
"Saya nggak ada uang kalau Anda minta sekarang." kata Nawang jujur.
"Tahu." sahut Richard dengan senyum meledek.
"Makanya akan Saya kembalikan kalau Saya sudah gajian." kata Nawang mengeram.
"Nggak mau!" jawab Richard ngotot.
"Ya udah. Motornya Saya tinggal sini aja dulu. Minta kembali aja uang Anda, besok Saya tebus sendiri aja motornya." kata Nawang putus asa, kemudian berbalik hendak meninggalkan Richard.
"Dikasih surprise suaminya kok malah ngambek sih, Yang." suara Richard cukup jelas untuk di dengar semua penghuni bengkel dan membuat Nawang menghentikan langkahnya sesaat.
Tapi dia kemudian tetap keluar bengkel.
Dia harus segera mencari ojol untuk kembali ke tempat kerjanya dan menghindar sejauh- jauhnya dari Richard.
Dia nggak mau meladeni ketengilan Richard terlalu lama.
Persetan kalau Richard marah pada sikapnya barusan.
Toh mereka bukan siapa- siapa.
"Kamu mau aku nganter sendiri motormu ke pabrik?" tiba- tiba Richard sudah berdiri di belakangnya sambil menuntun motornya.
Pemandangan yang aneh di mata Nawang.
Seorang boss menuntun motor milik seorang buruh pabrik.
Bagaimana kalau ada anak buahnya yang melihat?
Nawang baru akan membuka mulutnya saat Richard kembali berucap.
"Cepat bawa motormu ini, ikuti aku. Kita makan siang sekarang. Kalau nggak, aku akan umumkan ke seluruh dunia kalau kamu istriku." kata Richard kemudian berlalu menuju mobilnya setelah meletakkan motor Nawang di sisi empunya.
Nawang menepuk marah jok motornya.
"Menyebalkaaaaan!!!" geramnya.
Richard terkekeh dari balik kemudinya melihat tingkah minus Nawang itu dari kaca spion mobilnya.
Nawang akhirnya menaiki 'motor baru'nya setelah di dengarnya klakson dari mobil Richard.
Tak lama mobil itu kemudian bergerak menuju sebuah resto yang menyediakan menu aneka bakaran yang tak jauh dari situ.
"Kita take away aja ya? tinggal setengah jam lagi waktu istirahatmu. Kamu sih kelamaan ngeyelnya." kata Richard sambil menghampiri Nawang yang sedang melepas helmnya.
Nawang bersorak dalam hati.
Itu berarti dia nggak perlu lama- lama bersama Si Tengil ini.
"Atau kamu mau aku mintakan ijin ke Sapto agar bisa balik agak telat ke pabrik?" tawar Richard sambil tersenyum menggoda.
"Tidak! Terimakasih. Kita take away saja." potong Nawang cepat.
"OK. Ayo kita pesan sekarang." ajak Richard.
Richard meminta Nawang duduk menunggunya di area dekat loket take away, sedang dia bergegas memesan makanan.
Dia membawa dua botol soft drink saat menyusul ke tempat duduk Nawang.
Diulurkannya sebotol pada Nawang setelah sebelumnya dia membuka tutup botolnya.
__ADS_1
Sebuah perbuatan sangat sederhana namun sangat manis bagi Nawang.
"Minumlah." kata Richard lembut.
"Terimakasih." jawab Nawang pelan kemudian meminum hampir separo isi botol dingin itu.
Dia menerima tutup botolnya yang diulurkan Richard.
"Terimakasih." kata Nawang lagi.
Richard terkekeh pelan.
"Belum ada semenit, kamu sudah berterimakasih dua kali." kata Richard.
Nawang tak menyahut.
Dia memilih mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.
Melihat lalu lalang ojol yang lumayan banyak berseliweran di resto ini.
"Kamu suka banget ya sama ojol?" tanya Richard.
Nawang menatap keheranan pada Richard.
"Di depanmu ada makhluk ganteng, keren, baik hati, kaya, dan wangi seperti ini, tapi dari tadi kamu lebih senang melihat mas- mas ojol itu." jelas Richard dengan nada iri yang dibuat- buat.
"Apaan sih?" gumam Nawang keki.
"Apa kabarmu,Non?" tanya Richard sambil menatap lembut pada Nawang setelah keduanya sesaat terjebak dalam kebisuan.
"Hah?" tanya Nawang bingung.
Kenapa harus bertanya seperti itu, sih? Kenapa masih harus perduli pada hidupku?
"Saya baik- baik saja. Seperti yang Anda lihat kan?" jawab Nawang pura- pura bahagia.
Aku bahkan sudah mulai melupakan apa itu bahagia....
"Suamimu sayang kan sama kalian?" tanya Richard lagi.
"Bukannya memang sudah seharusnya begitu?" tanya balik Nawang.
Sungguh, sesungguhnya itu pertanyaan yang lebih kepada doa untuk dirinya sendiri.
Doa agar dia merasa dicintai dan dihargai sebagai seorang perempuan dan istri.
Karena kenyataannya selama dalam perkawinan dia tetap merasa sendiri dan tak mendapat perlindungan dalam hal apapun.
Entah perkawinan macam apa yang sedang dijalaninya sampai saat ini.
"Syukurlah kalau kamu mendapatkan pendamping yang sayang sama kamu. Setidaknya rasa bersalahku padamu sedikit berkurang." kata Richard pelan.
Namun entah mengapa ada sakit yang tiba- tiba terbit dihatinya.
"Rasa bersalah?" tanya Nawang gusar.
"Ya. Aku merasa bersalah karena begitu saja mengikuti kemauan Papa untuk putus sama kamu. Seharusnya aku berjuang dulu waktu itu." kata Richard penuh sesal.
"Sudahlah. Kan semua sudah berlalu. Itu masa lalu. Lagian apa yang papa Anda bilang juga benar. Terimakasih dulu Anda mau mengikuti kemauan Saya untuk patuh pada orang tua Anda. Setidaknya Anda bisa menjadi anak yang berbakti dan tidak kehilangan hak waris Anda." jawab Nawang pelan.
Entah apa yang akan terjadi pada mereka bila waktu itu Richard ngotot tidak mau memutuskan hubungan mereka.
__ADS_1
Mungkin Nawang yang akan di dera rasa bersalah seumur hidupnya karena menjadikan Richard sebagai anak durhaka dan mungkin saja Richard tidak akan setajir sekarang.
"Tapi aku menyesal menuruti kemauan Papa. Sampai sekarang aku menyesalinya." kata Richard penuh sesal.
"Kenapa?" tanya Nawang penasaran.
"Seharusnya aku bisa memilikimu kan?" tanya Richard.
Nawang menggelegas pilu.
Harapan kosong.
Cita- cita basi.
"Anda telah mendapatkan yang jauh lebih pantas untuk Anda kan? Istri yang selevel pastinya." kata Nawang getir.
Richard tersenyum sumbang.
"Anda....." kalimat Nawang terpenggal karena panggilan seorang waitress yang memberitahu kalau pesanan mereka sudah siap.
Richard bergegas membawa dua kantong plastik di tangan kanan dan kirinya.
Nawang keheranan.
Banyak amat pesannya.
Richard kemudian mengajak Nawang segera ke parkiran sambil tetap menenteng dua kantong plastik.
"Selamat makan, ya. Kita pisah disini nggak papa kan?" kata Richard sambil mengulurkan satu kantong plastik berisi tiga dus yang disusun ke atas.
Nawang menerima dengan linglung.
"Ini keliru, Pak." kata Nawang sambil menatap tentengan Richard yang cuma satu kardus.
"Keliru apanya?" tanya Richard bingung.
"Saya yang itu. Saya kan cuma sendirian." kata Nawang sambil menunjuk tas plastik di tangan Richard.
"Kamu bener yang itu. Tiga. Dua buat kamu sama temenmu yang seruangan itu, satunya buat Bintang nanti. Titip ya." kata Richard sambil tersenyum.
Nawang tertunduk malu.
Lagi- lagi dia harus menerima belas kasihan Richard untuk anaknya.
"Udah sana balik.Ntar nggak keburu." usir Richard agar Nawang tak membantah.
Nawang mengangguk lemah.
"Terimakasih banyak ya, Pak." kata Nawang lirih, nyaris menangis.
Dipikirannya sudah terbayang bagaimana senangnya nanti Bintang menerima makanan ini.
"Iya, sama- sama. Udah sana balik. Ati- ati di jalan ya." usir Richard lagi.
Nawang bergegas menaiki motornya.
Setelah siap meluncur dia melambaikan tangannya pada Richard yang masih berdiri menunggunya berlalu dari area parkiran yang lumayan terik.
Andai aku pantas melakukan lebih dari ini, akan kulakukan semuanya yang terbaik untuk hidupmu, Nonaku.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1