
Dengan penasaran Nawang mulai mengetikkan LAMIVUDINE MYLAN OBAT APA? di kolom pencarian google.
Dan dalam hitungan detik pertanyaannya langsung mendapat jawaban yang lumayan panjang.
Dan jantungnya terasa mau copot begitu membaca baris pertama.
Lamivudine mylan adalah obat untuk menangani Hepatitis B atau infeksi HIV . Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan hanya dapat digunakan sesuai resep dokter.
Dadanya tiba- tiba merasa dihuni oleh puluhan, bukan, ratusan, atau bahkan ribuan helikopter yang sedang menghidupkan baling- balingnya; sangat bergemuruh.
Kembali dia menulis di kolom pencarian google dengan gemetar.
EFAVIRENZ OBAT APA?
Dan seperti sebelumnya, jawaban segera didapatnya hanya dalam hitungan detik.
Dengan dada yang gemuruhnya semakin menjadi- jadi, dia kuat- kuatkan membaca hasil pencarian google.
Efavirenz adalah obat antiretroviral yang digunakan untuk mengobati dan mencegah HIV/ AIDS, digunakan bersamaan dengan ARV lainnya.
Lamivudine bisa jadi obat Hepatitis B, bisa juga jadi obat HIV.
Tapi efavirenz hanya digunakan untuk obat AIDS....
Airmata Nawang sudah mulai menetes.
Dengan tak sabar, walau dengan jemari yang sudah gemetar hebat - hingga harus berkali- kali salah menekan huruf- dia kembali mengetik di kolom pencarian google.
TENOFOVIR OBAT APA?
Dan airmatanya sudah sangat menganggu saat dia belum menyelesaikan membaca hasil dari pencariannya di google.
TENOFOVIR adalah sediaan obat generik yang digunakan untuk mengatasi Hepatitis B kronis dan infeksi HIV.
Dan tangisnya meledak saat itu juga tanpa sanggup dia kendalikan lagi.
Hatinya remuk.
Seluruh persendiannya terasa lepas membuatnya tak berdaya.
Dia ketikkan lagi dan lagi TENOFOVIR, EFAVIRENZ, LAMIVUDINE di kolom pencarian google hanya untuk berharap mendapatkan jawaban lain.
Tapi nihil.
Hasil yang muncul hanya berputar di jawaban itu- itu saja.
Dua obat itu untuk HIV atau HEPATITIS B dan satu obat hanya untuk HIV.
Dan Richard menyimpan ketiganya di laci tv stand di kamarnya.
Bahkan Nawang ingat pernah menemukan efavirenz di dashboard mobil Richard dan Richard tak mau menjawab saat dia bertanya itu obat apa.
Ya Tuhan......darimana dia mendapatkan penyakit itu?
Sejak kapan?
Itukah alasannya bercerai dari mamanya Darren?
Itukah alasannya kenapa Richard bilang tak ingin aku berharap padanya?
Dia khawatir aku tak menerima kondisinya?
Ah Richard..... sampai kapan kamu mau seperti ini?
Nawang mendongakkan wajahnya kemudian menghapus bersih semua sisa airmatanya.
Bukan seperti ini caranya menerima.
Bukan dengan airmata apalagi tatapan kasihan.
__ADS_1
Bukan ini yang dibutuhkan Richard.
Setelah sekuat tenaga menenangkan hatinya dengan cara berulangkali menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan, lalu mengerjap- ngerjapkan matanya, kemudian mengukir senyum di wajahnya, Nawang kembali berselancar di dunia maya untuk mencari tahu segala hal tentang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).
Tentang bagaimana dia harus berinteraksi dengan mereka, bagaimana kehidupan ODHA, bagaimana yang dirasakan saat minum obat, apa efek samping obat.
Apa saja.
Semua yang bisa dia temukan dia baca.
Semaksimal mungkin dia mengerti sebelum nanti dia menanyakan tentang kebenaran dugaannya tentang Richard.
Ya, dia harus menanyakan hal ini.
Bukan untuk apa- apa.
Dia hanya tak ingin Richard merasa berbeda.
Dia hanya ingin Richard tahu bahwa dia sangat bisa menerima keadaannya.
Dan AIDS bukanlah apa- apa dibandingkan semua harapan dan mimpi Richard.
Yang mungkin saja ada dia di dalam salah satu mimpinya.
Nawang tak ingin Richard akhirnya melepaskannya lagi.
Tak ingin lagi.
Dan tanpa sadar jemarinya telah mencari nama TUAN di daftar kontak ponselnya lalu melakukan panggilan yang tak perlu menunggu dering kedua langsung tersambung.
"Ya, Non. Tumben jam segini nelpon. Nggak malu lagi sama Nayla? " sapa Sang TUAN dengan suara yang sangat gembira.
"Mas, aku pengen ketemu kamu." kata Nawang tanpa menanggapi selorohan Richard.
Richard yang sedang tertawa senang tentu saja menghentikan keriaan yang dirasanya demi mendengar suara bergetar Nawang.
"Non, kamu kenapa?" tanya Richard khawatir.
"Ya....ya....kita ketemu. Kapan?" tanya Richard serius.
"Istirahat nanti bisa? Kalau bisa aku mau minta ijin pulang sekarang." kata Nawang.
Richard melihat arlojinya. Setengah dua belas.
"Oke. Aku bisa. Aku jemput kamu ya?" tawar Richard.
"Nggak usah. Kita janjian ketemu aja, biar kamu nggak perlu wira- wiri." jawab Nawang.
"Ya udah. Kita ketemu di Bebakaran gimana?" tawar Richard menyebutkan sebuah tempat makan yang berada ditengah dari jaraknya dan jarak Nawang. Sekaligus searah dengan arah pulang Nawang nanti.
"Ya. Kita ketemu disana. Aku jalan pas istirahat ya." kata Nawang agar Richard juga bisa mengatur waktunya jalan ke Bebakaran dari lokasinya saat ini. Agar tak terlalu lama menunggunya.
"Oke." jawab Richard.
"Tapi kamu beneran nggak papa kan,Non?" tanya Richard lagi, masih kental dengan nada khawatir sebelum Nawang hendak menutup telponnya.
"Aku nggak papa.Beneran!" kata Nawang meyakinkan.
Dia yakin Richard keheranan dengan keinginannya bertemu ini, karena tiba- tiba mengajak ketemuan itu sama sekali bukan style nya.
"Ya udah. See you. Take care." pungkas Richard.
Nawang bergegas ke ruangan HRD untuk meminta ijin pulang.
"Kamu kenapa mbak?" tanya Sasi yang bertemu di depan pintu kantor dan melihat wajah Nawang terlihat sangat kusut.
"Sakit kepala. Aku mau ijin pulang." kata Nawang sambil tetap melangkah menuju ruangan HRD.
Ijin tentu saja segera di dapatkan oleh Nawang karena wajah kusut Nawang.
__ADS_1
"Makasih ya." kata Nawang begitu menerima surat ijin keluar yang sudah ditandatangani HRD.
"Iya. Hati- hati nanti jalan pulangnya, mbak." pesannya.
Nawang hanya mengacungkan satu jempolnya sebelum menutup pintu ruangan HRD.
*********
Richard kembali memeriksa semua dokumen di dalam tas kerjanya sebelum meninggalkan meja kantornya.
Rencananya akan dia kerjakan nanti saja di rumah, setelah bertemu dengan Nawang.
Beruntung janji meeting yang kemarin dijadwalkan pas makan siang hari ini sudah dimajukan jam sembilan tadi atas permintaan klien.
Saat Nawang menelpon tadi, dia baru saja menyelesaikan sebagian tumpukan dokumen yang harus diperiksanya.
Jam dua belas kurang lima menit Richard meninggalkan kantornya.
"Buru- buru amat kayaknya, Boss." sapa Hans yang bertemu dengannya di parkiran.
Dia baru saja melepas helmnya saat melihat Richard keluar dengan tergesa.
"Ada calling an special." jawab Richard sambil terkekeh dan mengerling.
"Ibu negara?" tanya Hans surprised..
Richard hanya mengangguk sambil kembali terkekeh senang.
"Kencan maksi nih?" tanya Hans kepo mode on.
"Nggak!" jawab Richard yakin.
"Trus?" tanya Hans makin kepo.
"Kepo! Udah sana masuk! Mau tahu urusan orang tua aja kerjaannya, heran!" omel Richard kemudian bergegas masuk ke mobilnya.
Hans tergelak.
Kalau bukan mau maksi trus mau ngapain mereka? Urusan orang tua apalagi?
Hans tiba- tiba tertawa sendiri saat terlintas pikiran nakal di otaknya.
Apa iya Pak Richard senakal itu sama Bu Nawang?
"Wah pelanggaran berat nih.....nggak bisa dibiarin nih." gumam Hans sambil geleng- geleng.
Dan seperti biasa, urusan Richard- Nawang akan jadi urusan Hans- Sasi juga.
Cowok itu bergegas menelpon Sasi.
"Mbak Nawang ijin kerja?" tanya Hans tanpa basa- basi.
"Iya. Ijin pulang setengah hari.Katanya kepalanya sakit. Kenapa?" tanya Sasi.
"Barusan Pak Richard keluar. Katanya mau ketemu mbak Nawang." kata Hans.
"Mungkin mau nganter periksa mbak Nawang. Aku lihat tadi sih wajahnya kusut dan lemes gitu. Malah kayak habis nangis juga sih." kata Sasi.
"Ya udah. Semoga mbak Nawang nggak papa." kata Hans yang diamini Sasi.
******
Richard mengernyit saat dilihatnya nama My. Mrs d ipanggilan telpon.
"Ya,Non?" sapanya.
"Kita ketemu di apartemen kamu aja bisa?" tanya Nawang membuat Richard terpaku.
"Hallo...Mas....Mas...."
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️