
Sambil menikmati langit senja, Richard dan Nawang meninggalkan tempat kemping mereka sesiang tadi untuk menuju ke hotel yang telah di pesan Richard sebelumnya.
Hawa hangat di dalam mobil bertolak belakang dengan suhu udara di lingkungan yang mereka lalui.
Sepanjang jalan, orang yang Nawang lihat semua memakai jaket.
Ya, di daerah dataran tinggi jam lima sore pasti sudah terasa sangat dingin bagi orang- orang yang sudah terbiasa dengan suhu di dataran rendah.
"Besok agak siangan kita bisa jalan ke museum Ullen Sentalu. Nggak jauh dari hotel. Kita juga bisa ke gardu pandang kalau kamu mau." kata Richard sambil membelokkan kemudi dengan tenang.
"Boleh. Tapi jangan PHP ya...." kata Nawang menuntut.
"Kapan aku PHP in kamu?"
"Ya siapa tahu karena cuaca dingin disini nanti trus kamu alasan nggak mau ninggalin kasur." sergah Nawang.
Richard terbahak.
Good idea.
"Iya juga sih." kata Richard sambil menahan tawa.
"Tuuu kan...malah kayak yang dikasih inspirasi." cibir Nawang.
Richard hanya terkekeh jahil.
"Kita sampai,Sayang." kata Richard begitu mobil masuk ke area parkir hotel.
Nawang tiba- tiba merasa grogi.
Masuk hotel.
Ini pertama kalinya dia akan memasuki sebuah gedung bagus yang di sebut hotel dan akan menginap pula.
Semoga gerak- geriknya nanti tidak akan memalukan Richard.
"Yuk!" ajak Richard yang sudah membukakan pintu mobil untuk Nawang.
Nawang segera turun dan bergegas merapikan gamisnya yang dikuatirkan kusut.
"Udah cantik." kata Richard sambil tersenyum padanya.
Richard sudah menyanding satu koper besar yang berisi baju mereka berdua.
Nawang berjalan tenang di samping Richard.
Pembawaannya yang memang nyaris berekspresi flat nampaknya cukup menyelamatkannya dari rasa grogi dan jiper dengan suasana hotel.
Dia nampak santai dan asik saja mengikuti dan mengimbangi pembawaan Richard yang karismatik.
"Disinilah tempat yang benar kalau mau menikmati honeymoon dengan bebas dan tenang." kata Richard begitu sampai di depan sebuah pintu kamar.
Sependengaran Nawang saat di resepsionis tadi,Richard mengkonfirmasi kalau sudah reservasi suite room.
Nawang jadi penasaran seperti apa penampakan kamar hotel dengan kelas premium.
"Mari kita masuk." ajak Richard setelah berhasil membuka pintu dengan kartu yang di dapatnya dari resepsionis tadi.
Nawang langsung mengedarkan pandangannya begitu melewati pintu.
"Kereeeen." komentar pertama terlontar dari Nawang begitu dia masuk dan langsung bertemu dengan satu set sofa yang bisa di fungsikan sebagai ruang tamu kecil.
Hidungnya bahagia karena aroma wangi menyambutnya.
Dia mengikuti langkah Richard melewati ruang tamu menuju ke arah belakang yang ternyata kamar tidur dengan ranjang king size. Mantab!
Richard membiarkan Nawang menjelajahi semua sudut kamar mereka.
Dia memilih menjatuhkan dirinya asal di atas ranjang sambil menunggu Nawang selesai dengan room tour nya.
"Bagus kamarnya. Nyaman." kata Nawang sambil membuka pintu dorong kamar mandi kemudian melongoknya.
__ADS_1
Kamar mandinya aja wangi dan keren.
"Kamu suka?" tanya Richard sambil tersenyum senang.
"Sukaaaa. Makasih ya,Mas Ganteng." jawab Nawang kemudian duduk di sebelah Richard yang masih berbaring.
"Sama- sama, manisku." jawab Richard sambil mengelus punggung Nawang.
"Sini deh, Non." ajak Richard langsung bangkit dari tidurnya kemudian menggandeng tangan Nawang menuju ke balkon.
"MasyaaAllah......bagus banget langitnya! Mas, photo, Mas!" suara Nawang heboh kegirangan saat melihat langit senja yang nampak sangat cantik.
Richard tertawa kemudian mengambil posisi sedramatis mungkin untuk bisa membidik gambar Nawang seartistik mungkin.
Dan dia bisa mendapatkannya.
Seorang perempuan cantik dengan gamis berwarna Lilac dan berkerudung motif abstrak tersenyum sangat manis dengan back ground hamparan langit berwarna lapisan jingga, merah bata,dan kuning seperti gold.
Sangat berwibawa namun manis. Cocok jadi nyonya boss.
You make me fall in love again and again, baby.
"Kita photo berdua, Mas." ajak Nawang sambil melambaikan tangannya gembira pada Richard.
Tanpa bantahan sedikitpun Richard bergegas mendekat kemudian memposisikan diri sedemikian rupa hingga tercipta beberapa photo manis mereka berdua.
"Kamu senang banget kayaknya." kata Richard yang kini sudah duduk di samping Nawang di atas stool bulat berwarna hijau muda dan sama- sama menyambut kedatangan langit malam. Terasa sangat damai dalam balutan hawa yang mulai terasa dingin.
"Aku bahagia, tepatnya." sahut Nawang tersenyum sambil menatapnya.
"Menikmati senja dengan suasana tenang dan bahagia adalah salah satu cita- cita besar dalam hidupku. Dan lagi- lagi kamu yang mewujudkannya untukku. Terima kasih banyak untuk kebahagiaan ini." kata Nawang yang kemudian berjongkok di depan Richard kemudian melabuhkan wajahnya di dada Richard dengan tangan yang memeluk erat pinggang liat suaminya.
Richard yang terpaku akhirnya hanya mampu memeluk erat bahu Nawang, yang dia tahu sedang menangis saat ini.
"Teruslah merasa bahagia bersamaku, Sayang." bisiknya dengan rasa haru yang tiba- tiba membuatnya merasa sulit bicara.
"I will." jawab Nawang yang kini mendongak dengan sisa airmata di kelopak matanya.
Bukan sebuah ciuman yang penuh hasrat. Tapi sebuah ciuman lembut yang menenangkan.
Ciuman yang membuat Nawang merasa begitu berharga dan dimiliki dengan penuh kasih.
"Saatnya berbuka puasa." kata Richard sambil nyengir malu setelah melepaskan ciumannya karena sayup- sayup terdengar suara adzan magrib.
Nawang tertawa pelan. Masih berusaha menormalkan perasaan yang dirasanya begitu istimewa saat ini.
"Trus nanti habis isya' saatnya buka- bukaan." bisik Richard di telinganya dengan tangan yang melingkar posesif di pinggang Nawang.
"Ih, kang omes! Kenapa jadwal ngasih makan istri nggak pernah kamu sebutiiiiin?" tanya Nawang gemas sambil menabok paha suaminya.
Richard tergelak.
"Baiklah....aku ganti kalimatnya. Habis magrib kita makan malam, habis isya' kita buka- bukaan.Gimana? Komplit kan?" tanya Richard kemudian.
Nawang hanya memanyunkan bibirnya kemudian beranjak berdiri.
"Magrib...magrib...." ucapnya sambil melenggang meninggalkan balkon dan suaminya.
Menepati yang di katakan tadi, setelah sholat magrib, Richard mengajak Nawang untuk makan.
Menaiki lift menuju restoran yang ada di rooftop dan Nawang langsung terpesona dengan hamparan lampu kota di bawah sana begitu keluar dari lift.
Indah dan syahdu.
Richard membawanya ke satu ruangan yang dikelilingi oleh kaca.
Jadi mereka bisa tetap menikmati view namun tak harus melawan hawa dingin di luar.
Tak banyak yang mereka pesan untuk makan malam mereka.
Nawang jelas memesan makanan dari buku menu dengan nama yang dia kenal saja.
__ADS_1
Pilihannya kali ini ayam teriyaki setelah bertanya pada waitress menu apa saja yang pendampingnya nasi, bukan kentang.
Richard memilih oseng mercon, tumis kangkung, omurice, dan udang tepung, masih minta tambah satu nasi.
Nawang hanya tertawa kecil mendengar deretan nama yang disebutkan Richard agar di tulis oleh waitress manis berusia duapuluhan itu.
Apa ya bakal masuk semua makanan itu?
"Mau minum apa, Non?" tanya Richard sambil menatapnya.
"Bandrek aja." jawab Nawang setelah melihat deretan nama hot drink yang ada di buku menu.
"Teh talua dan bir pletok." sambung Richard sambil menatap waitress itu sesaat.
"Air putih dua." sambung Richard lagi.
Pesananmu double semua, yakin habis?" tanya Nawang setelah mereka tinggal berdua.
"Kan kamu bisa bantu habisin nanti." jawab Richard enteng.
Dia tahu kelemahan Nawang bila berhadapan dengan makanan.
Nawang tidak akan meninggalkan sisa makanan di piring, sekalipun itu tidak enak.
Maka Richard sudah nggak heran saat Nawang mau memakan sisa makannya Bintang, dan lebih sering sisa makannya Darren bila anaknya itu sedang main ke rumah Nawang.
Dan saat inipun Richard yakin, Nawang bakalan mau di ajak menghabiskan semua pesanan makanannya daripada makanan itu mubadzir.
"Kita nggak tahu berkah dari makanan itu ada di suapan yang ke berapa. Jadi makanan harus tetap dihabiskan sampai suapan terakhir sebagai ikhtiar kita mencari berkah dari makanan itu." kata Nawang saat Richard menanyakan alasan Nawang masih mau menyuap sisa makanan Darren.
Saat itu Richard melihat sebuah upaya seorang ibu meraih berkah dari sebuah makanan untuk anaknya.
Sangat menyentuh hati.
Secara Darren bukan darah daging Nawang. Tapi perempuan itu menyayangi Darren sebegitu dalamnya.
"Kamu mau bikin aku gendut ya?" tanya Nawang dengan nada galak.
"Enggak. Cuma mau bikin kamu tambah mon tok aja." jawab Richard sambil mengerling.
"Kumat omes nya!" sungut Nawang pura- pura sewot.
"Kamu itu inspirasiku ber omes ria." sahut Richard sambil tertawa tengil.
"Ssstttttt!!" Nawang menempatkan telunjuknya berdiri menempel di depan bibir Richard.
Richard hanya tertawa kemudian menyambar tangan Nawang dan mengecupnya lembut.
"Love you to the Mars and back." kata Richard dengan wajah tersenyum.
"Jauh amat, Pak sampai Mars?! Yakin pulangnya nggak nyasar?" sahut Nawang merusak total suasana romantis yang sedang dicoba di bangun oleh Richard.
Kacauuuu!!!
"Tinggal nanya maps kalau nyasar." jawab Richard kemudian ikut ngasal.
"Love you too with all my heart and soul." ucap Nawang kemudian.
Membuat Richard tertegun kemudian tersenyum haru.
"Janji ya, kamu akan selalu bahagia seperti ini bersamaku." pinta Richard dengan tatapan haru.
"Insyaa Allah....Kita akan saling membahagiakan, Mas." jawab Nawang dengan senyum manisnya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Aku iriiiiiiii sama mereka berdua, hiks ........
Ku beri gambar omurice ya.....buat yang belum pernah ngeliat penampakan salah satu makanan yang di pesan mas Richard tadi 😁
__ADS_1