
Flashback on
**************
Nawang keheranan saat satpam menghubunginya lewat aiphone kalau ada kurir mengantar paket untuknya.
Dia sangat yakin sekali kurir itu salah karena dia nggak pernah delivery order.
Tapi saat dia akan ke pos satpam, sebuah pesan masuk. Dari Richard.
Nanti ada kiriman bebek goreng. Tolong diterima tanpa protes. Titip buat anakmu ya......
Nawang menggeleng tak percaya.
Ternyata kelakuan Richard.
Dengan berat hati Nawang membalas pesan itu.
Ya. Makasih. Baru saja kiriman sampai di pos satpam.
Nawang bergegas ke pos satpam untuk menerima kiriman dari Richard, untuk anaknya.
Tanpa sadar hati Nawang tersenyum.
Dan di pos satpam telah menunggu seorang pemuda dengan jaket bertuliskan resto tempatnya makan siang tadi.
"Bu Nawang ya?" tanya pemuda itu sopan.
"Iya betul." jawab Nawang.
"Kami mengantarkan kiriman untuk ibu. Mohon di cek dulu untuk orderan dua paket bebek jumbo goreng utuh." kata pemuda itu.
"Sudah saya terima. Makasih ya, Mas." kata Nawang sambil mengulurkan selembar sepuluh ribuan unruk tip pemuda itu.
"Mohon maaf, Bu. Saya tidak bisa menerimanya. Tadi kami dipesan untuk tidak boleh menerima tip dari ibu." kata Pemuda itu sopan.
"Kenapa?" tanya Nawang keheranan.
"Kami sudah menerima terlalu banyak tip untuk mengantarkan pesanan ini sampai diterima oleh ibu." jawab pemuda itu jujur.
Nawang tersenyum mengerti.
"Oh OK, baiklah. Terima kasih banyak ya." kata Nawang sambil tersenyum geli membayangkan kesintingan apa yang tadi dilakukan Richard untuk memastikan bebek goreng ini diterimanya.
Jangan- jangan dia bikin sayembara buat nganterin orderan ini, kekeh batin Nawang.
"Kalau begitu Saya permisi, Bu." pamit pemuda itu lalu bergegas menaiki motor dengan box di boncengannya.
"Tumben mbak Nawang order makanan." sapa satpam sambil tersenyum.
"Sekali- kali,Pak. Buat anak." jawab Nawang dengan tersenyum sambil berlalu.
Dia harus segera pergi sebelum ditanyai berapa harga paket bebek goreng itu.
Bisa dipastikan dia akan kebingungan menjawabnya kan? secara dia tidak tahu harga sepaket bebek goreng.
__ADS_1
"Bawa apa, Mbak?" tanya Nayla keheranan saat Nawang masuk ruangan dengan kardus yang terlihat dari balik tas kresek yang dibawa Nawang.
"Bebek goreng." jawab Nawang singkat sambil kembali menempati kursinya, yang berada di depan meja kerja Nayla.
"Dapat buah tangan?" tanya Nayla lagi. Masih penasaran dengan asal muasal bebek goreng itu.
"Iya." jawab Nawang lagi.
Buah tangan dari dia, kekeh batin Nawang.
Flashback off
**************
"Bu, bebek goreng mahal nggak?" tanya Bintang sepulang mereka dari rumah bude Darmi menghantar empat potong bebek goreng hasil keikhlasan Bintang.
Bude Darmi adalah saudara jauh dari Nawang yang tinggal disebelah rumahnya.
Sedari bayi Bintang di asuh olehnya selama Nawang dan suaminya kerja.
Kebetulan bude Darmi belum dikaruniai momongan dalam pernikahannya yang sudah 17 tahun.
Jadi kehadiran Bintang dibari- harinya sangat menyenangkan hati bude Darmi dan suaminya.
Mereka berdua sangat menyayangi Bintang dan menganggap Bintang seperti anak mereka sendiri.
Karena itu dari awal mereka menolak untuk diberi uang jasa mengasuh Bintang. Dan itu membuat Nawang nggak enak hati sebenarnya.
Tapi berkali- kali pula bude Darmi meyakinkan Nawang bahwa mereka sangat senang dimintai tolong Nawang untuk mengasuh Bintang sehari- harinya dan meminta Nawang untuk tidak nggak enak hati kepada mereka.
"Kami malah sangat berterimakasih sama kamu karena Bintang jadi penghiburan buat kami. Kami janji akan memperlakukan dan menganggap Bintang dan ikut mendidiknya seperti anak kami sendiri." kata bude Darmi waktu itu.
"Lebih mahal dari ayam goreng sih. Dan yang jual nggak sebanyak penjual ayam goreng juga. Kenapa?" tanya Nawang sambil menatap wajah Bintang.
"Nggak papa." jawab Bintang setelah nampak berpikir sejenak.
"Kapan- kapan kalau Ibu punya uang lebih, Ibu belikan bebek goreng." kata Nawang sambil tersenyum.
Dia tahu, Bintang pasti ingin membicaran soal itu, tapi mungkin Bintang takut dengan reaksinya nanti.
Ya, Nawang menyadari kalau kadang dia bereaksi menyeramkan untuk menjawab keinginan Bintang yang sebenarnya keinginan murah untuk orang lain, tapi ternyata cukup bisa mengganggu kelancaran ekonomi untuk Nawang.
"Asiiiiikkk.....! Kapan Bu?" tanya Bintang bahagia.
"Kalau Ibu punya uang lebih. Ibu kan tadi bilang gitu. Jadi Ibu nggak bisa janji kapan. Nggak papa ya?" tanya Nawang membujuk Bintang.
Nawang menangkap raut kecewa kemudian pasrah di wajah polos itu walau sesaat.
Dan Nawang merasa nyeri dan sedih melihatnya.
Maafkan Ibumu ini ya, Nak. Sungguh maafkan.
"Nggak papa. Kalau uangnya nggak cukup buat beli bebek goreng, buat beli ayam goreng aja nggak papa, Bu. Yang penting kan udah pernah makan, udah tau rasanya. Kayak kata Ibu dulu." kata Bintang akhirnya dengan riangnya.
Sebenarnya dia menghibur dirinya sendiri berkata seperti itu pada ibunya.
__ADS_1
Keadaan ekonomi orang tuanya membuat anak kecil itu sudah terbiasa menghadapi 'penolakan' untuk keinginannya yang sebenarnya remeh dan tak mewah.
Nawang tersenyum getir dalam hati.
Dia memang pernah bilang pada Bintang untuk tidak merengek meminta jajan yang mahal- mahal pada ibunya.
Saat ibunya ada uang lebih, ibunya berjanji tanpa Bintang minta pun pasti akan dibelikan.
Dan Nawang memang menepati janjinya itu.
Dia akan membelikan jajanan kekinian untuk Bintang saat dia mendapat uang lembur walau nggak sering.
Bagaimana pun dia tidak ingin anaknya terlihat kekurangan dan kuper diantara teman- temannya.
"Kamu doakan ya, ibu dan ayah dapat rejeki lebih biar kamu bisa jajan yang enak." kata Nawang lembut dan sedih dalam hati.
"Iya." jawab Bintang dengan ketenangannya.
"Bebek gorengnya buat besok nggak basi kan, Bu?" tanya Bintang khawatir.
"Nggak. Nanti kita simpen di kulkas terus besok ibu goreng lagi sebentar. Mau buat sarapan besok?" tanya Nawang.
"Iya. Enak banget sih, Bu! Bossnya Ibu kaya ya, Bu?" tanya Bintang sambil mengikuti Nawang yang memilih duduk di amben depan rumahnya.
"Namanya boss ya pasti kaya. Kenapa?" tanya Nawang.
"Besok kalau udah gede aku juga pingin jadi boss, biar kaya. Kalau aku kaya, aku bisa beli apapun yang aku mau, nggak usah nyusahin ibu, nggak usah nunggu ibu punya uang dulu." kata Bintang dengan polosnya.
"Ibu doakan kamu kelak jadi boss yang baik hati dan dermawan ya, Nak." kata Nawang sungguh- sungguh.
Ya, semua Ibu pasti akan bersungguh- sungguh mendoakan setiap kebaikan untuk anak- anaknya bukan?
"Kayak bossnya Ibu?" tanya Bintang menatap wajah ibunya.
"Bukan. Tapi kamu harus lebih baik dari bossnya ibu." jawab Nawang sambil tersenyum.
"Tapi bossnya ibu kan udah baik. Udah mau beliin bebek goreng." protes Bintang.
Nawang terkekeh.
"Kebaikan itu nggak cuma ngasih bebek goreng, atau makanan lainnya, Sayang. Kebaikan itu, kita bisa membuat orang lain bahagia dan senang dengan apa yang kita beri atau apa yang kita lakukan. Kamu nolong orang lain itu juga kebaikan. kamu nggak nakal, itu juga kebaikan karena bikin ibu senang." tutur Nawang lembut.
Bintang diam dan mendengarkan dengan sungguh- sungguh semua perkataan ibunya.
Dia selalu simpan dalam memorinya semua nasehat ibunya.
Ya, dia ingin jadi anak baik agar ibunya senang dan tak bersedih.
Anak itu sering menangkap basah Nawang menangis diam- diam dan memilih tidak bertanya pada ibunya karena dia merasa dialah penyebab ibunya bersedih sampai menangis.
Dan Bintang selalu berpikir perbuatannya yang mana yang membuat ibunya bersedih.
"Bu...." panggil Bintang pada Ibunya pelan dan takut- takut.
"Ya?" balas Nawang setelah ditunggunya Bintang tak juga melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
"Aku nakal ya? Aku bikin ibu sedih terus ya?" tanya Bintang pelan sambil menyenderkan kepalanya di lengan ibunya dengan sedih.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️