
Richard menggeleng sedih saat melihat Nawang kembali terduduk lemas, kali ini di bawah shower.
Tanpa berkata apapun, Richard bergegas menyambar handuk untuk membungkus tubuh Nawang yang bahkan belum basah walau sudah polos.
"Kita ke dokter sekarang ya." kata Richard sambil menurunkan Nawang kemudian bergegas mengambil satu set lengkap pakaian untuk Nawang dan memakaikannya.
"Aku mandi dulu, jangan?" tanya Richard minta persetujuan Nawang.
"Mandi." jawab Nawang lirih sambil tersenyum samar.
"OK. Mandi kilat khusus. Dengan kecepatan supersonik." jawab Richard sambil mengerling kemudian bergegas masuk kamar mandi dan sudah keluar dengan tampilan basah kuyup dalam waktu tak lebih lima menit.
Nawang tertawa dalam hati membayangkan bagaimana gerakan Richard saat mandi tadi secara biasanya suaminya itu mandi sekitar lima belas sampai duapuluh menit.
Gerakan secepat kilat juga Richard lakukan untuk memakai baju.
"Aku siapin mobil dulu. Kamu aku tinggal sebentar bisa?" tanya Richard khawatir.
Nawang mengangguk yakin.
Richard kemudian bergegas keluar kamar dan meminta Bintang yang saat itu sedang menonton tv untuk menemani Ibunya.
Richard bergegas kembali ke kamar setelah memanasi mesin mobil.
"Mau ikut ke rumah sakit nggak, Mas?" tawar Richard saat Bintang terlihat bingung melihat gerakan hilir mudiknya di dalam kamar.
"Ibu mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Bintang dengan wajah yang tiba- tiba terlihat cemas.
"Iya. Mau ikut?" tanya Richard lagi yang disambut anggukan mantab dari Bintang.
"Tolong bukain pintunya , Mas." pinta Richard sambil bergegas menggendong Nawang di depan dadanya.
Bintang bergegas berlari membuka pintu kamar lalu menutupnya cepat,. kemudian berlari cepat ke pintu depan sebelum papanya sampai, untuk kembali membukakan pintu dan kembali menutupnya, lalu kembali berlari mendahului papanya untuk membukakan pintu mobil.
"Kuat duduk nggak?" tanya Richard pada Nawang setelah mendudukkan Nawang di kursi penumpang depan. Nawang menggeleng pelan.
"Aku rebahin." kata Richard cepat sambil mengatur posisi kursi yang diduduki Nawang.
"Mau ke rumah sakit, Pak?" tanya mbak Parti yang langsung ikut berlari di belakang Richard saat melihat Richard menggendong Nawang di dalam tadi.
"Iya. Titip rumah ya, Mbak." kata Richard sambil melangkah cepat memasuki mobil.
Bintang nampak sudah duduk anteng di kursi belakang sambil matanya menatap lekat ibunya yang sangat nampak berusaha tersenyum padanya.
Anak itu tidak bicara apapun karena lidahnya terasa kelu dan hatinya porak poranda melihat ibunya yang lemah tak berdaya.
Nawang yang melihat ketakutan dan kecemasan di mata Bintang berusaha meraih tangan anak itu dengan susah payah lalu digenggamnya lemah.
"Ibu nggak papa." ucapnya lirih.
Bintang hanya mengangguk- angguk dengan linangan airmata dipipinya.
Dia sangat takut ibunya akan meninggal.
Kalau Ibunya meninggal bagaimana dengannya nanti?
Apa ayahnya mau merawat dan menyayanginya?
Apakah boleh kalau dia memilih ikut papanya saja?
Apa dia ikut bude Darmi saja?
Semua pertanyaan itu berkecamuk riuh di pikiran bocah kecil itu sampai membuatnya tak bisa berkata apapun.
Richard bukannya tidak tahu kecemasan di wajah dan mata Bintang. Tapi dia sendiri bingung harus bagaimana untuk menenangkan anak itu.
"Besok lagi kalau aku sakit, Ibu nggak usah jagain malam- malam. Aku nggak papa sakit sendirian. Aku nggak mau ibu jadi sakit begini." kata Bintang setelah sanggup berkata kemudian tangisnya pecah tak tertahan lagibsaat itu.
Dia merasa sangat bersalah. Dan Richard merasa ikut bersalah.
__ADS_1
"Ibu nggak sakit kok, Mas. Cuma lemas saja ya, Bu?" kata Richard berusaha menghibur. Menghibur Bintang dan dirinya sendiri.
Nawang mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
"Mungkin Ibu makannya kurang banyak, jadi lemes karena lapar." kata Richard lagi, yang mampu membuat tangis Bintang mereda.
"Tapi tadi Ibu sudah makan dua sama punyanya Papa." sanggah Bintang sambil menghapus airmatanya.
"Berarti dua masih kurang, Ibu perlu lebih banyak lagi. Nanti kita tanya sama dokternya, enaknya ibu makan apa dan seberapa banyak biar kenyang dan nggak lemes lagi. OK?" kata Richard sambil menatap wajah Bintang dari spion tengah.
Bintang nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
Kecemasan di wajahnya sudah berkurang walau matanya masih nampak sedih dan resah.
"Ibu biasanya makannya sedikit tapi nggak pernah lemes. Sekarang kok jadi lemes?" tanya Bintang setelah lama berpikir.
"Mungkin ada adik bayi juga yang minta makan dari dalam perut Ibu. Jadi Ibu makannya harus banyak karena buat adik juga." jawab Richard lancar dengan tersenyum- senyum yang membuat Nawang mendelik saking kagetnya.
"Mas!" tegur Nawang lemah namun mampu membuat Richard menyadari keceplosannya barusan.
"Ada adik bayi diperutnya Ibu?" seru Bintang senang sambil menunjuk perut Nawang.
"Semoga ada. Nanti kita periksakan sekalian ada adik nggak di dalam perutnya Ibu." jawab Richard diplomatis.
"Emangnya adiknya bisa dilihat, Pa?" tanya Bintang dengan nada penasaran.
"Bisa. Nanti kita coba minta Bu dokter untuk ngasih liat. Semoga bisa. Kita berdoa saja ya." jawab Richard penuh harap.
Bintang mengangguk senang dan Nawang hanya terpaku.
Dia benar- benar lupa untuk menggunakan test pack.
Dan setidaknya seharusnya sejak tiga hari lalu dia sudah datang bulan, tapi ternyata tamunya itu nggak datang kali ini.
Ada seulas senyum terbit di bibirnya.
Benarkah kamu sudah hadir, Nak?
Masuk ke UGD, setelah dilakukan pemeriksaan standard, Richard minta langsung bertemu dokter obgyn.
Kebetulan di lobby tadi Richard bertemu dokter Pramudya dan mereka berbincang sedikit soal prediksi Richard kalau Nawang hamil.
Dengan bantuan dokter Pramudya akhirnya brankar yang membawa Nawang diarahkan ke bagian obgyn.
Walau tidak bisa bertemu dengan dokter Melia karena beliau sedang tidak ada jadwal praktek pagi, tapi mereka senang bisa berkenalan dengan dokter Murti yang tak kalah menyenangkan dari dokter Melia.
"Jadi Anda mengira Bu Nawang mungkin hamil ya?" tanya dokter Murti sambil tersenyum menatap Nawang yang menunjukkan ekspresi campur aduk antara malu, berharap, dan entahlah.
"Iya, Dok. Tapi memang kami belum melakukan pemeriksaan mandiri juga sih." kata Richard malu.
"Sebaiknya sih memang kita pakai test pack kalau pagi ya....pakai urine pertama. Tapi bolehlah kita coba sekarang, daripada penasaran kan? Kalau hasilnya saat ini nanti ternyata kurang sesuai harapan, jangan putus harapan dulu. Bisa di coba test lagi besok pagi. Gimana?" tanya dokter Murti solutip.
"Boleh! Boleh!" sahut Richard cepat dan terlihat tak sabar.
Nawang hanya mendengus kesal.
Gimana dia mau test urine kalau bangun aja susah gini?
Tapi dia penasaran juga sih.
Boleh Ibu tahu keberadaan kamu sekarang, Nak? Biar kami semua bisa menjagamu dengan baik kalau memang benar kamu sudah ada diantara kami.
Nawang terus saja berceloteh di dalam hati seakan sedang membujuk anaknya agar mau diajak bekerjasama.
"Kuat duduk sebentar nggak, Non?" pertanyaan Richard di sampingnya mengagetkan Nawang.
Tanpa menjawab Nawang beringsut pelan untuk duduk dengan lengan Richard di belakang bahunya untuk berjaga- jaga.
"Bisa.." kata Nawang dengan wajah senang.
__ADS_1
"Keren." bisik Richard kemudian menggendongnya ke arah kamar kecil di sudut ruangan.
"Tunggu sebentar disitu ya, Mas." kata Richard pada Bintang yang mengikutinya sampai depan pintu kamar mandi.
"Ibu mau diapain?" tanya Bintang khawatir.
"Ibu mau pi pis sebentar." jawab Richard sambil tersenyum dan Bintang mengangguk mengerti.
"Ibunya ditunggu disini boleh lho, Mas. Duduk disini aja." tawar dokter Murti pada Bintang yang sabar bersandar di tembok samping pintu kamar mandi.
Bintang mengangguk pelan kemudian berjalan untuk duduk di depan dokter Murti yang tersenyum ramah padanya.
"Namanya siapa anak baik ini?" tanya dokter Murti sambil menatap sayang pada Bintang.
"Bintang." jawab Bintang sopan.
"Kelas berapa sekolahnya?" tanya dokter lagi.
"TK B." jawab Bintang singkat. Matanya tak lepas dari pintu kamar mandi dengan tatapan cemas.
"Sedih ya ibunya sakit?" tanya dokter Murti lagi.
"Iya. Ibu jadi lemas sekali. Kasihan." kata Bintang sedih.
"Tapi nggak papa kok Ibumu." kata dokter Murti menghibur Bintang.
"Apa karena Ibu kurang banyak makannya?" tanya Bintang kemudian.
Dokter Murti tersenyum menahan tawa dengan pertanyaan itu.
"Mungkin juga. Nanti setelah Ibumu keluar dari kamar mandi itu, kita akan mencati tahu kenapa Ibumu lemas. Kita tunggu sebentar ya." kata dokter Murti yang hanya dijawab anggukan oleh Bintang.
Sementara Richard cengengesan karena Nawang mendorong wajahnya agar tak melihat? saat dia buang air kecil.
"Emangnya kenapa nggak boleh ngeliat? Tadi kamu polos aja aku liatin nggak protes." ledek Richard masih dengan membuang muka sesuai kemauan sang nyonya.
"Malu lah! Mosok mau pi pis diliatin." jawab Nawang galak walau dengan suara lemas.
Kedua tangan Richard memegang kuat bahu Nawang agar tak terjatuh.
"Gimana?" tanya Richard setelah tadi di dengarnya guyuran air dan gerakan Nawang memakai kembali pakaian dalamnya.
"Sebentar." jawab Nawang sambil melirik gelisah ke alat test kehamilan di tangannya.
Dadanya deg- degan nggak karuan.
Rasanya nggak tega kalau mengabarkan hal diluar dugaan kepada Richard nanti.
"Kamu aja yang ngeliat." kata Nawang akhirnya sambil menyodorkan testpack ke depan Richard yang kaget dan dengan takut- takut kemudian mulai memperhatikan alat kecil di genggaman Nawang itu.
"Nggak ada apa- apanya." kata Richard kemudian memeluk Nawang dengan erat.
Ada setitik airmata menjatuhi pipinya.
"Maaf." kata Nawang sedih. Tanpa diminta, airmatanya ikut terbit.
Dan alat kecil ditangannya terlepas jatuh tanpa dia sadari.
🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️
Dan yang mengandung bawang ada di part yang sebelah mana nih? 😅🙈
Anyway.......mau mengucapkan trimakasih dan selamat datang untuk readers yang tiba- tiba baca di part- part akhir trus melompat lagi baru ke part awal 😅 (alhamdulillah ketahuan karena meninggalkan jempolnya 😁) semoga betah membersamai kisah ini sampai endingnya nanti ya.....
Makasiiiiiih juga untuk yang mengikhlaskan vote nya dihibahkan disini, sungguh ini penghargaan banget buat author kelas kremesan tapi nggak menggemaskan ini 😍💕. Tolonglah diulang- ulang lagi hibahnya vote ya #eh nodong 🙈
Makasih juga untuk jempol, bunga sekebon raya, terlebih kupi- kupinya......teruslah mengirimku seperti itu biar bahagia dan betah nulis halunya 😍😁
Sehat selalu, berusaha bahagia selalu, dan happy reading ya semuanya.....💖
__ADS_1