
Hati Richard berdesir hangat melihat wajah gembira kedua anak yang ada digandengkan tangannya.
Seakan nggak sabar, keduanya setengah berlari, memaksa Richard berjalan cepat untuk mengimbangi gerak keduanya.
"Pelan- pelan aja." kata Richard meminta keduanya agar berjalan tenang.
"Kalian mau naik apa?" tanya Richard setelah mereka berhenti di area permainan.
"Naik itu, Pa." kata Darren sambil menuding kereta kelinci yang berjalan pelan di atas rel mini yang membentuk formasi lonjong.
"Mas Bintang mau?" tawar Richard.
"Mau." jawab Bintang sambil menatap kereta kelinci yang sedang berjalan pelan di atas rel mini.
Bintang tentu saja mau karena dari dulu dia ingin naik kereta itu tapi selalu menahan diri untuk minta pada ibunya. Takut bayarnya mahal.
Tapi sekarang Bintang lega. Mereka tidak kekurangan lagi.
Setidaknya begitulah yang papanya bilang, saat mereka berdua pulang membeli takoyaki yang membuka lapak di bawah pohon beringin.
"Sekarang Mas Bintang nggak perlu terlalu menahan diri untuk bilang ke Ibu atau Papa kalau pengen jajan atau beli apa- apa. InsyaaAllah sekarang Ibu selalu punya uang. Walau nggak banyak banget, tapi cukup buat kita jajan atau main. Tapi yang berguna ya kalau mau beli- beli." kata Papanya waktu itu.
Dulu kalau ke pasar malam ibunya juga selalu menawarinya naik ini itu, tapi Bintang memilih menahan diri untuk tidak naik. Kasihan nanti kalau uang ibunya habis dan mereka kesusahan untuk beli makanan.
Lamunan kecil Bintang berakhir saat Richard menggiring keduanya mendekat ke area kereta kelinci dan membeli tiket.
Nawang dan bude Darmi menyusul tak lama kemudian.
"Kalian mau naik kereta?" tanya bude Darmi yang dibalas anggukan kedua bocah yang sudah menunjukkan wajah tak sabar menunggu kereta itu berhenti dan menikmati giliran mereka menaikinya.
"Aku keliling sama bude Darmi boleh nggak, Mas?" tanya Nawang pada Richard.
"Mau nyari apa?" tanya Richard penasaran.
Dari wajahnya, Richard tahu Nawang juga gembira ada di pasar malam ini.
"Liat- liat aja." jawab Nawang sambil tersenyum malu.
"Ya udah, boleh. Setengah jam lagi balik sini ya. Di dekat penjual es krim itu." kata Richard sambil menunjuk mobil penjual es krim lima ribuan di sudut area permainan.
"Oke. Tapi nggak papa kamu nemenin anak- anak sendirian?" tanya Nawang ragu.
"Nggak papa. Cuma ngawasin mereka naik kereta, mancing ikan- ikanan...."
" Jangan naik kora- kota dan halilintar ya. Nggak bo leh!!" potong Nawang serius.
"Iya." jawab Richard meyakinkan.
Nawang melambaikan tangannya saat kereta yang ditumpangi Darren dan Bintang melintasinya.
Dua bocah itu membalas lambaian tangannya dengan wajah gembira.
Nawang bergegas menikmati waktunya berdua dengan bude Darmi.
Menghampiri stand yang menjajakan aneka barang pecah belah dan hiasan rumah. Mencari sesuatu yang dianggap cantik tapi murah.
Lalu bergeser ke stand yang menjual assesories. Nawang dan bude Darmi membeli beberapa bross dan peniti lucu.
Nawang sangat tertarik melihat pita rambut lucu- lucu.
"Lucu- lucu banget pitanya." gumam Nawang gemas.
"Makanya cepet bikinin adik cewek. Biar bisa beli pita lucu- lucu." ledek bude Darmi.
__ADS_1
"Iya juga ya, Bude. Bude masih mau bantuin ngurusin anakku nggak kalau aku punya anak lagi?" tanya Nawang.
"Mau bangetlah! Kalau perlu, kamu bikin anak terus, aku yang bagian ngasuhnya." jawab bude Darmi dengan tertawa.
"Mbok kiro aku indukan kucing, kon manak wae? ( Kamu kira aku induk kucing, disuruh beranak aja?)" omel Nawang sambil melirik pura- pura sebel.
Bude Darmi tertawa melihatnya.
"Ayo nyari sandal. Sandalku buat nyumbang (datang ke hajatan orang) udah menyedihkan." kata bude Darmi. Nawang terkikik mengikuti langkah bude Darmi memasuki stand sepatu dan sandal yang cukup besar dan ramai.
"Pakai ini aja." kata Nawang sambil menyerahkan dua lembar uang merah pada penjual setelah keduanya ada di kasir dan membayar satu sandal pilihan bude Darmi dan satu sandal pilihan Nawang.
"Kamu belanjain aku terus, Wang." bisik bude Darmi nggak enak hati setelah mereka keluar dari stand.
"Nggak apa- apa. Mumpung ada." jawab Nawang santai.
"Nggak enak sama Mas Richard. Kamu kan sekarang nggak kerja." kata bude Darmi lagi.
"Ini kita jajan pakai uang jatah jajanku, Bude. Kata Mas Richard boleh buat aku jajan apa aja asal nggak bikin mabuk. Tenang saja, suamiku kaya dan baik hati." kata Nawang sambil mengerling riang.
"Alhamdulillah.....Kamu seneng hidup sama Mas Richard?" tanya bude Darmi dengan tatapan terharu.
"Ya, Bude. Beberapa bulan ini aku bahagia. Mas Richard mengurus kami dengan sangat baik. Semoga akan selamanya begitu. Doakan ya, Bude." pinta Nawang sambil mengapit lengan bude Darmi.
"Pasti, Wang. Pasti." jawab bude Darmi tulus.
*********
Nawang mengalihkan pandangannya dari game mewarnai di layar ponsel saat pintu kamar terbuka dari luar.
"Udah tidur semua?" tanya Nawang begitu Richard mengunci pintu kamar dan melangkah mendekatinya.
Setiap malam weekend mereka membuat kesepakatan yang menemani tidur anak- anak adalah Richard.
Bahagia rasanya melihat kedua anaknya begitu tanpa sekat satu sama lain. Juga begitu dekat dengannya.
Hidup yang terasa sempurna.
"Itu karena sama bapaknya. Kalau sama emaknya ya anteng aja." sahut Nawang sambil tertawa meledek.
"Ya kali sama emaknya mau ngajak smackdown dulu...." sahut Richard kemudian.
Tadi bahkan dia harus jadi kuda dulu buat Darren dan Bintang. Mengelilingi lantai kamar masing- masing dua kali putaran, dua anak itu bergantian lmenunggangi punggungnya.
Masih pula mengajak tinju- tinjuan dengan dia yang harus memegang bantal sebagai ganti sandsack dan kedua bocah itu menyarangkan tinju- tinju mungil mereka ke arah bantal yang dia pegang untuk menutupi kadang di muka kadang di dada sesuai request kedua bocah itu.
"Yang ada nanti bapaknya nggak kebagian smackdown sama emaknya ya.....?" ledek Nawang sambil mencibir.
Richard meringis mendengarnya.
"Tahu aja mbak'e." kata Richard sambil menowel dagu Nawang yang bergegas menepis tangannya.
"Gayanya ditepis- tepis.....nanti tanganku ini dicariin.....dituntun disuruh ke situ...." ucap Richard sambil menatap ke area bawah milik Nawang.
Nawang segera membekap mulut Richard.
"Diem! Saru!" bisik Nawang dengan suara mengeram, membuat Richard tertawa senang.
"Trus kalau kayak gini nggak saru? Mbak'e menindih seorang pria ganteng di atas ranjang dengan pose menantang...." kata Richard sambil tersenyum- senyum jahil.
Nawang segera menyadari posisinya yang setengah menindih Richard.
Satu pahanya sudah menindih satu paha Richard dengan posisi dada keduanya saling berhimpit.
__ADS_1
"Yang ini nggak sengaja." kilah Nawang sambil merapikan posisinya kembali, duduk di samping Richard yang tersenyum- senyum jahil.
"Nggak nyesel menjauh dariku?" ledek Richard sambil menowel pipi Nawang.
"Jangan pegang- pegang ih!" kata Nawang sambil menepis tangan Richard lalu meletakkan bantal di antara mereka.
"Maunya ditindih- tindih?" tanya Richard berbisik di telinga Nawang.
Bantal yang jadi penghalang sudah takluk dibawah siku Richard.
"Nggak! Semalem udah sampai dinihari. Tadi siang udah. Sekarang libur ya? Capek, Mas." rengek Nawang dengan wajah memelas memohon belas kasihan.
Richard tersenyum manis.
"Kita lihat aja nanti....."
"Maaas!"
"Iya. Sekarang peluk aja. Sini." pinta Richard sambil merentangkan tangannya agar Nawang masuk ke pelukannya.
"Nggak! Nanti tangannya travelling juga." tolak Nawang menggeser duduknya sedikit menjauh.
Richard tertawa geli dengan tingkah istrinya itu.
"Aku mau ngomong sama kamu. Sini dikitlah" pinta Richard.
"Gini aja kan juga bisa ngobrol." kata Nawang.
"Ya udah gini aja nggak papa." akhirnya Richard mengalah.
"Mau ngobrolin apa?" tanya Nawang dengan wajah serius.
"Kalau kita mulai program anak sekarang, kamu keberatan nggak?" tanya Richard santai sambil menatap Nawang.
"Kapan kita mau ke dokternya?" tanya Nawang balik.
Richard terkekeh pelan.
"Ditanya nggak dijawab, malah balik nanya." kata Richard sambil meraih kepala Nawang dan mengelusnya.
"Mauuu. Pengen anak cewek." kata Nawang malu- malu lalu beringsut mendekat kemudian menelusupkan kepalanya ke dada Richard.
Tadi aja sok- sokan jaga jarak. Ini ujug- ujug nemplok aja, hihihi.....
"Pengen anak cewek? Kenapa?" tanya Richard dengan wajah penasaran sambil memeluk Nawang.
"Tadi di pasar malam ngeliat pita rambut lucu- lucuuu. kalau punya anak cewek kan bisa beli buat anak kita. Pasti bikin gemes." kata Nawang pelan.
Richard tersenyum ikut membayangkan memiliki bidadari mungil dengan wajah menggemaskan.
Putri mungilnya. Anak gadis satu- satunya.
"Udah ngantuk?" tanya Richard lembut. Nawang kembali mengangguk pelan.
"Ya udah, kamu tidur." kata Richard sambil tetap memeluk Nawang.
"Kamu belum minum obat." kata Nawang dengan suara lemah karena sudah setengah sadar.
"Nanti aku minum sendiri nggak papa." kata Richard kemudian mengecup puncak kepala Nawang yang semakin dalam terlelap.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Yuk.....yuk....yuk.....merapat yuuuuuk 😀
__ADS_1