PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
34


__ADS_3

Obrolan keduanya terpotong karena Bintang yang berlari tergopoh- gopoh mendekati mereka.


"Bu, Darren minta es krim. Penjualnya nunggu disana." kata Bintang begitu berhenti di depan ibunya.


Tangannya menunjuk ke arah samping rumah.


Richard bergegas berdiri kemudian menggandeng tangan Bintang menuju penjual yang dimaksud Bintang.


Dilihatnya Darren berdiri tegak di samping penjual es krim yang asik mengajaknya ngobrol.


"Maaf ya, Pak." kata Richard pada penjual yang nampak langsung bersikap hormat padanya.


"Maaf, Pak. Anaknya nggak langsung saya kasih, takutnya nanti nggak boleh minum es. Makanya saya minta kakaknya nanya dulu sama Ibunya." terang penjual itu.


"Iya nggak papa. Kalian mau yang mana? Minta sama bapaknya ya." kata Richard pada Bintang dan Darren.


Bintang belum bereaksi walau wajahnya jelas mupeng banget.


Dia memang ingin es krim seperti yang kini telah dipegang oleh Darren itu, tapi dia ingat kalau harga es krim itu katanya mahal.


Dia khawatir ibunya nggak punya uang untuk membayarnya.


"Bintang mau ini juga?" tanya Richard saat menangkap wajah mupeng Bintang.


Anak itu hanya menatap ragu padanya.


"Tenang aja, aku punya uang buat bayar." bisik Richard sangat pelan di telinga Bintang.


Wajah anak itu langsung sumringah dan bergegas mengangguk.


"Terima kasih, Pak." ucap Bintang saat menerima uluran es krim dari penjualnya.


"Terimakasih, Pak Richard." kata Bintang lagi sambil menatap Richard penuh rasa terimakasih.


"Terimakasih, Pak Richard." kata Darren membeo yang diucapkan Bintang.


Richard terkekeh.


"Sama- sama jagoannya Papa." jawab Richard sambil mengelus kepala kedua bocah itu.


Diulurkannya selembar uang berwarna biru pada penjual itu.


"Udah, Pak. Kembaliannya buat Bapak aja.Makasih ya." kata Richard pada penjual es yang sedang mencari kembalian di tas pinggangnya.


Richard kemudian menggandeng dua bocah lelaki itu untuk kembali ke rumah Nawang.


"Makasih banyak, Pak." seru penjual itu bahagia.


Richard hanya mengacungkan jempolnya di atas kepalanya tanpa menoleh pada penjual itu.


Kebahagiaannya saat ini jauh lebih besar dari kebahagiaan Bintang yang mendapat es krim idamannya selama ini, juga kebahagiaan penjual es krim yang mendapat bonus kembalian dari Richard.


"Kalian lapar nggak sih?" tanya Richard yang mulai merasakan lapar di perutnya.


Memang sudah masuk waktu makan siang sih.


"Lapar." jawab Bintang jujur.


"Kita nyari makan apa ya enaknya? Kamu pengen makan apa, Bin?" tanya Richard.

__ADS_1


Bintang kebingungan dibuatnya.


Selama ini dia nggak pernah ditanyai seperti itu kalau masalah makan.


Dia kalau ingin makan sesuatu yang bukan masakan ibunya harus meminta baik- baik pada ibunya agar ibunya mau berjanji suatu saat akan membelikan makanan yang diinginkannya.


Dia nggak pernah ditanya 'mau makan apa saat ini' seperti yang barusan ditanyakan Richard barusan.


"Ayam Ipin upin." kata Darren tanpa ditanya.


"Bintang mau nggak ayam goreng?" tanya Richard.


"Mau." jawab Bintang malu- malu.


"Ya udah, kita beli ayam goreng aja ya?" tawar Richard pada dua bocah itu yang disambut anggukan penuh semangat oleh keduanya.


"Ibu di ajak nggak, Pak?" tanya Bintang dengan nada khawatir.


"Ya pasti di ajak dong. Masak kita makan, Ibu ditinggal sendirian. Kasihan dong, dan kita nggak boleh ninggalin Ibu kalau kita mau senang- senang." jawab Richard sambil tersenyum.


"Mau pada kemana?" tanya Nawang yang barusan keluar dari dalam rumah.


"Mau makan ayam Ipin Upin." jawab Darren senang.


"Aku boleh ikut nggak, Bu?" tanya Bintang takut- takut.


"Tentu saja kamu harus ikut. Ibu kamu kan juga ikut. Emang kamu mau ditinggal di rumah sendiri trus kami tinggal makan ayam goreng sendiri?" sahut Richard.


Dipaksanya Nawang dengan tatapan memaksanya.


Nawang menghela nafas, menahan sebalnya pada sikap Richard.


"Baiklah. Kita makan ayam Ipin Upin bareng." kata Nawang sambil tersenyum.


Lalu diraihnya tangan Bintang yang tersenyum senang.


"Nanti yang bayarin Pak Richard?" tanya Bintang dengan polosnya.


Nawang menepuk dahinya malu.


Bintang memang seperti itu, sangat detail.


"Tentu saja. Kalau ada cewek, kita sebagai cowok yang harus bayarin. Kamu besok kalau udah gede juga harus gitu. Jangan pernah minta dibayarin sama cewek ya." kata Richard sambil tersenyum menatap Bintang yang mengangguk walau masih kurang paham dengan apa yang dibicarakan Richard.


"Temanya kejauhan." sindir Nawang yang disambut kekehan Richard.


"Ya udah, kita berangkat yuk." ajak Richard.


Darren menarik tangan Bintang menuju mobilnya.


Sedang Richard malah asik menatap Nawang yang nampak kebingungan.


"Udah ayuk. Kamu nggak perlu dandan, udah cantik dari sononya." kata Richard yang disambut monyongan bibir Nawang.


"Saya nutup pintu belakang dulu." pamit Nawang kemudian bergegas masuk untuk menutup pintu belakang dan mengambil ponsel dan dompetnya yang hanya berisi dua lembar uang seratus ribuan.


Dia bergegas mengunci pintu depan saat dilihatnya Richard sudah memposisikan mobilnya di posisi siap jalan.


"Kamu rela kalau orang- orang ngira aku yang keren ini driver ojol?" tanya Richard setengah berteriak saat dilihatnya Nawang bermaksud membuka pintu mobil bagian belakang duduk bersama Darren dan Bintang.

__ADS_1


"Ibu di depan aja." kata Darren yang disambut anggukan malu Nawang.


Bintang hanya menatap bingung adegan itu.


Menurutnya terlalu ribet hanya untuk mempermasalahkan tempat duduk.


Richard tersenyum cerah saat Nawang sudah duduk disebelahnya dan sedang memasang seatbelt nya.


"Kita makannya di tempat yang dekat atau yang jauh nih?" tanya Richard sambil menolehkan kepalanya ke arah belakang.


"Yang jauuuuh." jawab Bintang riang.


"Kenapa?" tanya Richard penasaran.


"Biar naik mobilnya lama." jawab Bintang dengan polosnya.


Nawang mengurut keningnya menahan malu dan ngilu di hatinya mendengar jawaban polos itu.


Ya Tuhan, ampunilah hamba karena membuat aneka sekecil itu harus menahan banyak keinginan remeh temeh yang belum bisa hamba penuhi.


"Oke kalau begitu. Kita cari yang agak jauh dari rumah ya. Tapi jangan terlalu jauh juga, nanti kita keburu kelaparan. Nanti pulangnya dari kita makan baru deh kita keliling yang jauh nggak papa.OK?" tawar Richard.


"OK Pak Boss." sahut Bintang dengan senang.


"Pak apa tadi?" tanya Richard dengan nada mengingatkan.


"Pak Boss!" sahut Darren dengan lantang.


"No!", sahut Richard sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Pak Richard." kata Bintang dengan tersipu malu.


"Papa Richard, bukan Pak Richard." protes Darren pada Bintang.


"Kalau aku manggilnya Pak Richard, kamu manggilnya Papa Richard." jelas Bintang.


"Kenapa?" tanya Darren bingung kenapa cara mereka berdua memanggil papanya berbeda.


"Karena dia papamu, bukan papaku." jawab Bintang masih berusaha menjelaskan.


"Papamu namanya siapa?" tanya Darren dengan santainya.


"Aku nggak punya papa.Aku punyanya ayah." jawab Bintang.


"Ayah itu apa?" tanya Darren penasaran.


"Ayah itu sama kayak papa, kayak bapak juga.Cuma nyebutnya aja ayah, atau papa, atau bapak." terang Bintang dengan jelasnya.


"Kayak Daddy juga?" tanya Darren yang membuat Bintang bingung.


"Iya. Kayak Daddy juga." sahut Richard menjawab penasaran Darren.


"Berarti aku punya dua. Aku punya papa dan punya Daddy." kata Darren dengan senangnya.


Richard terkekeh geli dengan kepolosan bocah itu yang dengan bangganya memamerkan punya dua bapak.


"Kalau kamu punya berapa, Mas?" tanya Darren pada Bintang yang masih berusaha mencerna arti kata Daddy tadi.


"Aku cuma punya satu, ayah aja." jawab Bintang dengan lugunya.

__ADS_1


Dalam benak Bintang ada pertanyaan yang membuatnya bingung; kenapa Darren bisa punya dua ayah, yaitu Papa dan Daddy?


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2