
"Tuh, telat sepuluh menit jadwalmu minum obat." kata Nawang galak sambil menunjuk jam dinding begitu keduanya beriringan keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah.
"Nggak papa. Batas toleransi minum @ARV kan satu jam dari jadwal. Boleh maju, boleh mundur dari jam rutinnya." sahut Richard santai sambil tersenyum menatap Nawang yang masih menunjukkan muka bersungut- sungut.
"Aku nggak mau ya ini jadi kebiasaan." kata Nawang dengan tatapan mengancam.
"Ini yang mana nih maksudnya? Mundur minum obat atau nyusulin ke kamar mandi?" tanya Richard dengan wajah bertanya- tanya padahal hatinya terkekeh.
"Nggak tertib jam minum obatnya." jawab Nawang sambil meraih hair dryer.
"Iya. Baru kali ini kok nggak tertibnya." kata Richard sambil tersenyum- senyum.
"Kenapa senyum- senyum gitu?" tanya Nawang sambil menatap Richard curiga.
"Brarti kalau yang nyusulin ke kamar mandi, jadi in kebiasaan boleh?" tanya Richard sambil tersenyum jail menuju pintu kamar.
Dia harus mencari air minum untuk bisa menelan obatnya.
"Nggak!" sahut Nawang cepat namun dengan wajah yang tersipu.
"Nggak nolak?" ledek Richard sambil tertawa.
"Gitu deeeh." jawab Nawang sambil tertawa malu.
Richard terbahak- bahak dibuatnya.
"Buruan ambil minumnya, Mas." kata Nawang sebelum Richard kembali membuka mulutnya lagi.
Cowok ini nggak tahu apa kalau istrinya ini sedang menahan malu? Nggak peka banget jadi orang.
"Iya." jawab Richard sambil bergegas keluar kamar mengambil satu jug air putih dan menyambar dua buah pisang dan satu buah peer dari atas meja makan.
Disempatkannya menengok lagi ke kamar Bintang kalau- kalau anak itu panas lagi.
Tapi Alhamdulillah Bintang baik- baik saja.
Nawang sudah membaringkan tubuhnya lagi di ranjang saat Richard masuk ke kamar.
"Mau pisang nggak,Non? Atau peer?" tawar Richard.
"Nanti aja. Aku mau bobok." jawab Nawang sambil mulai memejamkan matanya.
Richard bergegas menyusul istrinya berbaring setelah meminum obatnya.
"Aku juga mau bobok." kata Richard sambil memposisikan wajahnya di dada Nawang.
"Sambil ngedot." kata Richard dengan wajah tengilnya kemudian prasmanan nyari dot kesayangannya.
Nawang sudah tak bisa membuka matanya.
Merasakan dirinya dikuasai rasa kantuk dan rasa nikmat hasil dari kelakuan Richard di puncak dadanya hingga akhirnya dia terlelap.
Tapi Nawang keheranan saat dia terjaga dan merasakan tubuhnya masih dikuasai oleh seseorang dengan aroma tubuh yang sudah dia kenal.
Apakah dia baru saja terlelap dan langsung terjaga hingga Richard masih menguasainya?
Atau dia tidur terlalu lama sampai Richard sudah terbangun lagi dari tidurnya dan sekarang jahil lagi?
Dengan menyipitkan mata, Nawang meraih ponsel yang ada di atas side table.
Baru setengah dua belas.
Bukannya harusnya Richard jatuh tertidur setelah minum obat?
Jangan- jangan dia nggak minum obat nih. Kelewatan banget sih!
"Mas...." panggil Nawang sambil mencoba menjauhkan kepala Richard dari area dadanya.
__ADS_1
"Kamu belum jadi tidur?" tanya Richard agak terkejut.
"Kamu nggak jadi minum obat ya tadi?" tanya Nawang dengan tatapan menuduh.
"Minum kok. swear. Tuh wadahnya obat aja udah kosong. Kan kamu tadi yang nyiapin. Nggak mungkin juga aku buang pilnya.". kata Richard meyakinkan.
Tapi nampak jelas wajah Nawang menunjukkan keheranan.
"Kenapa?" tanya Richard yang kini beringsut duduk dengan benar disamping Nawang karena melihat wajah keheranan Nawang.
"Ini baru jam setengah dua belas. Kamu minum obat udah dari sekitar lima belas menit yang lalu. Harusnya kan kamu udah tidur, Mas. Bukannya malah bergerilya." kata Nawang.
Richard seperti baru tersadar.
"Iya juga ya. Harusnya aku udah mati jam segini. Biasanya berapa ke nyo tan juga udah bablas aku " kata Richard yang mendapat tabokan di lengannya.
"Bahasamu itu lho! Nyebai ( nyebelin) banget." protes Nawang yang hanya dibalas cengiran oleh Richard.
Lelaki itu bahkan mulai tersenyum- senyum menggoda menatap Nawang yang sudah bisa melihat tanda bahaya di depannya.
"Lagi yuk, Non." ajak Richard seperti bocah ngajak jajan temannya.
"Lagi apa?" tanya Nawang kura- kura dalam perahu, pura- pura nggak tahu maksud Richard walau wajahnya sedikit merona.
"Aku ingin melewati pergantian hari dengan suasana yang akan menyenangkan hatimu." rayu Richard sambil tersenyum- senyum.
"Eleh! Menyenangkan hatiku apa menyenangkan hatimu? Yang bener kalau ngomong." kata Nawang sambil meraup kedua sisi rahang Richard dengan gemas kemudian menggoyang- goyangkan kepala Richard yang nurut saja digoyang ke kanan dan ke kiri oleh Nawang.
"Menyenangkan kita berdua doooong. Ini sejarah dalam pengobatanku. Nggak langsung tertidur kayak biasanya."
"Apa karena kamu minumnya tadi agak mundur?" tanya Nawang.
" Ya belum tahu juga sih. Tapi ini perlu dirayakan, Sayang. Dua tahun lebih lho aku nggak pernah bisa melewati pergantian hari dalam keadaan terjaga. Aku pengen dapat hadiah." kata Richard dengan nada manja sambil melabuhkan kepalanya ke pangkuan Nawang.
Nawang hanya tersenyum mengelus rambut Richard yang sedang menyembunyikan wajahnya di perutnya.
"Mau makan dulu nggak? Aku ambilin roti ya kalau nggak mau pisang." tawar Richard.
"Nggak usah. Aku ambil sendiri aja." jawab Nawang sambil beringsut ke tepi ranjang.
"Aku ambilin aja. Kamu baik- baik disini, kumpulin tenaga untuk menghadapi agresi dini hari." cegah Richard yang kemudian bergegas melompat dari ranjang.
"Aku mau sekalian nengok Bintang." kata Nawang mengurungkan niat baik Richard padanya.
"Ya udah kalau gitu. Aku tunggu ya. Jangan lama- lama ya. Hati- hati." kata Richard berisik.
"Ngomong sekali lagi, aku tinggal tidur sama Bintang nih." ancam Nawang gemas.
Richard hanya menggelengkan kepalanya cepat sambil membuat gerakan mengunci bibir.
"Wait for me. I'll give you a sweet gift." kata Nawang sambil tersenyum menggoda.
Richard hanya mengangguk- angguk dengan semangat sambil menunjukkan lambang cinta dengan jari jempol dan telunjuknya.
Benar- benar menggemaskan jiwa raga.
*******
Firman dan Santi duduk di depan ruang operasi dalam diam.
Keduanya sibuk berdoa untuk kelancaran operasi yang sedang dijalani anaknya.
Walaupun dokter dan perawat sudah berbicara pada mereka untuk tidak perlu cemas berlebihan karena operasi yang akan dilakukan adalah operasi yang sudah sangat umum dilakukan, tapi tetap saja jiwa keduanya dilanda gelisah karena kata operasi itu sendiri.
Operasi adalah kata asing untuk mereka berdua dan hal yang wajar bila membuat keduanya gelisah.
Waktu operasi yang tidak sampai satu jam terasa sangat lama.
__ADS_1
Firman tadi di beritahu kalau operasi usus buntu anaknya akan menggunakan metode operasi laparoskopi™ yang akan mempersingkat waktu operasi dan mempercepat masa penyembuhan dan pemulihan.
Untuk meredakan sedikit ketegangannya, Firman mengirim sebuah photo dan pesan kepada Richard.
Selamat siang, Pak.
Herlambang sedang menjalani operasi. Mohon doanya semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin.
"Ngabarin Pak Richard, Mas?" tanya Santi. Firman mengangguk.
"Nggak ada salahnya kan ngabari beliau? Semoga berkenan ikut mendoakan Lambang. Doa orang baik pasti diijabah Allah." kata Firman kemudian.
"Aamiin. Semoga Lambang cepat sehat." sahut Santi.
Keduanya menghabiskan waktu hanya untuk mendoakan kebaikan untuk anak mereka.
Hingga bagai tersengat aliran listrik, Firman langsung berdiri dari duduknya saat di dengarnya pintu ruang operasi dibuka.
Nampak seorang suster keluar dan langsung di cegat oleh Firman.
"Bagaimana operasi anak Saya, Sus? Apakah lancar semuanya? Apakah sudah selesai?" tanya Firman bertubi.
"Alhamdulillah, Pak. Operasi sudah selesai dan lancar. Tunggu beberapa saat lagi ya, Pak. Nanti adeknya bisa di pindah ke ruang perawatan. Sabar ya. Saya permisi dulu." pamit suster itu sopan.
Firman mengangguk sopan setelah mengucapkan terimakasih.
Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari ruang operasi.
Firman segera berdiri saat melihat dokter itu tersenyum dan mendekat padanya.
"Orangtuanya Herlambang?" tanya dokter itu ramah.
"Njih, Pak. Saya bapaknya, dan ini ibunya. " kata Firman dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya.
"Alhamdulillah operasi ©appendiktomi berjalan lancar, Pak. Ususnya sudah bisa dipotong. Nanti bisa dilihat potongan ususnya juga. Sedang di urus sama suster di dalam. Dimasukkan botol dalam air raksa. InsyaaAllah anaknya cepat pulih nggih, Pak. Biar bisa main dan belajar, kumpul sama teman- temannya lagi." tutur dokter itu dengan hangat.
"Aamiin. Terimakasih banyak Pak Dokter. Terimakasih." kata Firman dengan suara bergetar menahan tangis haru.
Dia merasa diuwongke ( ( diperlakukan secara manusiawi) oleh dokter itu.
Dokter itu menyapa duluan, mengobrol dengannya dengan bahasa yang enak dan tidak merendahkan. Itu saja sudah membuat Firman cukup merasa tersanjung sebagai orang lemah secara ekonomi.
"Sama- sama, Pak. Saya permisi dulu ya." pamit dokter itu sambil menganggukkan kepalanya pada Santi yang hanya diam mendengarkan dari tadi.
"Alhamdulillah operasinya sudah selesai dan lancar. Tinggal nunggu anaknya keluar." gumam Santi dengan wajah penuh kelegaan.
Firman lagi- lagi bergegas mengirim pesan pada Richard walau pesan yang dia kirim tadi belum terbaca oleh Richard. Tak apa, batinnya.
Selamat siang, Pak.
Alhamdulillah, Pak. Operasi sudah selesai dengan lancar.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
@ARV ( Antiretroviral) adalah obat- obatan untuk melambatkan pertumbuhan virus HIV.
Laparoskopi™ atau operasi lubang kunci adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di dinding perut ( sekitar 1 inci).
Laparoskopi dilakukan dengan bantuan alat berbentuk tabung tipis bernama laparoskop.
Alat ini dilengkapi dengan kamera video yang dilengkapi cahaya di ujungnya. Kamera ini tersambung ke layar monitor.
Dokter memantau/ melihat yang akan dioperasi melalui layar monitor tersebut.
Alat- alat yang akan digunakan operasi masuk ke dalam bagian tubuh melalui selang kecil ( trokar) yang dimasukkan lewat sayatan tadi.
©Appendiktomi adalah proses memotong usus buntu menggunakan laser.
__ADS_1