
Richard membaringkan tubuh Bintang dengan hati- hati di atas kasur.
Dua bocil tadi tertidur saat mereka asik mengobrol.
"Makasih." suara pelan Nawang menyambutnya saat dia melewati pintu kamar Bintang.
Richard hanya tersenyum sambil mengelus puncak kepala Nawang tanpa menghentikan langkahnya menuju teras.
Nawang keluar sambil membawa segelas air putih yang langsung diterimanya lalu diteguknya hingga tandas.
"Segarrrrr." katanya sambil tersenyum riang.
"Mau makan nggak?" tawar Nawang masih dengan berdiri di sampingnya.
"Nanya apa nawarin nih?" tanya Richard cengengesan.
"Nawarin." jawab Nawang sambil melirik galak.
"Emang kamu punya yang dimakan?" tanya Richard keheranan secara mereka barusan menginap di Semarang.
"Ada. Makanan sejuta umat. Mi instant." jawab Nawang sambil terkekeh.
"Boleh deh. Sambil numpang ngadem." jawab Richard sambil bergegas berdiri untuk membawa Darren yang masih tidur di mobil untuk dibawanya ke dalam rumah.
Hampir lupa tuh bocil masih di mobil.
"Tidurin di kamarku aja, Mas. Siang- siang kalau ditidurin berdua gerah nanti." kata Nawang dari area dapur yang masih bisa melihat Richard masuk menggendong Darren.
Richard menghentikan langkahnya yang sudah di depan kamar Bintang.
Lalu dengan ragu memasuki satu pintu yang berada di samping kamar Bintang.
Kamar Nawang.
Kamar yang dulu ditempati bersama lelaki itu. Ayah Bintang.
Tempat keduanya menghabiskan malam.
Richard menghela napas berat untuk membuang jauh- jauh pikiran ngelanturnya.
Semua tinggal sejarah.
Dengan memantapkan hati dia melewati pintu kamar.
Penciumannya langsung menangkap samar wangi yang mulai dikenalnya dan diingatnya baik- baik dalam ingatan
Parfum Nawang.
Richard tersenyum dalam hati.
Dia baru bisa mencium wangi itu kalau mereka sangat dekat.
Saat duduk merapat atau saat ehm, memeluk atau ehm, mencium.
Nawang tipe perempuan yang tidak suka membagi wanginya untuk hidung umum. Dia tahu itu sejak dulu.
Menarik.
Setelah membaringkan Darren bukannya dia segera keluar malah duduk dengan tegak di bibir ranjang.
Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang tak terlalu luas namun bersih itu.
Dinding kamar bercat kuning pastel namun sudah terlihat usang. Pasti karena sudah lama tak di cat ulang.
__ADS_1
Ada dua jendela di satu sisi dengan gorden sederhana warna merah bata yang warnanya juga sudah sedikit pudar.
Satu yang langsung menarik perhatiannya adalah cermin tinggi - mungkin hampir dua meter- yang ada di satu sisi tembok, dekat pintu.
Selain itu hanya ada satu lemari tiga pintu jaman old dan satu meja kecil, satu cermin kecil yang menempel di atas meja, serta satu kursi plastik tersimpan di bawah meja.
Mungkin itu meja serbaguna bagi Nawang. Bisa berfungsi sebagai meja rias,meja tulis, sekaligus meja tempat menaruh barang lainnya, toples snack salah satunya.
Richard tersenyum getir.
Matanya tertuju pada satu kotak di atas meja yang berisi alat kosmetik Nawang.
Sedikit amat, batin Richard.
Ia ingat alat make- up Mbak Daning -satu- satunya saudara kandungnya yang kini tinggal di Singapore- juga Anin dulu banyak banget. Entah buat apa saja benda- benda dalam wadah ukuran kecil- kecil dan kadang lucu itu.
Dia meraih benda- benda di dalam kotak itu. Membacanya dengan cermat.
Ada pembersih wajah dan toner yang bentuk botolnya mirip, ada pelembab dan alas bedak yang botolnya lebih imut, lalu ada bedak tabur dan bedak padat yang kemasannya berwarna sama. Ada satu lip balm, ada dua lipstick, lalu satu kotak kecil dengan tulisan blush on dibawah merk-nya, ada juga satu kotak lebih besar dari kotak blush on dengan banyak bulatan warna di dalamnya.
Ada bedak bayi. Roll on. Lalu sebotol splash cologne yang tinggal sedikit.
Tanpa sadar dia membawa botol itu ke hidungnya, menghirupnya pelan.
Tak salah lagi,ini wangi Nawang.
Tanpa sadar dia tersenyum.
"Kucari ke depan nggak ada, ternyata kamu masih disini. Ngapain disitu?" tanya Nawang sedikit malu saat tahu Richard sedang nguprek kosmetiknya.
Richard menoleh kaget dan nyengir saat ketahuan kelakuan minusnya di kamar Nawang.
"Bikin kaget aja." kata Richard kemudian menata kembali kosmetik ke dalam kotaknya lalu melangkah menyusul Nawang yang sudah duduk di amben teras.
"Kamu bikin juga?" tanya Richard sambil beranjak bersila di atas amben kemudian menuangkan saos dan sedikit kecap di atas telur yang terkoyak di antara mie.
Kebiasaan yang tak berubah dari dulu. Harus ada saos sambal dan sedikit kecap.
"Iya. Pengen." jawab Nawang sambil meringis malu.
Di tuanginya mi instant jatahnya dengan saos sambal saja, no kecap.
"Ini mi apa sih? Kok enak banget?" tanya Richard takjub setelah tiga suapan menikmati makanannya.
Nawang mencibir.
"Lebay! Kayak yang nggak pernah makan mi instant aja." sungut Nawang.
"Bukan gitu. Tapi ini enak beneran lho. Cara masaknya beda atau merk nya yang aku belum pernah makan sih?" tanya Richard disela kunyahannya.
"Rahasia!" jawab Nawang sok misterius.
Richard tersenyum setan.
"Rahasia, biar aku minta dibikinin terus sama kamu ya? Pinternyaaaaa menjerat calon suami." ledek Richard sambil tertawa.
Nawang kembali mencibir.
"Halloooowww.....musim GR sudah berlalu ya. Anda ketinggalan GRnya! Gak ada jerat- jeratan! " ledek Nawang balik..
"Pantesan ya para bapak- bapak yang istrinya galak kebanyakan gendut." kata Richard sambil meletakkan mangkuk karena isinya sudah beralih ke perutnya semua,sekuah- kuahnya.
"Kenapa gitu?" tanya Nawang penasaran.
__ADS_1
"Karena katanya cewek galak itu kalau masak pasti enak. Dan aku udah ngebuktiin itu. Dan itu benar adanya." jawab Richard sambil mengerling padanya.
"Kumat!" sungut Nawang sambil menyembunyikan wajahnya yang menghangat dengan cara menunduk sedalam mungkin.
Ngegombal never ending.
Richard tertawa meledek.
"Besok kamu stock mi kayak gini yang banyak ya di rumah kita. Aku suka." kata Richard sambil menatap Nawang serius.
Nawang hanya tersipu
Di rumah kita.
Enak banget di telinga.
Menghangatkan hati.
Membuat udara saat ini tiba- tiba beraroma wangi kembang.
"Kenapa tersipu- sipu gitu?" tanya Richard sambil tetap menatap Nawang dengan lekat.
"Siapa juga yang tersipu- sipu?" elak Nawang sok jutek.
"Dasar cewek jutek ngangenin." kata Richard gemes sambil mengelus pucuk kepala Nawang.
"Iiih! Kayak kucing aja dielus- elus!" salak Nawang sambil menepis tangan Richard kesal.
Richard malah tertawa.
Lama- lama kepalanya jadi nggak ada harganya di tangan Richard.
Sekarang kepalanya seperti mainan favoritnya Richard. Sedikit saja ada kesempatan pasti tangan itu mampir di kepalanya.
Walau sebenarnya dia seneng sih dielus- elus sayang gitu. Tapi kan dia harus tetap jaim sebagai cewek.
Beda perkara kalau mereka sudah sah sebagai pasutri. Mau sepanjang hari di elus juga nggak akan mungkin nolak. Eh 🙈
"Waaah sudah sampai rumah to?" suara Pakde Parno dari samping rumah memecah kebisuan yang baru saja tercipta.
"Udah Pakde, Udah nge mie malah." jawab Richard sambil tertawa kemudian beranjak berdiri karena Pakde Parno sedang mengarah padanya.
"Bapak Ibu sehat semua to, Mas?" tanya Pakde Parno setelah menjabat uluran tangan Richard padanya.
"Alhamdulillah sehat semua, Pakde. Dikunjungin bocah- bocah malah maunya pengen dikunjungi terus." kekeh Richard.
"Ya nggak papa. Mumpung orang tua masih Sugeng (hidup) dan sehat semua, harus dibahagiakan semaksimal mungkin. Dirutinkan saja kan bagus sowan ( berkunjung, menghadap) ke Semarang. Wong ( orang) kendaraan juga sudah tersedia." kata Pakde Parno sambil beranjak duduk di posisi Nawang tadi duduk karena sekarang Nawang sudah berdiri di samping Richard sambil memegang dua mangkuk kotor yang ditumpuk serta saos dan kecap.
"Iya, Pakde. Rencananya besok sebulan sekali kami kesana." jawab Richard.
"Mau teh po (atau) kopi po jeruk, Pakde?" tawar Nawang menginterupsi menawarkan minuman.
"Manut sing nggawekke.wae. ( ngikut yang bikinin aja.)" jawab Pakde Parno santai.
"Jeruk anget aja boleh?" pinta Richard sambil tersenyum menatap Nawang lembut.
"Ok. Jeruk anget po adem ( dingin), Pakde?" tawar Nawang sambil menatap Pakde Parno.
"Anget wae lah ( hangat aja lah.)" jawab Pakde Parno.
Nawang kemudian masuk untuk membuatkan minuman pesanan Pakde Parno dan Richard, calon suaminya. Ehm!!!
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1