
Richard tak membuka matanya walau dia telah bangun dari tidurnya yang menurutnya entah hanya berapa menit.
Kantuk masih merayunya untuk menyamankan diri di pembaringannya.
Kegiatan yang dilakukan bersama Nawang tadi ternyata bisa membuatnya tidur sangat nyenyak.
Walau mungkin hanya beberapa menit, tapi membuatnya merasa plong saat terbangun tadi.
Yeah, tentu saja plong....Richard tersenyum sendiri dengan pikiran nakalnya.
Di dengarnya agak jauh suara adzan subuh sedang mulai bersahutan.
Berarti ini sekitar jam setengah lima pagi.
Pantas saja dia masih sangat mengantuk, dia baru terlelap sekitar lima belas menit.
Dieratkannya pelukannya pada tubuh polos yang tertidur di lengan kirinya dengan sangat pulas.
Bisa dipastikan perempuan galak ini kelelahan setelah menikmati berkali- kali pencapaian tertingginya.
Richard tersenyum malu tapi juga bangga, mengingat petualangan hebat pertamanya dengan Nawang beberapa jam lalu.
Sangat sempurna.
Sangat menyenangkan dan membuatnya akan selalu ketagihan untuk mengulangnya lagi dan lagi kapanpun itu.
Dan yang paling membuat dia bahagia adalah Nawang terlihat sangat bisa menerima bahkan sangat bisa menikmati kebersamaan mereka walau dengan keterbatasan yang dia miliki.
Itu terbukti dengan berkali-kali perempuan itu menyerukan namanya setiap kali pendakiannya sampai di puncak tertinggi.
Sungguh sangat membanggakannya.
Richard memaksa diri membuka matanya yang kini terasa sangat pedas.
Mereka harus bergegas mandi junub lalu sholat subuh.
Dia nggak mau sholat Subuhnya keduluan fajar sidiq nongol di ufuk timur.
"Sayang....bangun dulu yuk. Udah subuh ini." kata Richard lembut sambil mengusap- usap bahu polos Nawang.
"Hmmmm......" hanya suara itu yang terdengar dari mulut Nawang tapi perempuan itu tak juga membuka matanya, bahkan semakin merapatkan tubuh polosnya.
Waaaah, bisa bahaya nih.....bisa kepancing lagi nih kalau dia gerak- gerak terus.
Richard tersenyum jahil kemudian beringsut untuk membawa tubuh Nawang ke kamar mandi.
Sambil memangku tubuh lunglai Nawang yang juga masih terlelap, Richard mengisi bathtub untuk Nawang nanti.
Setelah air dan sabun dirasa cukup pas, Richard kemudian membaringkan istrinya di dalam bathtub.
Tentu saja Nawang kaget karena dia merasa tubuhnya dimasukkan ke air.
"Mas! Nyebelin banget sih!!!" teriak Nawang dengan wajah kaget dan suara serak langsung spontan berdiri.
Richard terkikik jail.
"Maaf, Sayang. Kamu dibanguninnya susah. Ini udah selesai adzan subuh, ntar kesiangan sholatnya. Maaf ya." kata Richard sambil mendekat kemudian memampirkan bibirnya sebentar di bibir Nawang yang cemberut.
"Kalau masih cemberut aku kerjain lagi nih." bisik Richard sudah bersiap mengangkat tubuh Nawang lagi.
"Nggak mau! Capek, Maaaas!" hindar Nawang dengan rengekannya.
"Ya udah kalau nggak mau. Buruan mandinya. Aku mandi di shower ya, biar bareng selesainya." kata Richard kemudian melangkah ke dalam kotak kaca es yang ada di sebelah bathtub.
Nawang sengaja mandi menghadap ke kotak kaca es itu sambil tangannya bekerja membersihkan sekujur tubuhnya.
Menatap lekat siluet tubuh atletis yang terlihat utuh dan sempurna, yang beberapa jam tadi telah membawanya ke sebuah surga yang
belum pernah dia datangi sebelumya.
Sebuah surga baru milik mereka berdua.
Tubuh perkasa yang bisa begitu lihai membuatnya mampu dengan bebas menampilkan sisi terliarnya tanpa ragu dan malu.
__ADS_1
Sungguh indah.
Dan dia tersenyum malu saat dirasanya ada yang berkedut di satu bagian tubuhnya.
Mesum gini sih sekarang otakku? Udah nular aja penyakit mesumnya.
Nawang pura- pura sibuk dengan gosokan di lengannya dengan sedikit menunduk saat dilihatnya bayangan Richard bergerak keluar dari arah shower.
Kan malu kalau ketahuan sedang mengagumi pria itu....
"Buruan bilas, Non. Keburu kesiangan subuhnya." kata Richard sambil memakai handuk kimononya.
"Iya. Kamu keluar dulu aja." jawab Nawang sambil tersenyum malu.
"Kenapa emang kalau aku nunggu kamu disini?" tanya Richard sengaja meledek
"Nggak! Nanti nggak jadi sholat subuh. Adanya malah serangan subuh." sahut Nawang galak sambil menatapnya dengan tatapan waspada level tertinggi.
Richard tertawa- tawa jahat.
"Ya nggak lah. Emang aku lelaki apaan...." kata Richard sambil mengerling genit kemudian keluar dari area basah kamar mandi.
Melihat suasana yang dirasanya sudah aman, Nawang bergegas menuju shower dan dengan cepat membilas tubuhnya, memakai handuk kimono baru berwarna coklat muda, kemudian keluar menuju kran untuk mengambil wudhu.
Nawang tersenyum saat dia keluar dari lorong kecil kamar mandi dan sudah mendapati Richard sudah tampan dengan baju Koko berwarna hiijau army dan sarung berwarna senada kini sedang menggelar dua sajadah, tentu saja untuk seorang imam dan seorang makmum.
"Sebentar mas ganteng, aku pakai baju dulu ya." kata Nawang bergegas menuju lemari pakaian dan kemudian mengambil asal satu baju yang ternyata gamis.
Nggak apalah, malah bagus pakai baju panjang.
Bergegas Nawang memakainya walau dengan agak malu karena dilihat oleh Richard dengan sepenuh hati.
"Kamu tambah cantik kalau pakai gamis." puji Richard sambil tersenyum manis.
"Nggak pakai baju aja cantik, apalagi pakai baju panjang. Ya kan?" sahut Nawang sambil menatap Richard tengil dan tangannya bergegas memakai mukenanya.
"Betul!!" jawab Richard sambil tertawa keras.
Istrinya ini benar- benar deh.....
Dia harus membuat sarapan untuk mereka berdua.
Tapi entah apa yang bisa dia masak nanti.
Sejak semalam dia belum sempat memeriksa isi dapur.
Kali ini dia benar- benar merasa kelaparan.
Ya iyalah.... secara masuk rumah langsung dibawa Richard ke kamar.
Bahkan makanan yang mereka beli semalam akhirnya hanya jadi penghuni meja makan tanpa sempat tersentuh.
"Non..." panggilan Richard mengurungkan langkahnya meninggalkan suaminya itu.
Dilihatnya Richard menatapnya sambil menepuk- nepuk sebelah tempatnya duduk kini, di satu sofa panjang di dekat jendela besar kamar mereka.
Nawang mendekat kemudian duduk ditempat yang diinginkan Richard.
"Mau ngomongin sesuatu?" tanya Nawang penuh atensi.
"Iya. Tepatnya mau meminta sesuatu sama kamu...."
Nanti lagi ya, Mas ganteng....aku lapar banget, sumpah...." potong Nawang memelas.
Richard terkekeh sambil menatap Nawang tak percaya.
"Omes ih!" kata Richard sambil tersenyum meledek.
"Aku bukan minta itu. Tapi minta yang lain." kata Richard menatapnya sungguh- sungguh.
"Apa?" tanya Nawang dengan nada takut- takut.
Tatapan lembut Richard bisa ditangkap Nawang mengandung keseriusan tingkat tinggi, nggak ada becanda- becandanya.
__ADS_1
Richard meraih bahu Nawang agar istrinya itu merapatkan tubuhnya.
Nawang pasrah saja saat Richard memeluknya hangat lalu mencium rambutnya berkali- kali.
"Aku meminta kamu untuk membantuku dan Bintang dan mungkin anak lelaki kita nanti." kata Richard lembut.
"Membantu apa?" tanya Nawang sambil mendongakkan wajahnya, menatap wajah Richard tak mengerti.
"Membantu kami agar kami kelak nggak dipersalahkan karena nggak menjaga kamu dengan baik di dunia ini." jawab Richard sambil tersenyum.
Sampai disini Nawang belum mengerti arah omongan Richard.
"Aku percaya kalian akan menjagaku dengan baik." kata Nawang terharu kemudian memeluk suaminya dengan rasa cinta yang meluap- luap.
"Ya, pasti kami akan menjaga Ibu Ratu ini dengan sepenuh jiwa raga. Tapi untuk satu hal ini kamu sendiri yang bisa melakukannya." kata Richard sambil menatap matanya lembut.
"Melakukan apa?" tanya Nawang dengan penasaran.
Richard tersenyum, lalu merenggangkan pelukan mereka.
Dipegangnya kedua bahu Nawang sambil menatapnya dengan sayang.
"Menjaga apa yang ada di tubuh indah ini dari tatapan orang yang nggak berhak melihatnya. Rambut indah ini, hanya aku dan Bintang yang berhak tahu. Lekuk indah tubuh ini, hanya aku yang berhak melihat, dan mungkin putri kita nanti." kata Richard sambil membelai pipi Nawang lembut.
Nawang terpaku.
Dia mengerti apa yang dimaksud Richard kini.
"Kamu ingin aku menutup aurat?" tanya Nawang ragu.
"Ya. Kalau kamu belum punya keinginan dari dalam hatimu, lakukan itu karena kamu ingin patuh pada suamimu. Kamu keberatan?" tanya Richard lembut.
Nawang menggeleng cepat.
"Aku nggak keberatan. Karena aku sayang kalian. Aku nggak mau merepotkan kalian nantinya, karena aku nggak menutup auratku." kata Nawang sambil tertunduk haru.
Lelaki ini, yang kadang terlihat begitu tengil dan seenaknya sendiri, ternyata sedemikian dalam memikirkan semuanya, dunia akhiratnya.
"Aku sudah berjanji akan memulai semuanya bersamamu dengan baik. Dan aku pikir ini juga baik untuk kita. Aku akan lebih tenang kalau kamu terlindungi dengan baju tertutup saat diluar rumah. Kamu bisa memakai baju yang kamu suka kalau di dalam rumah, baju apa saja, seseksi apapun itu. Aku sudah ngomong sama Prapto untuk nggak masuk rumah kalau nggak ada aku." kata Richard.
"Ya." hanya itu yang mampu Nawang ucapkan.
"Sehari- hari nanti kita dibantu sama mbak Prapti, dia mbakyunya Prapto. Dia dari dulu kuminta bersih- bersih rumah ini." jelas Richard kemudian.
"Ya." jawab Nawang lagi.
"Aku minta sekali lagi ya?" tanya Richard sambil menahan tawa.
"Ya.....Hah?!!!" Nawang menatap protes pada Richard yang kemudian tergelak- gelak.
"Tadi sudah jawab 'ya' lhoh.....nggak boleh ingkar." kata Richard dengan tatapan menggodanya.
"Makan duluuuuu." rengek Nawang kemudian bergegas menjauhi Richard.
"Tapi mau ya nanti?" tanya Richard sambil mengekor langkah Nawang yang menuju meja makan.
"Kita janji sama Bintang lho.....nggak keburu nanti." sergah Nawang yang kini sudah duduk manis kemudian membuka bungkusan ayam bakar dan nasi yang dibeli semalam.
Lalu tanpa ba-bi-bu dia memakannya dengan lahap.
"Nggak mau diangetin dulu itu?" tanya Richard keheranan.
"Nggak perlu. Kalau panas malah kelamaan makannya." jawab Nawang kemudian mengarahkan suapannya ke depan mulut Richard yang malah menatapnya ragu.
"Makan makanan semalam nggak akan bikin perut kamu sakit." katanya masih dengan suapan di depan mulut Richard.
"Perlu dibukain dulu mulutnya?" tanya Nawang gemas karena Richard tak juga mau membuka mulutnya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Masih betah kan disini? 😁
__ADS_1
Happy reading....💖
Ditunggu komennya....😃