PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
141


__ADS_3

Sepertinya author remahan gorengan ini sudah akan sampai pada ujung halunya πŸ˜…πŸ™ˆ


Daripada bikin BT dan emongsi readers dengan cerita yang muter- muter kayak komedi puter, kayaknya lebih baik dibikin end aja ya.....πŸ˜€


Soooooo, mungkin kita akan say goodbye pada mas Richard dan Mbak Nawang satu atau dua atau tiga episode lagi dan belum ada kepikiran untuk bonchap juga πŸ˜…


Terimakasih banyak untuk semua dukungannya selama ini ya......πŸ™πŸ™πŸ™


Sebisa mungkin saya balas semua komen dan jejak sebagai penghargaan saya untuk semua yang meluangkan waktu berkunjung di novel ini.


Mungkin akan berhenti nulis dulu untuk nyari ide ( maklum ye kan, pemula. Ide harus lama mancingnyaπŸ˜‚).


Ntar kalau sudah buat cerita baru lagi, akan ada kabar di sini.


Ada yang punya ide Saya harus nulis apa? πŸ˜€


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Nawang tersenyum sambil meletakkan ponselnya.


Richard selalu melakukan hal yang sama sejak dia tahu istrinya ini hamil.


"Pengen dibeliin apa nanti kalau pulang?" itu selalu Richard tanyakan saat pamit akan kerja atau keluar rumah.


"Mau dikirimin apa?" pertanyaan saat lelaki itu sedang menikmati makan siang.


"Pengen beli apa atau jalan- jalan nggak?" ini juga pertanyaan rutin setiap sore atau malam.


Nawang sampai hapal diluar kepala.


Dan Nawang lebih sering menjawab dengan gelengan atau tawa gemasnya.


"Kamu hamilnya nggak seru." Richard kembali meledek Nawang dengan 'mengeluh' seperti itu saat tadi Richard 'memaksanya' agar minta sesuatu namun Nawang kembali menggeleng.


"Kenapa?" tanya Nawang heran.


"Nggak ngidam yang aneh- aneh. Ditawarin apa- apa nggak mau, nggak pengen apa- apa. Nggak bikin pusing kepala suami." jawab Richard sambil tersenyum senang.


"Itu artinya anaknya baik, nggak suka ngerjain Papanya yang baik hati ini." kata Nawang sambil mengaitkan lengannya ke lengan Richard yang kemudian mengecup pelipisnya hangat.


"Tapi beneran nggak pusing kepalanya?" tanya Nawang dengan tatapan meledek.


Richard sedikit berpikir sebelum tersenyum malu.


"Pusiiiiing. Puasaku udah tiga bulan lhoh! Hiks!" kata Richard kemudian memeluk bahu Nawang dan menyembunyikan wajahnya dibahu istrinya itu dengan wajah sedih.


Nawang tertawa- tawa penuh kemenangan walau hatinya sangat iba pada suaminya itu.


"Kamu nggak bilang kalau pengen." kata Nawang sambil mengelus rambut Richard lembut.


"Nggak tega, Sayang. Kamu lemah lunglai gitu. Mana tega aku ngajaknya. Daripada kamu nangis dan mikir aku lelaki raja tega, mending aku puasa aja, sekalian nemenin kamu puasa dan belajar sabar." kata Richard sambil tersenyum walau meratap dalam hati, wakakak......


"Puasanya mau diterusin sampai anaknya umur empat puluh hari nggak?" tanya Nawang sambil merapatkan wajahnya ke bahu Richard.


Hati Richard rasanya hancur terbanting mendengar pertanyaan itu. Patah hati tanpa ada obat deh rasanya.


Do you really have to fast for more than nine months......?


"Kok diem aja?" tanya Nawang sambil tersenyum meledek setelah dilihatnya Richard hanya diam sambil termangu.


"Emangnya kamu nggak pernah pengen ya?" tanya Richard dengan tatapan patah hati.


Nawang terbahak-bahak dalam hati melihat wajah memelas itu.


"Tadi yang nanya aku, Mas Ganteng..... kenapa jadi situ yang balik nanya?" kata Nawang kemudian mencium pipi Richard gemas.


Richard terkekeh senang dibuatnya.

__ADS_1


Ah, rasanya sudah lamaaaaa sekali mbak jutek ini nggak manja- manja gini. Kangeeeen banget digelendotin seperti ini.


But, sebentaaaaar.......Ibu ini lagi nggak salah gaya kan? Kok meluk- meluk manja gini?


Kemarin- kemarin senggolan aja ogah lho kalau matanya masih melek.


Flashback on


*************


"Aku nggak mau sentuhan sama kamu, Maaaas. Geliiiii." begitu pas awal- awal Nawang anti pada sentuhannya.


Nawang merasakan tubuhnya geli nggak karuan, seperti dijalari akar yang merayap disekujur tubuhnya saat bersentuhan dengan Richard.


Sampai salim habis sholat aja tangannya dia beri alas kain mukenanya biar nggak tersentuh oleh Richard, agar tak kegelian.


Bukannya Nawang nggak 'memaksa' dirinya untuk mau menyentuh Richard -sekedar salim atau dipeluk- tapi saat itu dia lakukan, perutnya langsung berontak, mual tak karuan dan berakhir dengan muntah- muntah hebat sampai lemas tak berdaya.


Richard yang melihatnya jadi nggak tega dan memintanya tak memaksakan diri lagi.


Lagi pula Nawang seperti itu kalau dalam posisi sadar.


Nanti kalau sudah tidur, dia nggak akan nolak dan nggak akan muntah walau dipeluk Richard semalaman.


"Buat senyamannya kamu aja, Sayang. Aku nggak tega ngeliatin kamu muntah- muntah gitu. Mana aku nggak bisa buat sekedar pijitin tengkuk kamu." kata Richard dengan tatapan iba padanya.


Dan jadilah selama trimester awal ini siksaan tersendiri juga untuk Nawang.


Sejak perutnya protes kalau bersentuhan dengan suaminya, otomatis dia nggak bisa mandi pagi.


Ya, setelah dia melakukan pengamatan dan uji coba pada dirinya sendiri, dia akan lemas kalau mandi pagi dan sore.


Beberapa hari awal dia lemes kalau mandi, setiap pagi dia akan memaksakan diri untuk mandi kemudian di gendong Richard karena lemas.


Tapi begitu dia anti sentuhan suaminya, dia nggak mandi pagi dan sore lagi.


Pernah dia mencoba mandi sebelum sholat zhuhur, badannya lemah lunglai dan harus merangkak keluar kamar mandi karena dia nggak kuat teriak manggil mbak Prapti.


Apalagi kamar tidurnya adalah kamar yang kedap suara.


Flashback off


**************


"Kalau memang si adik nggak mau ditengokin Papanya di dalam, ya.... mau gimana lagi? Yang puasa kita berdua ini. Yang penting kalian sehat dan seneng. Itu aja yang utama. Yang lainnya bisa kita cari jalan keluarnya." kata Richard sok bijaksana dan sok tangguh.


Padahal hatinya meronta- ronta pengen nangis sambil ngelesot- ngelesot menjejaki lantai.


Karena sesungguhnya Richard penasaran ingin merasakan sensasi ber cin ta dengan istri yang sedang mengandung.


Dia sering dengar dari beberapa obrolan iseng teman- temannya kalau rasa istri yang sedang tekdung itu lebih menggemaskan. Lebih legit dan hangat. Katanya begituuuu.


Haaaaah, membayangkannya saja bikin kepalanya tiba- tiba cenat- cenut.


Dia sungguh ingin merasakan untuk membuktikan kabar burung itu. Tapi apa daya.....


"Kalau adiknya pengen ketemu Papanya, Papanya mau nggak nemuin?" tanya Nawang setelah diam sesaat dan melihat wajah sedih dan putus aja yang coba ditutupi Richard dengan senyum lembutnya.


"Ha.....? Ap....apa?" tanya Richard tak percaya pada pendengarannya barusan.


"Nggak ada siaran ulang, Papaaaaa......!" rajuk Nawang sebel.


Dia kini beringsut menjauh namun segera diraih lagi oleh rengkuhan Richard.


"Miss you so bad." kata Richard sambil memeluk Nawang erat. Suaranya gemetar menahan rasa rindu dan hati yang tiba- tiba melonjak menghangat.


"Aku juga. Kangeeeeeen banget sama kamu." kata Nawang sambil melingkarkan kedua lengannya dileher Richard.

__ADS_1


Wajahnya sungguh nampak bersinar malam ini. Sangat cantik, dan mengundang.


"Beneran kamu mau, Sayang?" tanya Richard masih ragu.


Nawang mengangguk kecil sambil tersenyum malu.


"Tonight is for you." bisik Richard mulai merapatkan tubuhnya pada tubuh yang selalu dirindukannya itu.


Menyesap sedalam- dalamnya wangi lembut yang selalu mampu meracuni otak warasnya menjadi gila seketika.


"Our tender journey......let's enjoy." gumam Nawang di telinga Richard.


Membuat lelaki yang tengah kehausan itu seperti diseret ke dalam aliran sungai yang menyejukkan, memberinya pelepas dahaga tanpa tepi dalam alur yang sangat lembut dan halus.


Sebuah perjalanan baru menuju surga yang sama dan jiwa yang sama.


"Kamu beneran nggak papa? Aman?" tanya Richard sambil menghapus setitik keringat di dahi Nawang yang terpejam kelelahan.


"Aku payah. Rasanya capek banget." kata Nawang sambil tersenyum mengejek performanya sendiri kali ini.


"Mungkin aku yang terlalu ngotot kali ya?" tanya Richard khawatir.


"Enggak. Kamu sangaaaaat lembut dan hatiiiiiii- hati. Bikin gemes." sergah Nawang sambil membuka matanya dan langsung melirik sebal.


Richard terkekeh malu sekaligus juga geli.


Ya, tentu saja Richard sangat takut untuk bertingkah seperti Tarzan yang lincah dan tanpa kendali kali ini.


Ada makhluk kecil mungil yang harus dia jaga dan hargai keberadaannya di dalam rahim istrinya.


Makanya kunjungan pertamanya menjenguk si kecil kali ini sangat penuh dengan sopan santun dan tata krama lemah lembut yang ternyata membuat Nawang nyaris naik pitam karena saking lemah lembutnya, hahahaha......


"Ya maafkan hamba karena belum punya pengalaman sama sekali begituan sama bumil. Takut ditimpuk sama adik kalau terlalu bergaya." kata Richard sambil terkekeh dan memeluk Nawang untuk menutupi rasa malunya.


"Aku kan udah bilang faster....faster....Kamu malah takut banget gitu." cebik Nawang.


"Aku takutnya kamu lupa daratan, Sayang. Lupa kalau lagi hamil makanya pengen tambah speed. Aku sih mau aja tambah speed, mau banget malah. Tapi kan mikir anak juga. Ntar kenapa- kenapa kan yang nyesel aku juga sebagai pelaku tunggal." bela diri Richard.


"Aku juga nggak bakalan lupa kali kalau lagi hamil, Mas." sungut Nawang.


"Jadi nanti tambah speed nggak papa beneran nih?" tanya Richard sambil tersenyum- senyum mesum.


"Nggak papa lah. Kan aku yang bisa ngerasain bahaya apa nggak." jawab Nawang santai.


"Oke! Nanti ku tambah speed nya, biar kamu nggak cemberut." kata Richard penuh semangat.


"Kok nanti sih?" sergah Nawang.


"Ya udah, besok lagi." kata Richard sambil terkekeh.


"Kok besok sih?!" sungut Nawang dengan wajah ngambek, membuat Richard mengernyit bingung.


"SEKARANG MAS!!!" seru Nawang dengan mata berkaca- kaca kesal, membuat Richard membelalakkan matanya.


"Beneran?!" tanya Richard sambil tertawa senang.


Nawang tak menjawab, hanya terus turun dari ranjang dengan cepat menuju kamar mandi.


"Jangan ngambek, Non. Ayo kalau mau lagi." kejar Richard dengan nada khawatir.


"Mau pi pis dulu. Kamu juga bersih- bersih dulu." kata Nawang sambil tersenyum senang.


"Siap grakkkk, Nyonya!" kata Richard kemudian langsung menggendong Nawang ke kamar mandi agar cepat sampai.


Senangnyaaaa bergaul sama bumil satu ini, kekekekek.......


πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ b e r s a m b u n g πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ

__ADS_1


__ADS_2