PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
117


__ADS_3

"Waaaah, dapat kunjungan dari pengantin baru niiih." seru Sasi saat melihat ke pintu dan mendapati Richard yang diikuti Nawang di belakangnya.


Nayla yang kebetulan juga sedang di kantor depan langsung menyerbu ke arah Nawang setelah terpaku sesaat melihat penampilan baru Nawang.


"Mbak Nawang, huhuhu.....aku kangeeeen. Cantiknyaaaa. Aku sampai pangling tadi." kata Nayla langsung menguasai Nawang yang tertawa- tawa di dalam pelukannya.


"Oleh- olehnya masih tetap menu rakyat jelata gaesss." kata Banu sambil tertawa senang begitu membuka bawaan Nawang yang disambut cengiran Nawang.


Richard agak nggak enak hati mendengarnya.


"Jangan diambil hati, Pak Richard. Becandaan orang pabrik kadang kelewatan." kata Banu kemudian. Khawatir Richard tersinggung, padahal sesungguhnya dia hanya bercanda.


Richard tersenyum senang.


"Biar irit, Mas Banu." timpal Richard.


"Yang beli kan aku, rakyat jelata. Kalau yang beli si boss, beda lagi jajanannya." balas Nawang sambil mengerling.


"Si Boss nggak kenal jajanan kayak gini ya?" kata Sasi sambil mulai membuka plastik batagor.


Richard hanya terkekeh.


Nggak gitu juga sih.


"Pak Sapto ada?" tanya Richard bertanya pada Banu.


"Ada, Pak. Di ruangannya. Monggo." kata Banu mengurungkan niatnya duduk untuk mengantarkan Richard ke ruangan Pak Sapto.


"Saya kesana sendiri aja nggak papa. Silakan saling melepas rindu." kata Richard sambil tersenyum.


"Siap, Boss. Terimakasih." jawab Banu senang.


"O ya, nanti ajak teman- teman makan siang ke tempat biasa ya. Mumpung Nawang ikut." kata Richard sebelum meninggalkan acara reuni itu.


"Sangat siap grak, Boss!" sahut Banu bersemangat.


"Sekarang manggilnya Nawang aja? Udah nggak Bu Nawang atau Mbak Nawang?" ledek Banu pada Nawang yang hanya menjawab dengan tertawa malu.


"Si, reservasi tempat dan order makanan sekalian aja sekarang, biar nanti nggak nunggu lama kita." kata Nawang pada Sasi.


"Gercep kali, Bu Boss ini koordinasinya." puji Banu pada Nawang.


Richard hanya tertawa mendengarnya sebelum bergerak ke kantornya Pak Sapto.


Tidak sampai setengah jam, Richard sudah kembali dari ruangan Pak Sapto dan kembali ke tempat Nawang tadi ditinggalkannya namun tak menemukan istrinya itu disana.


"Aku tinggal ya, Ric." pamit Pak Sapto yang tadi menyusul Richard keluar dari ruangannya.


Dia ada janji dengan rekannya untuk bertemu membahas bisnis baru, makanya tak bisa berlama- lama menemui Richard.


"Yoi." jawab Richard santai.


"Ngobrol sama anak- anak dulu." sambung Richard mempersilakan Richard yang disambut acungan jempol oleh Richard.


"Nawang lagi ke logistik, Pak. Napak tilas sama Nayla.." ucap Banu yang melihat Richard celingukan.


"Oh, kirain ilang." seloroh Richard yang membuat Banu tertawa kaget.


"Numpang nunggu di lobby ya, Mas." pinta Richard.


"Monggo, Pak. Mau ngobrol disini juga boleh. Saya lagi nggak ada kerjaan kok." kata Banu menawarkan diri.


"Kebetulan kalau gitu. Kita ngobrol di lobby aja yuk. Nggak enak sama yang masih pada kerja." ajak Richard yang kemudian diikuti Banu untuk ngobrol seputar furniture sambil menunggu jam istirahat.


*******

__ADS_1


Nawang duduk di depan Nayla yang kini menempati posisinya dulu.


Ada satu cewek yang mengganti posisi Nayla.


Cewek manis yang nampak tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Nawang.


Dia hanya tersenyum ramah saat di kenalkan oleh Nayla sebagai senior mereka di logistik.


Setelah itu dia asik dengan pekerjaannya dan tak pernah ikut bersuara selama Nawang dan Nayla ngobrol walau Nawang tahu cewek itu tetap menyimak pembicaraan mereka berdua.


Nawang bergegas berdiri saat dilihatnya seseorang dari balik jendela kaca ruangan logistik.


Dipanggilnya orang itu.


"Walaaaah, Mbak Nawang to? Pangling aku, Mbak.Tambah ayu, Bu Boss." kata Arum, perempuan itu sambil menatap Nawang dengan wajah gembira.


"Piye kabare, Bu? ( Gimana kabarnya, Bu?) Simbah, anak- anak sehat?" tanya Nawang sambil mengajak Arum ke sudut yang agak terlindung dari pandangan orang lain.


"Alhamdulillah sehat, Mbak. Waaaah jaaaan, kudungan tambah ayu tenan je, Mbak, njenengan.(Waaaah, berjilbab tambah cantik beneran kamu, Mbak.)." kata Arum sambil menatap kagum pada tampilan Nawang yang memang semakin terlihat ayu dengan gamis motif batik berwarna biru muda.


"Le bakulan tambah laris to? (Jualannya tambah laris kan?)" tanya Nawang lagi.


"Alhamdulillah, Mbak. Lumayan iso dinggo tambal butuh ngomah ( lumayan bisa buat nambal kebutuhan di rumah)". jawab Arum dengan wajah yang mulai agak serius.


"Iki aku njaluk ngapuro Yo, Mbak Ora maksud piye- piye. Mumpung ketemu, aku mumpung ono, titip sithik dinggo simbah kro bocah- bocah.( ini aku minta maaf ya, Mbak, Bukan maksud gimana- gimana, mumpung ketemu, mumpung aku ada/ punya, titip sedikit untuk simbah dan anak- anak.)" kata Nawang sambil menjejalkan lima lembar uang berwarna biru dari saku gamisnya pada genggaman tangan Arum.


"Ya Allah, Mbak.....njenengan ki malah repot- repot gini." Kata Arum dengan mata berkaca- kaca.


Dari dulu dia tahu, Nawang sangat baik walau kelihatan jutek dan dingin. Bukan sekali dua kali Nawang memberinya uang walau hanya dalam jumlah kecil dengan alasan titip untuk jajan anaknya atau untuk membelikan bubur orang tuanya yang sudah renta.


Terus terang saja, pemberian Nawang sangat berarti untuknya yang menjadi tulang punggung dan menggantungkan hidup hanya dari penghasilannya sendiri untuk menghidupi dua anak dan dua orangtuanya.


"Dah sana kalau mau ke kamar mandi." usir Nawang sambil mendorong lembut lengan Arum sebelum mereka berdua malah melow .


"Makasih banyak ya, Mbak. Berkah untuk semuanya." kata Arum sambil memasukkan uang ke sakunya dan bergegas meninggalkan Nawang dengan tetesan airmata haru.


Jumlah yang besar untuk sebuah pemberian menurutnya.


Ya Allah, selalu bahagiakanlah hidupnya. Doa Arum dalam hatinya dengan rasa haru.


Nawang bergegas masuk kembali ke dalam logistik untuk pamit pada Nayla untuk kembali menemui Richard.


"Udah napak tilas ya?" sambut Banu begitu Nawang menutup pintu kaca bening yang memisahkan area produksi dan area kantor staff.


Dibalasnya senyuman dan tatapan lembut Richard padanya.


."Berasa kayak pejuang." kata Nawang sambil tertawa kecil menghampiri tempat duduk suaminya kemudian ikut bergabung ngobrol dengan Banu.


"Udah pada dikasih tahu kita makan siang bareng?" tanya Richard pada Nawang.


"Sasi yang muter tadi. Aku mah cuma di logistik." jawab Nawang.


"Kenapa nggak ikut muter Sasi?" tanya Banu.


"Lhah siapa saya muterin pabrik? Karyawan bukan, Boss bukan." sergah Nawang.


Banu terkikik membenarkan sambil mengangguk- angguk.


"Ya kali aja mau jumpa fans." celetuk Sasi yang tiba- tiba sudah ada di belakang Nawang.


"Waaaah, punya fans juga?" tanya Richard kaget.


"Buanyaaak, Pak. Tapi nggak ada yang berani nunjukin. Keterlaluan sih sangarnya." sahut Banu sambil nyengir.


Richard tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Apalagi kalau mereka ngeliat tampilan Mbak Nawang sekarang ini, beuuuuhhh.....bisa- bisa mereka rela nggak maksi saking bahagia dan terpesonanya." sambung Sasi sambil menowel dagu Nawang.


"Lambemu, Siiii! ( bibirmu, Siiii)", kata Nawang sambil tertawa malu.


"Istriku tambah cantik ya, Si?" tanya Richard sambil tersenyum bangga.


"Tambah banget, Boss! Skin care nya ganti apa,Mbak sekarang?" tanya Sasi meledek.


"Ganti yang mengandung emas 24 karat, biar kinclonggggg. Biar keliatan sampai alam lain." jawab Nawang ngasal.


"Wuaaaaah, ngeriiiii." kata Sasi sambil tertawa geli.


"Waaah, manten baru sampai sini juga akhirnya." suara Pak Deni muncul dari pintu luar kantor.


Pria itu bergegas menghampiri Richard dan menjabat tangannya.


"Sehat, Bu?" sapa Pak Deni pada Nawang kemudian untuk menyapa Nawang.


Dia sudah segan duluan dengan tampilan Nawang.


"Alhamdulillah, Pak. Pangestune.( restu/ doanya)." jawab Nawang sambil tersenyum.


"Agus mana nih? Kurang Agus aja yang belum ngumpul." tanya Banu.


"Emang mau ngapain nih?" tanya Pak Deni penasaran.


"Mau syukuran ada manten baru kesini." jawab Banu sambil tertawa.


"Maksi gratis, Pak. Ikut nggak? Di ajak lho ini semuanya." kata Sasi.


"Wooooo lha yo pasti ikut lah!" jawab Pak Deni dengan semangat empat lima.


"Agus dipanggil dulu, Si. Suruh kesini buruan." perintah Banu pada Sasi.


Sasi kemudian memanggil Agus dengan ponselnya.


Anak- anak lain sudah merapat keluar dari kubiknya masing- masing.


"Pak Agus mau nyusul pakai motor katanya. Udah terlanjur wudhu, mau sholat dulu." kabar Sasi.


"Ya udah, kita let's go sekarang aja yuk


Udah bel kok." ajak Banu antusias.


"Duuuh, yang mau dapat gratisan, semangatnya luar biasa." ledek Sasi sambil menjajari langkah Nawang yang tertawa- tawa.


Siang yang menyenangkan bagi mereka semua.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Aku pas ngeliat si mas ini kok jadi keingat Mas Richard ya....🙈



Ayo silakan protes 😀😀😀😀😀


Dan berhubung pada protes karena kemudaan, maka aku ganti sama bapak panas satu ini aja deh...



Trus ini nanti kalo Darren agak gede.



Yuuuuk komen yuuuuk.....

__ADS_1


Jangan lupa mawar sekebonnya 😁 Atau kopi seteko juga nggak nolak 🙈


Happy reading ya.....💖


__ADS_2