PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
100


__ADS_3

"Begitukah?" tanya Richard sambil tersenyum.


Matanya terarah ke depan karena sedang berbelok.


"Kamu mau ngasih aku uang belanja berapa emangnya, Mas?" tanya Nawang kemudian.


Sumpah, untuk mengeluarkan pertanyaan itu Nawang menguat- nguatkan hati melawan rasa malunya.


Tapi mereka kan sudah suami istri. Sudah bukan hal tabu lagi membicarakan hal apapun dengan pasangan kita.


"Limapuluh." jawab Richard ringan.


Nawang mengerutkan keningnya.


Telinganya salah denger nggak sih?


Limapuluh? Limapuluh ribu sehari gitu maksudnya?


Haaahhhh?????


"Berapa?" tanya Nawang lagi.


Meyakinkan pendengarannya sendiri.


"Limapuluh juta sebulan buat kamu belanja makan kita. Biaya lainnya kamu nggak usah mikirin. Gaji Prapto dan mbak Prapti, listrik, internet, lainnya, itu urusanku. Untuk jatah kamu sendiri sepuluh juta cukup nggak?"


"Uhuk....uhuk....uhuk...uhuk....." batuk Nawang tak juga berhenti sampai Richard memutuskan menepikan mobil karena khawatir.


Di tepuk- tepuknya lembut punggung Nawang yang terbungkuk- bungkuk karena batuknya.


"Minum dulu,.Non." kata Richard sambil mengulurkan botol air mineral yang tadi telah diminumnya sebagian saat dia tersedak tadi.


Nawang hanya menerima botol itu tapi belum juga bisa minum karena batuknya nggak berjeda.


Richard sungguh khawatir dibuatnya.


"Kamu kenapa sih,Sayang?" tanya Richard khawatir sambil meraih tubuh Nawang ke pelukannya.


Di elus- elusnya lembut punggung Nawang berkali-kali sampai batuk Nawang mereda dan sekarang malah berganti isakan.


"Hei, kamu kok nangis? Kenapa? Dadanya sakit? Sesak napasmu?" tanya Richard semakin khawatir.


Nawang hanya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada Richard.


Richard tertegun bingung.


Kenapa lagi ini? Apa yang telah dia lakukan sampai Nawang begini? Kayaknya nggak ada yang salah dengan yang diucapkannya barusan.


"Maaf kalau aku salah lagi." kata Richard akhirnya dengan suara pelan.


Walau sejujurnya dia nggak tahu dimana kesalahannya kali ini, tapi dia yakin dia yang menyebabkan Nawang tersedak, terbatuk- batuk, bahkan sampai menangis begini.


"Becandanya jangan kayak tadi lagi. Aku nggak suka." kata Nawang masih dengan sisa isakannya di pelukan Richard.


"Becanda apa? Yang mana?" tanya Richard bingung.


"Yang kamu ngomong limapuluh juta, sepuluh juta barusan."


"Lhoh kok becanda sih? Aku ngomong serius tadi. Maaf, sekarang aku sanggupnya ngasih kamu segitu." kata Richard dengan nada malu.


"Mas...." panggil Nawang masih dari dada suaminya.


Kali ini sudah tak ada lagi isakannya. Berganti dengan dua tangan yang mencengkeram kedua pinggang Richard.


"Hmmm....? Kenapa?" tanya Richard karena Nawang tak juga mengucapkan apapun.


"Kamu beneran sekaya itu ya? Masak ngasih uang belanja aku segitu banyaknya." tanya Nawang sambil mendongak, menatap wajah Richard dengan wajah ambigunya.


"Aku juga merasa sudah kaya. Tapi kita baru di level tengah, Sayang. Diluar sana masih sangat buanyaaak orang tajir melintir- lintir yang bisa memberi uang belanja ke istrinya dalam hitungan ratusan juta bahkan milyaran tiap bulan. Semoga aku bisa seperti itu nantinya. Tolong doakan ya." kata Richard kemudian mencium puncak kepala Nawang.


"Segini aja aku sudah sangat bersyukur, Mas. Aku takut nggak bisa amanah dengan titipan Allah kalau banyak- banyak. Tapi aku akan selalu doakan kamu. Semoga semua pencapaian kamu, hasil jerih payahmu selalu barokah dan bermanfaat untuk banyak orang nantinya." kata Nawang sambil membelai wajah suaminya lembut.

__ADS_1


"Aamiin....." sahut Richard sambil terpejam, mengaminkan doa Nawang sepenuh hati, juga menikmati belaian lembut tangan istrinya di wajahnya.


Semoga diijinkan, sambil menyelam minum air seperti itu.


"Bisa kita lanjutkan perjalanan kita?" tanya Richard berupaya mengalihkan suasana yang sudah mulai sweet.


Bisa ngeri kalau dia terlena dengan belaian Nawang disini.


Ah, perempuan ini selalu bisa menggiring omes nya kapan saja.


"Boleh." jawab Nawang sambil beringsut memposisikan diri dengan benar di kursi penumpang kembali.


"Mas....." panggil Nawang lagi masih dengan nada menggantung setelah beberapa lama mereka hanya saling terdiam dan sesekali saling melirik.


"Mau ngomong apa sih? Nggak kamu banget deh ragu- ragu gitu." kata Richard sambil tertawa.


"Itu.....Emmmm.....uang belanjanya jangan segitu ngasihnya." kata Nawang takut- takut.


Nawang sangat jelas melihat perubahan di raut muka Richard.


Nampak kecewa.


"Kamu minta berapa?" tanya Richard kemudian, dengan senyum yang jelas dipaksakan-.


"Sepuluh juta aja." jawab Nawang pelan. Membuat Richard kaget setengah mati.


Astagfirullah.....beberapa detik lalu Richard baru saja berburuk sangka pada Nawang.


Dia mengira Nawang akan minta tambah uang belanjanya,tapi ternyata malah minta dikurangin.


Perempuan ajaib.


"Hah?! Nggak! Nggak ada ngasih uang belanja segitu." protes Richard cepat.


"Segitu udah cukup, Mas buat kita makan enak tiap hari di rumah." Nawang masih ngotot.


"Nggak, Non. Mana tega aku ngasih uang belanja segitu sama kamu. Selama ini aja budget aku makan sendirian aja delapan sampai sepuluh juta sebulan. Masak aku ngasih kamu uang belanja buat kita bertiga makan segitu sih." sahut Richard sudah mulai bersungut- sungut.


Nawang tak bereaksi. Mencoba menimbang lagi semuanya.


Tapi dengan uang segitu banyak tiap bulan? Total enam puluh juta sebulan? Mau buat apa uang segitu banyaknya bagi dia yang sudah terbiasa hidup sebagai remahan dunia? Dia malah bingung sendiri mengalokasikan uang segitu banyaknya.


"Ya udah....."


"Nah! Gitu dong....." potong Richard senang.


"Dua puluh juta aja ya?" sambung Nawang membuat Richard kembali bersungut- sungut.


"Mas, aku belum pernah seumur hidupku megang uang segitu banyaknya. Aku malah bingung mau aku buat apa kalau kamu ngasih uang segitu banyaknya...." kata Nawang setengah mengeluh.


Richard terkekeh walau hatinya merasa seperti di remas kasar.


"Non, uang yang ada di tangan nggak harus habis. Kalau sisa, biar uang itu tidur di rekening, jadi simpanan, Sayangkuuuu." kata Richard sambil menowel pipi Nawang dengan gemas.


"Tapi kalau nanti uangnya habis gimana?" tanya Nawang bingung.


"Kalau habis berarti kan sesuai budget. Asal jangan kurang ya?" pinta Richard dengan wajah memelas.


Nawang menepuk lengan Richard keki.


Mana mungkin uang lima puluh juta habis hanya buat belanja makanan mereka bertiga? Ngadi- ngadi banget....


"Deal ya soal uang belanja?" tanya Richard.


"Nggak dikurangin aja, Mas?" tanya Nawang dengan wajah yang nggak enak hati, masih mencoba menego kebijakan Richard.


"Enggak!" jawab Richard tegas.


"Ya udah." kata Nawang akhirnya dengan wajah pasrah. "Tapi kalau suatu hari mau kamu kurangin juga nggak papa kok,Mas." sambungnya lagi. Membuat Richard menggeleng- gelengkan kepalanya keheranan.


Kok ya ada perempuan macam ini di dunia ini.

__ADS_1


Benar- benar istimewa istrinya ini.


"Doakan saja aku nggak akan pernah mengurangi jatah bulananmu. InsyaaAllah malah harus aku tambah tiap tahunnya." kata Richard.


"Kayak gaji aja, tiap tahun naik." sahut Nawang sambil tersenyum.


"Ya harus gitu. Tambah hari kan kebutuhan tambah banyak. Anak nambah juga, mudah- mudahan...." kata Richard sambil mengerling pada Nawang.


"Baru juga berapa hari nikah, udah ngomongin nambah anak aja." kata Nawang sambil terkikik.


"Kamu mau berapa anak lagi?" tanya Richard dengan tatapan menggoda.


Nawang pura- pura berpikir keras.


"Mengingat umur, maksimal nambah 2 aja." jawab Nawang akhirnya.


"Boleh.....Segera atau nunggu beberapa bulan biar kita puas- puasin dulu?" tanya Richard lagi.


"Itu sih terserah supplier bahan bakunya." jawab Nawang sambil tertawa padanya.


Richard ikut tergelak.


"Kita bahas ini lebih dalam sebulan lagi ya? Sekarang kita pacaran nggak terkontrol dulu. Bebassss!" kata Richard sambil tergelak.


Nawang mengangguk setuju saja.


Ya, akan dia nikmati hari- hari penuh cinta dan madu asmara ini dulu.


Sebelum nanti kembali menghadapi kenyataan dunia yang tak hanya berisi keindahan dan kebahagiaan saja.


Tapi dia yakin, apapun nanti yang ada dihadapannya, dia akan lebih kuat dan tenang, karena kini dia memiliki Richard, sang pemilik ruang hatinya.


"Sudah siap pacaran bebas denganku?" tanya Richard sambil meraih jemarinya kemudian mengecupnya sesaat.


"Tentu,Mas Eric." jawab Nawang dengan tatapan menggoda.


Dikecupnya pipi lelakinya itu sekilas.


"Oh,Non....jangan mulai dulu....." kata Richard dengan suara putus asa.


Nawang tertawa dibuatnya.


"Masih jauh tempatnya?" tanya Nawang kemudian.


Mereka tadi sudah melewati TPR. Dan sekarang mobil sudah melewati jalan yang sudah tidak terlalu ramai.


"Nggak jauh lagi kok. Udah nggak sabar ya?" tanya Richard meledek.


"Bukannya situ yang ngebet banget ya?" balik Nawang dengan bibir mencibir.


"Aku yang ngebet, tapi kamu seneng banget juga." sahut Richard nggak mau malu sendiri.


"Dih, nggak mau ngaku." olok Nawang.


"Ngakuuuu. Aku udah nggak sabar pengen membuat kamu bener- bener KO." sahut Richard yang mendapat hadiah tabokan keras di pahanya.


"Panas, Non!" keluh Richard sambil mengelus- elus pahanya yang barusan kena tabokan.


"Panas mana sama aku?" tanya Nawang sambil mengerling genit.


Ya ampun!


Richard terbahak- bahak dibuatnya.


"Kamu doooong. Nggak ada dua panasnya." jawab Richard dengan riang gembira.


Imunnya akan bagus terus kalau kayak gini mah....


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Dah ya....senyumnya ditahan dulu buat besok lagi 🙈

__ADS_1


Terimakasih yang sudah berkenan mampir dan meninggalkan jempolnya....🙏💖💕



__ADS_2