PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
96


__ADS_3

"Woaaaaaah.......!!!" Bintang menatap takjub seisi kamar yang baru saja dibuka oleh papanya.


Kata papanya, ini kamarnya dengan Darren.


Nawang tak kalah terkagum- kagumnya dengan isi kamar itu.


Ada satu ranjang big size yang di custom menyerupai mobil balap berwarna merah dan biru.


Ada dua lemari pakaian -yang tentu saja pasti masing- masing untuk dua jagoan kecil mereka- juga dengan gambar mobil balap.


Dinding kamar di tempeli wallpaper yang bergambar sama di dua sisinya, masih dengan gambar mobil balap warna merah di satu sisi dan mobil balap warna biru di sisi satunya.


Sedang dua sisi dinding kamar lainnya di cat dengan warna abu muda dan terdapat rak gantung yang berisi mainan mobil balap berbagai bentuk dan juga karakter beberapa superhero.


"Suka nggak, Mas?" tanya Richard sambil tersenyum.


"Ini kamarku sama Darren, Pa? Beneran?!'9 tanya Bintang belum percaya.


Matanya masih asik menelusuri satu demi satu isi kamar.


"Iya. Kayak yang pernah kita obrolin kan? Suka?" tanya Richard lagi.


Bintang hanya berulangkali menganggukkan kepalanya kemudian memeluk pinggang Richard dengan erat.


"Makasih, Papa." kata Bintang sambil terisak di perut Richard yang tiba- tiba juga langsung baper dengan perlakuan Bintang padanya.


Airmatanya hampir tercipta karena terharu tapi berhasil dia kendalikan dengan bergegas berjongkok dan memeluk bahu kecil Bintang untuk dibawanya ke dalam pelukan hangatnya.


"Kamar ini jadi milik kalian berdua. Nanti kalau kalian sudah mulai besar, sudah SMP bisa dapat satu anak satu kamar. Sekarang begini saja dulu nggak apa- apa ya?" kata Richard lembut saat Bintang sudah mulai menyusut airmatanya.


"Darren juga akan tinggal disini bareng aku, Pa?" tanya Bintang sambil memandang Richard.


"Belum. Darren sesekali aja bobok sini. Hari Sabtu atau Minggu. Nggak papa ya?" kata Richard sambil memandang Bintang berharap Bintang mengerti.


"Iya. Darren masih harus nemenin adik bayinya yang cantik itu ya, Pa?" tanya Bintang sambil membayangkan batita sangat imut dengan wajah yang sangat cantik dan berbibir merah yang sempat dia ajak mainan waktu pernikahan ibunya kemarin.


"Betul!" jawab Richard riang.


Entah dari mana Bintang mendapat pikiran seperti itu.


"Udah yok, gosok gigi, cuci kaki dulu. Udah jam delapan, Bin." suara Nawang melerai obrolan mereka berdua.


Nampak wajah kecewa dari dua pria beda masa itu..


"Udah sana, nanti diomelin." bisik Richard sambil mengerling pada Bintang yang mengangguk sambil terkikik.


"Waaaaaaaah,Bu....kamar mandinya bagus bangetttt. Ada showernya....WC nya tinggi." kata Bintang sambil menunjuk toilet duduk di sudut kamar mandi yang lebarnya separo dari kamar mandi di dalam kamar utama.


Kamar mandi ini jelas beda jauh dari kamar mandi rumah mereka. Yang sama hanya luasnya saja mungkin.


"Alhamdulillah.....kamu senang?" tanya Nawang sambil membelai kepala Bintang.


"Iya. Kita sekarang jadi ikut Pak Richard ya, Bu? Jadi orang kaya kayak Pak Richard?" tanya Bintang sambil mendongak menatapnya.


"Mungkin orang lain akan melihat dan mengatakan kita berdua seperti itu. Kita jadi orang kaya. Tapi kamu harus selalu ingat, Nak. Ini semua bukan punya kita. Kita hanya dipinjami sama Allah. Kita hanya dititipi. Jadi kalau suatu saat kita harus miskin lagi seperti kemarin, kita nggak boleh marah sama Allah, nggak boleh sedih juga." kata Nawang lembut.


"Tapi aku nggak mau hidup susah lagi kayak dulu. Pengen apa- apa harus nunggu Ibu gajian dulu. Itu aja nggak boleh sering- sering mintanya." kata Bintang membuat Nawang gemetar.


Dia khawatir Bintang akan jadi manusia sombong nantinya.


Dan apa yang dia bilang barusan? Nggak mau hidup susah lagi? Astagfirullah.....


Jangan buat Ibu takut, Nak.....

__ADS_1


"Ibu selalu mendoakan anak- anak ibu nggak akan hidup susah. Jadi anak- anak sholeh dan dermawan. Keadaan kita ke depannya insyaaAllah akan lebih baik dari yang dulu, tapi jangan pernah membuat kamu sombong dan lupa diri ya, Nak." kata Nawang kemudian memeluk Bintang dengan sepenuh hati.


"Lupa diri itu apa,Bu?" tanya Bintang dengan lugunya.


"Lupa diri itu sombong karena keadaan sekarang lebih baik dari yang dulu. Lalu memandang rendah pada orang lain yang kehidupannya belum seberuntung kita." jelas Nawang.


Bintang mengangguk mengerti.


"Keadaan kita ke depannya insyaaAllah akan lebih baik dari sebelumnya. Tapi kamu nggak boleh sombong sama siapapun. Harus tetap sopan sama siapapun. Harus tetap jadi Bintang anak ibu yang baik seperti biasanya. Janji?" pinta Nawang sungguh- sungguh.


"Janji!" jawab Bintang mantap.


"Bu, Pak Richard itu kaya banget ya? Uangnya banyak banget?" tanya Bintang penasaran.


"Kenapa emangnya?" tanya Nawang keheranan dengan kekepoan Bintang.


"Tadi pas di mall main di Timezone kan lama banget. Bayarnya pasti pake uang merah- merah. Trus kita tadi makan di ayam goreng yang mahal itu. Trus tadi beli mainanku harganya angkanya 6, kan mahal banget. Biasanya kan kita beli mainan yang harganya angkanya empat atau lima aja." terang Bintang.


Nawang tersenyum getir, mengingat selama ini dia sangat jarang membelikan mainan pada Bintang. Kalaupun bisa membelikan pasti Nawang hanya membelikan yang harganya ribuan atau puluhan ribu.


Puluhan ribu itupun sangat dia batasi jangan sampai melebihi tujuhpuluh ribu dan itu hanya di moment- moment tertentu saja.


Makanya Bintang menyebutnya angkanya empat atau lima, maksudnya adalah empat atau lima digit.


Itu dia ajarkan sejak Bintang bisa mengenal angka tapi belum bisa membacanya.


"Kamu senang?" tanya Nawang lagi.


"Iya!" jawab Bintang dengan wajah gembira.


"Kalau senang kita harus bilang apa?" tanya Nawang sambil mulai mengoleskan odol di sikat gigi Bintang.


"Alhamdulillah...." jawab Bintang sambil menerima uluran sikat gigi dari Ibunya lalu terlihat kebingungan mencari sesuatu.


"Mau kumur- kumur dulu, tapi nggak ada gayung." kata Bintang dengan wajah bingungnya.


Nawang tertawa melihat kepolosan itu.


Dasar OKB, katroknya masih nempel erat....😅😂


"Kumurnya pakai gelas ini. Ambil air dari kran ini. Nanti air kumurannya dimuntahin di wastafel trus disiram air dari kran ini ya...." terang Nawang sambil tersenyum- senyum.


Bintang memperhatikan dengan seksama cara Ibunya memutar kran yang beda dari kran di rumahnya.


Ah, perubahan apapun itu, memang tetap butuh belajar dan adaptasi.


Selesai dengan ritual di kamar mandi, Bintang dan ibunya tak lagi mendapati Richard di kamar itu.


"Sekarang ganti baju dulu." kata Nawang sambil beranjak ke lemari.


Dia belum tahu mana lemari baju yang untuk Bintang.


Maka dibukanya dulu lemari yang warna biru.


Tumpukan baju di atas rak- raknya tidak terlalu tinggi.


Berisi baju yang ukurannya lebih kecil dari baju Bintang. Berarti lemari biru adalah milik Darren.


Lalu dibukanya lemari merah yang dipastikan berisi baju untuk Bintang.


Tumpukan baju di rak- raknya hampir mencapai batas atas tiap rak.


Dan Nawang bisa memastikan semua baju-

__ADS_1


baju ini baru. Tak berbeda dengan isi lemari pakaiannya di kamar utama.


Tanpa sadar Nawang tersenyum bahagia saat menyadari bagaimana Richard memikirkan sampai sedetail ini kebutuhannya dan Bintang.


Barang lawas yang dibawanya hanya ponsel dan apa yang melekat ditubuhnya saat pertama memasuki rumah kolonial ini.


Richard tak mengijinkannya membawa barang- barang lamanya.


"Kita akan memulai kehidupan baru. Sebisa mungkin jangan membawa apapun dari masa lalu, kecuali anak tentunya. Dan yang lainnya, biar jadi kenangan saja." kata Richard pagi tadi, saat Nawang berencana membawa beberapa baju yang dianggapnya masih bagus dari rumahnya.


"Ini lemari baju siapa, Bu?" tanya Bintang takut- takut karena ibunya npak mengambil baju dari lemari itu.


"Lemari baju kamu. Kalau yang biru punya Darren." jawab Nawang sambil merentangkan setelan piyama berwarna merah beraksen kuning.


"Bajunya itu bajunya siapa?" tanya Bintang lagi sambil sejenak melihat baju yang akan dipakaikan ibunya padanya.


"Baju kamu semua. Dibeliin sama Pak Richard." jawab Nawang sambil tetap tersenyum.


"Semua itu, Bu? Selemari itu buat aku semua?!" tanya Bintang dengan nada keheranan dan tak percaya.


"Iya. Buat kamu semua." kata Nawang sambil menowel hidung Bintang.


"Pak Richard baik banget ya,Bu? Bajunya pasti bagus- bagus. Pak Richard kan kalau beliin baju aku bagus- bagus. Bajunya mahal- mahal ya?" tanya Bintang sambil mengikuti Nawang yang sudah beranjak ke tempat tidurnya.


"Udah, sini. Waktunya bobok." kata Nawang sambil menata bantal agar Bintang nyaman merebahkan dirinya.


"Pak Richard sayang sama aku dan Ibu ya? Mau aku peluk- peluk, beliin aku mainan dan baju, suka ngobrol sama aku. Seneng deh punya papa." kata Bintang masih dengan suara yang penuh kegembiraan.


Nawang sejenak tertegun.


Ternyata Bintang sangat ingin dipeluk dan diajak ngobrol sosok seorang bapak.


Ya, dia tahu pasti, Bintang tak mendapatkan dua hal itu dari ayahnya padahal melakukan dua hal itu nggak perlu keluar biaya.


Hanya butuh kerelaan saja.


"Kita harus berterimakasih sama papa. Harus selalu membalas semua kebaikannya. Ya?" pinta Nawang sambil mulai mengelus- elus kepala Bintang, hal yang biasa dilakukannya agar Bintang lekas terlelap.


"Caranya membalas gimana, Bu?" tanya Bintang yang kini malah bangkit beranjak duduk.


"Selalu mendoakan Papa, nurut sama Papa, jadi anak Sholeh. Bisa?" tanya Nawang.


"Iya. Bisa. Aku akan selalu doakan Ibu, Papa, Ayah juga, Simbah, dan Oma Opa. Aku nggak akan nakal dan rajin ngaji." janji Bintang sambil kembali membaringkan tubuhnya menyamping kemudian memeluk pinggang ibunya.


"Dah. Sekarang merem. Ibu juga udah ngantuk." kata Nawang sambil memejamkan matanya.


Sialnya malah terbayang senyum manis dari mas gantengnya.


I miss u, Mas Eric.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Mohon maaf ya, kemarin libur up nya 😅


Biar ada yang rindu, eh ternyata tetap nggak ada 🤣🤣🤣🤣🤣


Ya udah lah, kutebalkan muka up lagi aja walau nggak ada yang rindu juga. 🙈



Selamat bersenang- senang dengan bacaan ringan ini 😃


Happy reading ya....💖

__ADS_1


.


__ADS_2