
Richard yang sudah mantap memasang kuda- kuda sedikit keheranan saat orang itu nampak terkejut saat melihat wajah Richard.
"Maaf." kata orang itu lalu tergesa melesat berbalik meninggalkan Richard yang keheranan.
"Mas, tunggu!" teriak Richard mencoba menghentikan orang itu.
Apa- apaan mau ngerampok nggak jadi malah pamit minta maaf? Aneh.
Lelaki itu nampak sekejap menghentikan langkahnya tapi terus berjalan cepat meneruskan langkahnya dengan setengah berlari masuk ke dalam kampung.
Richard yang penasaran memilih berlari mengejarnya.
"Tunggu, Mas! Saya bukan orang jahat." kata Richard di belakang orang itu.
"Bapak kenapa mengejar Saya? Saya nggak jadi merampok Anda kan?" tanya orang itu masih tetap berjalan cepat di depan Richard.
"Kenapa nggak jadi? Anda kenal Saya?" tanya Richard penasaran.
Orang itu terpaku sesaat.
"Ya. Saya kenal Anda." kata pria itu.
Kini dia telah berhenti dan berdiri di hadapan Richard dengan menundukkan wajahnya.
Richard masih waspada dengan melirik kedua tangan lelaki itu. Siapa tahu masih menggenggam pisaunya tadi.
Tapi kedua telapak tangan pria itu kini terbuka dan lemas.
"Panjenengan siapa, maaf Saya lupa." kata Richard akhirnya.
"Saya memang bukan kenalan Anda, Pak. Tapi Saya mengenal Anda. Anda Pak Richard kan?" kata orang itu pelan.
"Ya, Saya Richard." kata Richard masih bingung.
"Saya minta maaf tadi akan berbuat buruk pada Anda." kata lelaki itu lagi sambil membalikkan badan hendak berlalu.
"Tunggu, Mas. Nggak adil rasanya kalau Anda kenal Saya tapi Saya nggak kenal Anda. Anda siapa? Kenal sama Saya dimana?" cegah Richard lagi.
"Nggak penting Saya kenal Anda dimana. Yang Saya tahu Anda orang baik. Permisi. Selamat malam." pamit orang itu lalu melangkah menjauh.
"Anda butuh uang untuk apa? Saya akan bantu, Mas." seru Richard dan membuat langkah kaki orang itu terhenti.
"Mas bisa cerita ke Saya." kata Richard lagi.
Dilihatnya bahu lelaki itu bergetar- getar. Entah sedang menangis atau tertawa.
"Kita bisa ngobrol di tempat yang lebih enak mungkin?" tawar Richard kemudian.
Lelaki itu tergerak.
Dengan kepala menunduk dan langkah pelan, dia berbalik kembali mendekati Richard.
"Tolong Saya, Pak. Saya butuh uang untuk operasi anak Saya." kata orang itu tiba- tiba berlutut di kaki Richard.
"Astagfirullah, Mas. Jangan begini. Tolong berdiri. Jangan begini." kata Richard sambil menarik naik kedua lengan lelaki itu.
Tepat saat lelaki itu berdiri, ponsel Richard berbunyi.
"Tolong jangan pergi, Saya terima telpon dulu." kata Richard yang disambut anggukan lelaki itu.
Telpon dari Nawang yang sudah menangis diiringi tangis Bintang juga.
Astagfirullah, aku sampai lupa.
"Maaf, Non. Aku ngejar teman lamaku terus ngobrol. Maaf sekali ya bikin kalian panik." kata Richard dengan nada menyesal.
__ADS_1
"........."
"Iya. Aku nggak papa. Aku segera kesitu sama temenku." kata Richard kemudian menutup telponnya.
"Bisa kita bicara dan menyelesaikan masalah Mas di dekat mobil Saya? Istri dan anak Saya khawatir." pinta Richard.
"Ya, Pak." kata lelaki itu sambil kemudian menjajari Richard yang mendahului melangkah.
"Saya Firman, Pak." kata lelaki itu mengenalkan diri.
"O ya, mas Firman. Anda tinggal dimana?" tanya Richard santai.
"Di sekitar sini, Pak. Di kampung sebelah." jawab Firman.
"Kerja dimana?" tanya Richard kemudian.
"Saya sedang menganggur, Pak. Sebelumnya Saya ojol. Tapi seminggu lalu motor Saya hilang. Padahal baru sebulan selesai angsuran. Tiga hari lalu anak sulung Saya masuk rumah sakit dan harus operasi usus buntu." cerita Firman lirih.
Richard mengerti kesedihan lelaki itu.
Pasti sebagai lelaki dan ayah, orang ini sedang merasa sangat kalut dan hancur.
"Nggak punya BPJS?" tanya Richard.
"Nggak punya, Pak. Saya menyesal sekali nggak bisa nyisihin uang untuk membayar BPJS tiap bulannya. Rencananya dulu mau daftar BPJS kalau angsuran motor selesai. Ini baru mau daftar BPJS malah motor ilang, anak masuk rumah sakit." kata Firman sambil terisak.
Richard menarik nafasnya pelan. Ikut prihatin dengan keadaan pria itu.
"Sebentar, Saya ngomong sama istri Saya dulu ya." kata Richard begitu langkah mereka sampai di belakang mobil.
"Iya, Pak. Silakan." kata Firman dengan sopan.
"Boleh Saya minta pisaunya tadi?" tanya Richard sambil mengulurkan tangannya.
Richard menerima pisau itu dengan tersenyum.
"Tunggu ya, jangan pergi." kata Richard.
Richard mengetuk kaca samping mobil dan melihat Nawang kaget melihatnya.
"Maaf ya bikin kalian cemas." kata Richard sambil memeluk Nawang dan Bintang.
"Kamu nggak papa, Mas?" tanya Nawang masih khawatir.
"Nggak papa! Aku keasikan ngobrol tadi. Sekarang tolong ambilin amplop di laci itu ya. Empat. Eh lima. Sama pulpennya." kata Richard.
Nawang menuruti perintah Richard walau dengan keheranan.
Amplop di laci mobil Richard semuanya berisi uang berkisar dua sampai tiga juta per amplop.
Dan ini dia minta lima amplop mau dia kasih ke siapa sih?
Dilihatnya Richard menulis satu nomer ponsel. Itu nomer ponsel Richard yang untuk umum.
"Aku keluar sebentar ya. Temenku nunggu." kata Richard kemudian.
Nawang nampak keberatan membiarkan Richard keluar lagi.
Dia mengerti Nawang sangat khawatir.
"Atau kamu mau ikut turun?" tawar Richard. Nawang menggeleng, menolak.
"Nih pegang. Kamu bisa ngintip. Aku di samping belakang mobil." kata Richard sambil menyerahkan pisau lipat yang dimintanya dari Firman tadi.
Nawang tentu saja kaget melihat benda itu.
__ADS_1
"Buat jaga- jaga." kata Richard sambil terkekeh dan keluar dari mobil.
"Ini rejeki buat anakmu, Mas. Tolong diterima. Di situ ada nomer telpon Saya. Kalau biayanya kurang, jangan sungkan untuk menelpon. Saya akan bantu." kata Richard sambil menyerahkan lima amplop pada Firman yang menerimanya dengan gemetaran.
Tangisnya meledak tak tertahan sambil duduk bersimpuh mendekap amplop- amplop itu di dadanya.
"Saya pamit dulu ya, Mas. Semoga lekas sembuh anaknya.Dan tolong hubungi Saya nanti." pamit Richard tak ingin terbawa suasana melow itu.
"Anak Saya di rawat di Panti Riwi, Pak. Namanya Herlambang Wisnu Adi. Bila Bapak mau ngecek." kata Firman saat Richard mulai melangkah meninggalkannya.
Richard hanya mengacungkan jempolnya.
"Jangan lupa telpon Saya." kata Richard lagi.
"Pasti, Pak. Saya akan kabari Bapak." kata Firman dengan wajah penuh linangan airmata dan senyum penuh kelegaan.
Ya Allah tolong lindungilah dia dan keluarganya dimanapun mereka berada. Selalu ulurkanlah pertolongan- Mu kepadanya seperti dia mudah mengulurkan pertolongannya kepada hamba- Mu yang lain, doa Firman sambil melambaikan tangannya pada mobil Richard yang mulai berjalan menjauh darinya.
Firman bergegas menelpon istrinya yang sedang ada di rumah sakit.
"Lambang bisa segera operasi, Bu. Aku sudah dapat uangnya. Aku segera kesitu." kata Firman dengan bersemangat mengabari istrinya yang hanya mampu menjawab dengan kata 'Alhamdulillah' kemudian menangis haru.
Dia belum bertanya suaminya dapat pinjaman dari mana. Yang penting uang itu ada dulu. Hal lainnya akan mereka pikirkan nanti.
Yang penting saat ini anak mereka bisa diselamatkan. Tak perduli bila harus terjerat hutang nantinya.
"Lambang rewel nggak, Bu?" tanya Firman pada istrinya begitu dia selesai mengurus biaya administrasi untuk anaknya operasi usus buntu.
Tadi pihak administrasi rumah sakit sudah memberitahu kalau operasi akan dilakukan besok siang.
"Nggak. Dia hanya merintih aja." kata Santi, istri Firman.
"Semoga setelah operasi dia nggak kesakitan lagi ya, Bu. Sehat terus." kata Firman sambil menatap iba pada anaknya.
"Aamiin. Kamu dapat pinjaman dari siapa?" tanya Santi lirih pada suaminya.
"Oh ya. Tolong ini kamu simpan. Tadi aku deposit delapan juta di kasir. Katanya itu cukup sampai Lambang keluar rumah sakit. Ini enam juta, tolong kamu simpan baik- baik.Jangan di kurangi selembar pun. Begitu Lambang pulang, kita kembalikan uang itu ke yang punya." kata Firman sambil menyerahkan uang yang telah dia bungkus dengan kertas koran.
Istrinya gemetar menerima uang itu Pikirannya sudah tak karu- karuan.
"Kenapa kamu pinjem banyak sekali, Mas?" kan udah di kasih tahu maksimal biayanya sepuluh juta. Itu pun bisa kurang kalau kita bisa dapat surat keterangan miskin dari desa." kata istrinya kuatir.
"Aku nggak tahu beliau akan ngasih sebanyak ini. Aku dikasih lima amplop tanpa menyebutkan berapa jumlahnya. Nggak papa, besok bisa kita kembalikan ke rumahnya sambil mengucapkan terima kasih karena sudah menolong kita." kata Firman tenang.
"Bunganya berapa persen?" tanya istrinya dengan nada sedih dan takut.
"Aku nggak tanya. Beliau cuma memberikan itu terus pergi. Besok kita tanyakan ya." jawab Firman kemudian. Santi hanya mengangguk pelan.
Satu sisi hatinya lega karena anaknya bisa dioperasi segera.
Tapi disisi lain hatinya sedih tak terperi membayangkan hutang besar yang ada di depan mata. Padahal mereka sedang tidak punya penghasilan karena motor yang selama ini jadi alat untuk mencari nafkah suaminya hilang dicuri.
Ya Allah, tolong kuatkan kami. Ikhlaskan hati kami menjalani episode ini.
Hamba percaya, bersama kesulitan yang Engkau timpakan kepada kami, KAU beri pula jalan keluarnya. Tolong bimbing kami agar segera menemukan jalan keluar itu ya , Rabb.....
🗝️🗝️🗝️ bersambunqg 🗝️🗝️🗝️
Gimana? Sesuai ekspektasi atau jauh dari ekspektasi? 😁
Yang penting nikmati aja lah ya.....😂
Terimakasih sudah bergabung di dunianya Mas Richard 💖💕
__ADS_1