kamu Nawang ku." kata Richard sambil mengerling genit pada Nawang, membuat perempuan itu terkekeh pelan.
Bisa aja ngegombalnya orang satu ini.
"Tetaplah seperti kamu yang aku kenal. Bila pun nanti harus berubah, kita berdua yang akan berubah sama- sama, bukan cuma kamu sendiri, bukan cuma aku sendiri. Kamu akan memperbaiki aku, aku akan memperbaiki kamu. Kita nggak akan merasa saling kehilangan karena kita berubah sama- sama." kata Richard masih dengan lembut, membuat kekehan Nawang terhenti, kembali terpaku.
"Aku masih merasa semua yang terjadi belakangan ini dalam hidupku adalah mimpi. Mimpi indah. Apakah benar ini hanya mimpi, Mas?" tanya Nawang sambil menatap Richard.
"Kalau benar ini hanya mimpi, setidaknya kita menikmati mimpi indah ini berdua. Dengan orang yang kita inginkan. Kita hanya perlu terus tertidur agar mimpi ini nggak berakhir." kata Richard sambil tersenyum.
"Ibu.....!"
"Papa....!"
Suara Darren dan Bintang dari pintu mobil membuat senyum mereka semakin melebar.
"Itu jelas menunjukkan bahwa ini bukan mimpi." bisik Richard sebelum bergegas berdiri.
"Kami disini." sahut Richard sambil tersenyum dan mendekat pada dua anak lelaki yang akan menemani sepanjang sejarah hidupnya nanti.
Permata hati yang tak akan pernah terganti.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1