PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
43


__ADS_3

Richard sabar menunggu Nawang yang meminta ijin padanya untuk mengganti sepatu mahal yang dipakainya tadi dengan sepatu slip on murahannya.


"Yuk." ajak Richard setelah dia sudah memegang handle troli belanja.


"Kenapa bawa troli besar? Anda mau belanja banyak?" tanya Nawang keheranan.


"Iya. Lagian kan enak pake troli gede gini, tinggal dorong, nggak usah angkat kayak kalo pake keranjang." jawab Richard.


Nawang asal angguk aja.


Suka- sukamulah, batin Nawang sambil berjalan santai di samping Richard.


Matanya sedari tadi menangkap mata- mata berbintang dari para perempuan yang melihat Richard.


Ah, cowok cakep emang nggak perlu bertingkah untuk mendapatkan perhatian, dimanapun mereka berada.


Nawang tetap tenang mendampingi Richard yang tadinya masih on track dalam memasukkan belanjaan di keranjang.


Dahi Nawang mulai berkerut saat Richard mulai memasukkan semua jenis sabun mandi kedalam keranjang.


"Itu sabun mandi buat apa,Pak? Anda mau bawa ke panti asuhan?" tanya Nawang penasaran.


"Nggak." jawab Richard cuek.


"Anda yang kaya raya ternyata mandinya pakai sabun mandi rakyat jelata tapi sekali mandi sabun langsung dibuang?" tanya Nawang lagi.


"Nggak juga", jawab Richard sambil memasukkan beberapa pouch sabun cair berbagai merk.


"Trus ini buat apa? Anda buka warung di rumah?" tanya Nawang ngasal.


Richard tertawa dibuatnya.


"Buat kamu." kata Richard membuat Nawang kaget.


"Kalau aku tanya kamu, pasti kamu nggak mau kan? Ya udah, aku asal masukin aja, ntar kamu tinggal pakai yang kamu suka aja." kata Richard cuek.


Matanya menangkap wajah bengong dan putus asa Nawang.


Rasain, bingung kan kamu? batin Richard tertawa puas.


"Sekarang kamu pilih.Kamu masukin semua kebutuhan bulanan kamu yang biasanya kamu belanja, dan biarkan aku yang membayar, ATAU aku masukin semua jenis barang disini dan kamu yang bayarin." kata Richard sambil menatap Nawang tegas.


Nawang menunduk takut.


Uang dari mana kalau harus membayar semua barang di troli itu?


Uang yang dibawanya saja hanya dua lembar seratus ribuan.


Nyebeliiiiiiin!


Nawang tak menjawab, hanya kemudian dia mengambil kembali berbagai merk sabun yang telah masuk ke troli dan mengembalikannya ke rak.


Hanya tersisa dua buah sabun batang berwarna kuning dan satu pouch sabun cair ukuran sedang dengan merk yang sama.


Richard tersenyum senang.


"Puas?" sungut Nawang kesal.


"Belum puas dong.Masak gini aja puas." jawab Richard tengil.


Nawang hanya melirik sewot mendengarnya.


Makin konslet aja kelakuannya, batin Nawang kesal.


"Tambahin itu sabunnya." pinta Richard.


"Nggak usah." bantah Nawang.

__ADS_1


"Aku masukin sendiri atau kamu yang nambahin?" tantang Richard.


Nawang mendengus kesal walau kemudian meraih beberapa lagi sabun mandi dengan jumlah yang seperti biasanya dia membeli bulanan.


Richard sungguh sedang menyebalkan mode on.


Kalau Nawang berkeras membantah, bukan tidak mungkin Richard akan memenuhi keranjang belanjaan dengan gila.


"Pintar. Lakukan seperti ini sampai semua kebutuhan belanja bulananmu komplit. No debat lagi, sayang." kata Richard sambil mengelus kepala depan Nawang sekilas.


"Pak, ini di tempat umum!" omel Nawang marah.


"Maaf, non. Kebawa suasana." kata Richard agak menyesal.


"Kita pulang aja." kata Nawang kemudian berjalan mendahului Richard.


"Kamu yang bayar semua ya, non!" seru Richard membuat Nawang menoleh dan kemudian menutup wajahnya menahan emosi.


Troli belanjaan sudah penuh dengan berbagai barang yang nggak jelas.


"Please mas, jangan gini." kata Nawang sambil menatap Richard putus asa.


Dadanya rasanya sesak dan penuh karena jengkel dengan kelakuan Richard.


Airmata bahkan sudah menetes di pipinya.


Richard tentu saja kaget dibuatnya.


Nawang ternyata kesal beneran padanya.


"Non, please, maafkan aku. Aku cuma becanda tadi." kata Richard ketakutan.


Nawang menunduk untuk menyembunyikan airmatanya.


Dia tentu saja nggak mau sampai terlihat menangis oleh pengunjung lain.


"Maaf ya. Please..." pinta Richard lembut.


Tangannya kemudian sibuk mengembalikan semua barang yang tadi diambilnya ngasal hingga troli hanya berisi barang yang tadi mereka pilih.


"Kita lanjutin belanja ya?" tawar Richard lembut setelah dilihatnya Nawang sudah bisa menguasai tangisnya.


Nawang menggeleng.


"Kita pulang aja." katanya sambil mulai melangkah meninggalkan Richard yang terpaku.


Tapi langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan mata Dani yang sepertinya sudah melihatnya dari tadi.


Nawang membalas senyuman Dani lalu menoleh dan tersenyum pada Richard yang kini sudah ada selangkah di belakangnya.


"Kita lanjutin aja deh belanjanya. Tapi anda yang bayarin kan?" kata Nawang semakin berbisik di akhir kalimat.


Richard tersenyum lebar mendengarnya.


"Seperti kesepakatan awal tadi." jawab Richard sambil tersenyum dan kembali mengikuti langkah Nawang yang mulai asik memasukkan beberapa barang kebutuhannya.


Entah mengapa Nawang ingin Dani melihat dia bahagia bersama Richard.


Mungkin untuk menunjukkan pada Dani bahwa dia jauh lebih baik- baik saja selepasnya dengan Dani.


Walau ada keheranan di hatinya tapi Richard senang Nawang memilih melanjutkan acara belanjanya.


Dia tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan sedih dan putus asa melihatnya sedang menemani Nawang berbelanja.


*******


Dani akhirnya sengaja diam- diam kemudian mengikuti acara berbelanja Nawang dan Richard sampai kedua orang itu memasuki area kasir.

__ADS_1


Dani memilih antri di kasir yang berada di samping kasir tempat Nawang dan Richard mengantri.


Dia bahkan mempersilakan beberapa orang dibelakangnya untuk mendahuluinya hanya agar dia bisa tahu berapa uang yang harus dibayar Nawang untuk belanjaan setroli penuh itu.


Dia ingin tahu siapa yang membayar belanjaan itu.


Akhirnya Dani bisa melihat angka yang harus dibayarkan untuk belanjaan Nawang.


Hampir satu juta!


Dan dilihatnya Nawang anteng saja dan menatap pria disampingnya yang mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


Belanjaan Nawang dibayar oleh lelaki disampingnya.


Ada nyeri dan malu dihati Dani melihatnya.


Dulu dia nggak pernah melakukan hal seperti itu untuk Nawang istrinya.


Dia nggak pernah perduli belanja bulanan Nawang habis berapa karena dia juga nggak perduli uang yang diberikan pada Nawang cukup nggak untuk belanja bulanan.


Dan bila memang belanja bulanan Nawang tiap bulannya sekitar jumlah itu, berarti selama ini perempuan itu benar- benar kesulitan mengelola keuangan mereka agar tetap cukup setiap bulannya.


Berarti benar kalau Nawang sampai nggak bisa menabung.


Dan lelaki itu apakah pacar Nawang?


Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya dia orang kaya.


Dan dilihatnya lagi Nawang yang terlihat jauh lebih cantik dari terakhir mereka bertemu.


Baju yang sedang dipakai Nawang juga bagus dan terlihat mahal.


Dan mantan istrinya itu sekarang berdandan, semakin terlihat cantik.


Dani bergegas keluar lebih dulu untuk melihat kepergian sejoli yang mampu membuat sedih hatinya itu.


Dani saat ini sungguh merasa tak berharga sebagai laki- laki.


Melihat pria yang bersama Nawang tadi dengan gentle nya mendorong troli yang diisi Nawang dengan banyak barang, membayar belanjaan Nawang, dan kini dilihatnya pria itu membawa dua kantong besar belanjaan dan Nawang membawa satu kantong kecil belanjaan.


Keduanya beriringan santai keluar dari swalayan.


Dani sengaja bersembunyi dengan duduk di balik pamflet kios minuman yang berada di depan swalayan.


Posisinya cukup lapang untuk melihat ke seluruh area parkir.


Hatinya mencelos saat dilihatnya keduanya memasuki sebuah mobil bagus.


Siapa pria itu sebenarnya?


Dimana Nawang kenal pria itu?


Apakah mereka sekarang pacaran?


Dani penasaran dan merasa harus mencari tahu tentang semua pertanyaan itu.


Dan dia tahu harus bertanya pada siapa.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Welcome to the journey.....💕


Ditunggu komennya ya, biar makin rame halamannya Nawang dan Richard 😁


Happy reading.....💖

__ADS_1


__ADS_2