PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
101


__ADS_3

Hampir tengah hari mereka tiba di tujuan.


Sampai detik ini Nawang masih seperti mimpi saja menjalani tiap detik, tiap menit statusnya sebagai istri Richard.


Turun dari mobil, berjalan mengiringi langkah Richard yang selalu menggenggam erat jemarinya, Nawang belum bisa berpijak di bumi sepenuhnya.


Matanya memang bisa dengan sangat jelas melihat deretan rumah bambu dan juga rumah kayu, tapi pikirannya belum fokus pada apa yang ada di depannya.


Dia hanya mampu berpikir Richard akan mengajaknya memasuki salah satu rumah itu. Tapi ternyata tidak.


Mereka hanya melintasi saja.


Matanya terpaku dan otaknya seperti baru bisa berpikir saat melihat deretan rumah mungil berbentuk seperti tenda.


"Kerennya....." gumamnya tanpa sadar dengan tatapan kagum.


Richard yang mendengarnya tersenyum.


"Sudah lama aku pengen ngerasain Glamping ini. Tapi kalau kesini sendiri atau sama Darren doang kan aneh, ntar ketahuan dudanya dong. Alhamdulillah sekarang bisa kesini sama istri. Sip!" kata Richard dengan tertawa senang.


"Glamping apaan sih, Mas?" tanya Nawang penasaran.


"Glamour camping. Kita akan memilikinya satu hari ini." kata Richard sambil tersenyum.


Oooo, bangunan yang kayak tenda ini namanya itu.


"Kita akan nginep disini?" tanya Nawang tanpa menutupi rasa senangnya.


"Kita coba saja dulu. Sebenarnya aku cuma penasaran aja sih kesini. Kayaknya cocok kalau kesini sama anak- anak. Kita test dulu, beneran asik nggak." kata Richard sambil bersandar di pintu dan mengerling padanya kemudian membawa Nawang masuk ke dalam.


Hawa sejuk nyaris dingin dari AC yang menyala langsung menerpa tubuh Nawang.


"Dingin." kata Nawang langsung bersedekap sambil mengedarkan pandangannya ke seantero ruangan yang tak terlalu lebar itu.


Ada dua tempat tidur queen size dengan satu side table di tengahnya dan lampu tidur di atas meja kecil itu.


Ada satu pintu lagi yang bisa dipastikan itu pasti menuju ke kamar mandi.


Di dekat pintu masuk ada satu meja console dan Nawang mendapati Richard sedang mengambil satu buah apel lalu menggigitnya.


"Kirain buah custom." kata Richard setengah kaget karena yang coba digigitnya beneran buah.


Nawang tertawa geli karenanya.


"Kalau anak- anak seneng nih kalau kesini. Ada kolam renangnya juga. Liburan pertama keluarga kita nanti kita kesini ya, Non?" tawar Richard yang disambut dua jempol tangan Nawang terulur ke arahnya.


Richard mendekat ke arah Nawang yang sedang mengganti slip on nya dengan sandal hotel yang disediakan di barisan terbawah sebuah meja tinggi dan ramping yang berada di depan pintu kamar mandi.


Dia juga menyorongkan satu step sandal hotel lagi ke dekat kaki Richard agar suaminya mengganti sandalnya dengan sandal hotel itu.


Ada rak yang diatasnya terdapat welcome drink beserta alat untuk membuat air panas.


Ya, di daerah dataran tinggi gini paling enak minum yang panas atau hangat.


"Aku buatin minum yang anget ya?" tawar Nawang kemudian meraih teko listrik, menuang satu botol air mineral ke dalamnya untuk dipanaskan.


"Kenapa nggak nyediain dispenser hot and normal aja sih biar praktis?" gerutu Richard sambil beranjak duduk di ranjang.


Nawang tersenyum.

__ADS_1


"Kan kita lagi kemping, Mas. Masih lumayan kita di kasih teko listrik, bukan kayu bakar dan ceret." kata Nawang.


"Oh iya ya...." kata Richard kemudian tertawa.


"Makanya tempat ini dinamakan Glamping, Glamour camping, kemping yang glamour." kata Nawang sambil terkekeh.



Kalo kemping macam gini tempat dan fasilitasnya sih mau sebulan juga seneng- seneng aja.


"Berarti kita salah tempat, Non. Kita kan mau honeymoon, bukannya mau kemping." kata Richard sambil tertawa- tawa.


"Honeymoon juga nggak papa disini." kata Nawang sambil mengintip keluar dari jendela minimalis di samping pintu masuk.


Sepi dan di luar lumayan terik.


Nggak ada orang lewat di sejauh matanya memandang.


Sekilas dia tadi berpikir, kehebohan mereka di ranjang nanti menarik telinga orang diluar sana nggak ya?


Secara mereka berdua ternyata suka ada sedikit berisik saat bersama.


Kayaknya memang tempat ini kurang pas sih buat honeymoon.


Lebih cocok untuk anak muda atau keluarga kecil.


"Kita nanti mau order makanan atau keluar nyari makan, Mas?" tanya Nawang saat matanya menangkap buku menu di dekat keranjang buah.


"Order aja ya? Aku mau rebahan dulu, agak pegel." jawab Richard kemudian berbaring di ranjang dengan membentangkan kedua kaki dan tangannya nyaris memenuhi luas ranjang.


"Udah nggak fresh?" tanya Nawang sambil tersenyum menatapnya meledek.


Nawang mencibir malu.


"Istrimu kebanyakan nuntut ya?" tanya Nawang tersipu sambil meraih teko listrik untuk melihat air sudah mendidih belum.


"Nggak banyak nuntut sih. Cuma minta satu aja. Pengen aku lebih cepet mengayuhnya." jawab Richard sambil terkikik- kikik mengingat wajah merah istrinya saat dipenuhi hasrat dan meminta padanya dengan tatapan memohon.


Ah, dia merasa jadi manusia yang paling berguna sejagad raya. Tapi dia memilih jadi jagadnya Nawang aja lah.


"Mau kopi apa teh,Mas?" tanya Nawang.


"Susu." jawab Richard cepat.


"Mana ada susu? Disini adanya teh sama kopi." sahut Nawang.


"Susu kemasan khusus ada kok." kata Richard sambil menatap Nawang yang nampak kebingungan mencari.


"Dimana sih,Mas? Kok aku nggak liat." tanya Nawang dengan nada agak kesal karena nggak juga menemukan sesuatu yang layak disebut susu.


Dari dulu dia memang paling nggak suka acara mencari. Mencari barang apapun itu.


"Kalau dari sini kelihatan. Sini deh aku tunjukin." kata Richard dan langsung dituruti Nawang yang langsung mendekati Richard yang terbaring menyamping dengan satu lengan menyangga kepalanya.


Kayaknya nggak ada rak tersembunyi di ruangan ini yang bisa dipakai untuk menyimpan susu.


"Mana?" tanya Nawang setelah duduk di depan dada Richard.


"Ini." jawab Richard sambil mengarahkan telunjuknya menusuk lembut aset depan milik Nawang.

__ADS_1


"Waduuuuuh, telmi bener aku." kata Nawang kemudian tertawa dan menubruk dada Richard yang tergelak- gelak.


"Aku mau ini." kata Richard dengan tangan yang sudah nempel kayak lintah di area depan Nawang.


"Sekarang?" tanya Nawang ragu.


"Selamanya." jawab Richard dengan tidak sabar menarik Nawang hingga terbaring di atasnya.


"Prepare dulu, Mas." kata Nawang lembut, kemudian berusaha bangkit, mencoba meredakan gelora yang mulai terlihat di mata Richard.


Tanpa menjawab Richard bergegas bangun, melangkah menuju pintu untuk memeriksa sudah terkunci belum, lalu meraih tas selempangnya dan mengeluarkan alat tempurnya. Pengaman dan pelumas.


Benda itu dia letakkan di atas side table agar mudah diraih saat nanti akan digunakan.


Dua benda itu wajib menyertai mereka agar tetap aman dan nyaman menjalani kebersamaan, mengingat kondisi Richard yang istimewa.


"Kita nggak boleh berisik kalau ngelakuin disini." kata Nawang lirih, seperti takut di dengar orang lain.


"Kenapa?" tanya Richard sambil melepas polo shirt putihnya.


"Takut kedengaran dari luar. Apalagi ini kan masih siang." jawab Nawang sambil melepaskan kerudungnya, lalu meletakkan di ranjang sebelah yang kosong bersama kaos Richard.


"Baiklah. Kita akan berbisik- bisik saja siang ini. Meminimalisir de sa han." kata Richard berguman di leher Nawang sementara tangannya sudah mulai meraih kancing tunik bermotif polkadot yang dipakai Nawang dan membukanya satu per satu dengan gerakan slow motion untuk kemudian semakin meningkatkan speed gerakan tubuhnya secara perlahan dan tak kasat mata untuk dapat merayu dan menjerat hasrat kekasih hatinya.


Menikmati gelombang hasrat yang terus menderu dan kian menggulung tinggi dan hebat, mengalahkan semua harap dan ingin, sebelum akhirnya melabuhkan keduanya ke dalam ketenangan batin setelah bersama menggapai puncak gelora.


"Opening yang keren. Walau tempat kurang kondusif, siang ini tetap membara. Kamu pemantik yang lihai. I like it." puji Richard kemudian mengeratkan pelukannya pada Nawang yang tidur- tidur ayam.


"Aku belum mengerahkan semua kemampuanku, kisanak." bisik Nawang kemudian mengecup rahang Richard. Membuat lelaki itu me nge rang lirih.


Pancingan kecil yang mengena tepat di sasaran.


Haha, Nawang sudah tahu beberapa titik kelemahan suaminya walau baru beberapa hari mereka bersama.


Tentu saja karena seringnya mereka berinteraksi beberapa hari ini.


"Aku sangat menunggu kamu mengerahkan semua kemampuanmu, Permaisuriku." balas Richard sambil tertawa- tawa.


"I'll do....Tunggu saja." sahut Nawang dengan tatapan menantang.


"Kapan?" tanya Richard dengan tingkat penasaran tinggi.


"Soon." jawab Nawang sambil beringsut hendak ke kamar mandi.


"Di kamar mandi, Non?" tanya Richard dengan girang.


"Nggak! Aku lapar. Tolong orderkan makanan dulu, Mas ganteng. Aku mau bersih- bersih." sahut Nawang sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Kirain....." gumam Richard sambil bersungut- sungut walau kemudian kembali tersenyum ceraaaahhhh.


Malam ini kamu pasti akan mengeluarkan performa terbaikmu,Non.


Pasti.


Aku jamin.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_1


__ADS_2