PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
125


__ADS_3

"Saya nanti saja, Mbak. Mau nyetrika dulu. Nanti selesai nyetrika saya langsung pamit pulang ya,Mbak." kata mbak Prapti.


"Ya. Jangan lupa nanti kalau mau pulang yang di kresek itu dibawa. Titip buat Simbah." kata Nawang sambil menunjuk kresek putih di atas meja dapur yang sudah berisi beberapa bandeng goreng serta tahu dan tempe mentah.


"Nggih Mbak. Maturnuwun." ucap mbak Prapti kemudian berlalu ke service area.


"Kamu suruh bawa apa itu?" tanya Richard sambil menatap calon bawaan mbak Prapti.


"Tahu tempe mentah sama bandeng kayak gini." jawab Nawang sambil menunjuk bandeng di depan mereka.


Richard mengangguk mengerti.


"Kirain bawa jengkol." kata Richard sambil tertawa dan menerima uluran piring yang sudah berisi nasi dari Nawang.


"Jengkolnya udah habis." jawab Nawang sambil mendekatkan mangkuk sayur kates ke depan Richard.


"Kalian makan?" tanya Richard keheranan.


"Nggak. Pingin sih, tapi malah pas, nggak bersisa." jawab Nawang sudah mulai menyuap.


"Kalian apain?"tanya Richard nggak keheranan.


"Di jual lah." jawab Nawang santai.


"Uhuk!" Richard langsung tersedak makanan yang harusnya masih dalam proses mengunyah.


"Pelan- pelan kenapa sih?" gumam Nawang sambil menyodorkan gelas berisi air putih ke depan Richard.


"Kamu jualan jengkol?" tanya Richard dengan tatapan nggak percaya.


Nawang mengangguk santai.


"Oh my God." gumam Richard pelan.


"Kenapa?" tanya Nawang nggak mengerti.


"Pergerakanmu cepat sekali. Baru kapan hari aku ngasih ijin kamu berpenghasilan sendiri. Ini udah jualan aja." jawab Richard sambil menatap Nawang bangga.


Nawang tersipu walau ada rasa senang juga dipuji begitu.


"Baru coba- coba seminggu ini. Lumayan sih daripada manyun aja di rumah." kata Nawang sambil tersenyum.


"Cara pemasarannya gimana?" tanya Richard.


"Posting aja di FB. Order hari ini, ready besok, dalam jangkauan radius tertentu. Misalnya nih kemarin aku posting hari ini akan masak rendang jengkol. Khusus untuk area lima km dari rumah arah ke barat, jadi jalannya nggak muter- muter ojeknya. Trus besok aku rencana masak ayam saos mentega untuk area lima km dari rumah ke arah timur. Gitu." jelas Nawang.


"Menarik." sahut Richard senang.


"Sambil observasi pasar dulu. Ya daripada manyun itu tadi. Sambil memanfaatkan mbak Prapti." kata Nawang sambil berbisik di kalimat terakhir.


"Tapi kamu janji ya?" pinta Richard.


"Janji apa?"


"Nggak boleh mengesampingkan suami dan anak." kata Richard sambil tersenyum manis.


"Ya nggak ada niat begitu juga. Kan dari awal niatnya ini jadi profesi sampingan." sahut Nawang.


"Wow, profesi sampingan ya? Profesi utamamu apa?" tanya Richard sambil tersenyum geli.


"Jadi wanita penghiburmu." jawab Nawang sambil tersenyum jahil. dan berbisik di telinga Richard.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk huk huk!" kali ini Richard benar- benar tersedak. Dan Nawang malah terkekeh melihat wajah Richard yang sudah memerah karena batuk dan malu.


"Biasa aja kali, Boss Sampai merah gitu wajahnya." kata Nawang sengaja meledek.


Richard hanya melirik Nawang malu.


"Kamu pengen ku piting lagi ya? Ngledekin gitu." gumam Richard masih dengan wajah memerah.


"Tidak, Boss. Terimakasih banyak. Yang semalam sudah cukup." kata Nawang sambil tertawa- tawa.


Menggemaskan saja.


"Nggak pengen nyobain di piting siang- siang?" goda Richard sambil mengerling.


"Nggak." jawab Nawang sambil beranjak berdiri dari kursinya kemudian meraih piring kosong di depan Richard.


"Beneran?" tanya Richard masih meledek.


"Beneran lah." jawab Nawang sambil tersenyum malu.


"Bohong. Itu kenapa tersipu- sipu gitu mukanya?" ledek Richard sambil menowel pipi Nawang.

__ADS_1


"Nggak ada tersipu." sahut Nawang sambil berlalu.


"Kamu cantik deh." puji Richard sambil tertawa.


"Kamu orang kelima puluh ribu tiga ratus enam belas yang ngomong gitu." sahut Nawang sambil terkekeh sembari menyabuni piring kotor.


Richard terbahak dibuatnya.


"Berarti istriku ini cantik beneran. suaraku di dukung oleh lima puluh ribu tiga ratus lima belas pasang mata lainnya." kata Richard sambil memeluk pinggang Nawang.


Eh, udah disini aja nih cowok.


"Pastinya." jawab Nawang sambil tersenyum tengil.


"Dan aku adalah lelaki yang jadi juara diantara limapuluh ribuan mata itu karena bukan hanya bisa melihat wajah cantikmu saja, tapi juga memilikinya. Bagian lainnya yang cantik- cantik darimu juga milikku semua." kata Richard dengan posesifnya.


"Trus yang nggak cantik dariku bukan milikmu?" protes Nawang.


"Yang nggak cantik lagi otw kupercantik. Tenang saja." jawab Richard sambil mengerling.


"Sa ae mas e." kikik Nawang kemudian.


"Udah selesai?" tanya Richard setelah Nawang mengeringkan tangannya dengan kain yang tergantung di samping tempat cuci piring.


"Udah." jawab Nawang kemudian melirik Richard.


"Yuk." ajak Richard sambil meraih tangan Nawang.


"Kemana?" tanya Nawang curiga.


"Kamar lah." jawab Richard sambil tersenyum.


"Ngapain?" tanya Nawang sudah dengan tatapan khawatir.


"Takut nih ceritanya?" tanya Richard meledek.


"Nggak. Ngapain takut?" sergah Nawang cepat.


"Ya udah ayo ke kamar." ulang Richard sambil kembali meraih tangan Nawang yang nampak menunjukkan wajah keberatan.


"Sholat dhuhur, Sayang." kata Richard sambil tertawa geli.


Nawang meringis malu


Setelah masing- masing mandi kilat, keduanya lalu berjamaah sholat dhuhur.


Nawang dalam hati heran saat dilihatnya Richard malah mengganti baju kokonya dengan kaos oblong dan celana pendek.


"Udah nggak ke kantor lagi, Mas?" tanya Nawang sambil menyisir rambutnya.


"Ada janji tapi nanti jam lima. Tinggal tidur aja di rumah." kata Richard kemudian menubruk kasur.


"Aku tinggal jemput Bintang dulu ya." pamit Nawang sambil meraih jilbab instant dari dalam lemari.


"Lhoh, kok jemput Bintang?" tanya Richard sambil membalikkan tubuhnya dan kini menatap Nawang.


"Ya emang jamnya jemput Bintang jam segini." kata Nawang.


"Nggak usah di jemput." kata Richard sambil menatap Nawang.


"Kenapa?" tanya Nawang waspada.


"Tadi aku udah nelpon bude, kita jemput Bintang setelah magrib. Jadi aku punya rencana yang aku lupa nggak ngomong sama kamu tadi. Maaf ya." kata Richard sambil beringsut duduk.


"Sini." pinta Richard sambil mengulurkan tangannya pada Nawang yang dengan pelan mendekat padanya dengan waspada.


"Tadi aku liat di lapangan Bakoh ada stand pasar malam. Aku pengen ngajak anak- anak kesana nanti malam. Trus kita nanti tidurnya nginep di rumah Bintang. Gimana?" tanya Richard yang sudah berhasil meraih bahu Nawang ke dalam pelukannya.


"Aku tadi udah ngomong sama Bintang juga. Dia seneng banget. Nanti kita jemput Darren juga. Gimana?" tanya Richard lagi.


"Ya udah nggak papa." kata Nawang.


Kebetulan juga sih sebenarnya, karena dia merasakan tubuhnya agak capek.


Jatah waktu untuk pulang pergi menjemput Bintang bisa dia gunakan untuk merebahkan tubuhnya barang sejam.


"Mau tiduran sebentar?" tawar Richard.


"Iya. Rasanya lumayan capek juga nih." keluh Nawang sambil beringsut untuk berbaring.


"Ya udah tidur aja dulu. Nggak aku ganggu kok, janji." kata Richard sambil mengelus- elus dahi Nawang, membuat Nawang semakin nyaman dalam kantuknya.


"Makasih." kata Nawang sudah setengah sadar.

__ADS_1


Dia sudah tak punya daya dan tak lagi memiliki kesadaran penuh saat Richard membawanya ke dalam pelukan hangatnya.


Dan Nawang terjaga sejam kemudian dalam pelukan Richard yang juga terlelap dengan tenang.


Nawang tak hendak membangunkan suaminya itu.


Pasti dia juga mengantuk dan lelah dengan aktifitas mereka hingga lewat jam dua dinihari tadi.


Nawang tersenyum malu mengingat percintaan mereka semalam. Sangat panas dan bikin nagih.


Dieratkannya pelukannya pada pinggang Richard dan mencoba kembali terpejam. Berharap bisa tidur lagi barang setengah jam ke depan.


"Udah bangun?" suara serak khas bangun tidur Richard keburu menghadang gerak kelopak matanya yang hampir menutup.


Nawang hanya mengangguk di dada Richard dan meneruskan memejamkan mata walau tiba- tiba kehilangan rasa kantuknya.


"Aku bikin kamu bangun ya? Maaf ya." kata Nawang akhirnya.


"Nggak papa juga kali. Udah seger lagi kok. Udah kembali ke performa puncak." kata Richard sambil tersenyum mencurigakan ke Nawang yang sudah beringsut duduk dan bersandar ke head board.


"Kamu masih ngantuk?" tanya Richard.


"Enggak."


"Tapi kenapa masih lemes gitu? KO nya tadi malam, lemesnya nggak ilang- ilang tuh." olok Richard sambil tertawa.


"Ngarang! KO apaan? Bukannya kamu yang mau KO?" sanggah Nawang nggak terima sambil memukul lengan Richard dengan bantal.


"Kan baru hampir. Point' terakhir kan aku yang akhirnya menang." sangkal Richard nggak mau kalah.


Lelaki itu tertawa- tawa senang.


"Nggak! Kita imbang. Nggak ada yang menang, nggak ada yang kalah." elak Nawang.


"Dih,nggak mau ngaku lagi nih, Bu Boss galak."


"Kamu yang ngada- ada. Orang jelas- jelas kamu bilang kalau aku makin gahar, trus kamu bilang harus nyari strategi biar bisa selalu ngalahin aku." sangkal Nawang dengan wajah memerah malu.


Ah, apa iya dia seliar itu di ranjang? Malunyaaaa....🙈


"Kapan aku ngomong gitu? Kamu kali yang ngomong gitu dalam hati. Diam- diam memuji performaku." kilah Richard tetap nggak mau kalah.


"Heleh! Ngapain juga aku harus memuji dalam hati kalau ngomong aja boleh."


"Ngomong apa?" pancing Richard.


"Ngomong kalau kamu tangguh." jawab Nawang dengan lugas dan wajah datar.


"Nah, tuh. Aku tangguh dan perkasa kan? Kamu mengakui barusan." sahut Richard sambil tersenyum bangga.


"Parah. Memanipulasi fakta kalau kayak gini ceritanya. Kamu menjebak akuuuuu." sungut Nawang kesal.


"Aku bisa buktikan, kalau kamu nggak percaya. Dan kamu harus jujur mengakui dengan mulutmu kalau performaku emang kece." kata Richard mulai menggiring Nawang ke tujuan utamanya.


"Kamu yang bakal ngaku kalah, Pak Boss." sergah Nawang sudah mulai terpancing.


"Tunjukkan bukti. Nggak usah ngeyel melulu." ucap Richard provokatif.


""Of course! I Will." sambut Nawang bersemangat.


"Aku mau bukti sekarang. Kamu takut?" pancing Richard dengan wajah meledek.


"Mana ada aku takut. Kamu akan menyesal menantang aku, Mas Ganteng." jawab Nawang dan mulai menyerang Richard yang tentu saja bersorak- sorai dalam hati menikmatinya.


Akal mas Richard emang nggak ada matinya. 😂😍


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Hayooooo......siapa yang cengar- cengir? Ngakuuuu.....😀


Ada hukumannya nih buat yang bisa senyam- senyum bacanya.


Hukumannya gampang kok.


Yang pertama adalah tinggalin cap jempol panjenengan di akhir cerita.


Yang kedua adalah kirimilah author ini bunga kek, kopi kek gitu 😅🙈 biar terjaga keomesannya #eh 🙈 ( mau minta kursi pijet kok keknya nglunjak banget gitu. Masak masih kelas ecek- ecek minta kursi pijet kan?).


Yang ketiga nih ya, daripada punya vote nganggur nggak kepakai, hibahkanlah ke sini. Manfaat banget deh disini. Seriusan 😀🙈


Dah gitu aja dulu acara minta- mintanya 🙈.


Mohon maaf ya kalau ngrepotin 🙊🙈😂😅

__ADS_1


__ADS_2