
Jam sembilan malam Richard dan Nawang telah bersiap untuk meninggalkan Bintang yang telah terlelap.
"Kami titip Bintang ya, Bude." kata Richard saat mereka sudah memastikan Bintang tidur dengan nyenyak.
"Iya. Tenang saja. Nggak bakalan dia rewel atau kenapa- napa. Sudah sana berangkat, keburu kemaleman nanti." kata bude Darmi setengah mengusir dengan senyuman menggodanya.
"Bude ngusir aku dari rumahku sendiri?" seloroh Nawang dengan wajah bersungut.
"Iya. Kamu diusir dari sini. Sana ikut suamimu ke rumahnya." jawab bude Darmi tertawa sambil mendorong pelan tubuh Nawang.
Richard tersenyum saja melihat adegan itu.
"Kita berangkat yuk." ajak Richard sambil meraih tangan Nawang yang kemudian menatapnya malu- malu kucing.
"Halaaah, pakai malu- malu segala." olok bude Darmi sambil tertawa mengikuti langkah Nawang dan Richard keluar rumah.
"Kami berangkat dulu ya, Bude." pamit Richard setelah mereka ada di samping mobil.
"Iya. Hati- hati, Mas." jawab Bude Darmi sebelum Richard dan Nawang masuk ke mobil dan segera berlalu menuju ke sebuah rumah yang akan digunakan Richard untuk unboxing malam ini.
Ah rasanya pengen melesat saja biar cepat sampai.
"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Nawang penasaran.
"Ke rumah kita. Rumah kolonial. Tapi kita mampir beli stock makan dulu untuk isi amunisi kalau nanti tengah malam kelaparan." kata Richard sambil mengerling.
Oh sungguh, badannya sudah memanas dari tadi karena telah membayangkan petualangan pertamanya bersama Nawang malam ini.
"Tadi di rumah banyak makanan kenapa nggak bawa aja dari rumah?" tanya Nawang lebih seperti menggerutu.
"Maaf, Sayang. Nggak kepikiran." kata Richard dengan tersenyum malu.
"Elah, kamu mah biasa kayak gitu. Suka pemborosan." sahut Nawang sambil mencibir.
"Ya nggak pemborosan lah, kan dimakan." bela Richard.
"Iya, Yang dibeli dimakan. Yang ditinggal di rumah kebuang. Itu sama aja pemborosan, mas ganteeeeng." kata Nawang sambil menekan pipi kiri Richard dengan gemas.
Richard terkekeh senang dengan pujian dan perlakuan Nawang padanya barusan.
"Akhirnya keluar juga pujian pertama dari istriku. Makasih, manisnya mas ganteng." kata Richard sambil mengelus pipi Nawang sekilas.
Nawang ikut tertawa mendengar Richard menyebutnya manisnya mas ganteng.
"Ke warung pecel lele aja, Mas." usul Nawang kemudian. Usul atau permintaan ya?
Richard menatap Nawang keheranan.
Masak iya dia jajanin istrinya untuk pertama kali di warung tenda?
Ya ampun!
"Aku pengen ayam bakar. Boleh?" tanya Nawang dengan mata memelas.
Richard tertawa malu.
"Masak iya aku jajanin pertama kali istriku di warung tenda, Non?" kata Richard dengan nada geli dan malu.
"Kan aku yang mau." kata Nawang kalem.
"Lagian ini udah jam berapa? Udah malem. Yang masih buka ya warung tenda sama angkringan di jalan kita ke rumah." sambung Nawang lagi.
Iya juga sih.....
"Ya udah. Kita nyari ayam bakar aja." akhirnya Richard menuruti permintaan Nawang.
"Ganteng deh kalau baik gitu." kata Nawang sambil tertawa sengaja menggoda.
"Please deh, jangan menggoda gitu. Ini mobil bisa aku hentikan mendadak nih buat nerkam kamu sekarang juga." kata Richard dengan suara putus asa dan memelas.
"Weiiiits.....sabar Boss.....Masih banyak waktu, masih banyak tempat yang asik untuk menerkamku. Sabar ya...." sahut Nawang sambil mengelus- elus bagian dada Richard.
Walaupun tubuhnya masih memakai baju lengkap, tak urung tangan usil Nawang yang mengelus- elus dadanya membuat aliran darah Richard semakin terasa deras dan panas.
__ADS_1
Oh God....
"Non, tolong jangan menyentuhku dulu, OK?" pinta Richard dengan nada setengah kesal.
"Ke....kenapa?" tanya Nawang kaget.
"Kamu membakarku." jawab Richard sambil menatap Nawang dengan tatapan yang terlihat mulai berlapis tipis kabut membara.
"Oh...OK. Maaf ya...." kata Nawang pelan kemudian beringsut menepi lebih nempel ke pintu mobil.
Keheningan menguasai mereka sejenak
Richard tentu saja dalam diamnya sedang berusaha menenangkan hasratnya yang telah terpancing tadi.
Sedang Nawang diam karena takut akan diterkam Richard di tempat ini juga.
"Ya nggak kayak musuhan gini juga kali, Non." suara Richard akhirnya memecah kesunyian di dalam mobil.
Tangannya terulur meraih tangan Nawang yang tenang saling bertaut di atas pangkuannya.
Dikecupnya sesaat punggung tangan Nawang yang kemudian ditarik tergesa oleh Nawang.
"Kenapa?" tanya Richard keheranan.
Jangan bilang ini ngambek mode on ya......
"Nanti kamu kebakar lagi......" jawab Nawang sambil menahan senyumnya.
Richard meringis malu.
"Pikiranku emang udah kemana- mana sejak tadi." kata Richard sambil tertawa malu.
"Nggak kemana- mana ding.....ke kamu terus tepatnya." ralat Richard sambil kembali meraih tangan Nawang dan menggenggamnya erat.
Nawang terpaku merasakan genggaman ditangannya.
Terasa seperti sangat mendamba sekaligus menuntut.
Gila!
"Jangan lupa mampir beli ayam bakar." kata Nawang mengingatkan sekaligus mencairkan suasana yang mulai menghangat diantara mereka.
"Sebentar lagi sampai. Di depan sana warungnya." jawab Richard.
Begitu sampai di dekat warung tenda yang dimaksud, Richard mencegah Nawang yang sudah hendak membuka pintu mobil.
"Kamu di mobil aja ya?" pinta Richard sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Nawang heran.
"Disana isinya cowok semua, dan banyak, dan kamu terlihat cantik banget malam ini. Aku nggak mau berbagi pemandangan indah ini sama mereka." kata Richard kemudian mengecup lembut pipi Nawang.
Nawang tersipu malu.
"Posesif banget." kata Nawang sambil menahan senyum.
"Iya. Aku akan posesif kalau berurusan sama cantiknya kamu. Semoga kamu bisa mengerti dan menerima." jawab Richard kembali tersenyum.
Kali ini tangannya mengelus lembut pipi Nawang.
Dalam keremangan pencahayaan, Nawang masih bisa melihat kabut tipis penuh hasrat masih tetap ada di mata Richard.
"Ya udah, aku tunggu disini aja. Ayam bakarnya jadi dua." kata Nawang sambil mengacungkan jarinya berbentuk V.
"Nambah?" tanya Richard geli tak percaya.
"Buat sogokan, karena aku nggak boleh tebar pesona di warung tenda." kilah Nawang manja.
Richard tergelak.
"Siyaaap! Mau minta warungnya juga aku jabanin." kata Richard kemudian mengecup pipi Nawang lalu bergegas turun sebelum Nawang mengomelinya.
Sambil menunggu Richard Nawang memutuskan untuk memejamkan mata barang sejenak.
__ADS_1
Yeah, dia sudah punya pengalaman bagaimana malam pertama akan berlangsung.
Dan mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin adalah opsi terbaik saat ini.
Namun keinginannya untuk terlelap tak akan terlaksana karena kini di benaknya malah terbayang wajah Richard dengan senyum menawannya, dengan senyum manisnya, dengan senyum tengilnya, l dan terbaru wajah tampan Richard dengan tatapan mengandung api.
Nawang mengerjap- ngerjapkan matanya gelisah.
Akhirnya terpikir juga bagaimana dia nanti akan melewati malam ini.
Apakah Richard jenis yang bisa bermain apik? Atau termasuk jenis yang grabak grubuk asal hajar?
Dan dia sendiri, bisakah mengimbangi Richard? Bisakah menjadi yang seperti Richard mau?
Ya Allah.....kenapa mikirnya kesitu- situ terus siiiiih?
Nawang mendengus kesal, malu pada dirinya sendiri.
Dan astaga!!!
Dia nggak membawa apapun dari rumah. Jangankan baju ganti, dompet saja dia nggak bawa.
Ponsel pun kebawa karena tadi ada di saku celana setelah dia membalas gurauan Sasi di WA.
Trus *besok aku nggak ganti gitu? Ya ampun....berarti baju ini jangan sampai kusut sampai besok.
Tapi gimana nggak akan kusut kalau nanti tiba- tiba diterkam Richard?
Haduuuuuh.....
Atau nanti begitu sampai rumah langsung pinjem bajunya mas Eric aja. Jadi selama dirumah nanti baju ini aman di gantungan dan aku memakai bajunya mas Eric.
Dah gitu aja. Sip*!
"Mikirin apa, manisnya mas ganteng?" suara dari pintu mobil sebelah kanan mengagetkan Nawang.
Nawang terlonjak walau yang didapatinya adalah wajah suaminya yang nyengir kuda di jendela mobil.
"Ngagetin banget ih!" omel Nawang sebel.
"Makanya kalau ngelamun jangan all out, biar tetap sadar lingkungan." kata Richard sambil tertawa.
"Udah belanjanya?" tanya Nawang agak heran karena rasanya belum lama dia nunggu.
"Belum. Lagi dibakarin." jawab Richard masih tetap menyandarkan seluruh tubuhnya di pintu bagian luar mobil.
" Kok ditinggal kesini?" tanya Nawang kemudian.
"Nengokin istri sebentar. Eh ternyata lagi kusyuk bengong. Lagian aku udah pamit sama yang jual mau kesini kok." jawab Richard sambil tersenyum menggoda.
"Istrimu masih setia nunggu disini kok....." kata Nawang sambil tersenyum manis.
Senyum Richard merekah sempurna mendengarnya.
"Nunggu ayam bakar maksudnya." sambung Nawang membuat senyuman Richard berubah menjadi bibir yang mengerucut.
"Awas aja ya. Begitu selesai makan ayam bakar kamu akan nggak berhenti minta sama aku." kata Richard dengan nada mengancam.
"Minta apa?" tanya Nawang bingung.
"Minta di ajak ke surga dunia." kata Richard berbisik keras
"Nggak mungkin ayam bakar bikin begitu." cibir Nawang.
"Aku campur obat perangsang." kata Richard sambil tertawa meledek.
"Nyebeliiiin."
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Hiks, mau nulis part malam pertama kenapa susah banget ya? 😅🙈
Grogi banget aku tuuuuu 🤣
__ADS_1