
Hari yang ditunggu akhirnya tiba pada masanya.
Pagi ini, jam sembilan pagi tepat, Richard sudah duduk di satu kursi istimewa yang memang khusus di sediakan untuknya, berseberangan dengan dua kursi di depannya, dan masing- masing satu kursi di sisi kanan kirinya.
Satu kursi disebelahnya persis masih kosong.
Dan calon penghuni kursi itu adalah perempuan yang sangat dicintainya.
Yang sebentar lagi akan diikatnya dalam ikatan pernikahan yang tak lama lagi akan dia jalankan prosesi ijab qobulnya.
"Tegang banget, Mas Richard." kata pakde Parno sambil tersenyum jahil.
Richard terkekeh malu.
Emangnya kelihatan banget ya?
"Sudah hapal belum?" tanya pakde Parno lagi, sengaja menggodanya.
Pria itu sudah duduk di seberang Richard, memposisikan diri sebagai wali nikah Nawang nantinya.
"Sudah." jawab Richard sambil tersenyum malu.
"Ngapalin apa emangnya?" tanya om Hardi yang duduk di kursi saksi.
"He?" tanya Richard linglung.
Tiga pria yang menemani Richard disitu terkikik geli.
"Kamu udah ngapalin apa? Step unboxing atau ngapalin ijab qobul?" tanya om Hardi masih dengan disertai kekehannya dan tatapan meledek yang lain.
Richard hanya bisa nyengir malu.
Masak iya dia mau bilang sudah ngapalin step unboxing kan?
Padahal kalau itu kan nggak usah pakai hapalan pasti udah lancar nanti. Kan dikit- dikit udah warming up kemarin- kemarin, hihihi.....
Dia bahkan sudah tahu spot mana saja yang bisa menggiring Nawang tergulung oleh hasrat membara.
Nanti kita akan menuntaskan semuanya, Sayang. Tanpa jeda, tanpa batas.
Tanpa sadar senyum kecil Richard muncul di wajahnya.
"Wah, udah mikir hak'e hak'e aja nih kayaknya." bisik pakde Parno pada om Hardi yang masih sangat bisa dengan sempurna di dengarnya.
Kedua orang itu semakin terkekeh geli menatapnya.
Richard hanya menunduk malu, seolah anak ABG yang ketahuan nonton film biru oleh bapaknya.
Malunyaaaa.....
"Jangan lupa sholat sunah dua rakaat dulu sebelum buka puasa ya. Biar berkah kerja baktimu nanti." bisik om Hardi sambil tetap mengerling penuh arti padanya.
Richard mengangguk malu.
Dia ingat pernah ngobrol soal sholat sunah dua rakaat itu dengan Nawang.
Dan dia bertekad akan melakukan itu nanti, sebelum mereka melakukan semuanya.
Semuanya akan mereka awali dengan benar, dan akan mereka jalani dengan benar sampai akhir nanti.
__ADS_1
Itu janjinya dan Nawang saat mereka menikmati satu sore di alun- alun, beberapa hari setelah Richard melamar Nawang.
Mereka berdua duduk di rerumputan di pinggir alun- alun sambil mengawasi Bintang dan Darren yang heboh berlarian kesana kemari bermain gelembung balon dari air sabun.
Sesekali dua bocah itu mendekati orangtuanya hanya untuk meminta jajanan yang penjualnya bertebaran di sekeliling tempat mereka duduk.
Seakan sengaja memberi ruang pada orang tuanya untuk berbincang lebih intens, Bintang dan Darren selalu menikmati jajanan di tangan mereka agak menjauh di depan orang tuanya.
"Ada bayangan ngasih mereka adik nggak? Anak cewek cantik kayak kamu. Satu aja nggak papa." tanya Richard sambil menatap Nawang menggoda dan penuh harap.
Nawang hanya terkekeh tanpa bisa menyembunyikan warna wajah yang berubah memerah.
"Nikah dulu yang bener. Baru setelahnya bikin request kamu dengan bener juga." kata Nawang setelahnya.
"Emang ada nikah yang nggak bener?" tanya Richard sambil nyengir karena dia segera sadar akan jawaban dari pertanyaan yang sudah terlanjur meluncur dari mulutnya itu.
"Ya ada lah. Mungkin nggak benernya nggak sengaja juga." jawab Nawang.
"Maksudnya nggak sengaja?" tanya Richard mulai penasaran.
"Ya kalau nikah bener kan dari awal udah berusaha melakukan hal bener. Ijab qobul udah bener, tapi setelah itu kadang lupa atau emang nggak tahu." jawab Nawang memancing rasa ingin tahu Richard lebih dalam.
"Emang habis ijab qobul harusnya ngapain?" tanya Richard kepo.
Bukannya habis ijab qobul terus biasanya bikin huru hara di ranjang ya?
"Kamu searching aja di google habis ijab qobul itu kudu ngapain kalau nggak mau nanya sama ustadz." jawab Nawang sambil terkekeh.
Karena penasaran, Richard segera bermain dengan ponselnya untuk mencari jawaban dari rasa penasarannya.
Senyumnya terukir saat membaca hasil dari mesin pencari itu.
Juga ada sholat sunah dua rakaat sebelum mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya.
"Ini maksudnya?" tanya Richard sambil menunjukkan hasil pencariannya di mesin pencari tadi.
Nawang mengangguk setelah sekilas membaca.
"Aku pasti akan baca doa itu buat kamu. Ngajak kamu sholat sunah juga. Baca doa sebelum masuk, dan baca doa sebelum muatanku keluar." kata Richard sambil tersenyum- senyum malu.
Padahal belum ada satupun doa- doa itu yang dia hafal.
Tapi beruntungnya doa- doa itu pendek semua.
Masih ada banyak waktu untuk menghafalnya sebelum tiba hari H untuk mempraktekkan semua doa itu.
"Terimakasih untuk cita- cita muliamu, Papa....." kata Nawang sambil tersenyum mengerling kepadanya.
Richard tergelak mendengar Nawang menyebutnya Papa.
Imut banget kedengarannya.
"Siap- siap, Mas. Pak penghulunya rawuh ( datang)." suara om Hardi mengembalikan kesadaran Richard ke suasana yang tengah dihadapinya saat ini.
Entah mengapa senyum ramah dan manis dari dua orang yang datang dan disambut dengan wajah sangat ramah oleh semua orang yang ada disitu terasa bagai senyuman ksatria dengan pedang terhunus ke arahnya.
Bahkan saat pak penghulu itu menyalaminya, tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikannya sama sekali.
Sungguh memalukan, Ric....Ric.....
__ADS_1
Bahkan kemudian semua pembicaraan dan semua suara yang ada di sekelilingnya tak ada satupun yang bisa mampir ke telinganya dengan benar.
Semua terdengar berdengung dan tak jelas baginya.
Hingga kemudian satu moment mengembalikan kesadarannya lagi secara penuh saat om Hardi menepuk lengannya dengan tersenyum.
"Cantik sekali calon istrimu." kata om Hardi sambil memandang ke satu arah yang tanpa sadar diikuti oleh matanya.
Dan disana, dengan langkah pelan dan pandangan tertunduk, dilihatnya perempuan yang begitu cantik, bahkan sangat cantik dengan kebaya berwarna putih nampak begitu bersinar melangkah mendekat ke arahnya bersama dua orang perempuan di kanan kirinya yang setelah diperhatikan dengan seksama ternyata bude Darmi dan seorang yang dia tahu bernama Dinda.
MashaaAllah......
Dada Richard semakin berdebar tak beraturan.
Nafasnya terasa sesak oleh rasa kagum.
Apalagi saat perempuan itu semakin mendekat dan dia bisa semakin jelas melihat.
Benar- benar manglingi ( nampak sangat berbeda dari hari biasanya).
"Kamu cantik sekali." bisik Richard pelan saat Nawang sudah duduk di sampingnya.
Perempuan itu hanya tersenyum kaku, tak menjawab ucapannya.
"Sudah siap semuanya?" sebuah tanya dari penghulu kembali mampu memporak-porandakan hati Richard yang sedari tadi memang seperti berisi roller coaster.
"Mas Richard sudah siap?" tanya penghulu pada Richard yang kini mulai menegakkkan badannya dan menarik nafasnya sepanjang mungkin agar bisa memulihkan konsentrasinya sebaik mungkin.
Ini moment sakral dalam hidupnya, dan dia tidak ingin ada cacat dalam moment ini hanya karena dia tidak bisa fokus.
"Siap, Pak!" jawab Richard dengan mantap.
Dan menit berikutnya tangannya telah mengenggam dengan erat tangan pakde Parno dan mengucapkan qobul dengan sekali tarikan nafas tanpa cela.
Sangat lancar dan jelas.
Hingga suara SAH terdengar dari sekelilingnya begitu bergemuruh di gendang telinganya.
Alhamdulillah......
Hingga kemudian moment selanjutnya adalah Nawang mencium tangannya sebagai tanda bakti pertama padanya sebagai seorang istri.
Dan tugas pertamanya sebagai seorang suami dia lakukan setelahnya, yaitu mencium kening istrinya itu lalu berdoa saat kepala bersanggul cantik itu masih tertunduk di depannya.
Disentuhnya ubun-ubun istrinya itu dan dengan khidmat dia bisikkan doa yang telah dihapalkannya beberapa hari ini.
*Allahuma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa alaihi wa a'udzubika min syarriha wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada- Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada- Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya*).
"Makasih,Mas." bisik Nawang setelah Richard menyelesaikan doanya.
Matanya nampak berkaca- kaca dan bibirnya bergetar menahan genangan airmata yang nampak jelas di pelupuk matanya.
Richard tersenyum lembut menatapnya, berharap airmata bahagia tak bergulir saat ini.
"I love you." bisik Richard sebelum keduanya kembali menghadapkan duduk mereka kepada petugas KUA untuk menandatangani dokumen pernikahan mereka.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1