
Bintang masih asik mengunyah makan siangnya bersama bude Darmi saat dilihatnya ponsel bude Darmi menyala dan nampak photo ibu dan papanya di layar.
Belum sempat bertanya, bude Darmi sudah mengangkat telpon sambil menatapnya.
"Wa'alaikumsalam, Nyonya. Ha.....ha....ha....." bude Darmi tertawa berderai- derai, padahal Bintang sangat ingin ikut video call juga.
Tadi di dengarnya suara ibunya.
"Niiih anak kesayangan...baru makan." bude Darmi segera menggeser duduknya mendekati Bintang agar bisa ikut VC dengan ibunya.
"Makan sama apa, Mas?" tanya papanya yang duduk disebelah ibunya yang tersenyum manis menatapnya.
"Sama sayur sop dan ayam. Sama kerupuk." jawab Bintang sambil menunjukkan kerupuk yang tinggal setengah lingkaran di tangan kanannya.
"Waaaah, seger dong! Papa sama ibu makannya sama sayur kangkung dan tahu." kata Richard sambil tertawa.
"Kasihan...." balas Bintang sambil terkikik.
"Nanti papa jemput habis ashar ya? kira- kira jam empat." kata Richard lagi.
"Ibu sakit?" tanya Bintang - tanpa menghiraukan kata- kata papanya- sambil menatap ibunya menyelidik karena dari tadi diam saja hanya menatapnya dengan tersenyum. senyum.
"Enggak. Kenapa?" tanya Nawang heran.
"Kalau sakit bilang sama papa, nggak usah takut. Nggak usah nemenin papa keluar kota. Ibu sama papa nggak usah keluar kota aja kalau sakit." kata Bintang dengan nada dewasanya.
Nawang dan Richard saling berpandangan, kemudian keduanya tersenyum pada Bintang.
"Ibu sehat kok. Cuma agak capek aja." kata Nawang sambil tersenyum walau hatinya ingin menimpuk bude Darmi yang nampak menahan senyum tengilnya.
Bisa dipastikan, bude itu tahu penyebab dia agak capek.
"Ibu sama papa berangkatnya keluar kota jam berapa?" tanya Bintang kemudian.
"Hah?" Nawang bertanya bingung dengan wajah kagetnya tapi buru- buru di kendorkannya wajah kagetnya saat dirasanya tangan Richard mengelus telapak tangannya seakan bilang 'kalem.....kalem....' padanya.
"Jadi beneran boleh nih papa ngajak ibu keluar kota?" tanya Richard sambil tersenyum pada Bintang, dengan mata penuh harapnya.
"Boleh. Tapi....." tiba- tiba wajah Bintang murung dan tertunduk, lalu tak lama nampak bahunya terguncang pelan.
Anak itu menangis.
Bude Darmi memeluknya dengan lembut di depan tatapan kaget dan khawatir Richard dan Nawang.
"Mas Bintang pengen gimana? Pengen apa? Bilang aja sama ibu dan papa." kata Richard dengan nada membujuk dan merasa bersalah.
"Kenapa?" tanya bude Darmi sambil mengusap- usap punggung Bintang.
"Aku kangen sama Ibu. Pengen bobok sama Ibu." kata Bintang sambil menatap Ibunya memelas.
Nawang tersenyum haru dan lega.
Sekuat hati menahan diri agar tak menangis.
"Kan nanti sore kamu dijemput, berarti kamu bisa tidur sama ibu nanti. Atau mau dijemput sekarang aja?" kata Richard yang tiba- tiba merasa bersalah karena merebut Nawang dari Bintang.
"Katanya Ibu sama papa mau keluar kota...." sahut Bintang bingung.
"Ibu sama papa keluar kotanya nggak hari ini kok. Nggak keluar kota juga nggak apa- apa kalau mas Bintang nggak boleh....." kata Richard menenangkan.
"Boleh kok.....tapi boleh nggak perginya besok aja? Biar aku bisa bobok sama Ibu nanti, Pa?" tanya Bintang ragu- ragu.
"Boleh dong! Gini aja deh.... sekarang kami kesitu jemput mas Bintang, trus kita jalan- jalan dulu sebelum pulang ke rumah, nanti malam bisa bobok sama Ibu deeeeeh. Gimana?" putus Richard cepat dengan nada merayu.
Bintang nampak kaget dan senang. Wajahnya langsung bersinar lagi.
"Iya! Iya! Aku mau dijemput sekarang, Pa! Bude, aku nanti nggak jadi beli layangan ya? Nggak usah main layangan dulu. Besok aja kalau aku bobok sini baru beli layangannya." kata Bintang antusias pada budenya.
"Baiklaaaah...." jawab bude Darmi ceria.
Richard tersenyum- senyum melihatnya.
__ADS_1
"Ya udah, kami berangkat jemput sekarang ya? Assalamualaikum..." tutup Richard kemudian mematikan sambungan telpon setelah Bintang menjawab salamnya.
"Aku ngerasa seperti merebut kamu dari Bintang." gumam Richard malu sambil menoleh pada Nawang yang nampak masih tertegun.
Kepala mereka tersandar lemah di sandaran sofa kamar mereka.
"Tapi kamu sangat bisa mengendalikan situasi dan membuat Bintang tidak merasa tersaingi dan tersisih." kata Nawang ikut menolehkan kepalanya sambil tersenyum dan mengelus rahangnya lembut.
Richard terpejam menikmati sentuhan itu.
Sebuah sentuhan yang terasa seperti bentuk kekaguman. Membuatnya GR saja.
"Kamu bahkan menunjukkan sikap kalau kamu sangat menghargai pendapat dan keinginan Bintang. Papa yang keren." puji Nawang lagi.
Richard tersenyum walau masih dengan mata terpejam, menikmati sentuhan bibir Nawang di pipinya.
"Makasih pujiannya, Sayang." gumam Richard sambil menatap Nawang dengan tatapan yang dalam namun menenangkan.
"Berangkat yuk." ajak Nawang sambil beranjak dari duduk santuynya tapi sambaran lengan Richard di pinggangnya membuat tubuhnya ambruk ke pangkuan suaminya lagi.
"Mau disayang- sayang dulu." gumam Richard manja di bahunya.
Nawang mengelus rambut Richard lembut.
"Nanti malam lagi ya, Bang Jago." kata Nawang dengan nada membujuk dan tersenyum geli.
"Nanti malam kamu dikuasai Bintang kan?" gumam Richard dengan nada kehilangan.
"Kan palingan juga sampai jam sembilan. Begitu dia tidur kan ganti penguasa lagi akunya...." jawab Nawang sambil memeluk Richard hangat.
Memeluk dan menyentuh Richard rasanya sangat menyenangkan hati dan jiwanya.
"Jadi milikku lagi." gumam Richard dengan nada senang dan mantap.
"Yours." sahut Nawang kemudian mengecup pipi Richard dan beranjak berdiri.
"Berangkat yuk!" ajak Nawang sambil merapikan jilbab instant warna mocca yang agak melenceng- melenceng posisinya.
Richard berdiri dengan gerakan malas kemudian memeluk bahu istrinya lembut.
"Belum." jawab Richard sambil tersenyum malu kemudian berbelok ke side table di sebelah ranjang tanpa melepaskan pelukannya pada bahu Nawang, membuat istrinya itu tertawa- tawa gemas.
"Mana ada mau ngajak jalan- jalan nggak bawa dompet." kekeh Richard sambil mencium pipi Nawang dengan gemas karena tawa Nawang.
*******
"Kok Bintang ngomong kita mau keluar kota? Mas yang ngibulin dia ya?" tanya Nawang menuduh.
Richard hanya tertawa- tawa mendengarnya.
"Dasar bapak tengil. Ngakalin anak kecil nggak tanggung- tanggung." gerutu Nawang dengan wajah sebel.
"Pakde sama budenya yang bikin cerita, bukan ideku. Biar kita bisa menikmati honeymoon katanya." sergah Richard sebelum Nawang semakin panjang lebar melontarkan kalimat tuduhan padanya.
Nawang menatap Richard nggak percaya. Dan Richard tahu itu.
"Tanya bude Darmi kalau nggak percaya. Pakai lie detector sekalian biar yakin." kata Richard sambil tertawa.
"Kenapa aku nggak di kasih tahu?" gumam Nawang nggak terima.
Bagaimanapun dia kan juga salah satu calon pelaku honeymoon itu, masak nggak diajak ngobrol sih?
"Kan belum fix, Bintang belum ngasih permit yang jelas, Nah, sekarang udah jelas kalau Bintang ngasih ijin, baru kita obrolin deh. Kamu mau nggak barang dua atau tiga hari kita nyingkir sebentar ke Kaliurang buat real mini honeymoon?" tanya Richard sambil tersenyum- senyum penuh harap.
"Ke Kaliurang? Beneran Kaliurang?" tanya Nawang meyakinkan.
"I....iya.Kaliurang. Maaf kalau jauh dari ekspektasimu soal tujuan honeymoon kita. Tapi...."
"Bukan itu maksudku, Mas. Aku nggak papa ke Kaliurangnya. Aku malah seneng karena nggak terlalu jauh ninggalin rumah. Aku takutnya kamu ngomong ngajak ke Kaliurang tapi ntar tau- tau perginya jauh." potong Nawang saat dilihatnya wajah Richard memancarkan rasa malu.
Mungkin Richard mengira Nawang mengharap akan minta diajak ke tempat yang jauh dan indah untuk honeymoon mereka.
__ADS_1
Nyatanya setelah Nawang berkata barusan wajah Richard langsung terlihat lega.
"Ke Kaliurang beneran kok.Mau dong ya brarti?" tanya Richard lagi sambil menatap penuh harap.
"Baiklah...."
"Yessss!!!" Richard berseru senang sambil melebarkan senyumnya.
"Tapiiiiii....." potong Nawang cepat.
"Tapi apa?" tanya Richard dengan nada khawatir.
Waaah bisa- bisa banyak syarat nih.....
"Nggak papa." jawab Nawang dengan wajah cueknya, membuat Richard yang menunggu dengan wajah menegang pengen memitingnya.
"Nyebelin." gumam Richard merajuk.
"Dari dulu kan emang aku nyebelin. Kemana aja,. Pak?" sahut Nawang sambil tertawa.
"Tapi ngangenin...." sahut Richard sambil mengerling padanya.
"Daaaaaan......?" timpal Nawang genit tepat di samping wajah Richard.
"Ngenakin." sahut Richard sambil tertawa di susul tawa Nawang yang tak menduga jawaban Richard barusan.
"Pinternyaaaa...." puji Nawang di sela derai tawanya.
Richard tersenyum sangat bahagia di dalam hatinya mendengar tawa lepas dan berderai itu.
Semoga hari- harimu ke depan denganku akan selalu seperti ini,Sayang.
Teruslah bahagia seperti ini. Keluarkan cantikmu seperti ini.
"Darren boleh kita ajak jalan nggak, Mas nanti?" tanya Nawang setelah tawanya reda.
"Mau ngajak Darren juga?" tanya Richard seperti surprise.
"Ya iyalah.Masak ngajak main satu anak doang. Anak kita kan dua." jawab Nawang sambil mengernyit menatapnya heran.
"Coba kamu tanya mamanya. Darren bisa nggak." kata Richard akhirnya.
Nawang bergegas menelpon Anin yang telah bertukar nomor ponsel dengannya sejak beberapa waktu lalu.
Tak lama obrolan terjadi diantara dua wanita itu dengan hasil akhir gelengan kepala Nawang pada Richard yang menatapnya ingin tahu.
"Darren baru siang tadi diambil eyangnya katanya." kata Nawang agak kecewa.
Yang dipanggil eyang oleh Darren adalah orangtua Bram yang tinggal juga di Jogja tapi agak jauh dari rumah Bram.
Darren memang dekat juga dengan eyangnya itu karena dia cucu terdekat lokasinya.
Dua saudara Bram tinggal di luar pulau Jawa semua.
"Ya udah, lain waktu kita jalan berempat. Kita memang harus bergiliran soal anak- anak. Mungkin suatu saat juga Bintang akan ada waktu diajak sama ayahnya keluar. Nggak papa. Kita nikmati aja." kata Richard sambil tersenyum.
Nawang hanya mengangguk mengerti.
Ya, rumah tangga mereka ibarat kata rumah tangga besar.
Bukan hanya melulu soal dia dan Richard serta Darren dan Bintang.
Mereka berdua harus bisa beriringan dengan Bram- Anin dan Dani dengan calon pasangannya nanti.
Semoga semua akan selalu bisa berdiri di posisi mereka masing- masing dalam rasa saling pengertian dengan adil dan bijaksana.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
w
__ADS_1
Welcome to the club......😃
Happy reading yes....💖