PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
39


__ADS_3

Wanita paruh baya disamping pria itu nampak agak terkejut saat tatapannya bertemu dengan tatapan Nawang.


"Nawang." sapa perempuan yang telah melahirkan Richard itu lembut.


Diterimanya dengan hangat uluran tangan Nawang yang nampak agak gemetar.


"Apa kabar, nak?" tanya Bu Pambudi dengan lembut.


Dielusnya lembut lengan Nawang dengan harapan bisa memberi ketenangan pada Nawang.


Dia tahu pasti Nawang sangat takut saat ini.


"Ba....baik, Bu. Ibu sehat selalu?" tanya Nawang dengan lembut.


Andai saja boleh, sesungguhnya dia sangat ingin memeluk wanita di depannya ini.


Dia ingat dulu bagaimana mama Richard memohon maaf padanya karena harus memintanya melepaskan Richard atas kemauan papanya Richard.


Perempuan lembut itu bahkan sampai menangis karena tak tega melihat Nawang yang mati- matian menahan airmatanya saat mengiyakan permintaannya dulu.


"Kamu cantik sekali." kata Bu Pambudi dengan tatapan haru menatap Nawang.


Dielusnya lembut pipi Nawang.


"Terimakasih, Bu." sahut Nawang sambil menunduk, berjuang sekuat tenaga menahan tangisnya.


Dia sangat ingin menangis saat ini.


Tangis untuk rasa harunya bertemu dengan mama Richard yang baik hati itu.


Yang dulu masih sering menanyakan kabarnya walau dia bukan lagi pacar Richard.


Tangis untuk menutupi ketakutannya pada papa Richard yang mungkin akan mempermalukannya di depan umum saat ini.


Dirasanya Richard kembali meraih jemarinya, menggenggam erat, seakan ingin memberitahu bahwa Nawang aman bersamanya.


"Kamu katanya nggak bisa dateng, Bud." kata Pak Darto pada sahabatnya.


Pak Pambudi hanya tersenyum kecil.


"Kebetulan urusanku di Surabaya bisa selesai lebih awal, jadi ku sempatkan kesini. Selamat ulang tahun ya, sehat selalu sampai nanti bisa nemenin cucumu pegang bisnismu." doa Pak Pambudi kemudian memeluk hangat Pak Darto.


Pak Darto terkekeh senang.


"Aamiin.....aamiin.....semoga umurku bisa sepanjang itu. Tapi kayaknya aku harus nyari calon bapak lagi buat cucuku. Kandidat yang kuincar ternyata sudah punya kekasih yang sangat cantik." kata Pak Darto sambil menatap Richard dan Nawang.


Pak Pambudi ikut tersenyum ringan dengan penuturan sahabatnya itu.


"Sepertinya begitu, karena ternyata bocah ini nggak bisa move on." kata Pak Pambudi dengan tertawa kecil dan menyenggol bahu Richard dengan bahunya.


Dilihatnya Nawang sekilas, dan dia tahu Nawang menahan rasa takut sejak tadi tapi dia pura- pura tak perduli.


Tatapannya tanpa rasa benci atau amarah pada Nawang.


Sangat beda dengan beberapa tahun dulu saat pertama kali Nawang bertemu dengannya.


Dan itu sangat melegakan untuk Nawang dan Richard, juga istrinya.


"Betul sekali, Pa." timpal Richard sambil tersenyum dengan yakin.


Dielusnya lembut punggung tangan Nawang yang terasa sedikit gemetar di dalam genggamannya.


Dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan papanya.

__ADS_1


Tapi apapun itu Richard sudah bertekad bulat untuk bertahan bersama Nawang mulai sekarang.


Dia tidak ingin lagi melepaskan kebahagiaannya demi apapun.


"See?" tanya Pak Pambudi sambil tertawa geli menatap Pak Darto.


Keduanya tergelak lepas seakan tak perduli pada penderitaan Nawang yang tersiksa ketakutannya sendiri.


"Ayo, silakan lho, dicicipi makanannya seadanya. Jangan cuma ngobrol terus." potong Bu Darto dengan ramahnya.


"Kita nyari cemilan yuk, Na." ajak Bu Pambudi sambil menyentuh lengan Nawang.


Nawang berjengit kaget, lalu meminta persetujuan Richard dengan tatapannya.


Richard mengangguk kecil kemudian melepaskan genggamannya agar Nawang bisa mengikuti mamanya.


Richard tak cemas sama sekali bila Nawang ada bersama mamanya karena dia tahu pasti, dalam masalah cintanya dengan Nawang, mamanya ada dipihaknya.


Richard masih menatap langkah Nawang dan mamanya yang nampak melangkah santai dan nampak sambil berbincang hangat.


Ada keharuan menyelinap dihatinya menatap pemandangan itu.


Pemandangan yang menurutnya sangat indah.


Melihat dua wanita tercinta dihidupnya saling melepas senyum dan berbincang hangat.


Tuhan, mampukan aku membahagiakan mereka dengan keterbatasanku ini, batin Richard sendu.


"Ayo Ric, kita juga perlu mencari minum." ajak Pak Pambudi sambil mulai melangkah setelah berpamitan pada Pak Darto dan istrinya.


Richard pamit pada tuan rumah sebelum bergegas mengikuti papanya yang nampak sudah meraih segelas minuman bersoda.


"Jangan banyak- banyak minum kayak gitu, Pa." tegur Richard sambil meraih segelas air mineral.


Ya, dia tahu kalau sekeluarga Pak Darto tidak ada yang suka minum teh.


Mereka akan lebih memilih minum air mineral atau minuman bersoda daripada minum teh.


"Kamu sudah lama ketemu lagi sama mantan pacarmu itu?" tanya Pak Pambudi tanpa menoleh pada Richard.


Dia sedang asik memotong siomay di atas piring yang dipegangnya.


"Belum." jawab Richard singkat, juga tanpa melihat papanya.


Dari nada suara papanya yang didengarnya, Richard merasa lega karena papanya tidak sedang menahan emosi.


Suaranya santai tanpa beban.


Dan itu sangat cukup melegakannya.


"Dia istri orang kan?" tanya Pak Pambudi dengan dugaannya.


"Bukan.Dia sudah bercerai dengan suaminya." jawab Richard lugas.


Kali ini dia lebih memilih menegakkan duduknya dan merasa harus serius membicarakan soal Nawang dengan papanya.


"Dia cerai karena kamu?" tanya Pak Pambudi dengan nada menginterogasi.


"Kurasa sih nggak. Ada masalah dalam rumah tangganya sendiri. Lagian aku benar- benar mendekatinya lagi juga baru banget, setelah aku tahu dia jadi janda." terang Richard kemudian memasukkan potongan kentang ke dalam mulutnya.


Ada sebersit bangga dihati Pak Pambudi.


Anak lelakinya tetap beradab.

__ADS_1


"Dia cerai kenapa?" tanya Pak Pambudi masih dalam mode antara kepo dan interogasi.


Richard mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Aku belum berani bertanya detail soal itu. Tapi berdasarkan apa yang dikatakan anaknya, kayaknya suaminya kurang baik dalam memperlakukan dia." terang Richard pelan- pelan.


Dalam hatinya terbit senyuman hangat.


Papanya mau bertanya soal Nawang, apakah itu bisa diartikan papanya mau membuka diri untuk mencoba menerima kehadiran Nawang?


"Kamu sudah dekat sama anaknya juga?" tanya Pak Pambudi surprise.


Richard mengangguk kecil.


Ada senyum bangga dibibirnya.


"Darren sangat senang main dengan Bintang." kata Richard sambil tersenyum.


Pak Pambudi mengangkat pandangannya dari piring di hadapannya demi melihat wajah Richard yang nampak berhias senyum.


"Darren juga sudah kenal mereka?!", tanya Pak Pambudi seperti tak percaya.


"Iya. Beberapa kali aku ajak mereka ketemuan.Dan Darren sangat jinak sama Bintang." kata Richard terkekeh melihat keheranan papanya.


"Kamu sudah pacaran lagi sama dia?" tanya Pak Pambudi dengan menatap tajam pada Richard menelisik.


Richard menarik nafas panjang lalu menggeleng.


"Bagus!" kata Pak Pambudi senang.


Richard kaget dibuatnya.


Dia kira papanya mau mencoba menerima kehadiran Nawang karena mau membicarakan pujaan hatinya itu, tapi ternyata dia salah sangka.


Papanya tetap saja tidak mau menerima Nawang.


Richard merasakan hatinya tiba- tiba terasa sangat remuk.


Dikiranya dia tak harus berjuang kali ini, ternyata dugaannya salah.


"Kenapa bagus?" tanya Richard berusaha tenang bertanya pada papanya.


"Nggak papa." jawab Pak Pambudi cuek.


Richard meringis sebal.


"Papa tetap tak mengijinkan aku bahagia dengan perempuan yang kucintai selama ini?" tanya Richard lebih dalam.


Sekalian saja remuk hatinya. bila papanya mengiyakan pertanyaannya.


Sekalian saja tegangnya menunggu jawaban papanya.


Tapi jawaban yang ditunggu Richard tak juga keluar dari papanya.


Lelaki tengah baya yang ketampanannya dia wariskan pada Richard itu hanya menatap Richard dengan tatapan yang tidak bisa ditebak maksudnya oleh Richard.


"Papa masih ingin menjodohkan aku dengan siapa lagi?" tanya Richard akhirnya, putus asa.


"Kamu masih mau kalau papa jodohin?" tanya Pak Pambudi dengan mimik serius.


Richard mendengus kesal.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2