PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
28


__ADS_3

Richard rasanya ingin membanting ponsel yang sedang dipegangnya.


Tapi dia ingat, ponselnya ini lumayan mahal.


Jadi rasanya sayang juga kalau harus jadi pelampiasan kekesalannya.


Dari tiga hari lalu dia menghubungi Nawang lewat pesan di WA tapi hanya centang satu sampai hari ini.


Tadinya dia berpikir mungkin nomornya di blokir oleh Nawang, tapi ternyata tidak.


Kenapa sih dia ponselnya nggak aktif? dengus Richard kesal.


Kalau saja saat ini dia ada di Jogja, sudah pasti akan dihampirinya perempuan itu ke tempat kerjanya.


Sayangnya dia sedang jauh dari Jogja.


Ada proyek di Surabaya yang harus dia tunggui untuk beberapa minggu ini.


Tanpa sadar dia menghubungi Hans.


"Hallo ,Pak. Selamat siang." sapa Hans begitu sambungan telpon terhubung.


Richard kaget saat di dengarnya suara Hans


"Siang Hans. Boleh aku minta tolong?" tanya Richard ragu setelah. agak lama diam dan membuat Hans keheranan.


"Ya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Hans dengan penasaran.


"Ehmmmm.....tolong tanyakan ke Sasi, apa nomornya Bu Nawang ganti?" kata Richard melirih.


Hans mengerutkan keningnya keheranan.


Ngapain Pak Richard ngurusin nomernya Bu Nawang?


"Nggak ganti Pak. Kemarin saya juga sulit menghubungi Bu Nawang, ternyata kata Sasi ponselnya rusak, jatuh di jalan dan kelindes mobil." jawab Hans.


"Oh, kirain ganti nomer." sahut Richard lega.


"Bisa ditelpon dengan pulsa kok, Pak. Atau lewat nomor kantor." kata Hans.


"Dia nggak pakai smartphone sekarang?" tanya Richard heran.


"Sampai kemarin belum pakai, Pak.Mungkin belum sempat belinya, Pak, hehehe...." jawab Hans sambil terkekeh.


Apa mungkin Nawang nggak punya uang buat secepatnya beli ponsel lagi? batin Richard menduga.


Kekurangan kok dipiara sih, Non! Bikin aku harus nahan kangen kayak gini kan gara- gara ponselmu rusak, omel Richard gaje banget.


"Bapak ada perlu apa ya mau menghubungi Bu Nawang?" tanya Hans penasaran.


"Eh itu.....ada yang mau aku tanyakan soal barang finishing sih buat proyek sini. Ya udah kalau gitu." kata Richard mencoba memangkas obrolannya dengan Hans sebelum bocah itu mulai menginterogasinya.


"Kalau Pak Richard mau bicara dengan Bu Nawang coba hubungi nomernya Nayla saja, Pak. Mereka kan satu ruangan, Pak." kata Hans memberi solusi yang sangat melegakan Richard.


"OK. Tolong kirimkan nomernya Nayla ya, aku tunggu segera." kata Richard.


"Baik, Pak. Saya sudahi dulu ya, Pak. Segera saya kirim nomernya Nayla. Selamat siang, Pak." tutup Hans yang kemudian mengirim kontak Nayla lewat pesan singkat.


Setelah menimbang- nimbang, Richard memilih menelpon Nawang lewat nomer pulsa saja.


Setidaknya menghindari pihak ketiga tahu kalau dia menelpon Nawang.


Di tekannya nomer Nawang dengan dada deg- degan macam cowok ABG mau ngajak kencan gebetannya.


Tak lama terdengar suara Nawang di seberang mengucapkan halo.


Ah, entah mengapa suara perempuan itu selalu terdengar seksi di telinganya kalau di sambungan telepon.


Itulah salah satu sebab Richard kecanduan berbicara lewat telpon dengan Nawang.


"Ponsel kamu rusak?" tanya Richard to the point.


"Iya." jawab Nawang singkat. Dan tentu saja,datar.


"Nanti aku kirim ponsel baru deh. Kamu mau merk apa?" tanya Richard enteng.

__ADS_1


"Apaan sih?!" dengus Nawang kesal.


Jiwa keborjuan Richard memang sering tidak terkendali seperti itu.


"Kenapa?" tanya Richard heran.


"Ngapain mau beliin saya ponsel? Kurang kerjaan banget." kata Nawang sebel.


"Kamu butuh ponsel itu buat kerja, Nooon. Nggak semua yang butuh ngobrol sama kamu punya pulsa. Kasian kan mereka. Sekarang jamannya pakai paket data kalau ngobrol." kata Richard gemes.


Nawang terdiam.


Memang iya sih.


Sejak dia tak punya smartphone , Nayla yang sering dia repotkan.


Semua panggilan telpon untuknya selalu lewat Nayla.


Sebenarnya nggak enak hati juga sih, tapi mau bagaimana lagi.


Dia belum punya uang lebih untuk membeli barang itu.


"Kamu mau merk apa?" tanya Richard mengulang pertanyaannya lagi.


"Nggak usah. Besok saya beli sendiri saja." kata Nawang.


Dia nggak harus menjatuhkan harga dirinya di depan Richard hanya demi sebuah ponsel kan?


"OK. Kamu beli besok ya? Aku telpon kamu besok malam lewat WA." tegas Richard.


Smirk menghiasi wajah tampannya.


Nawang gelagapan.


Ya nggak besok banget juga kali! Dapat uang dari mana dia?


"Bukan besok hari maksudnya! Besok kalau saya gajian, baru beli." kata Nawang risau.


"Kamu gajian tanggal berapa?" tanya Richard kepo.


Richard terkekeh mendengar suara Nawang yang mulai ngegas.


Dia senang mendengarnya.


Suara Nawang semakin seksi kalau ngegas gitu.


"Ya pengen tahu aja. Masih lama nggak gajiannya."jawab Richard kalem.


"Masih." jawab Nawang jutek.


"Ya udah. Aku kirim sekarang aja ponselnya.Nunggu kamu beli kelamaan." kata Richard kemudian tanpa ba-bi-bu langsung menutup telponnya.


Nawang menatap ponsel jadulnya dengan keki.


Jangan bilang kamu beneran mau beli ponsel buatku ya, Mas! omel batin Nawang was- was.


Richard langsung membeli ponsel lewat olshop dan minta hari ini juga sampai di tangan Nawang.


Sesungguhnya dia ingin membelikan Nawang ponsel dengan harga yang setidaknya di atas lima juta.


Tapi pasti perempuan itu akan menolak mentah- mentah.


Dia sejenak mengingat ponsel yang dulu dipakai Nawang dan berusaha mencari gambar ponsel itu.


Tapi karena setelah hampir setengah jam dia belum juga menemukan gambar yang mirip dengan ponsel Nawang, akhirnya dia menyerah dan memilih ponsel dengan harga tiga jutaan saja.


Tak sampai tiga jam dari waktu yang dijanjikan penjual di olshop tadi, ponsel sudah diterima Nawang.


Perempuan itu tentu saja heran saat mendapat panggilan dari pos satpam lewat aiphone kalau ada kurir paket mencarinya.


Dia nggak pernah belanja online selama ini.


Tapi untuk meluruskan, Nawang segera menuju pos satpam.


"Maaf mas,saya nggak pernah belanja online." kata Nawang pada kurir muda yang hendak menyerahkan sebuah kotak kecil terbungkus plastik biru.

__ADS_1


"Tapi ini penerima atas nama ibu Nawang Yuliandri.Anda ibu Nawang kan?" tanya kurir itu menegaskan.


"Iya, saya Nawang. Tapi saya nggak pernah belanja online, mas. Itu barangnya apa ya?" tanya Nawang penasaran.


Kurir itu sejenak mengamati deskripsi barang di kertas yang tertempel di plastik kemasan.


"Sebuah ponsel, sama satu casing, dan satu earphone." jawab kurir itu.


"Ada alamat pengirimnya nggak, mas? Atau nomor ponselnya?" tanya Nawang lagi.


Kurir itu kembali mengamati tulisan di kertas yang tertempel di bungkus paket.


Belum dia sempat menjawab, ponsel jadul Nawang berdering.


Dari Richard lagi!


Tiba- tiba kecurigaan Nawang tentang paket tertuju pada sang penelpon ini.


"Hallo..."


"Paketnya udah diterima?" tanya Richard kalem.


Nah, benarkan?! Kelakuan orang ini kan?!


""Paket apa?" tanya Nawang pura- pura bingung.


"Lhoh, katanya udah sampai." seru Richard kaget.


"Saya tanya paket apa yang Anda kirim?" tanya Nawang dingin.


"Aku kirim ponsel, sama casing, dan earphone." jawab Richard gusar.


"Kurirnya udah sampai disini. Ini saya sedang sama dia." kata Nawang datar.


Sesungguhnya dia ingin menangis karena terharu dengan kelakuan Richard ini.


Laki- laki itu nggak berubah sama sekali terhadapnya.


Dari dulu dia nggak pernah mau melihat Nawang kekurangan.


Tapi Nawang malu dan takut dia nanti jadi baper.


Lagi pula dia harus tahu diri kan?


"Syukurlah kalau begitu. Kamu suka nggak ponselnya?" tanya Richard.


"Saya nggak mau nerima paketnya. Biar saya kembalikan saja sama kurirnya ya,Pak?" kata Nawang sedikit memohon.


Richard tercekat karena di dengarnya suara Nawang agak bergetar.


Entah dia menahan marah atau malah mungkin menahan tangis.


"Jangan! Please kamu terima dulu. Kamu butuh itu, Non." kata Richard memohon.


Nawang tak bersuara.


Dia menahan airmatanya mati- matian karena terharu dan juga malu pada Richard.


"Kalau kamu nggak mau menganggap itu pemberian, kamu bisa mencicil membayarnya padaku. Bisa kamu cicil sepuluh atau lima belas kali. Oke?" bujuk Richard.


Richard menunggu beberapa detik sebelum di dengarnya lagi suara Nawang.


"Baiklah. Saya terima. Terimakasih banyak, Pak." kata Nawang kemudian menutup telponnya.


Richard masih terpaku.


Terimakasih banyak dia bilang? Apakah dia benar- benar nggak mampu segera membeli ponsel baru lagi?


Ayolah, Non, jangan membuatku sedih karena menduga kamu benar- benar hidup kekurangan.


Aku nggak akan pernah rela melihatnya.


Aku nggak akan pernah membiarkan itu.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2