PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
145


__ADS_3

Richard hanya menatap dokter Melia tanpa ekspresi.


Tatapannya kosong seolah tak sadar sedang ada dimana.


Dokter Melia bahkan nyaris tak kuasa menatap wajah Richard yang nampak kuyu dan putus asa.


Sungguh, dokter Melia sangat menyesal dengan kejadian yang menimpa Nawang.


Semua hal yang diucapkan oleh dokter Melia jelas Richard dengar dan mengerti walau dia tak berkomentar sedikitpun.


Tapi hatinya menolak kenyataan yang dituturkan padanya.


Seperti janji dokter Melia tadi, setelah menunggu berjam- jam yang rasanya berabad- abad, akhirnya Richard yang tetap di dampingi Bram kini duduk di depan dokter Melia untuk mendengar kan penjelasan tentang apa yang dialami Nawang saat ini.


Tapi mendengarkan pembicaraan antara dokter Melia dan Bram semakin menghancurkan jiwanya.


"Pertama- tama secara pribadi Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa Nawang saat ini. Secara profesi Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga saya mengembalikan kesehatan Nawang seperti sedia kala. Kita semua shock dengan yang terjadi ini." kata dokter Melia setelah sebelumnya harus menarik nafas berkali- kali agar kuat berbicara.


"Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada Nawang? Bagaimana kondisi yang sebenarnya saat ini?" tanya Bram hampir tak sabar.


"Kami masih terus mencari penyebabnya, Pak. Pertama tadi kami mengira Nawang mengalami kerusakan otak. Tapi setelah kita MRI dan CT scan, Alhamdulillah nggak ada kerusakan sedikitpun. Semua organ vital juga dalam kondisi sangat baik. Bahkan dia tidak dalam kondisi buruk sama sekali.Tadi kami ambil sample darah untuk melakukan tes untuk melihat semua kemungkinan terkecil sekalipun." jelas dokter Melia dengan wajah yang terlihat juga belum lega karena belum bisa memberi tahu apa penyebab pasti yang dialami Nawang.


"Lalu kondisi Nawang sebenarnya gimana, Dok? Terus terang kami belum mengerti dengan penjelasan ini." tanya Bram dengan wajah bingung.


Dokter Melia menatap Richard sedih, lalu dia berusaha tersenyum.


"Secara fisik, dilihat secara medis Nawang nggak sakit. Dia sangat sehat. Kerusakan otak yang sangat kami khawatirkan tadi juga tidak terdeteksi sama sekali. Kondisi Nawang seperti orang yang tidur terlalu lelap. Dia bisa merespon dengan sangat baik walau matanya terpejam.


Tidak terdeteksi adanya kelumpuhan atau kerusakan jaringan di dalam tubuhnya. kami juga belum bisa mendiagnosa dengan pasti apa yang menimpa Nawang. Semua teori dan indikasi mental semua. Kami memohon maaf sebesar- besarnya untuk ini." kata dokter Melia penuh sesal.


Bram menggelengkan kepalanya tak percaya.


Apa- apaan ini? Kenapa keluarga sahabatnya harus mengalami ini?


"Kami sedang terus berkonsultasi dengan rekan dokter di Singapura dan Jerman untuk kasus ini. Dan sementara waktu yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan bersabar. Nawang sangat baik- baik saja secara fisik. Dia bisa mendengar dan bisa merespon dengan matanya yang akan meneteskan airmata atau kelopaknya bergerak- gerak, walau kaki dan tangannya tak mau bergerak padahal tak ada sedikitpun syarafnya yang rusak." jelas dokter Melia lagi.


"Jadi apakah dokter bisa memperkirakan berapa lama Nawang akan dalam kondisi seperti ini?" tanya Bram lagi.


Dokter Melia menggeleng pelan sambil menatap Richard yang sedari tadi telah berulangkali dilihatnya mendongakkan kepalanya kemudian menghapus kasar airmata yang nampak luruh di sudut matanya.


Terlihat jelas sekali bagaimana hancurnya hati lelaki pecinta ini.


Dia bahkan tak berucap sepatah katapun dari tadi walau dokter Melia tahu pasti Richard mendengarkan semua yang dia bicarakan bersama Bram.


"Kita nggak tahu ini akan berapa lama karena kita belum tahu penyebabnya." jawab dokter Melia pelan.


"Astagfirullahaladzim ya Allah......" gumam Bram sedih.


Dokter Melia menunduk sedih. Bagaimana pun dia merasa punya ikatan emosional dengan pasangan Richard dan Nawang. Dia menyayangi pasangan ini.


"Apa ada obat atau perlakuan khusus yang harus kami lakukan untuk membantu proses penyembuhan Nawang, Dok?" tanya Bram belum putus asa.


"Belum ada. Kita tahu tak ada penyakit yang terindikasi pada Nawang. Jadi kita hanya memberikan infus asupan makan saja dengan tetap selalu kita pantau setiap saat." jawab dokter Melia.


"Apakah kami boleh menengoknya?" tanya Bram akhirnya.


"Ya. Untuk menjaga kesterilan pasien, hanya boleh satu orang saja menungguinya. Dan untuk hari ini kita pantau kondisinya dulu di ICU umum, nanti kalau stabil sampai besok siang, boleh kalau mau dipindahkan ke ruangan ICU premium agar lebih nyaman." terang dokter Melia.


Bram mengangguk mengerti.


"Kamu mau nemenin Nawang?" tanya Bram pada Richard.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja aku harus nemenin dia." jawab Richard dengan tersenyum senang seperti seorang kekasih yang akan segera bertemu dengan pujaan hatinya setelah sekian lama berpisah.


Tapi senyum itu segera memudar seiring lapisan getir dan terlihat putus asa di sorot matanya.


"Jangan lupa sampaikan salam kami semua buat Nawang ya. Kami bangga padanya dan menunggunya segera bangun. Kamu jangan nangis di depan dia. Inget, dia tetap bisa mendengar dan merespon. Jadi, panggil dia untuk segera kembali pulang ya. Bilang juga sama dia, kalau nggak bangun- bangun, kamu mau selingkuh. ." kata Bram saat mereka berjalan menuju ruang ICU.


Richard melotot kemudian mendengus kesal mendengar kalimat terakhir Bram.


"Enak aja! Aku ini setia tiada tara." sahut Richard dengan lirikan sangarnya, membuat Bram meringis.


Dia bersyukur Richard masih bisa merespon gurauannya.


Setidaknya dia tidak gila karena kondisi Nawang saat ini.


Sesampai di depan ICU ternyata sudah ada orang tua Richard.


Mama Richard segera menghambur memeluk Richard yang kembali tak bisa menahan airmatanya begitu melihat keberadaan kedua orang tuanya.


"Sabar ya, Sayang. Kita lewati ini sama- sama. Kamu harus tenang dan kuat." kata mama Richard sambil menahan tangis di pelukan Richard.


Richard hanya mengangguk pelan.


"Keren! Bisa langsung komplit sekali jalan. Selamat jadi Papa si kembar ya....Wajahnya bisa kayak dua kakaknya."ucap Pak Pambudi sambil memeluk Richard erat.


Dia sangat tahu anaknya sedang sangat butuh penghiburan.


Dan membicarakan bayinya diharapnya akan menjadi sebuah penghiburan.


"Papa dan Mama sudah nengok mereka?" tanya Richard sambil melampirkan senyum tipis di wajah piasnya


"Sudah, tadi nengok sama Anin. Mereka masuk inkubator, tapi sangat lincah. Nangisnya juga kenceng banget. Kamu siap- siap harus mulai bergadang karena suara tangis mereka di malam hari." jawab Pak Pambudi sambil tersenyum meledek.


Pasti akan melelahkan, tapi pasti juga akan sangat membahagiakannya.


Tapi senyum yang sempat tersemat kembali hilang dengan cepat dari bibir Richard begitu dia menyadari kondisi Nawang saat ini.


Bertemu. Dia harus segera menemui istrinya itu. Melihat kondisinya dengan seksama.


"Aku.....ketemu Nawang dulu." pamit Richard pelan.


"Ya. Temani dia. Tapi kamu jangan sedih di depannya. Bangunkan dia secepatnya agar bisa segera menggendong anak kalian." kata mamanya dengan lembut.


Richard hanya mengangguk.


"Mintalah lagi dia pada Pemilik jiwanya. Bilang, kamu akan sanggup bertanggungjawab untuk kehidupan Nawang. Kita panggil dia pulang bareng- bareng, dengan doa ya, Nak. Jangan putus harapan, jangan putus doa." bisik Pak Pambudi saat Richard memeluknya.


Pria lewat enam puluh tahun itu merasakan bahunya basah oleh airmata Richard walau anaknya itu tak terisak- isak. Membuat hatinya ngilu.


"Tolong doakan kami ya, Pa." gumam Richard pelan.


"Pasti! Semua mendoakan kalian agar cepat berkumpul kembali dengan keadaan sehat." jawab Pak Pambudi cepat.


"Titip anak- anak ya." kata Richard sambil menatap pada orang tuanya dan Bram yang mendapat anggukan mantap dari mereka.


Setelah menghela nafas berkali- kali untuk mengumpulkan ketenangannya kembali, Richard pelan melangkah menuju sebuah pintu dengan tulisan ICU di atasnya untuk menemui belahan jiwanya.


Untuk berusaha bisa segera membawanya pulang dengan kegembiraan karena kedatangan dua malaikat kecil mereka.


Setelah melewati ruangan untuk para dokter dan suster yang berjaga di ICU, di depan pintu selanjutnya Richard terpaku saat menatap tubuh istrinya terbaring tenang di bawah selimut yang menutupi sampai dadanya.


Samar- samar di dengarnya lirih Only One milik Pamungkas dari ruangan jaga. Semakin membuat hatinya seperti ditusuki ribuan jarum.

__ADS_1


💖 One Only- Pamungkas 💖


Oh there you are


sittin' still all stripes and lonely


Hidin', wishin', waitin'


While I'm here I am


standin' still stare at you only


everithin' get blurry


All I want is just to stay


you can't shake me


I would never dare let go


Through the talkin' and the walkin'


I Will give you all my lovin'


Start countin' all the days


forever I Will stay with you


with you one only you


Go far and roam about


comeback and callin' out to me


to me, one only me


Oh I' m in love


what did I do to deserve you


you tell me what did I do


To be with you love


to be the one you runnin' into


when the days do come through.


Dengan menyunggingkan senyum, Richard mendekat kemudian mengecup kening Nawang dengan lembut.


"Kalau kamu capek, kamu aku ijinin istirahat dulu sebentar. Hanya sebentar saja ya. Jangan lama- lama. Jangan biarkan kami terlalu rindu." bisik Richard lembut.


🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️


Jangan lupa bawa bekal sapu tangan dan tissue juga ember ya.....


🏃........💨


Makasih banyak buat kamu....


__ADS_1


__ADS_2