
Richard dan Nawang memutuskan check out dari hotel sebelum ashar, agar bisa segera bertemu Bintang.
Tiga hari tiga malam sudah cukup puas bagi Richard menguasai detik demi detik waktu berduaan dengan istrinya.
Dia sudah sangat puas dimanjakan oleh Nawang.
"Kamu bisa ngelonin Bintang lagi nanti malam." kata Richard sambil tersenyum.
Mereka baru saja melewati gerbang TPR.
"Pasti nanti sampai malam dia ngajak ngobrolnya." kata Nawang sambil tersenyum, mengingat bagaimana kalau Bintang sedang kepo mode on.
"Namanya juga melepas rindu." sahut Richard sambil tertawa.
"Kalau nanti dia minta aku temanin sampai pagi gimana?" tanya Nawang dengan tatapan meledek pada Richard.
"Trus aku bobok sendiri gitu?" tanya Richard cepat dengan wajah jeleknya.
"Ya iyalah." jawab Nawang sambil terkikik.
"Oooh tidak bisa , Esmeralda. Nanti di tengah malam buta, saat Sang Pangeran sudah lelap tertidur, kamu akan aku culik kembali ke kamar pengantin kita." kata Richard dengan nada seperti sedang pentas drama jaman SD dulu.
"Baiklah....baiklah. Aku harus menanggung risiko jadi the most wanted ." kata Nawang sambil tertawa.
"Yeah, you all I need." sahut Richard sambil tersenyum senang.
"Terimakasih ya, Mas." kata Nawang tiba- tiba sambil menyenderkan kepalanya ke lengan kiri Richard.
Richard tersenyum sambil mengelus pipi Nawang singkat.
"Thanks for?"
"Untuk semua yang terjadi dalam hidupku setelah kamu hadir lagi." jawab Nawang.
"Terimakasih juga kamu mau menerimaku yang seperti ini....." jawab Richard sambil kembali tersenyum.
"Tentu saja aku menerimamu. Kamu keren, tajir, baik, dermawan, sayang anak, sayang istri. Tahu nggak, Mas....uang belanjaku yang limapuluh jeti itu kalau sampai bocor ke satu orang emak- emak aja, pasti jadi nilai plus lagi tuh buat kamu." sahut Nawang cepat.
Richard terkekeh geli.
"Kenapa gitu? Wajar kan suami ngasih uang belanja ke istrinya? Soal besar kecilnya kan ya tergantung kemampuan maksimal si suami. Ngapain pada ngurusin uang belanja temennya? Pada suka bikin kuburannya sendiri emang emak- emak tuh." kata Richard sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
"Menggali kuburannya sendiri gimana maksudmu?"
"Ya kan kalau ntar tahu uang belanja temennya lebih banyak dari dia, ntar dia iri, trus ngebandingin suaminya, trus nuntut suaminya, eh suaminya nggak bisa menuhin, jadi deh dia migrain, darah tinggi, stroke, wassalamu'alaikum deh....." papar Richard yang disambut cibiran Nawang.
"Ya nggak semua gitu juga." sahut Nawang.
Ah tiba- tiba dia ingat kesulitan ekonominya yang lalu.
Dulu dia hanya selalu berharap uang gaji suaminya yang masuk padanya ditambah lagi, nggak cuma separonya.
Dia kadang berpikir betapa senangnya hati para perempuan yang serba kecukupan memenuhi kebutuhan sehari- hari mereka tanpa perlu berpikir untuk mengulur- ulur uang yang sudah cepak agar cukup sampai gajian bulan depan.
Sungguh masa- masa penempaan kesabaran dan ketabahan yang tak mudah dilalui.
Tapi Alhamdulillah semua kesulitan itu sudah selesai.
Sejak menjadi kekasihnya, Richard sudah memberinya uang walau dalam jumlah yang tak besar.
Dia pernah menolak pemberian itu. Namun Richard terus mendesaknya dengan alasan agar Nawang bisa membelikan jajan yang Bintang mau tanpa harus menunggu dia gajian dulu.
"Aku kekasihmu. Dan aku sangat mampu sekedar memberimu hadiah. Tolong terimalah sebagai ungkapan perhatianku pada kalian berdua." begitu kata Richard waktu itu.
Jadilah tiap pertengahan bulan Nawang menerima transferan dua kali lipat gajinya dari Richard sebagai hadiah tanda perhatian.
"Kok jadi ngelamun?" belaian jemari Richard dipipinya membuat Nawang tersadar dari lamunannya.
"Aku haus, Mas." kata Nawang setelah mencari- cari botol air mineral tapi tak menemukan juga.
"Aku juga haus. Ini dari tadi lagi nyari warung kok nggak nemu- nemu. Sabar sebentar ya." kata Richard.
"OK, Pak Boss!" jawab Nawang.
Richard hanya melirik gemas mendengar sebutan itu.
Dasar ibunya Bintang.
__ADS_1
Richard menepikan mobilnya saat dilihatnya ada warung di seberang jalan.
Dia sudah kehausan. Lagipula Nawang juga mengeluh haus tadi.
"Sebentar ya, aku nyari minum dulu di warung itu. Kamu mau nyari jajan nggak?" tanya Richard sebelum keluar mobil.
"Nggak. Beli minumnya yang kecil aja, Mas." saran Nawang.
Richard mengangguk sebelum turun dan menyeberang jalan yang tidak ramai itu.
Nawang menunduk memainkan ponselnya dengan niat akan memposting satu photonya bersama Richard di status WA nya.
Baru saja dia memencet tombol hijau untuk memposting, dia dibuat kaget saat ada suara berdecit seperti mobil yang merem mendadak, disusul suara. jeritan seorang wanita dari seberang jalan.
Nawang menatap nanar sesosok tubuh berkaos merah hati yang sangat dikenalnya terpental tak jauh di depan mobil.
"Mas Eriiiiiiic!!!!!" teriaknya tak terkendali sambil bergegas turun dari mobil dan menghambur ke arah suaminya yang meringkuk tak bergerak.
Ada seorang batita menangis di dekapan Richard, mungkin anak dari ibu yang menjerit tadi.
Anak kecil itu menangis sangat kencang sebelum diambil oleh ibunya dari dekapan Richard yang kini terbaring lunglai.
"Mas! Mas Eric!" panggil Nawang panik sambil berusaha memangku kepala Richard.
Orang- orang di sekitar sudah ramai hendak membantu menolong Richard.
"Itu mobilnya, Mbak?" tanya seorang anak muda pada Nawang sambil menuding mobilnya.
Nawang mengangguk.
"Biar kami bantu bawa masnya ke rumah sakit, Mbak." kata pemuda itu kemudian bicara pada beberapa pria yang sudah ada di sekeliling mereka berdua.
Beruntung nalar Nawang segera bekerja.
Dia memeriksa dulu kondisi Richard, mencari area mana yang berdarah.
Area siku ke atas nampak mengeluarkan darah, juga kaki dan sebagian wajah Richard.
"Tolong yang menggotong suami saya yang nggak punya luka ya....maaf, suami saya punya penyakit." pinta Nawang.
"Ya, Mbak. Kami berdua sehat nggak ada luka." sahut dua pemuda yang berada di belakangnya cepat.
Jadilah Richard di gotong masuk mobilnya oleh tiga pemuda setelah Nawang masuk lebih dulu agar bisa memangku kepala Richard.
Satu pemuda menyetir mobil menuju rumah sakit -yang untungnya jaraknya nggak terlalu jauh- dan satu pemuda juga ikut menemani mereka.
Nawang tak berhenti menangis walau tak terisak- isak.
Richard tak bergerak sama sekali dari tadi.
Darah karena luka di lengannya terus keluar walau tak deras.
Pikiran Nawang tak karu- karuan saat ini.
Jangan- jangan Richard gegar otak.....
Jangan- jangan tulangnya ada yang patah....
Jangan- jangan.....
"Non...." Nawang menghentikan isakannya saat di dengarnya suara sangat lirih dari Richard.
Ada kelegaan di hatinya mendapati Richard dalam posisi sadar.
"Mas, sabar ya, sebentar lagi kita sampai rumah sakit."
"Pusing." keluh Richard sangat lirih.
"Ya. Nanti segera diobati, Sayang. Mana lagi yang sakit?" tanya Nawang menegar- negarkan suaranya.
"Ta- ngan, da-da..." jawab Richard sangat lemah.
"Kita sudah sampai, Mas." bisik Nawang saat menatap keluar mobil yang ternyata berhenti di depan IGD.
Pemuda yang duduk di sebelah sopir bergegas turun kemudian masuk ke bagian IGD.
Tak lama nampak pemuda itu keluar bersama tiga perawat pria yang mendekat ke mobil dengan membawa brankar.
__ADS_1
Mata Nawang segera tertuju pada tangan ketiga perawat itu.
Untunglah mereka sudah memakai sarung tangan medis.
"Mas, suami saya ODHA." kata Nawang yang hanya cukup jelas di dengar oleh ketiga perawat itu.
Nawang memang harus mengatakan kenyataan itu agar Richard mendapatkan perawatan yang seharusnya.
"Baik, Bu. Terimakasih informasinya." jawab seorang perawat kemudian bersama kedua rekannya dengan sangat hati- hati memindah tubuh Richard ke atas brankar.
Nawang tak memperdulikan apapun selain terus mengikuti kemana brankar itu di dorong.
Satu perawat tadi begitu selesai membantu menurunkan Richard kemudian nampak bergegas menghampiri kemudian berbincang dengan beberapa dokter yang ada di lobby ruang IGD.
Tak ada paramedis yang melarang Nawang mengikuti proses penanganan luka Richard.
Dia ikut meringis ngilu saat dilihatnya seorang perawat membersihkan luka di lengan, kaki dan wajah Richard.
Suaminya kadang mengerang kesakitan saat lukanya di sentuh.
Nawang hanya mampu menggenggam erat jemari suaminya dan sesekali menyeka keringat yang muncul di dahi Richard, mungkin keringat karena menahan rasa sakit.
"Bu, bisa kita bicara sebentar?" seorang dokter setengah baya bicara sopan di depan Nawang.
Nawang bergegas mengangguk kemudian pamit pada Richard sebelum mengikuti langkah dokter itu ke satu meja di sudut ruang IGD.
"Bagaimana kondisi suami Saya, Dokter?" tanya Nawang tenang walau dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kecemasan.
"Melihat gejalanya sepertinya ada tulang yang retak atau patah. Nanti kita akan melakukan rontgen dan CT scan untuk melihat kondisi kepala Bapak. Dan berhubung ini rumah sakit kecil, mengingat kondisi special Bapak, kami menyarankan untuk membawa ke rumah sakit yang lebih besar saja, Bu. Kami berpikir Bapak harus mendapat perlakuan khusus atau ruangan khusus agar kondisi imunitasnya tetap dalam keadaan prima." kata dokter itu tenang.
Nawang mengangguk mengerti.
"Apakah bisa segera dipindahkan?" tanya Nawang kemudian.
"Setelah kita bereskan luka luarnya, kalau Ibu mau segera memindahkan bisa saja, Bu. Nanti kami hubungkan dengan rumah sakit yang Ibu mau agar begitu sampai disana Bapak bisa langsung di tangani." jawab dokter itu lagi.
"Ya. Mohon bantuannya ya, Dok. Pastikan dulu kondisi suami saya akan aman di perjalanan menuju rumah sakit rujukan." pinta Nawang.
"Pasti,Bu. Akan kami pastikan kondisi Bapak memungkinkan di oper ke rumah sakit lain. Nanti di ambulance akan ada satu paramedis yang menemani Ibu untuk menjaga agar kondisi tetap baik- baik saja." sahut dokter tersebut meyakinkan.
"Silakan kalau Ibu mau mendiskusikan dulu dengan keluarga akan di pindah kemana ya. Segera kabari kami agar bis cepat kami proses dan Bapak segera mendapat penanganan." kata dokter itu lagi.
Nawang bergegas mendekati ranjang Richard lagi setelah mengucapkan terimakasih pada dokter itu.
Dilihatnya Richard tersenyum menyambutnya.
Ah lelaki ini, sedang dalam kondisi seperti ini saja masih berusaha memberinya senyuman.
"Aku baik- baik saja kan?" tanya Richard lirih sambil meringis- ringis kecil.
"Mana ada baik- baik saja kalau ngomong aja pelan banget sambil meringis gitu." jawab Nawang dengan wajah cemberut namun matanya sudah berkaca- kaca.
"Dokter menyarankan kita pindah rumah sakit yang lebih bisa mengakomodir kondisi istimewa kamu. Kita di beri tiga pilihan rumah sakit. International Hospital, Healing Hospital, dan Blessing Hospital. Kamu mau pindah kemana?" tanya Nawang.
Terus terang saja Nawang nggak pernah tahu kelebihan dan kekurangan tiga rumah sakit yang sepengetahuannya termasuk rumah sakit swasta kelas atas itu.
Dan untuk urusan kelas atas, jelas Richard yang menguasai.
"Blessing aja. Ada dokterku disana. Aku harus diapain sih?" tanya Richard pelan.
"Indikasinya kamu patah tulang, harus rontgen dulu dan CT scan untuk memastikan kepalamu baik- baik saja." jawab Nawang tenang.
Sungguh, wajah tenang Richard membuatnya ikut merasa tenang.
"Kepalaku baik- baik saja. Aku masih ingat semuanya." kata Richard .
"Tadi kamu ngeluh pusing kan?" tanya Nawang khawatir.
"Sekarang udah nggak lagi." jawab Richard berkeras.
"Aku ke dokter dulu. Kita harus segera pindah ke Blessing biar kamu cepat ditangani." pamit Nawang memungkas perdebatan yang mulai menguncup soal CT scan.
Richard menatap punggung Nawang yang berjalan menuju pojok ruangan IGD.
Surprise honeymoon yang menyebalkan hah.
Agak lama Richard menunggu Nawang menghampirinya lagi.
__ADS_1
Membuat dia menunjukkan wajah murung saat senyum Nawang terarah padanya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️