PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
38


__ADS_3

Richard terduduk tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Nawang.


Ya Tuhan, dia hanya memakai pakaian yang sedikit lebih bagus dari biasanya, wajahnya hanya sedikit dipoles, tapi kenapa dia sudah bisa sejelita ini?


"Kamu kenapa,Mas?" tanya Nawang sambil menggoyangkan lengan Richard.


"Aku tiba- tiba lemas, kayak kekurangan oksigen." jawab Richard pura- pura tak berdaya.


"Kamu sakit? Tadi pagi nggak sarapan ya?" tanya Nawang dengan tatapan memarahi.


"Aku lemes liat kamu, Non." jawab Richard sambil tersenyum jahil.


Nawang tergesa melepaskan pegangannya di lengan Richard saat melihat senyum itu.


"Nyebelin!" omel Nawang kemudian bergegas berdiri.


Wajahnya terlihat bersemu merah.


"Acieee...cieee...ada yang tersipu malu." goda Richard sambil beranjak berdiri.


Ebuseeet....ternyata kelakuannya norak juga kalau lagi jatuh cinta, batin Nina geli.


Ya, walaupun selama ini Richard termasuk kategori pelanggan yang ramah, tapi Richard tetap terlihat berwibawa.


Tapi melihat pemandangan barusan kayaknya Nina harus mulai meragukan kewibawaan Richard deh.


"Nih, tip buat kamu. Jangan buat jajan narkoba!" kata Richard sambil mengulurkan lumayan banyak uang seratus ribuan pada Nina.


Gadis itu sampai melongo saat menerimanya.


"Boss, ini kebanyakan banget boss. Ini bukan tip, tapi gaji saya." kata Nina nyaris gemetar.


Nggak pernah terbersit dalam pikirannya Richard akan memberinya tip sebanyak ini.


Tadi dia menduga akan menerima tip paling banyak seratus ribu.


Atau berhubung Richard memang sangat suka memberi tip pada karyawan sepertinya, paling tidak dia akan menerima dua lembar seratus ribuan.


Tapi ternyata Richard memberinya berkali- kali lipat.


Hmmm, mungkin pria tampan itu sangat surprise dengan hasil kerjanya mendandani Nawang.


"Bisa kamu bagi sama teman- temanmu nanti. Nggak papa sekali- sekali ini. Makasih ya, kamu pinter kerjanya. Hasilnya sangat sempurna." kata Richard dengan senyum puas dan bangga.


Matanya menatap Nawang utuh kali ini.


Dan dia sangat tidak mungkin untuk tidak memuji hasil kerja Nina.


Nawang sungguh berbeda.


"Bu Nawang aslinya sudah cantik, Pak Boss. Saya tinggal nambahin dikit aja." kata Nina merendah untuk hasil kerjanya.


Richard kembali tersenyum.


Ya, rasanya para pemilik mata normal tak akan ada yang akan menyangkal kecantikan yang sedang ada di depan matanya ini.


Dan perempuan cantik itu sebentar lagi akan dibawanya ke sebuah acara yang lumayan penting untuknya siang ini.


Bukan pesta besar sih, tapi kemungkinan besar akan ada beberapa orang penting yang akan dia jumpai disana nanti walau mungkin hanya sebatas menyapa untuk menunjukkan sopan santunnya.


"Baiklah, mari kita berangkat, Non." ajak Richard kemudian mengapit tangan kanan Nawang untuk segera berlalu dari hadapan Nina yang tak berhenti tersenyum.

__ADS_1


Nawang hanya mengangguk sambil merutuk dalam hati dengan kelakuan Richard yang mulai dirasanya lebay.


"Aku pamit ya, Nin. Makasih untuk semuanya." pamit Nawang dengan nada berterimakasih yang tulus.


"Sama- sama ,Bu Nawang. Selamat menikmati pestanya. Hati- hati di jalan." jawab Nina walau Richard telah membawa Nawang berlalu dari depannya.


*******


Nawang tak bisa menyembunyikan debaran keras di dadanya saat ini.


Dia tak juga beranjak walau Richard telah melepas seatbelt nya.


"Kenapa?" tanya Richard lembut.


Dia tahu Nawang pasti sedang grogi dan mungkin deg- degan saat ini.


"Nanti kalau saya malu- maluin Anda gimana?" tanya Nawang putus asa.


"Kamu akan malu- maluin aku kalau kamu masih kaku gitu. Panggil aku 'mas', kayak tadi di salon, bisa?" tanya Richard lembut.


Nawang mengangguk malu.


Sudah kepalang tanggung, dia harus menyelesaikan sandiwara hari ini.


"Bisa kita ke dalam sekarang?" tanya Richard lagi sambil tersenyum geli.


Perempuan yang biasanya berwajah macan saat ini sedang seperti kucing, wkwkwk.....


Nawang bergegas turun dari mobil dan sekilas merapikan dress bagian belakang yang mungkin agak kusut.


"Mari kita sita semua atensi tamu di dalam sana." kata Richard sambil meraih jemari Nawang dan mwngenggamnya erat.


"Emang harus gandengan ya Pak? Eh, Mas?" tanya Nawang setengah berbisik karena mereka sudah berpapasan dengan orang- orang di lobby.


"Aku bukan pengecut seperti itu!" sungut Nawang kesal.


Richard terkekeh pelan.


"Aku percaya." bisiknya tepat di atas telinga Nawang.


Perempuan itu menjauhkan kepalanya sesaat.


Hatinya tiba- tiba tambah deg- degan saja karena hembusan napas Richard di telinganya.


"Jangan lupa, panggil si tampan ini apa, sayang?" tanya Richard lirih begitu mereka melewati buku tamu.


"Masssss!" jawab Nawang gemas.


Dia belum pikun juga kali, harus diingatkan berkali- kali.


"Pintar!" jawab Richard dengan senyuman puas.


Walau mungkin Nawang hanya akan memanggilnya 'mas' selama di acara ini saja, terus terang saja Richard sudah sangat senang.


Tapi semoga saja sepulang dari acara ini dan seterusnya Nawang akan kembali memanggilnya dengan panggilan ' mas', seperti dulu kala, saat mereka masih sebagai sepasang kekasih.


Apalagi tadi Nawang juga sudah menyebut dirinya sendiri dengan 'aku' ,bukan 'saya' lagi seperti biasa.


"Nanti jangan tinggalin aku sendirian ya,Mas." bisik Nawang penuh nada harap.


"Tentu, sayang." jawab Richard dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Ih!"


"Kenapa?" tanya Richard khawatir.


"Nggak usah sayang- sayang bisa?" tanya Nawang jengkel.


"Nggak bisa!" jawab Richard meledek.


Nawang melepaskan genggaman tangannya dengan sedikit kasar.


"Ngamuknya nanti aja ya? Yang punya acara udah ngeliatin kita." gumam Richard dengan tersenyum.


Nawang seketika melayangkan pandangannya


ke arah depan.


Nampak seorang laki-laki tengah baya dan dua orang perempuan yang juga sudah tak muda lagi sedang tertawa lebar menyambut kedatangan mereka.


"Itu Pak Darto, Mas?" tanya Nawang masih setengah berbisik.


"Iya. Sebelah kirinya itu istrinya, yang sebelah kanan sekretarisnya." jawab Richard sambil tersenyum ke arah tuan rumah.


"Siapkan akting terbaikmu, sayang." bisik Richard begitu mereka tinggal empat langkah dari tuan rumah.


"Naaaaah al ini yang kita tunggu dari tadi. Akhirnya datang juga." sambut Pak Darto dengan gembiranya.


Richard tersenyum mendengarnya.


"Selamat ulang tahun ya, Pak. Sehat selalu, panjang umur, sukses semuanya." kata Richard sambil mengulurkan tangannya.


"Aamiin...aamiin... terimakasih doanya ya, Ric. Datang berdua nih?" tanya Pak Darto sambil mulai menatap Nawang yang tangannya tak dilepaskan oleh genggaman tangan kiri Richard.


Nawang berusaha melepaskan genggaman agar bisa menyalami tuan rumah.


"O ya, kenalkan ini Nawang, Pak. Sayang, kenalkan ini Pak Darto, Bu Darto, dan Bu Ambar." kata Richard kemudian membiarkan Nawang menyalami ketiga orang tua itu.


"Saya Nawang, Pak Bu." kata Nawang sopan sambil menyalami ketiganya.


"Cantik sekali pacarmu, Ric." kata Bu Darto dengan tatapan kekaguman pada Nawang.


Nawang tertunduk malu.


Cantik sih iya...Pacar yang bukan, Bu...


"Anda juga cantik, Bu." balas Nawang sopan sambil tersenyum ramah.


"Mana ada nenek- nenek cantik?" sergah Bu Darto sambil tersenyum malu.


Senang sekali rasanya ada juga yang memujinya cantik.


"Yang penting selalu sehat, Bu. Yang lebih penting lagi,selalu baik." sahut Nawang tetap dengan sopannya.


"Nah, itu baru betul." kata Bu Darto senang.


Richard baru akan membuka mulutnya lagi saat dia tersentak karena bahunya ditepuk cukup keras dari belakang.


Dia cukup kaget waktu menoleh dan tahu siapa yang menepuk bahunya.


Yang sangat tidak bisa menyembunyikan kekagetannya tentu saja Nawang.


"Bocah bandel, masih saja kamu belum bisa move on." kata pria gagah itu sambil menatap tajam pada Nawang yang sudah gemetar di tempatnya walau dia tetap mengangguk hormat pada dua orang yang baru saja menghampiri mereka.

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2