
Richard melepaskan pelukan erat mereka di hampir jam dua dinihari itu, lalu melangkah ke side table kemudian terlihat sibuk dengan sesuatu di laci meja kecil itu.
Nawang yang tadinya terbengong karena pelukan hangat mereka dilepaskan oleh Richard, kini jadi penasaran dengan kesibukan kecil Richard itu.
Hal apa yang membuat lelaki itu rela melepaskan pelukan hangat mereka.
Nawang mengedarkan pandangannya ke ranjang yang baru disadarinya bertabur banyak kelopak bunga.
Lalu di edarkannya pandangannya ke sekeliling kamar yang ternyata juga dihias sangat indah sebagai kamar pengantin.
Ya ampuuuun.....beberapa jam di kamar ini kenapa baru nyadar dengan keindahan ini sekarang?
"Kamu ngapain, Mas?" tanya Nawang penasaran sambil melongok dari balik punggung Richard.
"Menyiapkan alat tempur kita." jawab Richard sambil tersenyum kemudian menarik tangan Nawang dan membawa Nawang ke dalam pangkuannya.
Nawang terkekeh malu.
"Aku berat lho, Mas, masak dipangku sih." kata Nawang sambil sedikit mengelus rahang klimis Richard.
Sebuah sentuhan yang belum juga dia sadari semakin bisa membangkitkan apa yang telah tak tenang sejak tadi.
"Sekarang kamu dipangku. Nanti kamu ditindih, ditekuk- tekuk, diguling- gulingin...."
"Ih! Ngeri amat!" sergah Nawang namun kemudian memeluk leher Richard dengan sangat erat.
Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya itu dengan manja.
"Non...." panggil Richard dengan nada serius.
Membuat Nawang yang tengah terpejam menikmati kesyahduan suasana terpaksa membuka matanya dengan keheranan.
"Hmmm...." jawabnya masih belum mengangkat wajahnya dari lekuk leher suaminya.
"Aku akan punya keterbatasan dalam menyenangkanmu. Kamu tahu kan?" tanya Richard lirih sambil mengeratkan pelukannya.
Sangat sulit untuk mengucapkan pengakuan kelemahan seperti ini.
Nawang bergegas mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Richard.
Dibelainya lembut wajah yang terlihat sedih itu.
"Kamu bisa membawaku kesana dengan banyak cara. Aku percaya itu. Jangan menganggap dirimu sendiri selemah itu." kata Nawang sambil tersenyum tenang.
"Aku akan selalu memakai pengaman untuk...."
"Ya. Aku tahu....dan aku sudah bilang nggak masalah..."
"Tapi kamu nggak akan pernah bisa merasakan sesuatu mengalir disini." bisik Richard sambil mengelus perut Nawang.
Walau wajah Richard terlihat berusaha biasa saja, tapi Nawang bisa menangkap suara sedih saat Richard mengucapkan itu.
"Dan itu bukan hal yang harus kamu cemaskan. Kesenangan tidak hanya sebatas itu kan?" jawab Nawang kini sudah membelai leher depan Richard dan tetap tersenyum.
Richard terdiam.
"Menyatu bukan hanya soal kepuasanku. Kamu juga harus merasakannya. Kita akan belajar seiring waktu. Pelan- pelan dan jangan dipikir terlalu tegang. Kita punya sangat banyak waktu untuk menemukan banyak cara untuk sampai disana." kata Nawang kemudian mengecup rahang Richard.
Dan de sa han pertama justru lolos dari bibir Richard.
__ADS_1
Nawang yang merasa mulai mampu memberi kenyamanan pada suaminya memilih tak menghentikan aksinya.
Digiringnya lelaki itu meninggalkan sejenak akal sehat hingga tak tahu lagi entah berapa kali le ngu han halus keluar dari bibir suaminya.
Tak apa berlaku murahan seperti ini asal suaminya senang dan tenang.
Bagaimanapun Richard butuh memliki rasa diinginkan dan dihargai.
Dengan senyum manisnya Nawang melepas outer lingerie nya.
Menyajikan menu pembuka di depan mata Richard yang telah berkalang hasrat.
"Just for you...."
Richard yang mulai terseret arus yang diciptakan istrinya dengan tergesa menikmati sajian pertamanya itu dengan rakusnya.
Ibarat musafir kehausan yang menemukan mata air yang utuh menjadi miliknya, Richard seolah tak ingin membiarkan dirinya sendiri berhenti menikmatinya.
Dia bahkan mengajak serta Sang Pelepas dahaga jiwanya terbawa hanyut dalam pusaran hasrat yang perlahan membelit dan mengungkung keduanya.
"M...mas...." suara pertama Nawang sejak perempuan itu telah ikut terbalut hasrat begitu tebal menyadarkan Richard untuk segera melakukan perlindungan pertamanya untuk sang kekasih hati.
"Sebentar, Sayang." bisiknya disela nafas yang sudah tak beraturan.
Ia bergegas mengambil senjata tempurnya dari atas meja, memakainya dengan hati- hati dibawah tatapan mata berkabut Nawang.
"I'm ready baby....." bisiknya kembali menyeret istrinya ke dalam pusaran tak bertepi.
Mengantarkan Nawang menuju puncak tak berujung entah berapa kali.
"Kamu nyaman begini?" tanya Richard lembut di sela deru nafas keduanya tiap kali mereka berganti posisi.
Dan jeritan tertahan memanggil nama Sang Ksatria itu selalu terlontar tak terkendali setiap Richard mengantarnya menuju ledakan nik mat tak terbantahkan.
"Kamu suka, baby?" bisik Richard tiap kali Nawang sampai di titik tertingginya.
"Yes!!" tanpa ingin keluar dari penjara surga dunia dinihari itu, Nawang hanya mampu tanpa malu menyajikan kekalahannya dan kepasrahan di hadapan Sang Perkasa yang kini juga ingin menuntaskan hasratnya sendiri.
Helaan nafas panjang bersamaan dari keduanya akhirnya mengakhiri perjalanan panjang dinihari pertama mereka setelah mampu mencapai puncak asmara tertinggi mereka.
"Makasih,Sayang." bisik Richard lembut sambil mengelus lembut dahi Nawang yang berkeringat.
"Hmmmm..... aku ngantuk banget." kata Nawang dengan mata terpejam dan suara yang seolah tanpa daya lagi.
Richard tersenyum bangga sambil membawa tubuh istrinya ke pelukannya.
"Kamu bisa menikmatinya, Mas?" tanya Nawang sambil mendongak, menatap wajah suaminya yang tersenyum manis walau dengan mata yang sangat berat untuk dibuka.
"Sangat bisa menikmati banget. Sangat puas sekali dengan opening dan service istriku ini. Dan sangat bangga bisa membuat istri galakku ini memanggil namaku berkali- kali dipuncak pendakiannya. Aku merasa menjadi laki- laki paling keren sedunia." jawab Richard kemudian memeluk erat tubuh polos Nawang.
Keringat yang masih mengalir tak membuat keduanya merasa kegerahan dalam dekapan.
Nawang hanya mampu tersenyum kecil walau bahagia tengah memenuhi seluruh rongga dadanya.
Rasa kantuk sudah sangat menguasai dirinya dan membuatnya terlelap tanpa bisa di cegah.
"Ayo bersih- bersih dulu, Mas." kata Nawang setelah sejenak terlelap dalam pelukan Richard.
"Tapi aku masih mau lagi...." kata Richard manja dan tak ingin melepaskan istrinya.
__ADS_1
"Masih ada waktu buat satu kali lagi sebelum subuh....tapi ayo cuci- cuci perkakas dulu. Jangan jorok gitu ih!" kata Nawang sambil bergegas melepaskan diri dari pelukan Richard kemudian sibuk mencari baju haram nya yang entah dimana alamatnya sekarang.
"Udah, nggak usah nyari baju. Ntar juga dilepas lagi." kata Richard kemudian menggendong tubuh polosnya menuju kamar mandi.
Nawang hanya terkekeh- kekeh senang di gendongan suaminya sambil menciumi suaminya.
"Undangan part selanjutnya nih?" tanya Richard sambil mengerling nakal.
"Makan dulu. Ditekuk- tekuk sama kamu bikin cacing dalam perutku melintir." kata Nawang menawar dengan wajah memelas campur sebel.
Richard terbahak- bahak melihat Nawang mempraktekkan bagaimana posisinya tadi saat membuat huru- hara di ranjang mereka.
Gokil abis ternyata perempuan ini. All out kalau di kamar !!
"Baiklah...kita isi bensin dulu biar kuat nanjaknya nanti. Biar manggil mas Eric mas Eric nya tambah kenceng." ledek Richard yang membuat Nawang tersipu malu.
"Paan sih?!" sungut Nawang kemudian memalingkan wajahnya menahan tawa malunya.
"Seneng banget bisa ngeliat kamu sebebas itu berekpresi, sampai berkali- kali memanggil namaku. Aku merasa jadi satu- satunya duniamu." kata Richard yang kini malah mengunci kepala Nawang di antara kedua lengannya yang menempel di dinding kamar mandi.
"Karena kamu memang duniaku. Pemilik ruang hatiku." kata Nawang lembut.
Tatapan memuja Richard padanya membuat Nawang merasa menjadi ratu saat ini.
Merasa sangat diinginkan dan berharga.
Disembunyikannya wajah malunya ke dada Richard, membuat sedikit kesibukan dengan bibirnya disana hingga tercipta beberapa kissmark di dada putih itu.
Merasa dibiarkan menguasai dada bidang dan liat itu sepenuhnya, Nawang kembali berusaha menyeret Richard terhanyut dalam aliran hasrat yang begitu saja menerjang tanpa ampun bagi keduanya.
"Kamu yang mengundangku kembali, Sayang." Richard mengeram kemudian bergegas membawa tubuh istrinya kembali ke arena pertempuran mereka.
"Kenapa nggak di kamar mandi aja?" tanya Nawang seperti nggak rela meninggalkan kamar mandi.
"Nggak ada pengaman disana. Besok kita siapin juga disana ya? Sekarang disini aja dulu, menikmati medan tempur kita yang disini." jawab Richard kemudian kembali menerkam Nawang dengan hasrat yang tak akan ingin dikendalikan lagi.
Dia akan tampil kembali menjadi pusat dunia kekasih hatinya dengan bangga.
Satu- satunya nama yang akan di sebut oleh perempuan itu di puncak keindahan yang terengkuh.
"M...mas...." dan suara gemetar itu seperti panggilan yang membuatnya harus bergegas menjadi Sang Penakluk dan Sang Pemenang dari perempuan yang sedang mengapainya dengan tatapan mata yang penuh damba.
"I'm here baby....always for you."
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Haaaaaaahhhhh........
Akhirnya unboxing juga 😅🤣
Maapkeun kalau diluar ekspektasi ya.......🙈
Sumpeeeh, panas dingin nulisnya 😛🤣
Udah gitu ditolak- tolak mulu sama sistem 😂 padahal aku liat banyak yang vulgar- vulgar di novel lain kok mereka bisa lolos ya? 🙄
Ini ke tujuh kali revisi nih 😂 udah mau mewek aja nih gegara sistem nolak mulu 😅
Kayaknya punya dendam pribadi nih sama aku si sistem 😂
__ADS_1
(amatir banget kan aku...🙈)