PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
139


__ADS_3

"Kenapa dibuang tespack nya?" tanya Richard sambil memungut testpack yang tak sadar tadi dijatuhkan oleh Nawang.


"Kenapa? Nggak ada apa- apanya juga." kata Nawang sedih.


Bahkan satu rengkuhan lengan Richard yang melingkari bahunya hampir tak mampu menahan tubuhnya yang kembali lemas.


"Ya emang nggak ada apa- apanya. Cuma ada garisnya dua. Pink pink." kata Richard sambil tersenyum jahil.


"Ya Allah,Mas.......kamu tuh nyebelin banget sih! Kayak gini dibikin becandaan!" sungut Nawang sambil merebut testpack yang ada di genggaman Richard kemudian dengan seksama melihat bagian tengah alat itu.


Memang benar, ada dua garis disana, dan berwarna pink, tidak merah.


"Itu maksudnya warnanya pink kenapa ya? Memang dasarnya memang nggak merah, atau karena dia belum yakin?" tanya Richard dengan wajah bingung.


Nawang menahan tawanya.


Memangnya lagi PDKT, pakai belum yakin segala? Aneh!


"Ayo buruan keluar! Bahasnya diluar aja." rengek Nawang sambil mengalungkan tangannya di leher Richard yang tersenyum- senyum.


"Manja ih, minta gendong terus." ledek Richard kemudian mencium pipinya dan mulai mengangkat tubuh Nawang.


"Biarin!" jawab Nawang lemah kemudian balas mencium pipi Richard yang akan meraih handle pintu kamar mandi.


"Kita keluarnya sejam lagi aja gimana?" bisik Richard meledek.


Nawang memukul bahu suaminya dengan tanpa tenaga.


Bintang langsung terlihat lega saat melihat kedua orangtuanya keluar dari kamar mandi.


Richard yang barusan membaringkan Nawang kemudian meraih tubuh bocah itu dan memeluknya dalam pangkuannya.


"Kita dengerin apa kata Bu dokter ya." bisik Richard pada Bintang yang kemudian mengangguk keheranan.


Tadi dilihatnya papanya menyerahkan sesuatu yang kemudian dilihat oleh Bu dokter itu yang kemudian tersenyum.


"Seperti yang Saya bilang tadi, memang lebih mantap kalau kita test pakai urine pertama. Tapi ini juga sudah kebaca kan, garis dua walau nggak merah." kata dokter Murti sambil tersenyum.


"Jadi ini....?" tanya Richard dengan wajah yang hampir mau meledak karena bahagia.


"Biasanya ini sudah bisa disebut positif......"


"Alhamdulillah ya Allah......" seru Richard sambil memeluk erat Bintang.


"Tapiiii......," potong dokter Murti, membuat senyum Richard meredup.


"Ada baiknya besok pagi test lagi. Kalau sudah yakin nih, bisa kesini lagi untuk memulai kontrol rutin." jelas dokter Murti.


"Nggak bisa USG sekarang aja ya, Dok?" tanya Richard sedih.


"Maaf, Pak. Dari awal Anda berdua sudah di handle oleh dokter Melia dan kebetulan memang dokter Melia yang bertugas untuk menghandle pasangan khusus seperti Anda berdua. Jadi Saya sarankan Anda memulai rangkaian pemeriksaan dari awal kehamilan dengan dokter Melia. Apa yang kita lakukan hari ini akan Saya laporkan ke dokter Melia sebagai referensi juga." tutur dokter Murti sopan.


Richard mengangguk mengerti.


"Nanti bisa buat janji ketemu dokter Melia. Beliau praktek setiap hari juga kok. Nanti bisa minta brosur jadwal di bagian administrasi ya." imbuh dokter Murti.

__ADS_1


"Baik, Dok. Terimakasih banyak untuk hari ini." kata Richard penuh hormat.


"Semoga lancar semuanya ya. Mudah- mudahan Saya bisa ikut bantuin proses lahirannya." harap dokter Murti.


"Aamiin. Terimakasih kasih banyak, Dokter." sahut Richard lagi.


"Trus keadaan dia yang langsung tiba- tiba lemes ini gimana ya? Bahaya nggak?" tanya Richard serius.


"Tadi kita ambil sample darah Bu Nawang untuk di cek lebih detail. Besok kita bisa lihat hasilnya. Tapi kalau menurut Saya ini pengaruh dari masa awal kehamilan sih. Masa ngidam." kata dokter Murti sambil tersenyum.


"Lemesnya kalau kena air atau gimana sih?" tanya dokter Murti lebih detail dengan nada penasaran.


"Kalau kepikiran pengen mandi kayaknya." jawab Nawang ragu, membuat Richard melongo keheranan.


"Jadi kalau nggak kepikiran pengen mandi nggak lemes?" tanya dokter Murti.


"Kalau nyentuh air sih lemes juga, tapi nggak separah kalau pas kepikiran pengen mandi." jawab Nawang sambil menerawang.


Tadi dia membayangkan segarnya mandi di bawah guyuran shower, eh tiba- tiba saja langsung lemah lunglai badannya.


"Kayaknya anti air nih." seloroh dokter Murti sambil tersenyum meledek, membuat Nawang tersipu malu dan Richard menahan tawa.


Jelas saja Richard tak berani tertawa, mengingat emosi istrinya yang sejak semalam mulai kayak roller coaster nggak jelas, bikin dia mau jantungan saja.


"Maksudnya ngidamnya nggak mau mandi?" tanya Richard takut- takut.


"Kayaknya gitu....." jawab dokter Murti sambil mengerling.


Nawang tertunduk malu.


"Iya. Beda. Kamu tetep boleh mandi kalau pengen mandi. Nanti aku pegangin kalau lemes." jawab Richard membenarkan ucapan Nawang sekaligus berusaha agar Nawang nanti nggakl jadi bad mood.


Bisa kacau dunia persilatan kalau Nawang ngambek nggak ada juntrungannya. Bikin pusing kepala.


"Pokoknya dibikin senyaman dan seasik mungkin saja. Pengen mandi ya mandi. Kalau lemes kan sudah ada suami yang siaga memegangi bahkan mandiin juga pasti mau." kata dokter Murti sambil mengerling.


"Papa mandiin Ibu? Hihihi.....nggak malu udah gede dimandiin?" bisik Bintang di telinga Richard.


Richard hanya tersenyum mendengarnya.


"Ibu kayak gitu lagi nurutin maunya adik yang di dalam perut." bisik Richard membalas Bintang.


"Adik nggak mau mandi?" tanya Bintang penasaran masih dengan berbisik.


"Mungkin..... Besok kita coba tanya ya." bisik Richard lagi. Bintang mengangguk- angguk.


"Mas Bintang seneng dong mau punya adik...." kata dokter Murti sambil menatap Bintang.


"Seneng. Tapi adiknya harus cewek." jawab Bintang malu- malu.


"Ohhhh, kenapa pengen adik cewek?" tanya dokter Murti penuh perhatian.


"Biar cantik kayak Sisil." jawab Bintang dengan tersipu.


"Sisil itu temennya Mas Bintang?" tanya dokter Murti.

__ADS_1


"Bukan. Sisil itu adiknya Darren. Adikku juga ya, Pa?" tanya Bintang ingat kalau papanya pernah bilang kalau Sisil juga jadi adiknya Bintang.


"Sepupunya. Batita. Memang imut anaknya." kata Richard menjelaskan.


"Oalaaaah, pantes pengen adik cewek. Udah jatuh cinta sama cewek kecil rupanya." seloroh dokter Murti sambil tertawa.


Richard dan Nawang hanya tertawa salah tingkah.


Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit setelah membuat janji untuk bertemu dokter Melia dua hari lagi karena esok Richard dipaksa tetap harus masuk kerja oleh Nawang padahal besok dokter Melia praktek pagi.


"Nggak jadi lihat adik ya,Pa?" tanya Bintang begitu mobil sudah berjalan di jalan raya.


Nawang sudah kuat duduk walau masih lemas.


"Lusa mudah-mudahan bisa liat adik. Tadi Bu dokternya yang biasanya nggak ada, jadi nggak bisa liat. Sabar ya." jawab Richard.


"Iya. Kalau perut Ibu ada adiknya kok nggak gede, Pa?" tanya Bintang lagi.


"Jangan ngawur jawabnya!" kata Nawang pelan mengingatkan. Membuat Richard meringis malu.


"Adiknya masih keciiiiil banget. Besok kalau Ibu banyak makan dan minum susu, adik pasti tambah gede dan perut ibu tambah gede deh." jawab Richard sambil menatap Nawang, minta nilai jawabannya barusan bener nggak. Dan Nawang tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


Richard mengerling senang dibuatnya.


"Sekecil apa, Pa? Segini?" tanya Bintang sambil menjentikkan ibu jarinya ke ujung jari kelingkingnya.


"Iya, segitu. Bisa lebih kecil lagi mungkin." jawab Richard.


"Waaaaaa.....kok bisa ya?" gumam Bintang keheranan.


"Bisa dong. Kan Allah yang bikin. Allah kan Maha Bisa juga. Kamu dulu juga segitu di perut ibu, trus tambah gede, sampai perut Ibu nggak muat, dilahirin deh kamu jadi bayi, Diasuh, dikasih makan dan minum, dan jajanan juga, akhirnya bisa segede sekarang." jawab Richard semakin PD.


"Besok aku bisa segede Papa." kata Bintang dengan mata berbinar- binar.


"Pasti! Asal makan makanan sehat, rajin olahraga, pasti bisa keren kayak Papa." sahut Richard dengan kenarsisannya.


"Mulai narsisnya." gumam Nawang sebel. Richard hanya tersenyum jahil.


"Aku kan nggak ganteng kayak Papa." kata Bintang dengan nada nggak setuju.


"Papa ganteng ya?" tanya Richard sambil tertawa keheranan dan kepedean pastinya.


"Iya. Kata Bu Rini Papa ganteng banget. Cowok banget. Maksudnya apa itu cowok banget?" tanya Bintang membuat Richard tersedak minum yang hendak ditelannya.


Diliriknya Nawang yang mencebikkan bibirnya sebal.


"Bu Rini itu siapa?" tanya Richard kepo.


"Bu guru kelas A." jawab Bintang. Richard hanya mengangguk- angguk, nggak berani meneruskan obrolan tentang Bu Rini. Takut Nawang meledak di tempat karena wajahnya sudah keruh parah.


"Bilang sama Bu Rini, Pak Richard itu suaminya Ibumu. Bilang juga sama Bu Rini, Ibumu galaknya kayak macan. Kalau kamu liat Bu Rini ngeliatin Papamu lagi, kamu bilang, bukan mahrom, jangan lama- lama ngeliatnya." kata Nawang berapi- api. Membuat Bintang menatapnya bingung.


Kok Ibu emosi sih?


🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2